Jakarta kembali mendapat sorotan dalam peta kuliner dunia. Ibu kota Indonesia menempati peringkat ketiga dalam daftar 20 kota terbaik di dunia untuk kuliner street food tahun 2026 yang dirilis Time Out. Posisi tersebut menempatkan Jakarta di atas sejumlah kota yang selama ini dikenal sebagai destinasi kuliner jalanan dunia, termasuk Bangkok, Beijing, dan New Delhi.
Daftar tersebut disusun berdasarkan survei terhadap 24.000 penduduk kota di berbagai belahan dunia. Para responden diminta menilai kualitas sekaligus keterjangkauan kuliner di kota masing-masing sebelum hasilnya digunakan untuk menentukan peringkat kota dengan street food terbaik.
Jakarta Masuk Tiga Besar Dunia
Dalam pemeringkatan Time Out 2026, Jakarta memperoleh tingkat persetujuan sebesar 59 persen. Angka tersebut menempatkan Jakarta di posisi ketiga, tepat di bawah Ho Chi Minh City, Vietnam, dan Kuala Lumpur, Malaysia.
Ho Chi Minh City berada di posisi pertama dengan tingkat persetujuan 63 persen. Kuala Lumpur menyusul di posisi kedua dengan 62 persen, sementara Jakarta berada di posisi ketiga dengan 59 persen.
Pencapaian tersebut menjadi perhatian karena Jakarta mampu mengungguli sejumlah kota yang juga memiliki reputasi kuat dalam dunia kuliner jalanan. Bangkok berada di posisi kesembilan dengan 56 persen, Beijing di posisi ke-13 dengan 54 persen, sedangkan New Delhi berada di posisi ke-19 dengan 52 persen.
Warung Pinggir Jalan Jadi Kekuatan Jakarta
Time Out menyoroti kekuatan kuliner Jakarta yang dapat ditemukan di warung-warung pinggir jalan. Kuliner sederhana tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus memberikan pengalaman gastronomi yang khas bagi wisatawan.
Dalam daftar tersebut, Time Out menggambarkan kuliner Jakarta melalui hidangan seperti nasi goreng dan gado-gado. Kedua makanan tersebut menjadi contoh bagaimana makanan yang mudah ditemukan di lingkungan sehari-hari dapat memiliki daya tarik bagi pencinta kuliner.
Keberadaan pedagang kaki lima dan warung makan di berbagai kawasan Jakarta membuat pilihan kuliner menjadi sangat beragam. Wisatawan dapat menemukan makanan dengan karakter rasa yang berbeda tanpa harus selalu mendatangi restoran formal.
Survei Melibatkan 24.000 Penduduk Kota
Pemeringkatan Time Out 2026 tidak semata-mata dibuat berdasarkan penilaian editor. Daftar tersebut menggunakan hasil survei terhadap 24.000 penduduk kota di seluruh dunia.
Para responden diminta menilai kualitas dan keterjangkauan kuliner di kota mereka. Penilaian tersebut kemudian menjadi dasar untuk menyusun daftar 20 kota yang dianggap memiliki pengalaman street food terbaik.
Metode berbasis penilaian penduduk lokal memberikan perspektif berbeda dibandingkan daftar yang hanya mengandalkan rekomendasi wisatawan atau kritikus kuliner. Warga setempat memiliki pengalaman langsung terhadap makanan yang tersedia dalam kehidupan sehari-hari.
Ho Chi Minh City Menjadi Juara
Ho Chi Minh City di Vietnam menempati posisi pertama dalam daftar Time Out 2026. Kota tersebut memperoleh tingkat persetujuan sebesar 63 persen dari responden.
Posisi teratas menunjukkan kuatnya reputasi kuliner jalanan Vietnam. Street food menjadi bagian penting dari kehidupan kota dan menawarkan beragam pilihan makanan yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan.
Ho Chi Minh City hanya unggul tipis atas Kuala Lumpur. Perbedaan satu poin persentase membuat persaingan di posisi teratas cukup ketat, sementara Jakarta berada dua poin di bawah Kuala Lumpur dan empat poin dari pemuncak klasemen.
Kuala Lumpur Berada di Posisi Kedua
Kuala Lumpur menduduki peringkat kedua dengan tingkat persetujuan 62 persen. Kota di Malaysia tersebut hanya terpaut satu poin dari Ho Chi Minh City.
Kuala Lumpur dikenal memiliki keragaman kuliner yang dipengaruhi berbagai budaya. Perpaduan tradisi kuliner menjadi salah satu karakter yang membuat makanan jalanan di kota tersebut menarik bagi penduduk lokal maupun wisatawan.
Namun, Jakarta berhasil menempatkan diri di atas banyak kota besar lainnya dan hanya terpaut tiga poin persentase dari Kuala Lumpur dalam penilaian Time Out 2026.
Jakarta Ungguli Bangkok
Salah satu hal yang menarik dari daftar tersebut adalah posisi Jakarta yang berada jauh di atas Bangkok. Bangkok dikenal luas sebagai salah satu destinasi street food paling populer di Asia, tetapi dalam pemeringkatan 2026 kota tersebut berada di posisi kesembilan dengan tingkat persetujuan 56 persen.
Dengan skor 59 persen, Jakarta unggul tiga poin persentase dari Bangkok. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa kuliner kaki lima Jakarta mendapat penilaian tinggi dari responden dalam aspek yang digunakan Time Out.
Perbandingan tersebut juga menunjukkan bahwa reputasi sebuah kota sebagai destinasi kuliner dapat terus berubah. Penilaian masyarakat terhadap kualitas dan keterjangkauan makanan menjadi salah satu faktor penting dalam pemeringkatan tersebut.
Jakarta Juga Kalahkan Beijing
Beijing, Tiongkok, berada di posisi ke-13 dengan tingkat persetujuan 54 persen. Artinya, Jakarta berada sepuluh tingkat di atas Beijing dalam daftar 20 kota terbaik untuk street food tahun 2026.
Beijing memiliki tradisi kuliner yang panjang dan beragam, tetapi hasil survei Time Out menunjukkan Jakarta mendapatkan tingkat persetujuan yang lebih tinggi dalam kategori yang dinilai.
Perbedaan tersebut memperlihatkan luasnya persaingan kuliner jalanan di berbagai kota dunia. Setiap kota memiliki karakter makanan yang berbeda dan dinilai berdasarkan pengalaman masyarakat setempat.
New Delhi Berada di Posisi ke-19
New Delhi menjadi salah satu kota Asia lainnya yang masuk dalam daftar, tetapi berada di posisi ke-19 dengan tingkat persetujuan 52 persen. Posisi Jakarta jauh lebih tinggi dibandingkan ibu kota India tersebut.
India dikenal memiliki tradisi makanan jalanan yang sangat beragam. Meski demikian, penilaian Time Out 2026 menempatkan New Delhi di bawah sejumlah kota lain dalam daftar.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberagaman makanan saja tidak menjadi satu-satunya pertimbangan. Survei juga memperhitungkan penilaian terhadap kualitas dan keterjangkauan kuliner.
20 Kota Terbaik untuk Street Food 2026
Berikut daftar lengkap 20 kota dengan kuliner street food terbaik dunia versi Time Out 2026 berdasarkan tingkat persetujuan responden:
- Ho Chi Minh City, Vietnam — 63 persen
- Kuala Lumpur, Malaysia — 62 persen
- Jakarta, Indonesia — 59 persen
- Taipei, Taiwan — 59 persen
- Ciudad de Mexico, Meksiko — 58 persen
- Manila, Filipina — 58 persen
- Hanoi, Vietnam — 57 persen
- Johannesburg, Afrika Selatan — 56 persen
- Bangkok, Thailand — 56 persen
- Mumbai, India — 55 persen
- Marrakesh, Maroko — 55 persen
- Los Angeles, Amerika Serikat — 54 persen
- Beijing, Tiongkok — 54 persen
- Singapura, Singapura — 54 persen
- Jaipur, India — 53 persen
- Guadalajara, Meksiko — 52 persen
- Nairobi, Kenya — 52 persen
- Bukares, Rumania — 52 persen
- New Delhi, India — 52 persen
- Accra, Ghana — 51 persen
Daftar tersebut menunjukkan bahwa Asia mendominasi sejumlah posisi teratas. Ho Chi Minh City dan Kuala Lumpur berada di dua posisi teratas, sementara Jakarta, Taipei, Manila, Hanoi, Bangkok, Mumbai, Beijing, Singapura, Jaipur, dan New Delhi juga masuk dalam daftar.
Jakarta Punya Keunggulan dari Keragaman Kuliner
Salah satu kekuatan Jakarta sebagai destinasi kuliner adalah keberagaman makanan yang tersedia. Sebagai kota dengan masyarakat dari berbagai latar belakang, Jakarta menjadi tempat bertemunya berbagai tradisi kuliner Indonesia.
Wisatawan dapat menemukan makanan yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara, mulai dari makanan berat hingga camilan. Selain restoran, banyak makanan tersebut tersedia di warung sederhana, pasar, pusat jajanan, dan pedagang kaki lima.
Kondisi tersebut membuat pengalaman kuliner di Jakarta tidak terbatas pada satu jenis makanan. Pengunjung dapat menjelajahi berbagai rasa dalam satu kota.
Street Food Dekat dengan Kehidupan Masyarakat
Berbeda dengan restoran yang umumnya memiliki konsep dan layanan yang lebih formal, kuliner kaki lima memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pedagang berjualan di berbagai kawasan dan menjadi bagian dari aktivitas warga.
Situasi tersebut memberikan pengalaman yang berbeda bagi wisatawan. Menikmati makanan di warung atau kaki lima dapat memberikan gambaran mengenai kebiasaan makan masyarakat lokal.
Harga yang relatif terjangkau juga membuat street food dapat dinikmati oleh lebih banyak kalangan. Faktor keterjangkauan tersebut menjadi salah satu aspek yang dinilai dalam survei Time Out.
Gado-gado dan Nasi Goreng Jadi Contoh
Dalam ulasannya mengenai Jakarta, Time Out menyoroti nasi goreng dan gado-gado sebagai contoh kuliner yang dapat ditemukan di warung pinggir jalan. Kedua makanan tersebut mewakili sebagian kecil dari kekayaan kuliner yang tersedia di Jakarta.
Nasi goreng dikenal sebagai hidangan yang fleksibel dengan berbagai variasi bahan dan bumbu. Sementara itu, gado-gado menawarkan perpaduan sayuran, bahan pelengkap, dan saus kacang yang menjadi ciri khas tersendiri.
Keduanya juga mudah ditemukan dalam berbagai konteks kuliner, mulai dari warung sederhana hingga tempat makan yang memiliki konsep lebih modern.
Potensi Wisata Kuliner Jakarta
Masuknya Jakarta ke posisi ketiga dunia dapat menjadi tambahan daya tarik bagi wisata kuliner. Predikat tersebut memperkuat citra Jakarta sebagai kota yang memiliki banyak pilihan makanan jalanan.
Wisatawan yang datang ke Jakarta tidak hanya memiliki pilihan tempat wisata budaya dan sejarah, tetapi juga dapat menjadikan kuliner sebagai bagian utama perjalanan.
Eksplorasi street food juga dapat membawa wisatawan ke kawasan yang mungkin tidak masuk dalam rute wisata konvensional. Dengan demikian, aktivitas kuliner berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas kepada pelaku usaha lokal.
UMKM dan Pedagang Kaki Lima Berpotensi Diuntungkan
Popularitas street food dapat memberikan peluang bagi pelaku usaha kecil yang menjual makanan secara langsung kepada konsumen. Ketika sebuah kota dikenal sebagai destinasi kuliner, wisatawan berpotensi mencari pengalaman makan di tempat-tempat yang dikelola oleh pelaku usaha lokal.
Pedagang kaki lima dan UMKM kuliner dapat menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut. Peningkatan kunjungan wisatawan dapat membuka peluang peningkatan transaksi, sekaligus memperkenalkan makanan lokal kepada konsumen dari luar daerah.
Namun, pertumbuhan tersebut juga perlu diikuti dengan perhatian terhadap kebersihan, kualitas makanan, pelayanan, dan keberlanjutan usaha agar pengalaman wisata kuliner tetap positif.
Street Food sebagai Identitas Kota
Kuliner jalanan dapat menjadi bagian dari identitas sebuah kota. Makanan yang tersedia di ruang publik sering kali mencerminkan kebiasaan, sejarah, dan karakter masyarakat setempat.
Jakarta memiliki banyak makanan yang telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Kehadiran makanan tersebut di berbagai kawasan membuat kuliner menjadi salah satu cara untuk mengenal kota dari sisi yang lebih dekat.
Predikat yang diberikan Time Out dapat menjadi pengingat bahwa kekayaan kuliner lokal memiliki nilai yang dapat diperkenalkan ke dunia internasional.
Persaingan Kota Kuliner Dunia
Daftar Time Out memperlihatkan persaingan yang cukup ketat. Selisih antara kota yang berada di peringkat pertama dan sejumlah kota di posisi bawah tidak terlalu besar.
Ho Chi Minh City memperoleh 63 persen, sedangkan Accra yang berada di posisi ke-20 memperoleh 51 persen. Artinya, seluruh kota dalam daftar memiliki tingkat persetujuan yang relatif tinggi dari responden.
Jakarta dengan 59 persen berada di kelompok atas dan memiliki skor yang sama dengan Taipei. Sementara itu, Ciudad de Mexico dan Manila masing-masing memperoleh 58 persen.
Asia Mendominasi Peringkat Atas
Asia menjadi kawasan yang cukup dominan dalam daftar 20 besar. Empat dari lima posisi teratas ditempati kota-kota di Asia, yaitu Ho Chi Minh City, Kuala Lumpur, Jakarta, dan Taipei.
Manila berada di posisi keenam, sementara Hanoi menempati posisi ketujuh. Bangkok juga masuk sepuluh besar. Mumbai, Beijing, Singapura, Jaipur, dan New Delhi melengkapi perwakilan Asia dalam daftar tersebut.
Dominasi tersebut memperlihatkan kuatnya budaya kuliner jalanan di kawasan Asia. Makanan yang mudah dijangkau, beragam, dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari menjadi salah satu karakter utama kota-kota tersebut.
Jakarta dan Tantangan Menjaga Kualitas
Predikat sebagai salah satu kota dengan street food terbaik dunia juga membawa tantangan. Ketika semakin banyak wisatawan tertarik mencoba kuliner kaki lima, kualitas makanan dan pengalaman konsumen perlu tetap dijaga.
Kebersihan lingkungan, keamanan pangan, konsistensi rasa, serta kenyamanan pengunjung menjadi bagian penting dalam mempertahankan reputasi kuliner sebuah kota.
Pelaku usaha juga dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan kualitas pengelolaan usaha tanpa kehilangan karakter makanan lokal yang menjadi daya tarik utamanya.
Street Food Mendorong Pengalaman Wisata yang Lebih Dekat
Wisata kuliner jalanan menawarkan pengalaman yang berbeda karena wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan dan masyarakat. Aktivitas makan tidak hanya berlangsung di ruang restoran, tetapi juga di tengah kehidupan kota.
Pengalaman seperti membeli makanan dari pedagang lokal, melihat proses memasak, dan menikmati makanan di ruang publik dapat memberikan kenangan tersendiri bagi wisatawan.
Jakarta memiliki peluang besar untuk mengembangkan pengalaman semacam ini karena pilihan makanan jalanannya tersebar di berbagai wilayah kota.
Predikat Global untuk Kuliner Indonesia
Posisi Jakarta di peringkat ketiga juga dapat menjadi representasi kekayaan kuliner Indonesia di mata internasional. Meski daftar tersebut menilai kota, keberagaman makanan yang tersedia di Jakarta turut memperlihatkan luasnya tradisi kuliner Nusantara.
Jakarta menjadi ruang bertemunya berbagai jenis makanan dari berbagai daerah. Hal tersebut membuat wisatawan dapat menemukan banyak karakter rasa tanpa harus mengunjungi seluruh wilayah Indonesia.
Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk semakin memperkenalkan makanan Indonesia kepada wisatawan internasional dan mendorong perkembangan wisata berbasis kuliner.
Kesimpulan
Jakarta menempati posisi ketiga dalam daftar 20 kota terbaik di dunia untuk kuliner street food tahun 2026 versi Time Out. Jakarta memperoleh tingkat persetujuan 59 persen berdasarkan survei terhadap 24.000 penduduk kota di seluruh dunia.
Posisi Jakarta hanya berada di bawah Ho Chi Minh City yang meraih 63 persen dan Kuala Lumpur dengan 62 persen. Sebaliknya, Jakarta berhasil mengungguli sejumlah kota yang terkenal dengan kuliner jalanan, termasuk Bangkok di posisi kesembilan, Beijing di posisi ke-13, dan New Delhi di posisi ke-19.
Time Out menyoroti warung pinggir jalan sebagai salah satu kekuatan kuliner Jakarta, dengan nasi goreng dan gado-gado menjadi contoh makanan yang menggambarkan pengalaman street food di ibu kota.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa kuliner jalanan memiliki peran penting dalam membentuk daya tarik sebuah kota. Bagi Jakarta, predikat tersebut dapat menjadi peluang untuk memperkuat wisata kuliner sekaligus memperkenalkan keberagaman makanan Indonesia kepada wisatawan dunia.
Namun, mempertahankan reputasi sebagai salah satu destinasi street food terbaik membutuhkan perhatian terhadap kualitas, kebersihan, keamanan pangan, pelayanan, dan keberlanjutan pelaku usaha. Jika berbagai aspek tersebut terus diperkuat, kekayaan kuliner kaki lima Jakarta dapat menjadi salah satu aset penting dalam perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.



