AFAID26 Rayakan Satu Dekade Budaya Pop Jepang di Indonesia dengan Konser, Anime, Cosplay, dan Kuliner

AFAID26 merayakan satu dekade kehadirannya di Indonesia lewat festival budaya pop Jepang yang memadukan anime, musik, cosplay, gim, VTuber, komunitas, booth interaktif, dan kuliner.

Suasana AFAID26 yang menghadirkan budaya pop Jepang di ICE BSD City
Suasana AFAID26 yang menghadirkan budaya pop Jepang di ICE BSD City

Anime Festival Asia Indonesia 2026 atau AFAID26 merayakan satu dekade kehadirannya di Indonesia dengan menghadirkan perayaan besar budaya pop Jepang. Digelar selama dua hari pada 15–16 Agustus 2026 di Indonesia Convention Exhibition atau ICE BSD City, Hall 1 dan Hall 2, festival ini mempertemukan penggemar anime, manga, musik Jepang, cosplay, gim, VTuber, kreator, serta komunitas budaya pop Jepang dalam satu rangkaian acara.

AFAID26 tidak hanya mengandalkan pertunjukan musik sebagai daya tarik utama. Festival yang diselenggarakan oleh SOZO Pte Ltd bersama PK Entertainment tersebut membawa konsep yang lebih luas melalui panggung hiburan, pameran, booth interaktif, merchandise eksklusif, area kreator, kuliner, hingga aktivitas komunitas. Dengan tema Celebrate the Magic of Japan Pop Culture, penyelenggaraan tahun ini menjadi ruang pertemuan bagi berbagai unsur yang selama ini membentuk ekosistem budaya pop Jepang di Indonesia.

Perayaan satu dekade tersebut juga memperlihatkan bagaimana budaya pop Jepang dapat hadir dalam berbagai bentuk. Anime dan manga menjadi salah satu fondasi, tetapi pengalaman pengunjung berkembang ke musik, cosplay, gim, figur virtual, kreator, hingga kuliner. Keragaman program membuat AFAID26 tidak sekadar menjadi tempat menonton pertunjukan, melainkan sebuah pengalaman yang memungkinkan penggemar menikmati banyak sisi budaya pop Jepang dalam satu lokasi.

Satu Dekade AFA di Indonesia Dirayakan dengan Format yang Beragam

Perjalanan satu dekade AFA di Indonesia menjadi latar penting dalam penyelenggaraan AFAID26. Perayaan tersebut terasa sejak festival dibuka pada hari pertama, Sabtu, 15 Agustus 2026. Gerbang festival dibuka pada pukul 10.00 WIB dan area ICE BSD City kemudian dipenuhi pengunjung yang datang untuk menikmati berbagai program yang berlangsung dari pagi hingga malam.

Rangkaian kegiatan menunjukkan bahwa penyelenggara tidak membatasi festival pada satu jenis hiburan. Penggemar dapat berpindah dari satu program ke program lainnya sesuai minat masing-masing. Ada panggung musik, sesi bersama figur dari industri anime, pertunjukan cosplay, program VTuber, hingga aktivitas komunitas yang memberikan suasana berbeda sepanjang hari.

Konsep seperti ini membuat festival budaya pop memiliki karakter yang berbeda dibandingkan konser musik biasa. Pengunjung tidak hanya datang untuk menyaksikan satu penampilan, tetapi dapat menjadikan seluruh area festival sebagai bagian dari pengalaman. Booth, panggung, sesi komunitas, dan area kreator menjadi bagian yang saling melengkapi.

Dalam konteks perayaan satu dekade, keberagaman tersebut juga menggambarkan luasnya ekosistem budaya pop Jepang yang berkembang di kawasan Asia Tenggara. AFA sendiri disebut telah menyelenggarakan lebih dari 30 acara, menghadirkan lebih dari 520 penampil dan lebih dari 2.300 eksibitor, serta menyambut lebih dari 2,3 juta pengunjung di enam kota, mulai dari Singapura hingga Tokyo.

AFA Next Stage Menjadi Pusat Aktivitas Pengunjung

Salah satu pusat aktivitas AFAID26 berada di AFA Next Stage. Sepanjang hari, panggung tersebut menghadirkan program yang berganti secara berkesinambungan sehingga pengunjung memiliki banyak pilihan untuk menikmati konten budaya pop Jepang.

Rangkaian hari pertama dibuka dengan Idol Showcase bersama Meishohikokai. Program tersebut kemudian dilanjutkan dengan VTuber Showcase yang menampilkan Pandavva dan Music Showcase dari Daruma Rollin’. Kehadiran berbagai format pertunjukan dalam satu panggung memperlihatkan bagaimana budaya pop Jepang dan turunannya telah berkembang menjadi ekosistem hiburan yang sangat beragam.

Penggemar anime juga mendapat kesempatan mengikuti sesi khusus Detective Conan bersama pengisi suara legendaris Noriko Hidaka. Sesi seperti ini menawarkan pengalaman yang berbeda karena penggemar tidak hanya berinteraksi dengan karya anime, tetapi juga mendapatkan kesempatan melihat sosok yang berada di balik karakter yang mereka kenal.

Program panggung kemudian bergerak ke sisi industri melalui sesi Featured Content bersama Manabu Otsuka, Presiden dan CEO MAPPA, serta Kiyoshi Matsuda. Kehadiran pembicara dari industri animasi memberikan gambaran mengenai sisi di balik layar produksi anime dan bagaimana sebuah karya hiburan dapat berkembang melalui proses kreatif dan industri yang panjang.

Dari Anime hingga Cosplay, Penggemar Mendapat Banyak Pilihan

Budaya pop Jepang memiliki banyak cabang dan AFAID26 mencoba menghadirkan keragaman tersebut dalam satu festival. Anime menjadi salah satu daya tarik utama, tetapi pengunjung juga dapat menikmati cosplay, musik, gim, VTuber, dan aktivitas kreator.

Cosplay menjadi salah satu elemen yang memberikan warna tersendiri. Dalam festival budaya pop, cosplay bukan sekadar aktivitas mengenakan kostum karakter. Bagi komunitas penggemar, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk ekspresi dan cara untuk menunjukkan ketertarikan terhadap karya tertentu.

Di AFAID26, Cosplay Showcase menghadirkan Rukia, Romu, dan Kumose Chio. Kehadiran mereka menjadi bagian dari rangkaian program hari pertama. Sementara itu, pada hari kedua, AFA Cosplay Singles Competition menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian pengunjung dengan kompetisi bagi para peserta untuk memperebutkan hadiah tunai.

Keberadaan kompetisi tersebut menunjukkan bahwa cosplay mendapat ruang yang cukup besar dalam festival. Aktivitas yang berangkat dari komunitas penggemar kemudian memperoleh panggung untuk ditampilkan secara lebih luas. Hal ini juga memperlihatkan hubungan antara fandom, kreativitas, pertunjukan, dan kompetisi dalam ekosistem budaya pop Jepang.

Musik Jepang Menjadi Salah Satu Magnet AFAID26

Musik menjadi bagian penting dalam perayaan AFAID26. Hari pertama ditutup dengan AFAID26 Music Fest yang menghadirkan sejumlah musisi Jepang dengan karakter musik yang berbeda. Panggung tersebut memberikan pengalaman konser yang menjadi salah satu bagian utama perayaan satu dekade AFA di Indonesia.

Sally Amaki membuka rangkaian malam tersebut sebelum panggung diisi oleh ASCA, kz atau livetune, isekaijoucho, dan BACK-ON. Masing-masing penampil membawa warna musik yang berbeda, sehingga rangkaian konser tidak berjalan dalam satu karakter musikal saja.

ASCA menghadirkan energi anisong melalui lagu-lagu yang dikenal dari berbagai judul anime. Bagi penggemar anime, anisong memiliki hubungan yang kuat dengan pengalaman menikmati sebuah karya karena lagu pembuka maupun penutup sering kali menjadi bagian yang melekat dalam ingatan penonton.

Di sisi lain, kz atau livetune membawa musik elektronik yang menjadi bagian dari perkembangan musik digital Jepang. Penampilan isekaijoucho menghadirkan nuansa alternatif, sementara BACK-ON memperkuat atmosfer panggung dengan karakter rock yang berbeda.

Puncak malam pertama kemudian hadir melalui penampilan SPYAIR. Band rock asal Jepang tersebut tampil sebagai penutup dan mengajak ribuan penonton bernyanyi bersama. Perpaduan musik, cahaya, dan respons penonton membuat sesi tersebut menjadi salah satu momen yang menonjol dalam rangkaian AFAID26.

Konser dan Anime Memiliki Hubungan yang Kuat

Kehadiran musisi Jepang dalam festival seperti AFAID26 juga memperlihatkan eratnya hubungan antara musik dan anime. Banyak penggemar mengenal sebuah lagu melalui serial anime, kemudian mencari tahu lebih jauh mengenai penyanyi atau band yang membawakannya.

Hubungan tersebut menciptakan pengalaman fandom yang berbeda. Sebuah lagu tidak lagi berdiri sendiri sebagai karya musik, tetapi dapat menjadi bagian dari memori ketika seseorang mengikuti sebuah serial. Ketika lagu tersebut kemudian dibawakan secara langsung di hadapan penggemar, pengalaman yang terbentuk menjadi lebih personal.

Karena itu, konser dalam AFAID26 tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tambahan. Pertunjukan musik menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan karya anime dengan penggemarnya. Atmosfer tersebut semakin kuat ketika ribuan orang menyanyikan lagu yang mereka kenal bersama-sama.

Hari Kedua Membawa Program Spesial

Kemeriahan AFAID26 berlanjut pada Minggu, 16 Agustus 2026. Setelah hari pertama dipenuhi berbagai program panggung dan konser, hari kedua menghadirkan sejumlah agenda yang tidak kalah beragam.

Salah satu program yang paling dinantikan adalah penampilan perdana TOGENASHI TOGEARI di Asia Tenggara melalui tur Rinne no Kotowari. Kehadiran penampilan tersebut menambah dimensi musikal dalam rangkaian festival sekaligus memperluas pilihan hiburan bagi pengunjung.

Hari kedua juga menghadirkan talk show bersama ilustrator Jepang LAM. Program seperti ini memberi kesempatan kepada penggemar untuk mengenal sisi kreatif lain dari industri budaya pop Jepang. Jika konser lebih menonjolkan pertunjukan, sesi bersama ilustrator memberikan ruang untuk melihat proses dan perspektif kreatif di balik karya visual.

Aya Emori dan Yuina dari Love Live! Superstar!! juga hadir dalam rangkaian acara hari kedua. Kehadiran figur yang berkaitan dengan waralaba hiburan populer tersebut menambah variasi program bagi penggemar yang mengikuti perkembangan anime dan budaya idol Jepang.

Booth dan Exhibition Hall Memperluas Pengalaman Festival

Selain panggung, area Exhibition Hall menjadi salah satu bagian penting dalam AFAID26. Pengunjung tidak hanya disuguhi pertunjukan dari atas panggung, tetapi juga dapat melihat berbagai booth dan aktivitas interaktif yang tersebar di area pameran.

Puluhan brand dan IP hadir dengan booth serta aktivitas interaktif. Di antara nama yang disebut dalam penyelenggaraan tersebut terdapat AVEX, Crunchyroll, Fitbar, Hello Kingdom, Honda, Honor of Kings, Hydro Coco, iQOO, Kyou Hobby, Lumica, Phoenix Gramedia Indonesia, Rexus, dan Universal Music Indonesia.

Kehadiran berbagai brand membuat pengalaman festival menjadi lebih luas. Booth dapat menjadi tempat bagi pengunjung untuk berinteraksi dengan produk, waralaba, komunitas, maupun berbagai aktivitas yang berkaitan dengan budaya pop dan gaya hidup penggemarnya.

Dalam festival budaya pop, area pameran juga berfungsi sebagai ruang eksplorasi. Pengunjung dapat menentukan sendiri bagian mana yang ingin mereka datangi. Sebagian mungkin lebih tertarik pada anime, sebagian lain pada gim, sementara pengunjung lain dapat menikmati merchandise, aktivitas komunitas, atau sekadar menjelajahi atmosfer festival.

Komunitas Menjadi Bagian Penting dari Budaya Pop Jepang

Salah satu karakter penting AFAID26 adalah keterlibatan komunitas. Budaya pop tidak berkembang hanya melalui studio, musisi, penerbit, atau perusahaan hiburan. Penggemar memiliki peran besar dalam menjaga antusiasme terhadap sebuah karya dan membangun ruang interaksi di sekitarnya.

Komunitas anime, cosplay, musik Jepang, gim, dan VTuber memiliki cara masing-masing dalam mengekspresikan ketertarikan mereka. Festival menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas tersebut sehingga penggemar dapat menemukan orang lain dengan minat yang sama.

Situasi tersebut membuat festival memiliki fungsi sosial selain hiburan. Pengunjung datang bukan hanya untuk menyaksikan acara, tetapi juga untuk berbagi pengalaman dengan sesama penggemar. Kostum, merchandise, lagu, karakter, dan karya yang disukai dapat menjadi pembuka percakapan di antara orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

Dalam konteks satu dekade AFA di Indonesia, keberadaan komunitas menjadi salah satu elemen yang membantu menjelaskan mengapa budaya pop Jepang dapat memiliki ruang yang luas. Fandom bukan sekadar jumlah orang yang menyukai sebuah karya, melainkan jaringan penggemar yang terus berinteraksi dengan berbagai bentuk budaya populer.

Kuliner Melengkapi Perjalanan Pengunjung

Pengalaman AFAID26 juga tidak berhenti pada anime, musik, cosplay, dan gim. Kuliner menjadi bagian dari rangkaian aktivitas festival. Kehadiran makanan dan minuman membuat pengunjung dapat menggabungkan aktivitas hiburan dengan kebutuhan selama berada di area acara.

Kuliner dalam festival budaya pop juga dapat menjadi bagian dari pengalaman tematik. Ketika pengunjung menghabiskan waktu berjam-jam menikmati berbagai program, keberadaan area kuliner memberikan ruang untuk beristirahat sebelum kembali mengikuti acara lain.

Dengan demikian, AFAID26 membangun pengalaman yang cukup lengkap. Pengunjung dapat datang untuk menyaksikan konser, mengikuti sesi anime, menikmati cosplay, mengunjungi booth, berinteraksi dengan komunitas, lalu beristirahat sambil menikmati pilihan kuliner yang tersedia di area festival.

AFAID26 Menyatukan Berbagai Generasi Penggemar

Perayaan satu dekade juga memberikan gambaran bahwa budaya pop Jepang memiliki daya tarik yang dapat mempertemukan penggemar dengan latar minat yang berbeda. Ada penggemar anime yang datang karena judul tertentu, penggemar musik yang tertarik dengan penampil Jepang, penggemar cosplay yang ingin mengikuti kompetisi, serta pengunjung yang datang untuk menikmati atmosfer festival.

Keragaman tersebut membuat AFAID26 memiliki karakter sebagai ruang bersama. Tidak semua pengunjung harus memiliki ketertarikan yang sama. Mereka dapat menemukan bagian festival yang paling sesuai dengan minat masing-masing.

Hal tersebut menjadi penting dalam perkembangan budaya pop. Ketika sebuah festival mampu menghadirkan anime, musik, gim, cosplay, kreator, dan komunitas secara bersamaan, batas antara satu bentuk hiburan dengan bentuk lainnya menjadi semakin cair. Penggemar dapat berpindah dari satu fandom ke fandom lain dan menemukan pengalaman baru.

Perayaan satu dekade AFA di Indonesia pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang usia penyelenggaraan. Lebih jauh, momen tersebut menunjukkan bagaimana budaya pop Jepang memiliki banyak jalur untuk menjangkau penggemarnya, mulai dari layar hingga panggung dan dari komunitas hingga ruang pamer.

Budaya Pop Jepang Terus Berkembang di Indonesia

AFAID26 memperlihatkan bahwa budaya pop Jepang memiliki ekosistem yang luas. Anime dan manga tetap menjadi fondasi penting, tetapi perkembangan fandom telah menciptakan berbagai bentuk aktivitas lain yang ikut berkembang bersamanya.

Musik, cosplay, VTuber, gim, ilustrasi, merchandise, komunitas, dan kuliner dapat hadir dalam satu festival tanpa kehilangan karakter masing-masing. Hal ini membuat pengalaman penggemar menjadi lebih beragam dibandingkan sekadar menikmati satu jenis konten.

Keberadaan acara seperti AFAID26 juga memberikan ruang bagi penggemar untuk berinteraksi secara langsung dengan budaya yang selama ini mereka nikmati melalui media. Anime yang biasanya ditonton melalui layar dapat berlanjut menjadi pengalaman bertemu pengisi suara. Lagu yang biasa didengarkan melalui perangkat dapat berubah menjadi konser bersama ribuan penggemar. Karakter yang dikenal melalui cerita dapat diwujudkan melalui cosplay.

Perubahan dari pengalaman digital menjadi pengalaman langsung tersebut menjadi salah satu kekuatan festival budaya pop. Penggemar tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat mengambil bagian dalam atmosfer acara melalui kostum, komunitas, interaksi, dan aktivitas kreatif.

AFAID26 Bukan Sekadar Festival, tetapi Ruang Pertemuan Fandom

Jika dilihat secara keseluruhan, AFAID26 memiliki banyak lapisan pengalaman. Ada konser untuk penggemar musik, sesi khusus untuk penggemar anime, kompetisi bagi komunitas cosplay, program untuk pencinta gim dan VTuber, serta area pameran bagi pengunjung yang ingin mengeksplorasi berbagai brand dan IP.

Keragaman tersebut menjadi semakin bermakna ketika festival digunakan untuk menandai satu dekade AFA di Indonesia. Sepuluh tahun kehadiran sebuah festival budaya pop memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana bentuk hiburan yang dahulu mungkin dianggap sebagai ceruk kini dapat memiliki ruang acara yang besar dan komunitas yang beragam.

AFAID26 kemudian menjadi gambaran mengenai pertemuan antara industri hiburan dan penggemar. Penampil, kreator, brand, komunitas, dan pengunjung berada dalam satu lingkungan yang sama. Masing-masing memiliki peran dalam menciptakan suasana festival.

Perayaan tersebut juga menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya pop Jepang tidak terbatas pada satu medium. Penggemar dapat mengenal sebuah karya melalui anime, kemudian mengikuti musiknya, mencari karakter favorit, menikmati cosplay, memainkan gim yang berkaitan, dan akhirnya bertemu dengan komunitas yang memiliki ketertarikan serupa.

Penutup: Satu Dekade yang Dirayakan Lewat Banyak Warna

AFAID26 menandai satu dekade kehadiran Anime Festival Asia di Indonesia melalui perayaan yang memadukan berbagai unsur budaya pop Jepang. Selama dua hari di ICE BSD City, pengunjung mendapatkan pengalaman yang mencakup konser, anime, manga, cosplay, gim, VTuber, kreator, komunitas, booth interaktif, merchandise, dan kuliner.

Rangkaian program dari AFA Next Stage hingga AFAID26 Music Fest memperlihatkan betapa luasnya bentuk hiburan yang dapat lahir dari budaya pop Jepang. Penampilan musisi seperti ASCA, kz atau livetune, isekaijoucho, BACK-ON, hingga SPYAIR memberikan warna musikal, sementara sesi bersama Noriko Hidaka, Manabu Otsuka, Kiyoshi Matsuda, LAM, serta sejumlah figur lainnya membawa pengunjung lebih dekat dengan dunia anime dan industri kreatif Jepang.

Di sisi lain, cosplay, kompetisi, booth, dan komunitas membuat festival tidak berhenti sebagai pertunjukan satu arah. Pengunjung dapat menjadi bagian dari atmosfer melalui interaksi dan aktivitas yang tersedia di berbagai area.

Dengan tema Celebrate the Magic of Japan Pop Culture, AFAID26 pada akhirnya menghadirkan perayaan yang sesuai dengan luasnya dunia fandom itu sendiri. Anime, musik, cosplay, gim, VTuber, kreator, komunitas, dan kuliner bertemu dalam satu ruang dan menciptakan pengalaman yang berlapis.

Perayaan satu dekade tersebut menjadi pengingat bahwa budaya pop Jepang di Indonesia telah memiliki banyak bentuk ekspresi. Dari layar, panggung, booth hingga komunitas, semuanya dapat menjadi bagian dari pengalaman penggemar. AFAID26 pun menutup rangkaian dua hari perayaannya dengan menunjukkan bahwa kekuatan budaya pop tidak hanya berada pada karya yang dikonsumsi, tetapi juga pada komunitas dan pengalaman bersama yang terbentuk di sekitarnya.

Sumber