Sejumlah negara dengan perekonomian terbesar di Afrika mulai mendorong pengembangan kapasitas manufaktur tenaga surya di dalam negeri. Langkah ini bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan menambah pasokan listrik dari energi terbarukan, tetapi juga dengan ambisi membangun industri lokal dan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang masih sangat dipengaruhi China.
Ethiopia, Afrika Selatan, Maroko, dan Nigeria termasuk negara yang tengah meningkatkan upaya untuk mengembangkan kemampuan produksi peralatan tenaga surya, mulai dari perakitan modul hingga tahap manufaktur yang lebih maju. Namun, perubahan tersebut berlangsung ketika industri surya dunia masih memiliki struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi, sehingga sebagian besar komponen bernilai tinggi tetap berasal dari luar Afrika.
Energi surya menjadi bagian penting dari perubahan pasar listrik Afrika
Perkembangan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Kebutuhan energi di berbagai wilayah Afrika terus mendorong pencarian sumber listrik yang dapat dikembangkan secara lebih fleksibel. Tenaga surya menjadi salah satu pilihan karena dapat digunakan dalam sistem pembangkit skala besar maupun instalasi yang lebih dekat dengan pengguna.
Perubahan juga terlihat pada semakin berkembangnya penggunaan sistem tenaga surya atap dan pembangkit terdistribusi. Di sejumlah pasar, pertumbuhan sistem seperti ini bahkan mulai memengaruhi pola permintaan listrik dari jaringan nasional. Perubahan tersebut membuat perusahaan utilitas harus menghadapi pasar listrik yang semakin beragam sekaligus mencari cara untuk menyesuaikan model bisnisnya.
Dalam konteks itu, pengembangan industri manufaktur surya lokal memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan panel. Negara-negara Afrika melihat peluang untuk menangkap sebagian nilai ekonomi yang selama ini berada di luar benua, sekaligus menciptakan kemampuan industri yang dapat mendukung pertumbuhan sektor energi terbarukan.
Afrika Selatan, Nigeria, dan Maroko memperkuat kapasitas lokal
Afrika Selatan menjadi salah satu negara yang menunjukkan ambisi besar dalam pengembangan manufaktur tenaga surya. Perusahaan listrik negara tersebut, Eskom, berencana mengembangkan fasilitas manufaktur surya berkapasitas 1 gigawatt. Rencana itu dikaitkan dengan upaya menangkap lebih banyak nilai dari pasar tenaga surya yang berkembang dan merespons perubahan kebutuhan listrik domestik.
Nigeria juga mengalami peningkatan kapasitas perakitan panel surya. Menurut laporan Associated Press, kapasitas perakitan lokal di negara tersebut meningkat dari sekitar 120 megawatt menjadi sekitar 300 megawatt dalam dua tahun terakhir. Pada saat yang sama, Nigeria masih mengimpor peralatan surya dalam jumlah besar dan sebagian besar pasokannya berasal dari China.
Maroko turut memperlihatkan perkembangan kapasitas produksi. Industri di negara tersebut disebut telah meningkatkan produksi menjadi sekitar 1 gigawatt per tahun. Afrika Selatan juga memiliki kapasitas serupa, sementara Mesir memiliki sejumlah proyek berskala gigawatt yang mulai memasuki tahap operasi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa manufaktur surya mulai dipandang sebagai bagian dari kebijakan industri dan pembangunan ekonomi hijau. Jika sebelumnya produksi lokal belum menjadi agenda utama di banyak negara Afrika, kini penguatan kemampuan manufaktur mulai dikaitkan dengan strategi industrialisasi sekaligus transisi energi.
Masalah utama bukan sekadar merakit panel surya
Meski kapasitas perakitan meningkat, Afrika masih menghadapi persoalan besar dalam membangun rantai pasok yang benar-benar mandiri. Benua tersebut belum memiliki manufaktur sel surya dalam skala komersial yang berarti. Akibatnya, fasilitas perakitan yang berkembang masih bergantung pada komponen impor untuk menghasilkan produk akhir.
Perbedaan antara perakitan dan manufaktur terintegrasi menjadi penting. Merakit modul panel surya dapat menjadi langkah awal untuk membangun industri lokal, tetapi tidak otomatis berarti negara tersebut telah menguasai teknologi dan proses produksi pada bagian paling bernilai dari rantai pasok.
Sel surya dan berbagai material serta komponen hulu merupakan bagian penting dalam industri tersebut. Ketika komponen itu masih harus didatangkan dari luar negeri, kemampuan industri lokal tetap dipengaruhi kondisi pasar global, biaya impor, ketersediaan komponen, dan keputusan produsen internasional.
Karena itu, tantangan Afrika bukan hanya meningkatkan jumlah panel yang dapat dirakit di dalam negeri. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana meningkatkan kemampuan teknologi, keterampilan tenaga kerja, investasi, dan jaringan pemasok sehingga industri surya dapat berkembang secara lebih terintegrasi.
China tetap menjadi pusat rantai pasok tenaga surya dunia
Di tengah dorongan untuk memperkuat produksi lokal, posisi China dalam industri surya global masih sangat kuat. Investasi China di sektor energi terbarukan dan proyek terkait di Afrika mencapai sekitar US$66 miliar sepanjang 2010 hingga 2024, berdasarkan data yang dikutip Associated Press dari ODI Global.
Kehadiran tersebut memberikan dua sisi bagi negara-negara Afrika. Di satu sisi, perusahaan dan investor China membawa modal, pengalaman industri, teknologi, serta kemampuan membangun fasilitas dalam skala besar. Kehadiran tersebut dapat membantu mempercepat pembangunan infrastruktur energi dan menciptakan peluang pekerjaan.
Di sisi lain, dominasi pemasok China membuat upaya membangun kemandirian industri menjadi lebih kompleks. Ketika komponen utama masih berasal dari China, peningkatan kapasitas perakitan lokal belum sepenuhnya menghilangkan ketergantungan terhadap sumber eksternal.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa transisi energi tidak hanya berkaitan dengan berapa banyak pembangkit listrik tenaga surya yang dibangun. Ada persoalan industri dan perdagangan yang berjalan bersamaan, termasuk siapa yang memproduksi peralatan, siapa yang menguasai teknologi, serta negara mana yang memperoleh nilai ekonomi terbesar dari pertumbuhan energi bersih.
Pertumbuhan permintaan membuka peluang industri
Pasar Afrika sendiri menawarkan alasan kuat bagi produsen untuk meningkatkan investasi. Kelompok industri GOGLA memperkirakan lebih dari 10 juta perangkat tenaga surya terjual di seluruh Afrika pada 2025 dan melayani sekitar 148 juta orang. Penjualan tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan yang banyak terkonsentrasi di Afrika Timur dan Afrika Barat.
Pertumbuhan penggunaan sistem tenaga surya menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat dan dunia usaha tidak hanya datang dari proyek pembangkit besar. Sistem tenaga surya terdistribusi juga memainkan peran penting dalam memperluas akses energi, terutama di wilayah yang menghadapi keterbatasan jaringan listrik.
Permintaan yang meningkat pada akhirnya dapat menjadi fondasi bagi industri domestik. Jika pasar dalam negeri cukup besar, produsen lokal memiliki alasan ekonomi untuk meningkatkan kapasitas. Pemerintah juga dapat melihat peluang untuk menghubungkan kebijakan energi dengan penciptaan lapangan kerja, pengembangan keterampilan, dan pertumbuhan industri manufaktur.
Namun, ukuran pasar bukan satu-satunya faktor penentu. Industri lokal juga membutuhkan lingkungan investasi yang mendukung, infrastruktur yang memadai, tenaga kerja terampil, akses pembiayaan, serta kebijakan yang dapat memberikan kepastian bagi perusahaan untuk berinvestasi dalam jangka panjang.
Transfer teknologi menjadi persoalan penting
Kehadiran perusahaan dan investasi asing dapat membantu membangun kemampuan manufaktur serta meningkatkan keterampilan teknis di Afrika. Pengalaman China dalam mengembangkan industri energi terbarukan dalam skala besar menjadi salah satu aset yang dapat dimanfaatkan oleh negara-negara Afrika.
Namun, transfer teknologi tidak selalu berarti seluruh pengetahuan yang diperlukan untuk membangun industri terintegrasi berpindah kepada mitra lokal. Negara penerima investasi masih perlu memastikan bahwa pengembangan fasilitas produksi diikuti peningkatan kemampuan sumber daya manusia, riset, rekayasa, dan penguasaan proses industri.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika negara ingin bergerak dari sekadar perakitan menuju produksi komponen dengan nilai tambah lebih tinggi. Tanpa peningkatan kemampuan tersebut, industri lokal berisiko tetap berada pada bagian hilir rantai pasok dan bergantung pada impor untuk teknologi serta komponen utama.
Karena itu, kerja sama internasional di bidang energi dapat memiliki manfaat yang lebih besar jika tidak hanya berfokus pada pembangunan proyek. Pengembangan tenaga ahli, pelatihan, kemampuan rekayasa, riset lokal, dan keterlibatan perusahaan domestik juga menjadi bagian penting dari proses membangun ekosistem industri.
Perubahan kebijakan perdagangan ikut memengaruhi arus investasi
Perkembangan industri surya Afrika juga tidak dapat dilepaskan dari perubahan lingkungan perdagangan global. Pembatasan perdagangan yang diterapkan Amerika Serikat dan Eropa terhadap produk atau perusahaan tertentu dari China telah mendorong sebagian perusahaan China mencari peluang investasi di wilayah lain, termasuk Afrika dan Asia Tenggara.
Kondisi tersebut membuat Afrika menjadi salah satu kawasan yang menarik untuk ekspansi manufaktur. Ethiopia, misalnya, menjadi salah satu tujuan investasi yang menonjol. Sebagian besar investasi yang diumumkan sejak 2018 di negara tersebut berasal dari China, di samping investasi dari Jepang.
Di Afrika Selatan, Nigeria, dan Maroko, struktur investasi disebut lebih banyak melibatkan perusahaan domestik atau bentuk kerja sama antara perusahaan lokal dan mitra asing. Model seperti ini dapat membuka ruang bagi perusahaan Afrika untuk memperoleh pengalaman dan memperluas perannya dalam industri.
Namun, meningkatnya investasi asing tidak otomatis berarti ketergantungan terhadap teknologi asing akan hilang. Hasil akhirnya sangat bergantung pada bagaimana negara-negara Afrika merancang kebijakan industri dan memastikan investasi tersebut menciptakan kemampuan lokal yang bertahan dalam jangka panjang.
Kelebihan pasokan China menjadi faktor pendorong ekspansi
Salah satu faktor yang membuat perusahaan China semakin aktif mencari pasar luar negeri adalah kondisi kelebihan pasokan di pasar domestiknya. Dukungan negara dan investasi bertahun-tahun telah membuat kapasitas produksi teknologi hijau China berkembang sangat besar. Pada saat tertentu, kapasitas tersebut bahkan melebihi permintaan dalam negeri.
Kelebihan pasokan dapat memberikan keuntungan bagi negara-negara yang membutuhkan peralatan tenaga surya karena harga produk menjadi lebih kompetitif. Bagi negara berkembang, kondisi tersebut dapat membantu mempercepat pembangunan energi terbarukan tanpa harus membangun seluruh rantai pasok dari awal.
Akan tetapi, harga yang rendah juga dapat menciptakan tantangan bagi produsen lokal yang baru berkembang. Perusahaan Afrika yang masih membangun skala produksi dan kemampuan teknis harus berhadapan dengan produsen global yang telah memiliki kapasitas sangat besar dan pengalaman panjang.
Situasi tersebut membuat kebijakan industri menjadi semakin penting. Negara perlu mencari keseimbangan antara mendapatkan akses terhadap peralatan surya yang terjangkau dan membangun kemampuan produksi domestik yang mampu bertahan menghadapi persaingan global.
Apa arti perkembangan ini bagi masa depan energi Afrika?
Dorongan manufaktur surya lokal memperlihatkan bahwa transisi energi di Afrika mulai bergerak ke tahap yang lebih kompleks. Fokusnya tidak lagi hanya pada pembangunan pembangkit dan peningkatan akses listrik, tetapi juga pada pertanyaan mengenai bagaimana industri energi bersih dapat menciptakan nilai ekonomi di dalam negeri.
Jika kemampuan manufaktur terus berkembang, negara-negara Afrika berpotensi memperoleh manfaat yang lebih luas dari pertumbuhan permintaan energi surya. Manfaat tersebut dapat mencakup kegiatan industri, pekerjaan, pengembangan keterampilan, dan peningkatan kemampuan teknologi.
Namun, jalan menuju industri surya yang benar-benar terintegrasi masih panjang. Ketergantungan terhadap impor komponen utama, keterbatasan manufaktur sel surya, dan kuatnya posisi perusahaan China menunjukkan bahwa Afrika masih berada pada tahap awal dalam membangun rantai pasok domestik.
Karena itu, peningkatan kapasitas perakitan perlu dilihat sebagai salah satu tahap dalam proses yang lebih panjang. Keberhasilan jangka panjang akan ditentukan oleh kemampuan negara-negara Afrika mengembangkan ekosistem industri yang mencakup manufaktur, teknologi, tenaga kerja, pembiayaan, riset, serta pasar domestik.
Transisi energi sekaligus menjadi agenda industrialisasi
Perkembangan tenaga surya di Afrika pada akhirnya memperlihatkan hubungan erat antara kebutuhan energi dan pembangunan industri. Negara-negara yang membutuhkan listrik bersih dalam jumlah lebih besar memiliki peluang untuk menggunakan permintaan tersebut sebagai dasar pengembangan sektor manufaktur.
China kemungkinan tetap memainkan peran besar dalam proses tersebut karena kapasitas produksinya dan posisi kuatnya dalam rantai pasok global. Bagi Afrika, tantangannya bukan semata-mata menggantikan China sebagai pemasok, melainkan memastikan bahwa hubungan perdagangan dan investasi dengan China maupun negara lain menghasilkan peningkatan kemampuan lokal.
Jika strategi tersebut dapat berjalan, pertumbuhan energi surya tidak hanya akan menambah kapasitas pembangkit. Perkembangannya juga dapat menjadi bagian dari transformasi ekonomi yang lebih luas, ketika kebutuhan energi bersih digunakan untuk mendorong investasi, meningkatkan kemampuan industri, dan memperkuat posisi negara-negara Afrika dalam ekonomi hijau global.
Dengan demikian, ambisi membangun manufaktur panel surya lokal merupakan langkah strategis yang memiliki dimensi energi sekaligus ekonomi. Afrika sedang berusaha mengambil porsi lebih besar dari rantai nilai energi terbarukan, meskipun dominasi China dalam teknologi dan pasokan komponen membuat proses tersebut tetap menjadi tantangan besar.



