Bubur Ayam Jadi Bubur Terenak di Dunia, Ini 6 Bubur Indonesia Pilihan TasteAtlas

Bubur ayam menempati posisi teratas dalam daftar bubur Indonesia versi TasteAtlas. Ada pula bubur ketan hitam, kacang hijau, papeda, tinutuan, dan nasi tepeng.

Bubur ayam dengan suwiran ayam dan beragam pelengkap khas Indonesia
Bubur ayam dengan suwiran ayam dan beragam pelengkap khas Indonesia

Bubur ayam kembali mendapat sorotan di panggung kuliner internasional setelah menempati posisi teratas dalam daftar bubur Indonesia yang dirangkum TasteAtlas. Dalam daftar yang diperbarui pada 15 Juli 2026, bubur ayam menjadi hidangan dengan penilaian tertinggi di antara enam bubur Indonesia yang masuk rekomendasi, dengan rating 4,3. Daftar tersebut juga memperlihatkan betapa beragamnya tradisi bubur di Indonesia, mulai dari hidangan gurih untuk sarapan hingga sajian manis dan bubur berbahan sagu.

TasteAtlas mencatat enam hidangan yang masuk daftar tersebut adalah bubur ayam, bubur ketan hitam, bubur kacang hijau, papeda, tinutuan, dan nasi tepeng. Keenamnya memperlihatkan penggunaan bahan pangan yang berbeda serta cara pengolahan dan karakter rasa yang tidak sama. Karena itu, keberadaan mereka dalam satu daftar menjadi gambaran menarik mengenai keragaman kuliner Nusantara.

Bubur Ayam Menempati Posisi Teratas

Bubur ayam berada di urutan pertama dalam daftar enam bubur Indonesia versi TasteAtlas. Hidangan ini dikenal sebagai bubur nasi bertekstur kental yang disajikan bersama suwiran ayam serta beragam pelengkap bercita rasa gurih.

Menurut TasteAtlas, proses pembuatan bubur ayam umumnya dimulai dengan merebus ayam dan memanfaatkan kaldu tersebut untuk memasak beras hingga menghasilkan tekstur yang padat dan lembut. Setelah matang, bubur dapat diberi berbagai pelengkap seperti irisan daun bawang, bawang goreng, daun ketumbar, kacang tanah, cakwe, dan telur rebus. Penyajian juga dapat dilengkapi kecap atau sambal sesuai selera.

Karakter bubur ayam tidak hanya terletak pada teksturnya, tetapi juga pada perpaduan banyak elemen dalam satu mangkuk. Bubur yang lembut bertemu dengan suwiran ayam, pelengkap renyah, aroma bawang goreng, serta rasa gurih dan manis dari bumbu. Kombinasi tersebut membuat bubur ayam memiliki karakter yang mudah dikenali sekaligus memungkinkan variasi penyajian di berbagai daerah.

TasteAtlas juga menggambarkan bubur ayam sebagai salah satu makanan kaki lima yang umum ditemukan di Indonesia. Hidangan ini sangat lekat dengan kebiasaan sarapan dan dapat ditemukan dari penjual makanan jalanan hingga tempat makan yang menyediakan menu tradisional.

Bubur Ketan Hitam, Pilihan Manis dari Jawa

Di posisi berikutnya terdapat bubur ketan hitam dengan rating 3,6. Berbeda dari bubur ayam yang bercita rasa gurih, hidangan ini merupakan sajian manis yang menggunakan beras ketan hitam sebagai bahan utama.

Beras ketan hitam dimasak perlahan hingga menjadi lunak dan membentuk tekstur bubur yang kental. Setelah itu, gula ditambahkan untuk memberikan rasa manis. Bagian yang tidak terpisahkan dari hidangan ini adalah santan yang biasanya dituangkan sebagai pendamping. Rasa manis dari bubur berpadu dengan gurihnya santan sehingga menghasilkan kombinasi rasa yang menjadi ciri khas.

TasteAtlas menyebut bubur ketan hitam berasal dari Jawa dan kini dinikmati di berbagai wilayah Indonesia. Hidangan ini dapat disantap dalam kondisi hangat, suhu ruang, maupun dingin. Dalam praktiknya, cara penyajian dapat berbeda berdasarkan daerah dan kebiasaan keluarga.

Keberadaan bubur ketan hitam dalam daftar tersebut juga memperlihatkan bahwa istilah bubur di Indonesia tidak selalu identik dengan makanan gurih. Bahan dasar, teknik memasak, serta pelengkap dapat mengubah karakter hidangan secara keseluruhan.

Bubur Kacang Hijau dengan Rasa Manis dan Gurih

Bubur kacang hijau menempati urutan ketiga dengan rating 3,2. Sesuai namanya, bahan utama hidangan ini adalah kacang hijau yang dimasak hingga empuk. Kacang kemudian dipadukan dengan gula dan santan untuk menciptakan rasa manis serta gurih.

Tekstur menjadi salah satu daya tarik bubur kacang hijau. Kacang yang telah dimasak dengan baik tetap memberikan sensasi tersendiri ketika disantap, sementara kuah yang diperkaya gula dan santan memberikan rasa lembut serta aroma khas.

Hidangan ini cukup fleksibel dari sisi waktu penyajian. Bubur kacang hijau dapat dinikmati sebagai sarapan, camilan pada sore hari, maupun hidangan penutup. Di sejumlah tempat, bubur kacang hijau juga dipadukan dengan ketan hitam. Ada pula variasi penyajian yang menggunakan tambahan bahan lain untuk menghasilkan tekstur dan rasa yang lebih kaya.

Popularitas bubur kacang hijau memperlihatkan bagaimana bahan pangan sederhana dapat diolah menjadi makanan yang memiliki tempat kuat dalam kebiasaan makan masyarakat. Resepnya juga relatif mudah ditemukan dalam berbagai versi rumahan maupun sajian yang dijual oleh pedagang.

Papeda Membawa Tradisi Sagu dari Indonesia Timur

Papeda berada di posisi keempat dengan rating 3,0. Hidangan ini memiliki karakter yang sangat berbeda dari tiga bubur sebelumnya karena bahan utamanya adalah sagu. Papeda dikenal luas sebagai makanan tradisional dari kawasan Indonesia timur, terutama Maluku dan Papua.

Papeda dibuat dari tepung atau pati sagu yang dicampur dengan air panas hingga berubah menjadi bubur berwarna bening dengan tekstur kental dan lengket. Rasanya cenderung netral sehingga papeda biasanya tidak berdiri sendiri. Hidangan ini disajikan bersama lauk dan kuah berbumbu yang memberikan rasa kuat.

Salah satu pasangan yang dikenal adalah ikan dengan kuah kuning. Perpaduan tekstur papeda yang lembut dan lengket dengan kuah ikan yang kaya bumbu menghasilkan pengalaman makan yang berbeda dibandingkan bubur berbahan beras.

Lebih dari sekadar variasi makanan, papeda menunjukkan hubungan antara kuliner dengan sumber pangan lokal. Sagu memiliki peran penting dalam tradisi pangan sejumlah masyarakat di Indonesia timur. Karena itu, papeda juga menjadi bagian dari identitas kuliner daerah yang memiliki karakter berbeda dari hidangan berbasis beras.

Tinutuan, Bubur Sayuran Khas Manado

Posisi kelima ditempati tinutuan dengan rating 2,6. Hidangan yang juga dikenal sebagai bubur Manado ini memiliki karakter yang menonjolkan penggunaan berbagai bahan pangan nabati. Tinutuan berbeda dari bubur ayam karena komposisinya tidak berpusat pada suwiran ayam dan pelengkap gurih, melainkan kombinasi beras dengan sayuran dan bahan pangan lokal.

Tinutuan dapat dibuat dengan memasak beras bersama berbagai bahan seperti jagung, labu, singkong, dan sayuran. Komposisi bahan dapat berbeda sesuai kebiasaan dan ketersediaan bahan di masing-masing tempat. Setelah dimasak hingga lembut, hidangan tersebut menghasilkan bubur dengan cita rasa yang khas.

Dalam penyajiannya, tinutuan dapat dinikmati bersama berbagai pendamping. Sambal dan lauk seperti ikan menjadi pilihan yang dapat memperkuat rasa. Kombinasi tersebut menjadikan tinutuan bukan hanya bubur dengan tekstur lembut, tetapi juga hidangan yang menghadirkan banyak unsur dalam satu porsi.

Tinutuan juga memperlihatkan karakter kuliner Manado yang memanfaatkan beragam hasil pangan lokal. Penggunaan sayuran dalam jumlah beragam membuat hidangan ini memiliki identitas yang berbeda dibandingkan bubur Indonesia lainnya yang ada dalam daftar TasteAtlas.

Nasi Tepeng, Bubur dengan Karakter Rempah Bali

Nasi tepeng melengkapi enam hidangan Indonesia dalam daftar TasteAtlas. Berasal dari Bali dan populer terutama di wilayah Gianyar, nasi tepeng memiliki tekstur lembut menyerupai bubur karena nasi dimasak hingga lunak bersama berbagai bahan.

Berbeda dengan bubur ayam, nasi tepeng menonjolkan penggunaan sayuran dan bumbu khas Bali. TasteAtlas mencatat beberapa bahan yang dapat digunakan antara lain terong, bayam, nangka, dan daun singkong. Komposisinya dapat bervariasi, tetapi karakter utama hidangan tetap berada pada nasi yang dimasak lembut serta racikan bumbu yang kaya rempah.

Bumbu menjadi salah satu unsur yang membuat nasi tepeng menarik. Racikan rempah khas Bali dapat mencakup bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit, lengkuas, cabai, dan serai. Kombinasi tersebut memberikan aroma dan rasa yang kuat sehingga nasi tepeng memiliki karakter berbeda dari bubur Indonesia lainnya.

Karena tidak sekadar mengandalkan nasi dan air, nasi tepeng memperlihatkan bagaimana teknik memasak sederhana dapat berpadu dengan tradisi bumbu daerah. Hidangan ini menjadi contoh bahwa makanan bertekstur bubur dapat hadir dalam banyak bentuk sesuai identitas kuliner daerah asalnya.

Enam Bubur, Enam Karakter Kuliner Indonesia

Daftar TasteAtlas tersebut memperlihatkan bahwa kekayaan bubur Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah jenisnya, tetapi juga oleh perbedaan bahan dan tradisi di balik setiap hidangan. Bubur ayam menggunakan beras dan kaldu ayam dengan beragam pelengkap. Bubur ketan hitam menghadirkan rasa manis dengan santan. Bubur kacang hijau menggabungkan kacang, gula, dan santan.

Papeda memperkenalkan karakter sagu dari Indonesia timur, sedangkan tinutuan menonjolkan sayuran serta bahan pangan lokal dari Manado. Nasi tepeng kemudian menghadirkan pengaruh kuat bumbu dan rempah Bali. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa satu kategori makanan dapat memiliki bentuk yang sangat beragam ketika berkembang di wilayah dengan tradisi pangan yang berbeda.

Hal lain yang menarik adalah waktu dan konteks penyajiannya. Bubur ayam banyak dikenal sebagai menu sarapan, sementara bubur ketan hitam dan bubur kacang hijau dapat menjadi camilan atau makanan penutup. Papeda hadir sebagai bagian dari hidangan utama bersama lauk, sedangkan tinutuan dan nasi tepeng dapat menjadi makanan mengenyangkan dengan komposisi bahan yang lebih beragam.

Karena itu, pengakuan terhadap bubur ayam sebagai hidangan dengan penilaian tertinggi tidak perlu dipahami sebagai penutup dari keragaman tersebut. Justru, daftar enam bubur Indonesia memperlihatkan bahwa setiap hidangan memiliki karakter dan konteksnya masing-masing.

Penilaian TasteAtlas dan Cara Membacanya

TasteAtlas menjelaskan bahwa peringkat kulinernya dibuat berdasarkan penilaian audiens. Platform tersebut menggunakan mekanisme untuk mengenali pengguna dan menyaring penilaian yang dianggap berasal dari bot maupun penilaian yang dipengaruhi sentimen nasionalisme atau patriotisme lokal. Untuk daftar enam bubur Indonesia yang diperbarui pada Juli 2026, TasteAtlas mencatat adanya penilaian yang kemudian disaring oleh sistemnya.

Meski demikian, TasteAtlas sendiri mengingatkan bahwa peringkat tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai kesimpulan final mengenai makanan terbaik secara global. Daftar tersebut memiliki tujuan untuk memperkenalkan makanan lokal, menumbuhkan ketertarikan terhadap kuliner tradisional, dan mendorong orang mencoba hidangan yang mungkin belum mereka kenal.

Pendekatan tersebut penting ketika membaca posisi sebuah makanan dalam daftar kuliner. Rating dan peringkat dapat menjadi indikator popularitas atau apresiasi dari pengguna platform, tetapi pengalaman menikmati makanan tetap dipengaruhi selera, kebiasaan, daerah asal, serta konteks budaya masing-masing orang.

Warisan Kuliner yang Bisa Dikenalkan Lebih Luas

Masuknya enam bubur Indonesia dalam rekomendasi TasteAtlas memberikan gambaran tentang luasnya variasi kuliner Nusantara. Bubur ayam menjadi contoh bagaimana hidangan berbasis beras dapat berkembang dengan pelengkap dan bumbu lokal. Ketan hitam serta kacang hijau menunjukkan kuatnya tradisi makanan manis. Papeda memperlihatkan pentingnya sagu, sedangkan tinutuan dan nasi tepeng menampilkan pemanfaatan bahan lokal serta rempah khas daerah.

Keragaman tersebut dapat menjadi kekuatan dalam memperkenalkan kuliner Indonesia kepada masyarakat internasional. Makanan tidak hanya membawa rasa, tetapi juga cerita mengenai bahan pangan, kebiasaan makan, lingkungan, dan tradisi masyarakat yang mengembangkannya.

Bagi pencinta kuliner, daftar ini juga memberikan alasan untuk melihat bubur secara lebih luas. Tidak hanya bubur ayam yang populer di berbagai kota, tetapi masih ada hidangan dari Jawa, Indonesia timur, Manado, dan Bali yang menawarkan pengalaman berbeda dalam satu kategori makanan.

Pada akhirnya, posisi bubur ayam sebagai hidangan dengan penilaian tertinggi menjadi sorotan yang menarik, tetapi enam nama dalam daftar tersebut sama-sama menunjukkan kekayaan kuliner Indonesia. Dari semangkuk bubur ayam yang gurih hingga papeda yang khas sagu dan nasi tepeng yang kaya rempah, setiap hidangan membawa identitas daerahnya sendiri. Keragaman inilah yang membuat tradisi bubur Indonesia memiliki cerita panjang untuk terus dikenalkan, dinikmati, dan dilestarikan.

Sumber