Perhatian dunia tertuju ke Ulaanbaatar, Mongolia, setelah Konferensi Para Pihak ke-17 atau COP17 Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Memerangi Penggurunan (UNCCD) resmi dibuka pada 17 Agustus 2026. Pertemuan ini mempertemukan negara-negara anggota UNCCD bersama organisasi internasional, ilmuwan, dunia usaha, masyarakat sipil, komunitas lokal, petani, serta kelompok penggembala untuk membahas salah satu persoalan lingkungan yang semakin berkaitan erat dengan kehidupan manusia: degradasi lahan dan kekeringan.
Dengan tema Restoring Land. Restoring Hope, COP17 yang berlangsung hingga 28 Agustus membawa pemulihan lahan sebagai agenda utama. Pembahasannya tidak berhenti pada persoalan tanah yang mengalami kerusakan, tetapi juga mencakup ketahanan terhadap kekeringan, pengelolaan air, masa depan padang penggembalaan, serta keberlanjutan sistem pangan.
Degradasi lahan bukan lagi isu lingkungan semata
Persoalan lahan sering kali terlihat sebagai isu ekologis yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, kondisi lahan mempunyai hubungan langsung dengan pangan, air, pekerjaan, dan perekonomian masyarakat. Ketika tanah kehilangan produktivitasnya, kemampuan suatu wilayah untuk menopang kegiatan pertanian dan peternakan juga dapat menghadapi tekanan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan hingga 40 persen lahan di dunia saat ini mengalami degradasi. Dampaknya dapat meluas dari penurunan produktivitas lahan hingga berkurangnya ketersediaan air dan meningkatnya kerentanan ekonomi serta sosial. Karena itu, pemulihan lahan dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat, bukan sekadar program konservasi.
Situasi tersebut membuat agenda COP17 memiliki cakupan yang luas. Pemerintah perlu menyusun kebijakan, sementara sektor swasta, lembaga penelitian, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal memiliki peran dalam menerjemahkan kebijakan menjadi tindakan di lapangan.
Mengapa kekeringan menjadi perhatian utama?
Kekeringan merupakan salah satu tantangan yang mendapat perhatian besar dalam COP17. Kekurangan air dalam periode panjang dapat memberikan tekanan terhadap pertanian, peternakan, ekosistem, dan kehidupan masyarakat. Ketika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan degradasi lahan, kemampuan wilayah untuk pulih dapat semakin terbatas.
Karena itu, pendekatan yang dibahas dalam COP17 tidak hanya berusaha menangani dampak kekeringan setelah terjadi. Agenda konferensi juga diarahkan pada penguatan ketahanan, pengurangan risiko, serta pemulihan ekosistem agar masyarakat lebih mampu menghadapi periode kering.
Program resmi COP17 secara khusus memasukkan isu land restoration, drought resilience, air, padang penggembalaan, dan sistem pangan. Kelima isu tersebut saling berkaitan karena perubahan kondisi lahan dapat memengaruhi air dan produksi pangan, sementara kekeringan dapat memperbesar tekanan terhadap ekosistem dan mata pencaharian.
Padang penggembalaan mendapat perhatian khusus
Salah satu karakter penting COP17 adalah perhatian terhadap padang penggembalaan dan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada wilayah tersebut. Agenda ini menjadi semakin relevan karena 2026 juga merupakan Tahun Internasional Padang Penggembalaan dan Penggembala yang dicanangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Padang penggembalaan memiliki fungsi ekologis dan ekonomi. Wilayah tersebut menjadi sumber penghidupan bagi komunitas penggembala sekaligus bagian dari ekosistem yang perlu dikelola secara berkelanjutan. Karena itu, pembahasan tentang restorasi lahan tidak dapat dilepaskan dari pengalaman masyarakat yang berinteraksi langsung dengan lahan setiap hari.
UNESCO menekankan pentingnya ilmu pengetahuan, pendidikan, budaya, serta pengetahuan lokal dan masyarakat adat dalam mendukung pemulihan lahan dan ketahanan terhadap kekeringan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa solusi tidak selalu hanya berasal dari teknologi modern, tetapi juga dapat memanfaatkan pengetahuan yang berkembang di komunitas setempat.
Air dan pangan menjadi bagian dari persoalan yang sama
Pemulihan lahan juga mempunyai hubungan erat dengan ketersediaan air dan ketahanan pangan. Lahan yang terdegradasi dapat menghadapi penurunan kemampuan untuk mendukung produksi, sementara kekeringan dapat semakin memperbesar tekanan terhadap sumber daya air.
Dalam kondisi seperti itu, kebijakan pemulihan lahan perlu mempertimbangkan bagaimana air digunakan dan bagaimana sistem pangan dapat bertahan menghadapi tekanan lingkungan. Inilah alasan mengapa agenda COP17 menghubungkan isu lahan dengan sistem pangan, bukan membahasnya secara terpisah.
Persoalan tersebut juga mempunyai dimensi ekonomi. Gangguan terhadap produksi pertanian dan peternakan dapat berdampak terhadap pendapatan masyarakat, harga pangan, perdagangan, serta stabilitas ekonomi di wilayah yang rentan. Dengan demikian, investasi untuk menjaga produktivitas lahan dapat sekaligus menjadi investasi untuk mengurangi risiko ekonomi jangka panjang.
Pembiayaan menjadi tantangan besar
Salah satu pertanyaan penting dalam upaya pemulihan lahan adalah bagaimana membiayai program tersebut dalam skala yang dibutuhkan. Restorasi ekosistem membutuhkan waktu, perencanaan, tenaga ahli, serta pemeliharaan. Program yang tidak didukung pendanaan berkelanjutan akan sulit memberikan hasil jangka panjang.
Agenda COP17 karena itu turut memberikan perhatian pada pembiayaan dan mobilisasi investasi. Pemerintah, lembaga keuangan pembangunan, sektor swasta, dan mitra internasional perlu mencari cara agar sumber pendanaan dapat diarahkan pada proyek pemulihan lahan dan penguatan ketahanan terhadap kekeringan.
Tantangannya cukup besar. Kebutuhan investasi untuk mengatasi degradasi lahan dan membangun ketahanan kekeringan berada jauh di atas kemampuan banyak negara jika hanya mengandalkan anggaran publik. Karena itu, keterlibatan sektor swasta dan lembaga keuangan menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan global mengenai masa depan lahan.
Dunia usaha mulai dilihat sebagai bagian dari solusi
Pemulihan lahan tidak hanya membutuhkan kebijakan pemerintah. Aktivitas bisnis juga mempunyai hubungan dengan penggunaan sumber daya alam, rantai pasok pangan, pertanian, peternakan, kehutanan, dan berbagai sektor lain yang bergantung pada kondisi lahan.
Karena itu, dunia usaha dapat berperan melalui investasi, pengelolaan rantai pasok yang lebih bertanggung jawab, serta dukungan terhadap praktik yang menjaga produktivitas lahan. Keterlibatan perusahaan juga dapat membantu memperluas skala program yang sebelumnya hanya berjalan pada tingkat lokal.
Pada saat yang sama, investasi perlu memperhatikan kondisi sosial dan lingkungan setempat. Pemulihan lahan yang berhasil bukan hanya soal menanam kembali atau memperbaiki kondisi tanah, tetapi juga memastikan masyarakat yang hidup dari lahan mendapatkan manfaat dan dapat mempertahankan mata pencaharian mereka.
Kerja sama global semakin dibutuhkan
Degradasi lahan dan kekeringan tidak mengenal batas negara. Dampaknya dapat memengaruhi perdagangan pangan, migrasi, perekonomian, dan stabilitas sosial di berbagai kawasan. Karena itu, penyelesaian masalah tersebut membutuhkan kerja sama lintas negara.
COP17 menjadi ruang bagi negara-negara untuk membahas bagaimana pengalaman, teknologi, pengetahuan, serta sumber pembiayaan dapat digunakan secara lebih efektif. Delegasi dari berbagai negara berkumpul di Ulaanbaatar untuk mencari solusi terhadap persoalan desertifikasi, degradasi lahan, dan kekeringan.
Kerja sama tersebut juga membuka peluang bagi negara-negara untuk saling bertukar pengalaman. Praktik yang berhasil di satu wilayah belum tentu dapat diterapkan secara langsung di wilayah lain, tetapi prinsip dan pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi dasar untuk mengembangkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi lokal.
Peran ilmu pengetahuan semakin penting
Pengambilan keputusan mengenai lahan membutuhkan data dan penelitian yang kuat. Tanpa pemahaman mengenai kondisi tanah, air, ekosistem, iklim, dan aktivitas manusia, program pemulihan berisiko tidak tepat sasaran.
Karena itu, ilmuwan dan lembaga penelitian menjadi bagian penting dalam pembahasan COP17. Pengetahuan ilmiah dapat membantu pemerintah mengidentifikasi wilayah yang paling rentan, memilih pendekatan pemulihan yang sesuai, serta mengukur apakah suatu program benar-benar memberikan hasil.
Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan juga dapat membantu mempertemukan kepentingan yang berbeda. Kebutuhan produksi pangan, perlindungan ekosistem, pengelolaan air, serta kepentingan masyarakat lokal perlu dipertimbangkan secara bersamaan agar kebijakan tidak menghasilkan persoalan baru.
Apa yang ditunggu dari COP17?
Perhatian terhadap COP17 pada akhirnya bukan hanya mengenai rangkaian pertemuan dan deklarasi. Dunia akan melihat apakah pembahasan di Ulaanbaatar dapat menghasilkan kebijakan, kerja sama, dan pendanaan yang benar-benar dapat diterapkan.
UNCCD menempatkan COP17 sebagai kesempatan untuk mempercepat tindakan mengenai pemulihan lahan, ketahanan terhadap kekeringan, air, padang penggembalaan, dan sistem pangan. Agenda tersebut menunjukkan bahwa pemulihan lahan dipandang sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan ekonomi dan sosial dalam menghadapi berbagai tekanan lingkungan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan keputusan internasional dapat diterjemahkan menjadi program nyata di tingkat nasional dan lokal. Pemerintah perlu menyusun kebijakan yang konsisten, sementara dunia usaha, lembaga keuangan, peneliti, serta masyarakat perlu dilibatkan dalam pelaksanaannya.
Pemulihan lahan menyangkut masa depan masyarakat
Agenda COP17 memperlihatkan bahwa persoalan tanah tidak dapat dipisahkan dari persoalan manusia. Lahan yang sehat mendukung pangan, air, pekerjaan, dan ekosistem. Sebaliknya, lahan yang terus mengalami degradasi dapat meningkatkan tekanan terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian.
Karena itu, pemulihan lahan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, tetapi keberhasilan menjaga produktivitas tanah dan ketahanan terhadap kekeringan dapat memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Dengan dibukanya COP17 di Ulaanbaatar pada 17 Agustus 2026, perhatian internasional kembali diarahkan pada isu yang sering kalah populer dibandingkan perubahan iklim, tetapi memiliki hubungan langsung dengan kehidupan manusia. Selama dua pekan konferensi, dunia akan membahas bagaimana lahan yang terdegradasi dapat dipulihkan, bagaimana masyarakat menghadapi kekeringan, serta bagaimana kerja sama dan pembiayaan dapat diperkuat.
Hasil akhir COP17 akan menjadi penting bukan hanya bagi negara-negara yang menghadapi desertifikasi, tetapi juga bagi upaya global menjaga ketahanan pangan, air, ekonomi, dan kehidupan masyarakat. Pemulihan lahan pada akhirnya bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan bagian dari upaya menjaga fondasi kehidupan dan pembangunan dunia dalam jangka panjang.



