Demna Bawa Gucci dari Underground ke Glamornya yang Baru

Debut Demna di Gucci membawa strategi baru dengan memadukan energi underground, warisan rumah mode, dan kemewahan untuk menghidupkan kembali daya tarik merek.

Demna Gvasalia usai mempersembahkan koleksi Gucci Fall Winter 2026 di Milan Fashion Week
Demna Gvasalia usai mempersembahkan koleksi Gucci Fall Winter 2026 di Milan Fashion Week

Gucci memasuki fase baru setelah Demna Gvasalia mempersembahkan peragaan perdananya sebagai direktur artistik rumah mode Italia tersebut di Milan Fashion Week Fall/Winter 2026. Debut ini bukan sekadar pergantian sosok kreatif di balik sebuah merek mewah. Bagi Gucci, kedatangan Demna membawa misi yang lebih besar: mencari kembali identitas budaya yang mampu membuat rumah mode tersebut relevan sekaligus menarik perhatian generasi baru.

Strategi Demna terlihat dari cara ia mempertemukan dua dunia yang pada pandangan pertama tampak berlawanan. Di satu sisi ada energi underground yang dekat dengan komunitas kreatif, musisi, dan figur yang belum sepenuhnya menjadi bagian dari arus utama. Di sisi lain terdapat kemewahan khas Gucci, nama-nama besar, kode desain ikonis, serta kehadiran supermodel yang telah lama menjadi bagian dari sejarah industri fashion. Perpaduan itulah yang menjadi salah satu ciri penting dari debutnya.

Debut Demna Menandai Babak Baru Gucci

Peragaan Gucci berlangsung di Palazzo delle Scintille, Milan, sebuah bangunan bersejarah yang dalam presentasi tersebut diubah menjadi ruang dengan atmosfer menyerupai museum. Kehadiran patung dan elemen bergaya klasik memberi kesan bahwa penonton tidak hanya sedang menyaksikan koleksi pakaian, tetapi juga diajak melihat hubungan antara sejarah, seni, dan identitas sebuah rumah mode.

Pilihan lokasi tersebut menjadi konteks yang menarik untuk memahami pendekatan Demna. Gucci merupakan merek dengan warisan panjang dan berbagai kode visual yang telah dikenal luas. Ketika seorang direktur artistik baru datang, tantangannya bukan sekadar menciptakan sesuatu yang berbeda, melainkan menemukan cara agar unsur lama tetap memiliki arti dalam bahasa fashion yang baru.

Demna sendiri datang ke Gucci setelah lebih dari satu dekade menangani Balenciaga. Selama periode tersebut, ia dikenal mampu mengubah rumah mode yang memiliki sejarah panjang menjadi fenomena budaya yang kuat. Pengalaman itu menjadi salah satu alasan mengapa langkahnya di Gucci mendapatkan perhatian besar dari industri fashion.

Gucci dan Balenciaga sama-sama berada di bawah kelompok Kering. Namun, posisi Gucci di dalam grup tersebut membuat perubahan arah kreatifnya memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas. Ketika sebuah rumah mode besar kehilangan momentum, persoalannya bukan hanya mengenai koleksi pakaian, tetapi juga bagaimana merek tersebut dipersepsikan konsumen, komunitas fashion, dan pasar global.

Masalah Gucci Sebelum Kedatangan Demna

Perubahan kepemimpinan kreatif Gucci tidak terjadi dalam ruang kosong. Rumah mode tersebut sebelumnya mengalami perubahan besar setelah Alessandro Michele meninggalkan posisi kreatifnya pada 2022. Di bawah Michele, Gucci dikenal melalui pendekatan maksimalis yang penuh warna, detail, dan referensi historis.

Estetika tersebut berhasil menjadikan Gucci sebagai salah satu merek yang sangat menonjol dalam percakapan fashion. Namun, setelah periode tersebut berakhir, Gucci mengambil arah berbeda dengan menunjuk Sabato de Sarno. Pendekatan yang lebih dekat dengan tren quiet luxury diharapkan dapat membawa penyegaran, tetapi berdasarkan laporan yang menjadi sumber artikel ini, perubahan tersebut tidak menghasilkan pemulihan bisnis seperti yang diharapkan.

Pendapatan Gucci secara global disebut turun dari sekitar 10,5 miliar euro menjadi sekitar 6 miliar euro pada periode 2022 hingga 2025. Angka tersebut menggambarkan besarnya tantangan yang harus dihadapi rumah mode tersebut. Penurunan kinerja membuat pergantian arah kreatif menjadi lebih dari sekadar keputusan estetika. Ada tuntutan bisnis yang kuat di balik kebutuhan untuk menemukan kembali daya tarik Gucci.

Dalam situasi seperti itu, Demna memiliki pekerjaan yang rumit. Ia harus membuat Gucci terasa baru tanpa menghilangkan karakter yang membuatnya dikenal. Jika terlalu jauh meninggalkan warisan, Gucci berisiko kehilangan identitas. Sebaliknya, jika terlalu bergantung pada masa lalu, rumah mode tersebut dapat terlihat tidak memiliki arah baru.

Underground Menjadi Bagian dari Strategi Kreatif

Salah satu gagasan penting dalam pendekatan Demna adalah ketertarikan pada dunia underground. Dalam konteks budaya anak muda, istilah tersebut dapat merujuk pada komunitas kreatif yang berkembang di luar arus utama, termasuk musisi dan figur yang belum memiliki popularitas sebesar selebritas global.

Pendekatan ini menarik karena industri luxury fashion selama bertahun-tahun sangat bergantung pada nama besar. Selebritas, model terkenal, dan figur publik sering menjadi bagian penting dari strategi komunikasi sebuah merek. Demna tidak sepenuhnya menolak pendekatan tersebut, tetapi ia tampaknya ingin memperluas sumber energi kreatif Gucci dengan memberi ruang kepada figur yang berasal dari lingkungan yang lebih kecil dan lebih spesifik.

Dalam koleksi Fall/Winter 2026, referensi tersebut terlihat melalui keterlibatan musisi seperti Fakemink dan EsDeeKid. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Demna tidak hanya mencari popularitas, tetapi juga ingin menghubungkan Gucci dengan berbagai lapisan budaya kontemporer.

Strategi semacam ini memiliki arti penting bagi merek mewah. Generasi baru konsumen tidak selalu melihat fashion hanya sebagai persoalan harga atau status. Fashion juga menjadi bagian dari identitas, komunitas, musik, seni, dan cara seseorang menempatkan dirinya di tengah perubahan budaya.

Dengan memasukkan unsur underground, Gucci dapat mencoba membangun percakapan yang lebih luas. Merek tersebut tidak hanya hadir sebagai simbol kemewahan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem budaya yang terus bergerak.

Ketika Underground Bertemu Selebritas

Meski membawa energi underground, Demna tidak menghapus unsur glamor dari panggung Gucci. Justru salah satu kekuatan presentasinya terletak pada kemampuan mempertemukan dua dunia tersebut dalam satu pertunjukan.

Fakemink, misalnya, tampil di panggung bersama sejumlah model ternama seperti Karlie Kloss, Emily Ratajkowski, dan Kate Moss. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa strategi Demna bukan menggantikan popularitas dengan underground, melainkan menciptakan hubungan di antara keduanya.

Pendekatan ini membuat pertunjukan terasa seperti pertemuan beberapa generasi dan kelompok dalam fashion. Ada figur yang sudah memiliki sejarah panjang di industri, ada model yang tetap menjadi bagian dari budaya pop, dan ada pula nama yang berasal dari skena musik yang lebih dekat dengan komunitas underground.

Kate Moss menjadi salah satu simbol kuat dari sisi glamor tersebut. Ia tampil sebagai penutup peragaan dengan gaun hitam berhiaskan sequin yang menonjolkan siluet tubuh. Kehadirannya sekaligus mengingatkan pada hubungan panjang antara Gucci dan dunia supermodel, sekaligus memperlihatkan bagaimana Demna menggunakan ikon lama dalam konteks yang baru.

Menghidupkan Kembali Sensualitas Gucci

Selain permainan antara underground dan mainstream, koleksi Demna juga membawa kembali nuansa sensual yang mengingatkan pada Gucci era 1990-an ketika Tom Ford berada di balik arah kreatifnya. Namun, referensi tersebut tidak hadir sebagai salinan masa lalu.

Demna menggabungkan karakter sensual tersebut dengan pendekatan desain yang menjadi cirinya sendiri. Hasilnya adalah koleksi yang memiliki sisi glamor, tetapi tetap menyimpan atmosfer yang lebih gelap dan terkadang terasa apokaliptis.

Kontras tersebut menjadi penting karena Gucci tidak sedang mencari nostalgia secara utuh. Rumah mode ini membutuhkan cara untuk menggunakan sejarah sebagai bahan bakar kreativitas, bukan sebagai sesuatu yang harus direproduksi secara persis.

Material bulu menjadi salah satu elemen yang memberikan kesan mewah. Elemen tersebut muncul dalam bentuk mantel maupun aksesori seperti selop. Di saat yang sama, sejumlah kode desain yang sudah melekat pada Gucci tetap dipertahankan, termasuk monogram GG dan detail horsebit yang menjadi bagian penting dari identitas merek.

Dengan mempertahankan elemen tersebut, Demna memperlihatkan bahwa perubahan kreatif tidak harus selalu berarti menghapus masa lalu. Warisan dapat dipertahankan selama memiliki kemampuan untuk diterjemahkan kembali ke dalam konteks yang berbeda.

Tas Ikonis Mendapat Interpretasi Baru

Perubahan pendekatan juga terlihat pada aksesori. Gucci memiliki sejumlah tas yang telah menjadi bagian dari sejarah rumah mode tersebut, dan Demna memberikan interpretasi baru tanpa sepenuhnya menghilangkan karakter aslinya.

Jackie 1961, misalnya, hadir dengan ukuran yang diperbesar. Sementara itu, Bamboo 1947 tetap mempertahankan ciri gagang berbentuk bambu, tetapi mendapat pendekatan baru melalui penggunaan gagang kulit.

Langkah tersebut menunjukkan bagaimana sebuah produk ikonis dapat diperbarui tanpa harus kehilangan pengenal utamanya. Dalam industri luxury fashion, keberadaan produk klasik memiliki nilai strategis karena konsumen sudah mengenal bentuk dan sejarahnya. Namun, produk yang sama juga harus terus mengalami pembaruan agar tidak terasa berhenti di masa lalu.

Karena itu, perubahan pada aksesori dapat dilihat sebagai bagian dari strategi yang lebih luas. Demna tidak hanya mengubah pakaian, tetapi mencoba menyusun kembali keseluruhan bahasa visual Gucci, mulai dari busana hingga tas dan elemen identitas merek.

Seni dan Musik Menjadi Referensi

Inspirasi koleksi Demna juga tidak berhenti pada dunia fashion. Karya seni, termasuk lukisan yang dikaitkan dengan Sandro Botticelli, menjadi salah satu referensi yang disebut dalam laporan mengenai koleksi tersebut.

Kehadiran referensi seni memperkuat gagasan bahwa Demna ingin Gucci berfungsi sebagai bagian dari budaya yang lebih luas. Rumah mode tidak hanya menciptakan pakaian, tetapi juga dapat menjadi ruang pertemuan antara seni, musik, sejarah, dan identitas sosial.

Pendekatan semacam ini memiliki sejarah panjang dalam dunia fashion. Banyak rumah mode besar berusaha membangun relevansi melalui kolaborasi dan referensi budaya karena konsumen modern sering kali melihat merek sebagai sebuah dunia, bukan sekadar label pada pakaian.

Untuk Gucci, tantangannya adalah memastikan berbagai referensi tersebut tidak terasa seperti kumpulan elemen yang ditempelkan secara terpisah. Semuanya harus memiliki hubungan dengan identitas merek. Debut Demna menunjukkan upaya untuk menciptakan hubungan tersebut dengan mempertemukan simbol lama Gucci dengan sumber inspirasi yang lebih kontemporer.

Gucci Tidak Sepenuhnya Meninggalkan Masa Lalunya

Salah satu hal menarik dari koleksi perdana Demna adalah kehadiran Alessandro Michele di barisan depan. Michele merupakan figur yang sebelumnya membawa Gucci ke era maksimalisme dan menjadi bagian penting dari sejarah terbaru rumah mode tersebut.

Kehadirannya menjadi gambaran bahwa perubahan kreatif di rumah mode besar tidak selalu berarti memutus hubungan dengan masa lalu. Sebaliknya, setiap direktur artistik bekerja di atas fondasi yang telah dibangun oleh pendahulunya.

Demna tampaknya memahami posisi tersebut. Ia tidak mencoba menghapus seluruh jejak Gucci sebelum dirinya datang. Monogram GG, horsebit, tas Jackie, Bamboo, hingga nuansa sensual dari era Tom Ford tetap menjadi bagian dari percakapan visual koleksi.

Perbedaannya terletak pada cara elemen tersebut disusun. Warisan Gucci diperlakukan sebagai bahan mentah yang dapat dibentuk kembali. Strategi ini memungkinkan rumah mode mempertahankan pengenal utamanya sekaligus memberi ruang untuk identitas baru.

Tantangan Terbesar Justru Setelah Peragaan

Peragaan busana dapat menciptakan perhatian besar dalam waktu singkat. Namun, keberhasilan sebuah koleksi luxury fashion tidak ditentukan hanya oleh respons terhadap pertunjukan. Produk pada akhirnya harus diterima pasar, dan konsumen harus menunjukkan ketertarikan ketika koleksi tersedia secara komersial.

Karena itu, keberhasilan strategi Demna masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Koleksi yang ditampilkan di Milan memberikan gambaran arah kreatif, tetapi hasil komersial baru dapat dinilai setelah produk memasuki toko dan konsumen memiliki kesempatan untuk membeli serta menggunakannya.

Di sinilah tantangan Demna menjadi semakin kompleks. Ia harus menjaga keseimbangan antara kebebasan kreatif dan kebutuhan bisnis. Dunia underground mungkin memberikan energi budaya yang segar, tetapi Gucci tetap merupakan bisnis luxury fashion dengan target pasar global dan tuntutan komersial yang besar.

Jika strategi tersebut berhasil, Gucci berpeluang membangun kembali hubungan dengan konsumen yang mencari sesuatu yang lebih ekspresif. Namun, jika keseimbangan antara kreativitas dan komersial tidak tercapai, perhatian besar yang muncul dari debut tersebut belum tentu berubah menjadi pemulihan jangka panjang.

Kenapa Strategi Demna Menarik bagi Industri Fashion?

Debut Demna di Gucci menarik bukan hanya karena nama besar rumah mode dan desainer yang terlibat. Strategi tersebut juga mencerminkan persoalan yang sedang dihadapi banyak merek fashion besar: bagaimana tetap relevan ketika selera konsumen berubah sangat cepat.

Luxury fashion membutuhkan eksklusivitas, tetapi pada saat yang sama merek harus tetap hadir dalam percakapan budaya. Jika terlalu eksklusif, sebuah merek dapat kehilangan kedekatan dengan generasi baru. Sebaliknya, jika terlalu mengejar tren, identitas dan rasa eksklusifnya dapat melemah.

Pendekatan Demna mencoba berada di antara dua kutub tersebut. Ia mengambil energi dari komunitas yang lebih kecil dan tidak sepenuhnya mainstream, tetapi memasukkannya ke dalam panggung Gucci yang sangat besar. Ia juga mempertahankan model dan ikon terkenal, tetapi tidak menjadikan popularitas sebagai satu-satunya sumber relevansi.

Dengan demikian, konsep underground dalam strategi Demna bukan sekadar soal memilih siapa yang tampil di runway. Ia merupakan cara untuk mencari sumber inspirasi yang tidak selalu berasal dari pusat industri fashion. Musik, seni, komunitas kreatif, dan budaya anak muda menjadi bagian dari upaya membangun kembali Gucci sebagai referensi budaya.

Gucci Mencari Identitas yang Lebih Emosional

Di balik seluruh pendekatan tersebut terdapat gagasan bahwa sebuah rumah mode besar perlu memiliki hubungan emosional dengan publik. Produk mewah tidak hanya dibeli karena fungsi. Nilainya juga dibentuk oleh cerita, simbol, sejarah, aspirasi, dan perasaan yang muncul ketika seseorang melihat atau mengenakan produk tersebut.

Demna membawa pengalaman dari Balenciaga untuk mencoba membangun kembali dimensi tersebut di Gucci. Namun, ia menghadapi kondisi yang berbeda. Gucci memiliki sejarah, simbol, dan warisan yang sangat kuat sehingga tantangannya bukan membangun identitas dari awal, melainkan mengaktifkan kembali identitas yang sudah ada.

Karena itu, perpaduan antara masa lalu dan masa kini menjadi inti pendekatan tersebut. Gucci dapat tetap menggunakan kode desain yang dikenal publik, tetapi memberikan konteks baru melalui siluet, proporsi, material, casting, serta referensi budaya.

Dalam kerangka itu, underground dan glamor bukan dua pilihan yang harus saling mengalahkan. Keduanya dapat menjadi bagian dari satu strategi. Underground memberikan rasa baru dan kedekatan dengan budaya kontemporer, sedangkan glamor mempertahankan posisi Gucci sebagai rumah mode mewah dengan sejarah panjang.

Akankah Demna Benar-Benar Mengembalikan Gucci?

Pertanyaan terbesar setelah debut tersebut adalah apakah pendekatan Demna dapat mengembalikan Gucci ke periode kejayaan berikutnya. Jawabannya belum dapat dipastikan hanya dari satu peragaan.

Koleksi perdana memang memberikan sinyal mengenai arah yang ingin ditempuh. Demna tampak ingin menjadikan Gucci lebih berani secara budaya, lebih terbuka terhadap pengaruh dari luar industri fashion, tetapi tetap terikat pada kode visual yang telah membentuk identitas merek.

Namun, keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada banyak hal. Respons konsumen, performa produk di pasar, kekuatan komunikasi merek, konsistensi koleksi berikutnya, serta kemampuan Gucci mempertahankan perhatian publik akan menjadi faktor penting.

Fashion juga merupakan industri yang bergerak cepat. Apa yang terlihat segar hari ini dapat dengan mudah menjadi biasa ketika tren berubah. Karena itu, tantangan Demna bukan hanya menciptakan satu koleksi yang menarik perhatian, tetapi membangun bahasa kreatif yang dapat bertahan dan berkembang dari musim ke musim.

Warisan dan Masa Depan dalam Satu Panggung

Debut Demna di Gucci pada akhirnya dapat dilihat sebagai upaya mempertemukan berbagai lapisan sejarah dan budaya. Ada warisan Gucci, referensi Tom Ford, jejak Alessandro Michele, pengalaman Demna di Balenciaga, energi musik underground, kehadiran supermodel, serta simbol-simbol klasik rumah mode yang tetap dipertahankan.

Semua elemen tersebut menunjukkan bahwa strategi baru Gucci tidak dibangun dengan cara menghapus masa lalu. Demna justru memanfaatkannya untuk menciptakan narasi yang berbeda. Dalam dunia luxury fashion, pendekatan seperti ini menjadi penting karena rumah mode besar harus mampu menghormati warisan tanpa terjebak di dalamnya.

Peragaan Fall/Winter 2026 menjadi awal dari proses tersebut. Panggung Milan memberikan gambaran mengenai visi kreatif Demna, tetapi perjalanan Gucci untuk membangun kembali daya tariknya masih panjang.

Jika energi underground mampu diterjemahkan menjadi produk yang diinginkan konsumen, sementara unsur glamor dan warisan Gucci tetap terjaga, strategi ini dapat menjadi fondasi penting bagi fase baru rumah mode tersebut. Sebaliknya, jika perhatian terhadap pertunjukan tidak berlanjut menjadi ketertarikan terhadap produk dan merek, debut yang ramai tetap hanya akan menjadi satu momen dalam sejarah panjang Gucci.

Yang jelas, Demna telah memilih pendekatan yang tidak sederhana. Ia tidak mencoba menjadikan Gucci sekadar lebih modern atau lebih mewah. Ia berusaha mengembalikan rumah mode tersebut ke pusat percakapan budaya dengan cara mempertemukan kelompok yang berbeda, dari dunia underground hingga panggung glamor.

Di situlah daya tarik utama strategi barunya. Gucci tidak harus memilih antara menjadi eksklusif atau relevan, antara menghormati sejarah atau berbicara kepada generasi baru. Tantangannya adalah menemukan titik temu di antara semuanya. Debut Demna menunjukkan bahwa pencarian tersebut sudah dimulai.

Sumber