Desainer Muda FFD Tampilkan Karya Berani di BRI JF3 2026

Sejumlah desainer muda program Future Fashion Designer menampilkan koleksi busana berstruktur dan eksperimental di BRI JF3 Fashion Festival 2026.

Karya desainer Arron Bryan diperagakan di panggung BRI JF3 Fashion Festival 2026
Karya desainer Arron Bryan diperagakan di panggung BRI JF3 Fashion Festival 2026

Sejumlah desainer muda dari program Future Fashion Designer (FFD) menampilkan karya mereka dalam ajang BRI JF3 Fashion Festival 2026 di Summarecon Mal Kelapa Gading, Jakarta. Peragaan yang berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026, memperlihatkan bagaimana para perancang tersebut menerjemahkan gagasan tentang bentuk, simbol, material, dan karakter ke dalam busana yang memiliki struktur kuat.

Koleksi yang ditampilkan tidak berhenti pada fungsi pakaian sebagai busana untuk dikenakan. Para desainer justru menggunakan bentuk dan konstruksi sebagai bagian penting dari cara mereka bercerita. Inspirasi dari karya aksesori Rinaldy Yunardi menjadi salah satu titik temu dalam sejumlah koleksi, tetapi masing-masing desainer memberikan interpretasi berbeda sesuai gagasan yang ingin dibangun.

Hasilnya adalah rangkaian tampilan yang memperlihatkan keberanian dalam mengolah siluet, material, teknik konstruksi, hingga permainan transparansi. Nama-nama seperti Arron Bryan Fernaldy Wongso, Azzahra Najmanisa, Agatha Lievia, dan Tashannie Abigail Loekman membawa pendekatan masing-masing ke panggung BRI JF3 Fashion Festival 2026.

BRI JF3 2026 Menjadi Panggung bagi Desainer Program FFD

BRI JF3 Fashion Festival 2026 menjadi ruang bagi para desainer program Future Fashion Designer untuk memperlihatkan hasil eksplorasi mereka kepada publik. Kehadiran karya-karya tersebut memperlihatkan bahwa proses merancang busana dapat berangkat dari gagasan visual yang sangat spesifik, kemudian diterjemahkan melalui pilihan bahan dan teknik konstruksi.

Dalam koleksi yang ditampilkan, pakaian tidak hanya diperlakukan sebagai bidang datar yang mengikuti bentuk tubuh. Struktur, lipatan, drapery, material transparan, hingga elemen penyangga digunakan untuk menciptakan bentuk yang lebih ekspresif. Pendekatan semacam ini membuat setiap koleksi memiliki karakter visual yang berbeda meskipun terdapat benang merah berupa inspirasi dari karya Rinaldy Yunardi.

Ajang tersebut juga memperlihatkan bagaimana desainer muda dapat mengembangkan satu sumber inspirasi menjadi gagasan yang berbeda. Inspirasi yang sama tidak menghasilkan bentuk yang seragam. Sebaliknya, setiap perancang melakukan pembacaan ulang berdasarkan tema, simbol, serta pendekatan desain masing-masing.

Arron Bryan Mengubah Figur Angsa Putih Menjadi Gagasan Dramatis

Salah satu koleksi yang menonjol datang dari Arron Bryan Fernaldy Wongso, pemenang kompetisi FFD asal Jayapura. Arron membawa koleksi bertajuk OPPOSITE: The Fallen Virtue, yang menjadikan figur angsa putih sebagai titik awal gagasan desain.

Inspirasi tersebut berkaitan dengan salah satu aksesori karya Rinaldy Yunardi berupa bridal headpiece bergaya Art Nouveau berbentuk angsa putih. Dalam pembacaan Arron, figur angsa tersebut kemudian dikembangkan menjadi representasi yang lebih dramatis melalui perubahan karakter dari angsa putih menjadi angsa hitam.

Gagasan itu memberikan ruang bagi Arron untuk memainkan kontras. Jika sumber inspirasinya berkaitan dengan kemurnian, kebaikan, dan keanggunan, koleksi yang dihasilkan justru menghadirkan transformasi visual yang lebih gelap dan dramatis. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat melalui pilihan warna, tetapi juga melalui bentuk busana yang dibuat lebih tegas.

Dalam proses perancangannya, Arron mengombinasikan tweed, kain hitam pekat, dan tulle. Material tersebut digunakan bersama sejumlah teknik konstruksi yang menghasilkan siluet dramatis, lipatan, serta bentuk skulptural. Dengan demikian, material bukan sekadar pelengkap, tetapi menjadi bagian dari cara koleksi tersebut membangun karakter.

Kontras Menjadi Bahasa Visual dalam OPPOSITE

Konsep OPPOSITE: The Fallen Virtue dapat dibaca melalui permainan pertentangan yang menjadi dasar koleksi. Pergeseran dari putih ke hitam menghadirkan perubahan suasana yang kuat. Sementara itu, penggunaan struktur dan bentuk skulptural membuat busana memiliki kesan yang lebih tegas dibandingkan pakaian dengan siluet konvensional.

Perubahan karakter tersebut menunjukkan bagaimana sebuah objek atau bentuk dapat ditafsirkan kembali melalui fashion. Angsa tidak sekadar menjadi bentuk yang ditiru secara literal. Figur tersebut digunakan sebagai titik berangkat untuk membangun narasi mengenai perubahan karakter, lalu diterjemahkan ke dalam pilihan material, warna, dan konstruksi.

Pendekatan Arron memperlihatkan bahwa inspirasi dalam fashion dapat bekerja melalui proses transformasi. Desainer tidak harus menyalin bentuk sumber inspirasi secara langsung. Sebaliknya, sebuah objek dapat diterjemahkan menjadi suasana, simbol, atau karakter baru yang kemudian diwujudkan dalam pakaian.

Azzahra Najmanisa Membawa Inspirasi ke Siluet Kebaya Modern

Desainer asal Lampung, Azzahra Najmanisa, mengambil pendekatan berbeda. Ia menghadirkan pembacaan ulang terhadap karya Rinaldy Yunardi melalui siluet busana tradisional Indonesia yang dibuat lebih modern. Fokus tersebut terlihat melalui penggunaan kebaya dengan bentuk yang mengalir dan dinamis.

Azzahra menggunakan cutting yang meliuk-liuk serta teknik drapery untuk membentuk siluet busana. Pilihan tersebut memberikan kesan gerak pada pakaian sekaligus mempertahankan karakter elegan yang melekat pada kebaya.

Eksplorasi ini menarik karena mempertemukan inspirasi dari karya aksesori dengan bentuk busana yang memiliki akar tradisional. Alih-alih meninggalkan karakter kebaya, pendekatan Azzahra justru mencoba menghadirkan wajah baru melalui perubahan potongan dan cara material disusun pada tubuh.

Teknik drapery menjadi bagian penting dalam pendekatan tersebut. Permainan jatuh kain memungkinkan terciptanya garis yang lebih lembut dan bergerak. Ketika dipadukan dengan cutting yang meliuk, hasil akhirnya membangun siluet yang terasa dinamis tanpa menghilangkan kesan anggun.

Kebaya dalam Pembacaan yang Lebih Modern

Koleksi Azzahra menunjukkan bahwa busana tradisional dapat menjadi ruang eksplorasi desain. Modernisasi tidak selalu berarti menghilangkan identitas awal sebuah pakaian. Dalam koleksi ini, kebaya tetap menjadi fondasi, sementara perubahan pada cutting dan drapery memberikan arah visual yang lebih kontemporer.

Pendekatan tersebut juga memperlihatkan pentingnya siluet dalam membentuk kesan sebuah busana. Potongan yang meliuk dan aliran material membuat pakaian dapat tampil berbeda meskipun tetap menggunakan referensi dari busana tradisional. Dengan demikian, bentuk menjadi salah satu alat utama untuk memperbarui tampilan tanpa harus memutus hubungan dengan karakter asalnya.

Agatha Lievia Mengeksplorasi Jiwa Manusia lewat The Cage Within

Desainer Agatha Lievia menghadirkan koleksi bertajuk The Cage Within. Koleksi ini terdiri dari empat tampilan busana yang mengeksplorasi manifestasi jiwa manusia melalui konstruksi dan permainan material.

Agatha menggunakan perpaduan heavy satin, jacquard, dan tulle. Ketiga material tersebut memberi kesempatan untuk menghadirkan perbedaan tekstur, tingkat kekakuan, serta karakter visual dalam satu rangkaian koleksi.

Salah satu pendekatan yang terlihat adalah penggunaan structured corsetry. Elemen tersebut dipadukan dengan siluet mini dress dan layered transparent overlays. Permainan lapisan transparan kemudian digunakan untuk membangun ilusi sangkar dan sayap yang menjadi bagian dari simbol transformasi emosional setiap karakter.

Konsep sangkar memberikan gambaran tentang sesuatu yang membatasi, sementara bentuk sayap dapat menghadirkan kesan yang berlawanan. Pertemuan kedua simbol tersebut membuat koleksi Agatha memiliki bahasa visual yang bertumpu pada pertentangan antara keterbatasan dan perubahan.

Material dan Struktur sebagai Bagian dari Narasi

Dalam The Cage Within, material memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar menentukan tampilan permukaan busana. Heavy satin, jacquard, dan tulle digunakan untuk membangun lapisan dan struktur yang membantu menyampaikan gagasan koleksi.

Structured corsetry memberikan bentuk yang lebih tegas, sementara lapisan transparan dapat menciptakan kesan ruang atau batas yang tidak sepenuhnya tertutup. Kombinasi tersebut membuat busana dapat menyampaikan konsep secara visual tanpa harus bergantung pada ornamen yang berlebihan.

Pendekatan Agatha memperlihatkan bahwa desain fashion dapat digunakan sebagai media untuk menerjemahkan gagasan abstrak. Jiwa manusia, emosi, batas, dan transformasi bukan benda yang memiliki bentuk fisik. Namun, semuanya dapat dicoba divisualisasikan melalui struktur pakaian, pilihan bahan, dan hubungan antara satu lapisan dengan lapisan lainnya.

Tashannie Abigail Loekman Hadirkan Koleksi ICARUS

Tashannie Abigail Loekman menghadirkan koleksi berjudul ICARUS. Berbeda dengan pendekatan yang mengangkat perubahan warna atau kebaya modern, koleksi ini mengambil inspirasi dari mitologi Yunani dan struktur bulu asimetris karya Rinaldy Yunardi.

Gagasan utama ICARUS dibangun melalui gambaran sayap yang mengalami perubahan. Koleksi tersebut membayangkan momen ketika sayap malaikat mulai terbakar oleh panas matahari, kehilangan bentuk sempurnanya, lalu berubah menjadi siluet yang lebih organik dan ekspresif.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan melalui bentuk yang menyerupai sayap terurai. Struktur busana tidak dibuat untuk menghasilkan bentuk sayap yang sempurna, tetapi justru menonjolkan perubahan dan ketidakteraturan sebagai bagian dari karakter koleksi.

Abigail menggunakan aplikasi tangan, balen penyangga korset, kawat, dan crinoline untuk membangun siluet berstruktur. Berbagai elemen tersebut memungkinkan pakaian memiliki bentuk yang lebih kokoh sekaligus memberikan ruang bagi eksplorasi volume.

ICARUS dan Eksplorasi Bentuk yang Tidak Sempurna

Salah satu aspek menarik dari koleksi ICARUS adalah gagasan mengenai perubahan dari bentuk sempurna menuju bentuk yang lebih organik. Dalam konteks desain, perubahan tersebut memberi kesempatan kepada perancang untuk tidak terpaku pada simetri atau bentuk yang sepenuhnya teratur.

Struktur sayap yang terurai menjadi bagian dari bahasa visual koleksi. Kawat dan crinoline membantu menciptakan kerangka, sementara aplikasi tangan memberikan detail pada permukaan. Balen penyangga korset juga menjadi bagian dari konstruksi yang membantu membentuk tubuh busana.

Dengan pendekatan tersebut, Abigail memperlihatkan bahwa ketidaksempurnaan dapat menjadi sumber karakter. Bentuk yang berubah, tidak simetris, dan tampak seperti sedang mengalami proses transformasi justru digunakan untuk memperkuat identitas koleksi.

Satu Inspirasi, Empat Pendekatan Desain

Karya para desainer FFD di BRI JF3 Fashion Festival 2026 memperlihatkan bahwa satu sumber inspirasi dapat melahirkan interpretasi yang sangat berbeda. Arron Bryan mengembangkan figur angsa menjadi konsep transformasi dari putih menuju hitam. Azzahra Najmanisa menerjemahkan inspirasi tersebut ke dalam kebaya dengan siluet modern. Agatha Lievia menggunakannya sebagai bagian dari eksplorasi mengenai jiwa dan transformasi emosional, sementara Tashannie Abigail Loekman mengolah gagasan sayap melalui referensi mitologi dan struktur asimetris.

Perbedaan tersebut menjadi bagian penting dari karakter karya masing-masing desainer. Tidak ada tuntutan bahwa sebuah inspirasi harus diterjemahkan dengan satu bentuk tertentu. Justru melalui interpretasi personal, sebuah sumber dapat berkembang menjadi berbagai bahasa desain.

Kesamaan inspirasi juga membuat perbandingan antarkoleksi menjadi menarik. Pengunjung dapat melihat bagaimana warna, material, teknik konstruksi, dan bentuk digunakan untuk membangun suasana yang berbeda. Dalam satu panggung, konsep yang berangkat dari referensi serupa dapat tampil sebagai busana yang memiliki identitas masing-masing.

Struktur Busana Menjadi Elemen Penting

Salah satu benang merah yang terlihat dari koleksi para desainer tersebut adalah perhatian terhadap struktur. Beberapa karya menggunakan siluet dramatis, structured corsetry, kawat, crinoline, balen, maupun teknik lain untuk membuat pakaian memiliki bentuk yang lebih terarah.

Struktur memiliki fungsi penting dalam fashion karena dapat mengubah cara pakaian membentuk ruang di sekitar tubuh. Busana tidak hanya mengikuti tubuh, tetapi juga dapat menciptakan volume, garis, dan karakter tertentu. Dalam koleksi FFD yang tampil di BRI JF3, aspek tersebut digunakan untuk mendukung konsep masing-masing desainer.

Pilihan material juga berhubungan erat dengan struktur. Tweed dan kain hitam pekat pada koleksi Arron memberikan karakter berbeda dibandingkan kombinasi satin berat, jacquard, dan tulle milik Agatha. Sementara itu, kawat dan crinoline pada koleksi Abigail membantu membangun struktur yang menyerupai sayap terurai.

Perbedaan material tersebut menunjukkan bahwa konsep desain tidak dapat dipisahkan dari proses teknis. Gagasan yang kuat membutuhkan cara penerjemahan yang sesuai agar dapat terlihat dalam bentuk pakaian. Karena itu, pemilihan material dan teknik konstruksi menjadi bagian dari proses kreatif, bukan sekadar tahap produksi.

Eksperimen Fashion Tidak Hanya soal Tampilan

Koleksi yang ditampilkan para desainer FFD juga memperlihatkan bahwa eksperimen fashion dapat berlangsung melalui banyak aspek. Eksperimen dapat muncul dari cara membaca sebuah objek, mengubah simbol menjadi bentuk, memadukan material, mengembangkan siluet, atau membangun struktur yang berbeda dari pakaian sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, pakaian menjadi media untuk menyampaikan gagasan. Bentuk angsa, kebaya, sangkar, sayap, dan referensi mitologi tidak hadir sekadar sebagai dekorasi. Semua elemen tersebut digunakan sebagai titik berangkat untuk membangun karakter koleksi.

Pendekatan seperti ini membuat proses melihat fashion menjadi lebih luas. Busana dapat dinilai bukan hanya berdasarkan apakah bentuknya menarik, tetapi juga bagaimana ide di baliknya diterjemahkan. Hubungan antara konsep dan hasil akhir menjadi bagian penting dari pengalaman melihat sebuah koleksi.

BRI JF3 Menunjukkan Ruang bagi Kreativitas Desainer Muda

Kehadiran karya desainer program Future Fashion Designer di BRI JF3 Fashion Festival 2026 memperlihatkan adanya ruang bagi perancang muda untuk mengembangkan identitas kreatif mereka. Masing-masing koleksi menunjukkan keberanian mengeksplorasi tema yang berbeda, mulai dari perubahan karakter, modernisasi busana tradisional, manifestasi jiwa manusia, hingga transformasi bentuk sayap.

Keragaman tersebut membuat panggung fashion tidak hanya menjadi tempat untuk memperlihatkan pakaian, tetapi juga ruang untuk menyampaikan perspektif. Setiap desainer memiliki cara sendiri dalam menentukan apa yang ingin ditekankan dan bagaimana gagasan tersebut diterjemahkan menjadi siluet.

Bagi perkembangan kreativitas fashion, keberagaman pendekatan semacam itu menjadi penting karena menunjukkan bahwa desain tidak memiliki satu bahasa tunggal. Ada desainer yang mengutamakan struktur, ada yang berangkat dari tradisi, ada yang mengeksplorasi simbol emosional, dan ada pula yang menggunakan mitologi sebagai sumber gagasan.

Keempat koleksi yang ditampilkan di BRI JF3 Fashion Festival 2026 pada akhirnya memperlihatkan satu hal yang sama: fashion dapat menjadi ruang untuk mengolah inspirasi menjadi bentuk baru. Melalui teknik konstruksi, pilihan material, permainan siluet, dan gagasan yang kuat, para desainer FFD membawa interpretasi masing-masing ke atas panggung.

Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi publik untuk melihat bagaimana generasi desainer muda mengembangkan karya dengan pendekatan yang berani dan beragam. Dari transformasi angsa dalam OPPOSITE: The Fallen Virtue, kebaya modern Azzahra Najmanisa, eksplorasi emosional dalam The Cage Within, hingga sayap yang terurai dalam ICARUS, setiap koleksi menunjukkan bahwa satu inspirasi dapat berkembang menjadi cerita visual yang berbeda.

Sumber