Festival Pesisir 2026 di Pulau Mandangin, Sampang, Madura, ditutup dengan pementasan drama kolosal bertajuk Mandangin Bergema. Pertunjukan yang berlangsung di lapangan Pulau Mandangin pada 15 Agustus 2026 itu melibatkan sekitar 400 warga setempat yang berperan sebagai aktor, pemusik, dan pendamping. Pementasan tersebut mengangkat cerita rakyat tentang Raden Aryo Pratikel atau Bangsa Cara dan Raden Ajeng Raga Patmi, dua tokoh yang menjadi bagian dari kisah leluhur Pulau Mandangin.
Drama kolosal itu menjadi salah satu bagian penting dalam Festival Pesisir 2026 karena menghadirkan cerita rakyat setempat ke dalam pertunjukan yang melibatkan masyarakat secara langsung. Tidak hanya menjadi penonton, warga Pulau Mandangin ikut mengambil bagian dalam proses pementasan. Keterlibatan tersebut membuat festival memiliki ruang yang kuat untuk menampilkan kisah lokal melalui medium seni pertunjukan.
Mandangin Bergema Menjadi Penutup Festival Pesisir 2026
Festival Pesisir 2026 digelar di Pulau Mandangin dengan tema Mandangin Bergema. Pementasan drama kolosal menjadi penutup rangkaian kegiatan tersebut. Pemilihan cerita rakyat Pulau Mandangin sebagai materi pertunjukan membuat bagian penutup festival tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menghadirkan kembali kisah yang berkembang dalam masyarakat setempat.
Drama tersebut mengangkat kisah Raden Aryo Pratikel yang dikenal dengan nama Bangsa Cara dan Raden Ajeng Raga Patmi. Dalam cerita yang diangkat, keduanya merupakan sepasang kekasih. Bangsa Cara digambarkan sebagai seorang petinggi kerajaan, sedangkan Raga Patmi merupakan putri raja Madura.
Kisah tersebut menjadi materi utama dalam pementasan Mandangin Bergema. Dengan mengambil cerita rakyat dari Pulau Mandangin, pertunjukan menempatkan unsur sejarah lisan dan cerita leluhur sebagai bagian dari agenda festival.
Kehadiran cerita lokal dalam sebuah pertunjukan kolosal juga memberikan bentuk lain bagi masyarakat untuk mengenali kembali kisah yang berasal dari lingkungan mereka sendiri. Dalam konteks Festival Pesisir 2026, cerita tersebut dibawa ke panggung melalui keterlibatan warga yang menjalankan berbagai peran di dalam pementasan.
400 Warga Pulau Mandangin Terlibat dalam Pementasan
Salah satu hal yang menonjol dari drama kolosal Mandangin Bergema adalah besarnya keterlibatan warga. Sebanyak 400 orang dari Pulau Mandangin ikut ambil bagian dalam pementasan. Mereka terdiri dari aktor, pemusik, dan pendamping yang mendukung berlangsungnya pertunjukan.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pementasan tidak hanya bertumpu pada kelompok pertunjukan dari luar wilayah. Warga setempat menjadi bagian dari proses menghadirkan cerita rakyat Pulau Mandangin ke hadapan masyarakat dalam format pertunjukan kolosal.
Peran sebagai aktor memberikan kesempatan kepada warga untuk tampil membawa karakter dalam cerita. Sementara pemusik memiliki fungsi dalam mendukung suasana pertunjukan. Para pendamping juga menjadi bagian dari keseluruhan proses pementasan yang berlangsung di lapangan Pulau Mandangin.
Dengan jumlah peserta yang mencapai 400 orang, Mandangin Bergema menjadi kegiatan yang melibatkan banyak unsur masyarakat. Angka tersebut mencakup berbagai fungsi dalam pementasan, sehingga festival tidak hanya memperlihatkan hasil pertunjukan di atas panggung, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam menyiapkan dan menjalankannya.
Keterlibatan warga seperti ini membuat Festival Pesisir 2026 memiliki dimensi sosial yang berjalan berdampingan dengan dimensi budaya. Cerita rakyat menjadi materi yang dipentaskan, sementara masyarakat menjadi pelaku yang ikut menghidupkan cerita tersebut melalui pertunjukan.
Mengangkat Cerita Rakyat Pulau Mandangin
Mandangin Bergema secara khusus mengangkat kisah Raden Aryo Pratikel atau Bangsa Cara dan Raden Ajeng Raga Patmi. Cerita tersebut disebut sebagai cerita rakyat dari Pulau Mandangin. Tokoh-tokoh dalam kisah itu menggambarkan hubungan antara seorang petinggi kerajaan dan putri raja Madura.
Dalam cerita yang menjadi dasar pementasan, Raga Patmi dikisahkan mengalami penyakit kulit yang parah. Kondisi tersebut digambarkan melalui ruam merah dan lenting bernanah yang menghinggapi tubuhnya. Bagian kisah tersebut menjadi salah satu unsur cerita yang dibawa ke dalam drama kolosal.
Pengangkatan cerita rakyat menjadi materi pementasan memberikan ruang bagi kisah lokal untuk disampaikan dalam bentuk yang lebih mudah dinikmati sebagai pertunjukan. Cerita yang sebelumnya hidup sebagai bagian dari kisah masyarakat kemudian dihadirkan melalui tokoh, peran, musik, dan keterlibatan warga.
Dalam sebuah festival yang mengusung nama Mandangin Bergema, penggunaan cerita rakyat dari Pulau Mandangin juga memiliki keterkaitan langsung dengan identitas lokal yang ingin ditampilkan. Festival tidak sekadar berlangsung sebagai kegiatan di suatu wilayah, tetapi membawa nama dan cerita daerah tersebut sebagai bagian dari materi utama.
Festival Pesisir dan Peran Masyarakat Lokal
Festival Pesisir 2026 diinisiasi oleh SKK Migas dengan bekerja sama bersama Husky-CNOOC Madura Limited atau HCML dan Pemerintah Kabupaten Sampang. Menurut Hamim Tohari, Manager Regional Office and Relation HCML, Festival Pesisir merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat atau PPM.
Program tersebut disebut memiliki tujuan yang berkaitan dengan mitigasi sosial, ekonomi, dan budaya untuk mendukung kegiatan operasi hulu migas. Dengan demikian, penyelenggaraan festival ditempatkan dalam konteks program yang lebih luas, tidak semata-mata sebagai agenda hiburan.
Dimensi budaya terlihat jelas melalui pementasan Mandangin Bergema. Cerita rakyat Pulau Mandangin menjadi bagian dari festival, sementara warga setempat mengambil peran dalam pementasan. Unsur tersebut memperlihatkan bagaimana kegiatan masyarakat dapat menjadi ruang untuk menampilkan aspek budaya lokal.
Dimensi sosial juga terlihat dari jumlah warga yang terlibat. Sebanyak 400 warga tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi berpartisipasi sebagai aktor, pemusik, dan pendamping. Keterlibatan tersebut membuat masyarakat menjadi salah satu unsur utama dalam pelaksanaan acara.
Adapun aspek ekonomi dan sosial disebut menjadi bagian dari tujuan program PPM yang melandasi festival. Dalam informasi yang disampaikan HCML, kegiatan tersebut sekaligus diposisikan sebagai langkah mitigasi sosial, ekonomi, dan budaya dalam kaitannya dengan kegiatan operasi hulu migas.
Mandangin Bergema Menghubungkan Cerita dan Partisipasi Warga
Drama kolosal memiliki karakter yang memungkinkan banyak orang terlibat dalam satu pementasan. Format tersebut terlihat dalam Mandangin Bergema melalui partisipasi 400 warga Pulau Mandangin. Masing-masing mengambil peran sebagai aktor, pemusik, maupun pendamping.
Partisipasi tersebut membuat cerita rakyat tidak hanya disampaikan melalui narasi tertulis. Kisah Bangsa Cara dan Raga Patmi diterjemahkan menjadi pertunjukan yang dimainkan oleh warga. Dengan cara itu, cerita lokal memperoleh bentuk penyampaian yang berbeda dalam rangkaian Festival Pesisir 2026.
Di sisi lain, keterlibatan warga juga menunjukkan adanya hubungan antara festival dan komunitas setempat. Masyarakat menjadi bagian dari proses penyelenggaraan, sementara kisah yang dipentaskan berasal dari lingkungan budaya mereka sendiri.
Hal tersebut menjadi salah satu karakter utama Mandangin Bergema. Pertunjukan tidak hanya mengandalkan materi cerita, tetapi juga mengandalkan partisipasi masyarakat untuk membawa cerita tersebut ke dalam sebuah pertunjukan kolosal.
Kisah Bangsa Cara dan Raga Patmi
Kisah yang diangkat dalam Mandangin Bergema berpusat pada Raden Aryo Pratikel yang dikenal sebagai Bangsa Cara dan Raden Ajeng Raga Patmi. Keduanya dikisahkan sebagai sepasang kekasih. Bangsa Cara merupakan seorang petinggi kerajaan, sedangkan Raga Patmi disebut sebagai putri raja Madura.
Dalam bagian cerita yang diberitakan, Raga Patmi mengalami penyakit kulit yang parah. Tubuhnya dikisahkan mengalami ruam merah dan lenting bernanah. Unsur tersebut menjadi bagian dari cerita rakyat yang diangkat dalam drama kolosal.
Penyajian kisah tersebut melalui pertunjukan memberikan kesempatan kepada penonton untuk mengenal salah satu cerita yang dikaitkan dengan Pulau Mandangin. Festival kemudian menjadi ruang pertemuan antara cerita rakyat dan pertunjukan seni yang melibatkan masyarakat.
Kisah lokal seperti ini memiliki posisi penting dalam sebuah festival yang membawa nama daerah. Materi cerita menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan identitas suatu tempat melalui tokoh dan narasi yang dikenal dalam masyarakat.
Dalam konteks Mandangin Bergema, cerita tersebut tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari acara yang sejak awal membawa tema Mandangin Bergema dan melibatkan warga Pulau Mandangin sebagai bagian dari pementasan.
Lapangan Pulau Mandangin Menjadi Panggung Pertunjukan
Pementasan drama kolosal berlangsung di lapangan Pulau Mandangin pada 15 Agustus 2026. Lokasi tersebut menjadi ruang bagi ratusan warga untuk menampilkan cerita rakyat yang menjadi materi utama drama.
Penggunaan ruang di Pulau Mandangin memberikan konteks tersendiri bagi pementasan. Cerita yang diangkat berasal dari Pulau Mandangin dan pertunjukannya juga berlangsung di wilayah tersebut. Dengan demikian, lokasi festival dan materi cerita memiliki hubungan yang langsung.
Para aktor, pemusik, dan pendamping berkumpul dalam satu kegiatan untuk mendukung pementasan. Keberadaan mereka menjadi bagian dari proses menghadirkan drama kolosal yang menjadi penutup Festival Pesisir 2026.
Lapangan sebagai tempat pertunjukan juga menjadi ruang bersama bagi masyarakat yang terlibat dalam festival. Di sana, cerita rakyat ditampilkan dalam bentuk pertunjukan dan menjadi bagian dari kegiatan yang membawa tema Mandangin Bergema.
Budaya Lokal Menjadi Bagian dari Festival
Festival Pesisir 2026 memperlihatkan bahwa kegiatan masyarakat dapat dikemas dengan memasukkan unsur budaya lokal. Dalam acara tersebut, cerita rakyat Pulau Mandangin ditempatkan sebagai materi utama drama kolosal. Kehadiran cerita tersebut membuat festival memiliki unsur budaya yang kuat.
Budaya lokal tidak hanya muncul sebagai tema, tetapi juga diwujudkan melalui partisipasi masyarakat. Warga Pulau Mandangin menjadi pelaku pertunjukan dan terlibat dalam berbagai fungsi yang diperlukan untuk menghadirkan drama kolosal.
Hal tersebut penting karena sebuah cerita rakyat tidak hanya bergantung pada keberadaan cerita itu sendiri. Cara masyarakat mengenali, menyampaikan, dan menampilkannya juga menjadi bagian dari bagaimana kisah tersebut hadir di ruang publik.
Dalam Mandangin Bergema, proses itu berlangsung melalui pementasan kolosal. Tokoh dan cerita ditempatkan dalam pertunjukan, sementara warga mengambil bagian sebagai aktor, pemusik, dan pendamping.
Dengan format tersebut, Festival Pesisir 2026 tidak hanya menampilkan sebuah agenda pertunjukan. Festival juga memberikan ruang kepada masyarakat Pulau Mandangin untuk terlibat dalam kegiatan yang membawa nama dan cerita daerah mereka.
Hubungan Festival dengan Program Pengembangan Masyarakat
Menurut keterangan HCML, Festival Pesisir merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat. Program tersebut menjadi salah satu konteks penyelenggaraan festival yang melibatkan SKK Migas, HCML, dan Pemerintah Kabupaten Sampang.
Dalam penjelasan Hamim Tohari, festival juga bertujuan menjadi langkah mitigasi sosial, ekonomi, dan budaya untuk mendukung kegiatan operasi hulu migas. Pernyataan tersebut memberikan konteks bahwa kegiatan budaya yang berlangsung di Pulau Mandangin berada dalam kerangka pelibatan masyarakat.
Drama Mandangin Bergema kemudian menjadi salah satu bentuk nyata dari sisi budaya dalam kegiatan tersebut. Cerita rakyat lokal diangkat ke panggung, sementara masyarakat setempat menjadi bagian dari proses pertunjukan.
Keterlibatan 400 warga menjadi salah satu indikator penting dari partisipasi masyarakat dalam agenda tersebut. Mereka menjalankan fungsi yang berbeda, tetapi berada dalam satu pertunjukan yang sama.
Dengan begitu, festival menjadi ruang yang mempertemukan program pengembangan masyarakat dengan kegiatan seni dan budaya. Cerita lokal menjadi materi, masyarakat menjadi pelaku, dan festival menjadi wadah untuk mempertemukan keduanya.
Festival sebagai Ruang Mengenalkan Kisah Daerah
Salah satu kekuatan dari sebuah festival daerah adalah kemampuannya menghadirkan cerita yang berkaitan dengan tempat penyelenggaraan. Dalam Festival Pesisir 2026, hal tersebut terlihat melalui pilihan cerita yang diangkat dalam Mandangin Bergema.
Bangsa Cara dan Raga Patmi merupakan tokoh dalam cerita rakyat yang disebut berasal dari Pulau Mandangin. Ketika kisah tersebut dipentaskan di Pulau Mandangin dengan melibatkan warga setempat, cerita memperoleh konteks ruang yang sangat dekat dengan asal kisahnya.
Pertunjukan tersebut dapat menjadi medium untuk mempertemukan masyarakat dengan cerita yang menjadi bagian dari lingkungan budaya mereka. Bagi warga yang terlibat, pementasan juga menjadi kegiatan bersama yang membutuhkan kerja sama antara aktor, pemusik, dan pendamping.
Dalam skala yang lebih luas, kehadiran cerita rakyat dalam festival membantu menempatkan identitas daerah sebagai bagian dari agenda publik. Nama Pulau Mandangin tidak hanya hadir sebagai lokasi, tetapi juga muncul melalui tema festival dan kisah yang dipentaskan.
400 Warga Menjadi Bagian dari Cerita yang Dipentaskan
Jumlah 400 warga yang terlibat menjadi salah satu fakta utama dalam pementasan Mandangin Bergema. Mereka berasal dari Pulau Mandangin dan menjalankan peran yang berbeda dalam pertunjukan.
Keberadaan aktor diperlukan untuk membawa tokoh-tokoh dalam cerita. Pemusik mendukung pertunjukan dari sisi musik, sedangkan pendamping membantu keseluruhan proses pementasan. Ketiga unsur tersebut menjadi bagian dari satu pertunjukan kolosal.
Dengan melibatkan masyarakat dalam jumlah besar, drama tersebut memiliki dimensi partisipatif yang kuat. Cerita rakyat tidak hanya dipertunjukkan oleh sejumlah kecil pemain, tetapi menjadi bagian dari kegiatan yang melibatkan banyak warga dalam fungsi yang berbeda.
Hal ini juga memperlihatkan bagaimana kegiatan budaya dapat menjadi sarana berkumpul bagi masyarakat. Dalam satu agenda, warga dapat menjalankan peran sesuai kebutuhan pertunjukan sekaligus menjadi bagian dari festival yang berlangsung di wilayah mereka sendiri.
Mandangin Bergema dan Identitas Pulau Mandangin
Nama Mandangin Bergema yang digunakan sebagai tema festival memiliki keterkaitan langsung dengan lokasi kegiatan. Pulau Mandangin menjadi tempat berlangsungnya festival sekaligus sumber cerita yang diangkat dalam drama kolosal.
Hubungan antara nama, lokasi, masyarakat, dan cerita menjadi unsur yang membuat pementasan tersebut memiliki identitas lokal. Semua unsur tersebut bertemu dalam satu kegiatan yang berlangsung di lapangan Pulau Mandangin.
Drama yang mengangkat Bangsa Cara dan Raga Patmi kemudian menjadi bagian dari cara festival menampilkan cerita lokal. Kisah tersebut tidak diposisikan sebagai cerita yang berdiri sendiri, melainkan menjadi penutup dari sebuah festival yang membawa nama Mandangin.
Dengan demikian, Mandangin Bergema dapat dilihat sebagai titik temu antara festival, masyarakat, dan cerita rakyat. Masing-masing unsur memiliki fungsi dalam membangun keseluruhan kegiatan.
Penutup Festival dengan Nuansa Budaya
Pementasan drama kolosal Mandangin Bergema menjadi penutup Festival Pesisir 2026 di Pulau Mandangin. Pertunjukan tersebut mengangkat kisah Raden Aryo Pratikel atau Bangsa Cara dan Raden Ajeng Raga Patmi, yang disebut sebagai cerita rakyat Pulau Mandangin.
Sebanyak 400 warga ikut terlibat sebagai aktor, pemusik, dan pendamping. Mereka menjadi bagian dari proses menghadirkan kisah lokal dalam format pertunjukan kolosal di lapangan Pulau Mandangin.
Festival tersebut diinisiasi oleh SKK Migas bersama HCML dan Pemerintah Kabupaten Sampang sebagai bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat. Dalam penjelasan HCML, kegiatan itu juga ditujukan sebagai langkah mitigasi sosial, ekonomi, dan budaya untuk mendukung kegiatan operasi hulu migas.
Melalui Mandangin Bergema, sisi budaya menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam Festival Pesisir 2026. Cerita rakyat, keterlibatan masyarakat, dan ruang pertunjukan bertemu dalam satu kegiatan yang membawa kisah leluhur Pulau Mandangin ke tengah masyarakat melalui seni pertunjukan.



