Gaya hidup digital di Indonesia semakin sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Smartphone dan koneksi internet kini tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk berbelanja, membayar kebutuhan, mencari informasi, bekerja, belajar, menikmati hiburan, hingga memanfaatkan kecerdasan buatan. Perubahan tersebut membuat kehidupan online dan kehidupan sehari-hari semakin terhubung.
Perkembangan ini terlihat dari semakin luasnya penggunaan layanan digital. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada triwulan II 2026 atau tumbuh 36,88 persen secara tahunan. Transaksi melalui aplikasi mobile dan internet juga terus bertumbuh, sementara transaksi QRIS meningkat lebih dari dua kali lipat secara tahunan pada periode tersebut.
Smartphone Menjadi Bagian dari Rutinitas
Bagi banyak orang, smartphone telah berubah menjadi perangkat serbaguna. Satu perangkat dapat digunakan untuk berkomunikasi, mencari informasi, memesan layanan, melakukan pembayaran, mengakses pekerjaan, dan menikmati hiburan.
Perubahan tersebut membuat aktivitas digital tidak lagi selalu terasa sebagai kegiatan khusus. Membuka aplikasi pesan, memeriksa media sosial, membayar makanan secara nontunai, mencari lokasi melalui peta digital, atau menggunakan layanan berbasis internet telah menjadi bagian dari rutinitas.
DataReportal dalam laporan Digital 2026 mencatat terdapat 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025, dengan penetrasi internet mencapai 80,5 persen. Laporan yang sama mencatat 180 juta identitas pengguna media sosial pada Oktober 2025.
Pembayaran Digital Mengubah Kebiasaan Bertransaksi
Salah satu perubahan yang paling mudah terlihat dalam gaya hidup digital adalah cara masyarakat melakukan pembayaran. Transaksi yang sebelumnya mengandalkan uang tunai kini semakin sering dilakukan melalui aplikasi perbankan dan dompet digital.
QRIS menjadi salah satu contoh bagaimana pembayaran digital semakin masuk ke berbagai aktivitas masyarakat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan transaksi QRIS tetap tinggi pada triwulan II 2026 dan menyebut peningkatan tersebut didukung oleh bertambahnya pengguna serta merchant.
Perubahan ini memberikan kemudahan karena masyarakat dapat menyelesaikan transaksi menggunakan perangkat yang sudah mereka bawa setiap hari. Namun, kemudahan tersebut juga membuat pengelolaan keamanan akun dan informasi pribadi menjadi semakin penting.
Media Sosial Membentuk Cara Masyarakat Mendapatkan Informasi
Media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat berbagi foto, video, atau percakapan. Platform digital juga menjadi salah satu ruang utama masyarakat menemukan berita, mengikuti tren, mencari rekomendasi produk, dan membentuk opini.
Kementerian Komunikasi dan Digital menyoroti bahwa algoritma media sosial dapat memengaruhi informasi yang diterima pengguna dan ikut membentuk persepsi. Karena itu, literasi digital menjadi semakin penting agar pengguna tidak menerima setiap informasi yang muncul di layar sebagai fakta.
Dalam kondisi seperti ini, kemampuan memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan memahami konteks menjadi bagian dari kecakapan hidup di era digital. Kecepatan membagikan informasi seharusnya tidak mengalahkan kebutuhan untuk memastikan kebenarannya.
AI Mulai Menjadi Teman dalam Aktivitas Digital
Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membawa perubahan lain dalam gaya hidup digital. Teknologi ini dapat digunakan untuk membantu mencari informasi, merangkum materi, menghasilkan ide, menerjemahkan teks, hingga mendukung berbagai pekerjaan.
Pemerintah juga menilai kemampuan literasi digital perlu berkembang mengikuti era AI. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut literasi digital tidak lagi cukup hanya berfokus pada kemampuan menggunakan perangkat dan internet, tetapi perlu diarahkan pada kecakapan yang lebih kontekstual, produktif, dan relevan dengan perkembangan teknologi.
Bagi pengguna sehari-hari, perkembangan AI berarti semakin banyak aktivitas yang dapat dibantu teknologi. Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan penilaian manusia, terutama ketika informasi yang dihasilkan berkaitan dengan keputusan penting atau menyangkut data pribadi.
Kenyamanan Digital Perlu Diimbangi Kesadaran Keamanan
Semakin banyak aktivitas dilakukan secara online, semakin besar pula pentingnya menjaga keamanan digital. Akun media sosial, layanan keuangan, email, dan berbagai aplikasi dapat menyimpan informasi yang bernilai bagi penggunanya.
Pengguna perlu membiasakan diri menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk layanan penting, mengaktifkan autentikasi tambahan jika tersedia, serta berhati-hati ketika menerima tautan atau pesan yang meminta informasi pribadi. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko penyalahgunaan akun.
Kewaspadaan juga diperlukan terhadap konten yang dibuat atau dimanipulasi menggunakan AI. Kementerian Komunikasi dan Digital pada Agustus 2026 mengingatkan bahwa hoaks, penipuan digital, dan manipulasi konten berbasis AI semakin sulit dikenali.
Gaya Hidup Digital Bukan Sekadar Mengikuti Teknologi
Menjalani gaya hidup digital bukan berarti harus menggunakan setiap teknologi baru yang tersedia. Hal yang lebih penting adalah kemampuan memilih teknologi sesuai kebutuhan dan memahami konsekuensinya.
Teknologi seharusnya membantu aktivitas menjadi lebih praktis dan produktif, bukan membuat pengguna kehilangan kendali atas waktu, perhatian, atau data pribadi. Karena itu, kebiasaan mengatur waktu layar, memilih informasi yang dikonsumsi, dan membatasi penggunaan aplikasi yang tidak diperlukan juga menjadi bagian dari gaya hidup digital yang sehat.
Masyarakat Perlu Semakin Cakap di Ruang Digital
Pertumbuhan ekonomi digital menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup bukan sekadar tren sementara. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut Indonesia memiliki penetrasi internet sekitar 79,5 persen dan nilai ekonomi digital diproyeksikan mencapai lebih dari 130 miliar dolar AS pada 2026.
Besarnya aktivitas digital membuka banyak peluang, mulai dari pekerjaan dan bisnis hingga akses terhadap layanan dan informasi. Pada saat yang sama, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan teknologi secara aman, kritis, dan produktif.
Gaya hidup digital pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa sering seseorang menggunakan internet atau berapa banyak aplikasi yang terpasang di smartphone. Esensinya adalah bagaimana teknologi digunakan untuk membuat kehidupan lebih mudah tanpa mengabaikan keamanan, privasi, kesehatan digital, dan kemampuan berpikir kritis.
Menjadi Pengguna Digital yang Lebih Bijak
Perubahan teknologi akan terus berlangsung dan kemungkinan semakin banyak aktivitas sehari-hari berpindah ke ruang digital. Pembayaran, komunikasi, pekerjaan, hiburan, pendidikan, dan pencarian informasi akan terus berkembang mengikuti kemampuan teknologi.
Karena itu, masyarakat perlu melihat kecakapan digital sebagai kemampuan yang terus diperbarui. Mengikuti perkembangan teknologi penting, tetapi memahami cara menggunakannya secara bertanggung jawab jauh lebih penting.
Dengan kebiasaan digital yang tepat, kemajuan teknologi dapat menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup. Sebaliknya, tanpa kesadaran dan literasi yang memadai, kemudahan digital juga dapat membawa risiko baru. Tantangan gaya hidup digital pada 2026 bukan lagi sekadar bagaimana masyarakat terhubung dengan internet, melainkan bagaimana tetap mampu mengendalikan teknologi agar benar-benar memberi manfaat dalam kehidupan sehari-hari.


