Hanoi Jadi Magnet Baru, Pencarian Wisata dari Indonesia Melonjak 86 Persen

Ibu kota Vietnam, Hanoi, menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi pelancong asal Indonesia sepanjang paruh pertama tahun 2026 dengan lonjakan pencarian hingga 86 persen.

Pemandangan kawasan bersejarah Old Quarter di Hanoi, Vietnam, yang dipenuhi arsitektur kolonial dan pepohonan rindang.
Pemandangan kawasan bersejarah Old Quarter di Hanoi, Vietnam, yang dipenuhi arsitektur kolonial dan pepohonan rindang.
Ibu kota Vietnam, Hanoi, sukses mencuri perhatian para pelancong asal Indonesia di paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan data terbaru dari platform perjalanan digital Agoda, kota bersejarah ini mengalami lonjakan pencarian yang sangat signifikan dari wisatawan tanah air. Tren positif ini menempatkan Hanoi sebagai salah satu destinasi luar negeri yang paling diminati untuk dikunjungi pada musim liburan tahun ini.Data Agoda menunjukkan bahwa volume pencarian perjalanan dari Indonesia menuju Hanoi melesat hingga 86 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam hal pertumbuhan minat ke Hanoi, diikuti oleh Filipina dengan peningkatan sebesar 82 persen dan Qatar dengan kenaikan sebesar 49 persen. Angka-angka ini menjadi sinyal kuat bahwa popularitas destinasi Asia Tenggara non-tradisional kian bersinar di mata turis domestik.Perpaduan Sempurna Arsitektur Klasik dan Nuansa Alam yang RindangSebagai salah satu kota tertua di Asia Tenggara yang telah berdiri lebih dari seribu tahun, Hanoi menawarkan daya tarik yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kota metropolitan modern lainnya. Pusat aktivitas wisata utama terletak di kawasan bersejarah bernama Old Quarter. Di sini, para pelancong akan disuguhi deretan jalan sempit peninggalan masa kolonial Prancis yang masih terawat dengan sangat baik, lengkap dengan kafe-kafe estetik di setiap sudutnya.Selain arsitektur klasik yang menawan, Hanoi juga dijuluki sebagai kota danau karena memiliki puluhan danau indah yang tersebar di tengah kota. Danau Hoan Kiem, misalnya, menjadi oase ketenangan di tengah hiruk-pikuk aktivitas warga lokal. Di tengah danau ini berdiri Kuil Ngoc Son yang megah, yang dapat diakses melalui jembatan kayu merah ikonik bernama Huc Bridge. Kombinasi tata kota yang hijau, rindang, dan dipenuhi elemen air ini menciptakan atmosfer romantis yang sangat disukai oleh pelancong asal Indonesia untuk berswafoto.Surga Kuliner Jalanan dan Budaya Kopi Telur yang LegendarisTidak lengkap rasanya membahas Hanoi tanpa menyinggung kekayaan kulinernya yang legendaris. Ibu kota Vietnam ini secara konsisten dinobatkan sebagai salah satu kota dengan kuliner jalanan (street food) terbaik di dunia. Pelancong asal Indonesia sangat menggemari Pho, sup mi beras berkuah kaldu sapi atau ayam yang disajikan hangat dengan herba segar. Ada pula Banh Mi, roti baguette khas Prancis yang diisi dengan berbagai macam daging segar, acar sayuran, dan saus gurih.Selain makanan berat, Hanoi juga terkenal dengan budaya kopinya yang sangat unik. Salah satu menu wajib yang selalu diburu adalah kopi telur (egg coffee) atau Cà Phê Trứng. Minuman ini memadukan kopi robusta Vietnam yang pekat dengan kocokan kuning telur, susu kental manis, dan gula hingga membentuk busa lembut menyerupai tekstur custard. Menikmati secangkir kopi telur hangat di pinggir jalan sembari menyaksikan kesibukan lalu lintas sepeda motor khas Hanoi memberikan pengalaman kultural yang sangat autentik.Target Ambisius Pariwisata Hanoi di Tahun 2026Meningkatnya minat wisatawan dari berbagai negara, termasuk lonjakan drastis dari Indonesia, memberikan dampak langsung yang luar biasa bagi pemulihan industri pariwisata lokal pascapandemi. Pada awal Juli 2026, Dinas Pariwisata Hanoi secara resmi menyambut kedatangan wisatawan mancanegara ke-5 juta tahun ini di Bandara Internasional Noi Bai. Wisatawan yang beruntung tersebut merupakan bagian dari rombongan pelancong asal Spanyol yang sedang melakukan tur panjang di Vietnam.Pemerintah Kota Hanoi sendiri telah menetapkan target yang cukup ambisius dengan membidik kunjungan lebih dari 9 juta wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2026. Dengan pencapaian yang telah menembus lebih dari separuh target di pertengahan tahun, otoritas pariwisata setempat sangat optimistis angka tersebut akan terlampaui. Dukungan promosi yang gencar serta kemudahan akses penerbangan langsung dari berbagai ibu kota di Asia Tenggara menjadi faktor pendorong utama yang membuat target ini kian realistis untuk dicapai.

Sumber