Keracunan MBG di Karo, 255 Pelajar Dirawat Usai Santap Ikan Tongkol

Sebanyak 255 pelajar di Berastagi, Kabupaten Karo, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Sampel makanan telah diamankan untuk diuji di laboratorium.

Pelajar di Berastagi mendapat penanganan setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG
Pelajar di Berastagi mendapat penanganan setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG

Sebanyak 255 pelajar di sejumlah sekolah di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis, 13 Agustus 2026. Para siswa mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan di sekitar Berastagi dan Kabanjahe.

Peristiwa tersebut membuat suasana di lingkungan sekolah dan fasilitas kesehatan setempat menjadi panik. Berdasarkan informasi yang diberitakan Liputan6.com, sejumlah pelajar mengalami kondisi lemas dan sebagian muntah-muntah setelah mengonsumsi makanan MBG. Para korban kemudian dievakuasi menggunakan ambulans maupun kendaraan pribadi warga.

Dugaan Awal Mengarah pada Menu Ikan Tongkol

Dugaan sementara mengenai sumber masalah mengarah pada menu ikan tongkol yang disajikan dalam paket makanan MBG pada hari kejadian. Namun, dugaan tersebut belum dapat dianggap sebagai penyebab pasti karena pihak berwenang masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.

Menu yang dibagikan pada hari itu disebut terdiri dari sayur dan ikan tongkol. Makanan tersebut berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kodim yang menjadi pemasok menu MBG bagi para pelajar.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, Immanuel Sinuhaji, mengatakan sampel makanan telah diamankan oleh pihaknya. Sampel tersebut selanjutnya akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa dan membantu memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa.

Sampel yang diamankan merupakan porsi cadangan yang memang disiapkan di dapur SPPG setiap kali makanan didistribusikan. Pengamanan sampel menjadi bagian penting dalam proses pemeriksaan karena penyebab keracunan belum dapat dipastikan hanya berdasarkan dugaan awal.

255 Pelajar Mendapat Penanganan Medis

Ratusan pelajar yang mengalami gejala kemudian mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan. Kondisi tersebut membuat orang tua berdatangan dan memenuhi area rumah sakit untuk memastikan keadaan anak-anak mereka.

Dalam situasi tersebut, Bupati Karo Antonius Ginting turut meninjau kondisi para pelajar di RS Amanda Berastagi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Karo. Ia menyampaikan bahwa berdasarkan peninjauan saat itu, kondisi para korban tidak berada dalam keadaan yang mengkhawatirkan.

Antonius menyebut dari 255 anak sekolah yang diduga mengalami gejala keracunan, tidak ada yang menurut penilaiannya berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Pernyataan tersebut disampaikan ketika proses penanganan terhadap para pelajar masih berlangsung.

Ia juga menggunakan istilah 'berita baik' untuk menggambarkan kondisi para korban yang disebutnya berada dalam keadaan baik. Pernyataan tersebut muncul di tengah perhatian publik terhadap kejadian yang menyebabkan ratusan pelajar harus mendapatkan penanganan medis.

Pemeriksaan Laboratorium Menjadi Penentu

Penanganan kasus ini tidak berhenti pada pemberian perawatan kepada para pelajar. Pemeriksaan terhadap makanan yang dikonsumsi menjadi langkah penting untuk mengetahui apakah ikan tongkol benar-benar berkaitan dengan munculnya gejala keracunan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Karo telah mengamankan sampel dari dapur SPPG. Sampel tersebut akan diperiksa di laboratorium sehingga dugaan awal dapat diuji berdasarkan hasil pemeriksaan, bukan sekadar berdasarkan kesamaan menu yang dikonsumsi para pelajar.

Langkah tersebut juga penting karena gejala yang dialami para siswa belum dengan sendirinya membuktikan sumber kontaminasi atau penyebab gangguan kesehatan. Hasil laboratorium diharapkan dapat memberikan dasar yang lebih kuat untuk menentukan penyebab kejadian.

Pengawasan Program MBG Jadi Sorotan

Kejadian di Berastagi kembali menempatkan aspek keamanan makanan sebagai bagian penting dalam pelaksanaan program MBG. Makanan yang dibagikan kepada pelajar tidak hanya harus memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga perlu dipastikan aman untuk dikonsumsi.

Dalam kasus ini, dapur SPPG menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian karena fasilitas tersebut menyiapkan makanan yang kemudian didistribusikan kepada para siswa. Pengamanan sampel makanan dapat membantu proses penelusuran apabila terdapat dugaan masalah pada makanan yang telah dikonsumsi.

Meski demikian, belum tepat menyimpulkan bahwa ikan tongkol atau dapur SPPG merupakan penyebab pasti sebelum hasil pemeriksaan laboratorium tersedia. Dugaan awal tetap harus dibedakan dari kesimpulan resmi berdasarkan pemeriksaan.

Bagi orang tua, penanganan cepat terhadap anak-anak yang mengalami gejala menjadi perhatian utama. Evakuasi ke fasilitas kesehatan memungkinkan kondisi para pelajar dipantau oleh tenaga medis setelah muncul keluhan seperti lemas dan muntah-muntah.

Menunggu Kepastian Penyebab

Hingga laporan tersebut diterbitkan, proses penanganan terhadap para pelajar masih berlangsung dan pihak berwenang menunggu hasil uji laboratorium. Karena itu, penyebab pasti keracunan massal di Berastagi belum dapat dipastikan.

Kasus ini menunjukkan pentingnya penelusuran menyeluruh ketika muncul dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi makanan secara bersama-sama. Data mengenai makanan yang dikonsumsi, sampel makanan, kondisi korban, serta hasil pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kejadian tersebut.

Sementara itu, perhatian pemerintah daerah dan pihak terkait tertuju pada pemulihan kondisi para pelajar serta proses pemeriksaan sampel makanan. Hasil laboratorium nantinya menjadi informasi penting untuk menentukan apakah dugaan terhadap menu ikan tongkol memiliki dasar berdasarkan pemeriksaan ilmiah.

Untuk saat ini, informasi yang tersedia baru menunjukkan adanya dugaan keracunan yang dialami 255 pelajar setelah menyantap menu MBG di wilayah Berastagi. Dengan pemeriksaan yang masih berjalan, kesimpulan mengenai penyebab kejadian perlu menunggu hasil resmi dari proses laboratorium.

Sumber