Menhan Dorong Kertajati Jadi Hub MRO Pesawat TNI AU, Industri Pertahanan Disiapkan Makin Mandiri

Bandara Kertajati di Majalengka diproyeksikan sebagai fasilitas MRO pesawat untuk mendukung kebutuhan penerbangan militer sekaligus memperkuat industri pertahanan dan dirgantara nasional.

Bandara Kertajati di Majalengka yang diproyeksikan mendukung pengembangan fasilitas MRO pesawat
Bandara Kertajati di Majalengka yang diproyeksikan mendukung pengembangan fasilitas MRO pesawat

Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati di Kabupaten Majalengka semakin mendapat perhatian dalam rencana pengembangan fasilitas maintenance, repair, and overhaul atau MRO pesawat. Rencana tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan kawasan bandara, tetapi juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan penerbangan militer dan memperkuat industri pertahanan serta dirgantara nasional.

Dukungan terhadap pengembangan tersebut disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono. Menurutnya, TNI AU memiliki pengalaman memanfaatkan fasilitas penerbangan di kawasan Kertajati untuk sejumlah kegiatan latihan dan aktivitas penerbangan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat potensi pengembangan kawasan tersebut ke depan.

Gagasan menjadikan Kertajati sebagai kawasan MRO juga berkaitan dengan rencana pemerintah menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat pemeliharaan pesawat di kawasan. Dalam pembahasan sebelumnya, Kementerian Pertahanan menyebut Kertajati dipertimbangkan sebagai pusat MRO pesawat C-130 atau Hercules untuk kawasan Asia.

Kertajati Mulai Dipandang Lebih dari Sekadar Bandara

Pengembangan sebuah bandara tidak selalu berhenti pada fungsi utamanya sebagai tempat pesawat datang dan berangkat. Ketika kawasan tersebut memiliki fasilitas pendukung, lahan, serta konektivitas yang memadai, pemanfaatannya dapat diarahkan untuk kegiatan lain yang masih berkaitan dengan industri penerbangan.

Dalam konteks Kertajati, MRO menjadi salah satu pilihan yang memiliki nilai strategis. MRO merupakan kegiatan pemeliharaan, perbaikan, dan pemeriksaan menyeluruh terhadap pesawat agar dapat terus digunakan sesuai kebutuhan operasional. Fasilitas seperti ini membutuhkan dukungan tenaga ahli, fasilitas teknis, rantai pasok komponen, serta sistem pengelolaan yang terintegrasi.

Karena itu, ketika Kertajati diproyeksikan memiliki fasilitas MRO, pembahasannya tidak semata-mata menyangkut pembangunan sebuah bengkel pesawat. Pengembangan tersebut berhubungan dengan ekosistem penerbangan yang lebih luas, termasuk kesiapan sumber daya manusia, industri pendukung, kemampuan teknis, serta koordinasi antarinstansi.

Posisi tersebut menjadi semakin penting ketika fasilitas MRO diarahkan untuk mendukung kebutuhan penerbangan militer. Pemeliharaan pesawat militer memiliki kebutuhan operasional yang berbeda dengan penerbangan komersial. Karena itu, setiap rencana pengembangannya memerlukan kajian dan perencanaan yang matang sebelum masuk ke tahap pembangunan maupun pengoperasian.

Dukungan TNI AU dan Pengalaman Memanfaatkan Kertajati

Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menyampaikan dukungan TNI AU terhadap rencana pengembangan Kertajati dalam pertemuan dengan Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian PPN atau Bappenas Vivi Yulaswati di Mabes AU, Cilangkap, Jakarta Timur.

Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kawasan Kertajati membutuhkan koordinasi lintas lembaga. TNI AU tidak melihat kawasan tersebut hanya dari sisi penerbangan sipil, tetapi juga dari pengalaman pemanfaatannya untuk kegiatan penerbangan yang berkaitan dengan kebutuhan TNI AU.

Pengalaman penggunaan fasilitas penerbangan di kawasan Kertajati menjadi salah satu alasan dukungan tersebut. Dari perspektif TNI AU, pemanfaatan kawasan yang sudah dikenal untuk aktivitas penerbangan dapat menjadi bagian dari pertimbangan ketika pemerintah menyusun arah pengembangannya.

Namun, dukungan tersebut tidak berarti seluruh rencana dapat langsung diwujudkan. TNI AU disebut telah menyiapkan berbagai kajian yang diperlukan untuk mendukung pengembangan Kertajati sebagai kawasan MRO. Kajian tersebut masih harus dibahas lebih lanjut bersama kementerian dan lembaga terkait.

Roadmap Menjadi Bagian Penting

Perencanaan menjadi bagian penting karena fasilitas MRO membutuhkan arah pengembangan yang jelas. Tanpa peta jalan yang terintegrasi, pembangunan fasilitas berisiko berjalan sendiri-sendiri tanpa hubungan yang kuat antara kebutuhan operasional, industri, dan kepentingan nasional.

Karena itu, pengembangan Kertajati masih memerlukan pembahasan lanjutan agar pemanfaatannya memiliki roadmap yang terencana, terpadu, dan berkelanjutan. Prinsip tersebut penting terutama karena fasilitas yang direncanakan akan berhubungan dengan sektor penerbangan dan industri pertahanan sekaligus.

Dengan adanya roadmap, pemerintah dapat menentukan tahapan pengembangan secara lebih terukur. Hal tersebut juga dapat membantu menentukan peran masing-masing kementerian, lembaga, pelaku industri, serta pihak lain yang nantinya terlibat dalam pengembangan kawasan.

Industri Pertahanan Dalam Negeri Diharapkan Mendapat Ruang

Salah satu alasan penting di balik dukungan terhadap pengembangan MRO Kertajati adalah peluang untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri. Keberadaan fasilitas MRO dapat membuka ruang lebih besar bagi industri nasional untuk terlibat dalam proses pemeliharaan pesawat.

Pelibatan industri dalam negeri menjadi penting karena kemampuan memelihara alutsista merupakan bagian dari kemandirian pertahanan. Ketergantungan pada fasilitas di luar negeri dapat membuat proses pemeliharaan membutuhkan koordinasi dan waktu yang lebih panjang. Sebaliknya, kemampuan yang semakin kuat di dalam negeri dapat memberikan ruang bagi pengembangan kompetensi nasional.

Dalam rencana pengembangan Kertajati, industri pertahanan dalam negeri diharapkan dapat dilibatkan dalam proses operasional pemeliharaan pesawat. Peluang tersebut pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kegiatan perawatan, tetapi juga dengan pengembangan kemampuan teknis dan teknologi pertahanan.

Semakin besar keterlibatan industri nasional, semakin terbuka pula peluang bagi perusahaan dalam negeri untuk mengembangkan kemampuan di bidang penerbangan. Ekosistem tersebut dapat mencakup pekerjaan pemeliharaan, dukungan teknis, penyediaan komponen, pengembangan sumber daya manusia, hingga kegiatan lain yang berkaitan dengan industri kedirgantaraan.

Dari MRO Menuju Penguatan Ekosistem Dirgantara

MRO sering kali dipandang hanya sebagai aktivitas perbaikan pesawat. Padahal, dalam industri penerbangan, kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari ekosistem yang lebih luas. Di dalamnya terdapat kebutuhan terhadap tenaga teknis, fasilitas pemeriksaan, sistem keselamatan, manajemen suku cadang, dokumentasi, serta berbagai proses pendukung lainnya.

Karena itu, jika Kertajati benar-benar dikembangkan sebagai kawasan MRO, dampaknya dapat meluas ke sektor industri dirgantara. Pemerintah memiliki kesempatan untuk menjadikan pengembangan tersebut sebagai bagian dari strategi memperkuat kemampuan nasional di bidang penerbangan.

Hal ini juga sejalan dengan pandangan bahwa fasilitas MRO dapat menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan eksistensi industri pertahanan dalam negeri. Ketika industri nasional mendapat kesempatan terlibat secara langsung, pengalaman dan kemampuan teknis yang diperoleh dapat menjadi modal untuk pengembangan kegiatan lain di masa mendatang.

Meski demikian, manfaat tersebut tidak otomatis muncul hanya karena sebuah fasilitas MRO dibangun. Keberhasilannya tetap bergantung pada bagaimana fasilitas tersebut dikelola, siapa yang terlibat, bagaimana standar teknis diterapkan, serta sejauh mana industri dalam negeri benar-benar mendapatkan ruang dalam ekosistem tersebut.

Rencana MRO Hercules di Kertajati

Rencana pengembangan Kertajati sebelumnya juga dikaitkan dengan tawaran Amerika Serikat untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat pemeliharaan pesawat C-130 atau Hercules di kawasan Asia. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebelumnya menyampaikan adanya tawaran tersebut setelah bertemu Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hegseth.

Kementerian Pertahanan kemudian menyebut kawasan Kertajati sebagai salah satu lokasi yang dipertimbangkan untuk pusat MRO C-130 atau Hercules. Salah satu pertimbangannya adalah ketersediaan lahan yang luas serta fasilitas pendukung penerbangan yang dinilai memadai.

Rencana tersebut juga diarahkan untuk mendukung posisi Indonesia sebagai hub pemeliharaan Hercules di kawasan. Dari sisi pertahanan, keberadaan fasilitas MRO dapat berkaitan dengan dukungan logistik penerbangan strategis. Dari sisi industri, pengembangan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan kemampuan industri pertahanan nasional.

Namun, rencana itu masih membutuhkan proses pembahasan dan perencanaan. Kementerian Pertahanan sebelumnya menegaskan bahwa pengembangan fasilitas MRO masih berada dalam tahap perencanaan dan pematangan konsep. Artinya, masih terdapat sejumlah aspek yang harus disiapkan sebelum fasilitas tersebut benar-benar dibangun dan beroperasi.

Kenapa Tahap Perencanaan Penting?

Pembangunan fasilitas MRO membutuhkan keputusan yang tidak sederhana. Selain persoalan teknis pembangunan, pemerintah harus menentukan pola kerja sama, model pengelolaan, pembagian peran, serta bentuk keterlibatan industri dalam negeri.

Aspek tersebut penting karena fasilitas MRO yang berkaitan dengan pesawat militer memiliki dimensi strategis. Pengelolaannya perlu diselaraskan dengan kepentingan nasional dan kebutuhan pertahanan Indonesia. Pada saat yang sama, pengembangan kawasan tetap harus mempertimbangkan fungsi dan aktivitas penerbangan lainnya.

Dengan demikian, tahap perencanaan bukan sekadar menunggu pembangunan dimulai. Tahap tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk memastikan bahwa desain fasilitas, pola pengelolaan, dan keterlibatan industri telah dipersiapkan secara matang.

Peluang bagi Majalengka dan Jawa Barat

Pengembangan MRO di Kertajati juga memiliki dimensi ekonomi bagi kawasan sekitar. Kehadiran aktivitas industri penerbangan berpotensi menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keahlian tertentu serta berbagai layanan pendukung.

Namun, manfaat ekonomi tersebut akan sangat bergantung pada skala pengembangan dan pola operasional fasilitas yang nantinya dipilih. Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan besarnya dampak ekonomi sebelum pemerintah menyelesaikan perencanaan dan menentukan bentuk fasilitas yang akan dikembangkan.

Yang lebih jelas, pengembangan MRO menambah fungsi strategis yang dapat dipertimbangkan dalam pemanfaatan kawasan Kertajati. Bandara tersebut tidak hanya dapat dipandang sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan ekosistem penerbangan dan kedirgantaraan.

Jika proses pengembangan berjalan sesuai perencanaan, keberadaan fasilitas MRO dapat mempertemukan kepentingan penerbangan, pertahanan, dan industri. Kolaborasi tersebut membutuhkan koordinasi yang kuat agar setiap kepentingan dapat berjalan tanpa mengganggu fungsi lainnya.

TNI AU Siapkan Kajian Sebelum Pembangunan

TNI AU menyatakan telah menyiapkan sejumlah kajian yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan Bandara Kertajati sebagai MRO. Kajian tersebut menjadi dasar yang perlu dibahas bersama kementerian dan lembaga terkait sebelum keputusan pembangunan diambil.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah belum menempatkan pengembangan MRO sebagai proyek yang dapat langsung berjalan tanpa tahapan. Masih ada proses sinkronisasi kebijakan dan perencanaan yang perlu dilakukan agar arah pemanfaatan kawasan dapat ditentukan secara jelas.

Bagi TNI AU, pembahasan mengenai Kertajati juga berkaitan dengan kebutuhan jangka panjang. Pengembangan fasilitas penerbangan yang terintegrasi dengan industri pertahanan dapat memberikan ruang bagi peningkatan kemampuan nasional, selama prosesnya dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan operasional dan kepentingan pertahanan.

Di sisi lain, keterlibatan Bappenas menunjukkan bahwa pengembangan tersebut juga perlu dilihat dalam kerangka perencanaan pembangunan yang lebih luas. Artinya, Kertajati tidak hanya dibahas sebagai lokasi teknis, tetapi juga sebagai bagian dari arah pengembangan ekonomi dan transformasi kawasan.

Kertajati dan Arah Baru Industri Penerbangan Nasional

Rencana MRO di Kertajati memperlihatkan bagaimana infrastruktur penerbangan dapat memiliki fungsi yang semakin beragam. Ketika kebutuhan penerbangan militer, industri pertahanan, dan kegiatan dirgantara dapat dipertemukan dalam satu ekosistem, peluang pengembangan kemampuan nasional menjadi lebih besar.

Namun, keberhasilan rencana tersebut akan ditentukan oleh pelaksanaan di lapangan. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap tahap pengembangan memiliki dasar perencanaan yang jelas, pembagian tanggung jawab yang terukur, serta keterlibatan industri dalam negeri yang nyata.

Hal yang tidak kalah penting adalah kesinambungan. Fasilitas MRO bukan proyek yang manfaatnya hanya diukur ketika bangunan selesai. Nilai strategisnya justru akan terlihat dari kemampuan fasilitas tersebut menjalankan fungsi pemeliharaan secara berkelanjutan dan membangun kompetensi industri nasional.

Karena itu, dukungan TNI AU terhadap pengembangan Kertajati dapat menjadi salah satu bagian dari proses panjang membangun ekosistem penerbangan yang lebih mandiri. Kajian yang sedang disiapkan menjadi tahap awal untuk menentukan bagaimana kawasan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

Menunggu Peta Jalan yang Lebih Terintegrasi

Untuk saat ini, pengembangan Kertajati sebagai fasilitas MRO masih membutuhkan pembahasan lanjutan. Pemerintah belum hanya berhadapan dengan persoalan pembangunan fisik, tetapi juga harus menyusun arah pemanfaatan kawasan, model pengelolaan, serta keterlibatan industri yang tepat.

Dukungan TNI AU memberikan sinyal bahwa kebutuhan pertahanan menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan tersebut. Sementara itu, rencana MRO C-130 atau Hercules yang sebelumnya dibahas Kementerian Pertahanan memperluas dimensi strategis Kertajati sebagai calon pusat pemeliharaan pesawat di kawasan.

Jika seluruh kajian dan koordinasi dapat menghasilkan roadmap yang matang, Kertajati berpeluang memainkan peran lebih besar dalam ekosistem penerbangan Indonesia. Tantangannya adalah memastikan pengembangan tersebut tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi benar-benar mampu memperkuat kemampuan industri pertahanan dan dirgantara nasional.

Pada akhirnya, Kertajati bukan sekadar berbicara tentang sebuah lokasi untuk MRO. Pengembangannya menyangkut bagaimana Indonesia membangun kemampuan memelihara pesawat, memperluas kapasitas industri dalam negeri, dan menciptakan ekosistem penerbangan yang dapat mendukung kebutuhan nasional secara berkelanjutan.

Sumber