Kimpul Viral di TikTok, Umbi Lokal Ini Jadi Fenomena Baru

Kimpul mendadak menjadi sorotan setelah kreativitas seorang kreator TikTok mengolahnya menjadi beragam makanan kekinian. Fenomena ini ikut mengangkat kembali pangan lokal.

Kimpul atau talas Belitung yang diolah menjadi berbagai makanan dalam tren media sosial
Kimpul atau talas Belitung yang diolah menjadi berbagai makanan dalam tren media sosial

Nama kimpul mendadak ramai diperbincangkan di media sosial sepanjang Agustus 2026. Umbi lokal yang selama ini lebih banyak dikenal di sejumlah daerah tersebut berubah menjadi topik menarik setelah seorang kreator TikTok mengolahnya menjadi berbagai makanan kekinian. Fenomena ini membuat banyak warganet yang sebelumnya tidak mengenal kimpul mulai mencari tahu bentuk, asal, cara mengolah, hingga potensi pangan tersebut.

Popularitas kimpul menjadi contoh bagaimana media sosial dapat mengubah perhatian publik terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah lama ada. Bahan pangan yang sebelumnya dianggap sederhana dan kurang populer justru mendapatkan panggung baru ketika dikemas melalui konten kreatif, humor, serta eksperimen kuliner yang dekat dengan kebiasaan pengguna media sosial.

Awal Mula Kimpul Menjadi Perbincangan

Tren kimpul di media sosial salah satunya dipicu oleh konten dari akun TikTok @black.sheep8208, kreator asal Bantul yang dikenal membuat berbagai eksperimen makanan dengan menggunakan bahan pangan lokal. Alih-alih selalu menggunakan bahan yang lazim ditemukan dalam resep populer, kreator tersebut menggantinya dengan umbi lokal, termasuk kimpul.

Pendekatan tersebut kemudian menghasilkan berbagai menu yang tidak biasa. Makanan yang umumnya menggunakan kentang atau bahan lain dibuat menggunakan kimpul sehingga menghasilkan versi lokal dari hidangan yang sudah akrab bagi masyarakat.

Konten seperti ini menarik perhatian karena menawarkan kombinasi antara rasa penasaran dan hiburan. Warganet tidak hanya melihat proses memasak, tetapi juga dibuat bertanya-tanya bagaimana hasil akhir makanan ketika bahan utamanya diganti dengan kimpul.

Seiring semakin banyak orang membicarakannya, istilah kimpul ikut menyebar di berbagai percakapan digital. Sebagian warganet bahkan awalnya mengira kata tersebut merupakan istilah atau bahasa gaul baru. Setelah mengetahui bahwa kimpul merupakan nama tanaman pangan, rasa penasaran terhadap umbi tersebut semakin besar.

Apa Itu Kimpul?

Kimpul merupakan tanaman umbi dari keluarga Araceae atau kelompok talas-talasan. Nama ilmiahnya adalah Xanthosoma sagittifolium. Di berbagai daerah Indonesia, tanaman ini juga dikenal dengan sejumlah nama, antara lain talas Belitung, bentul, bothe, glitung, linjik, dan genjlong.

Kimpul bukanlah talas biasa meskipun keduanya masih berada dalam kelompok keluarga yang sama. Perbedaan tersebut membuat kimpul memiliki karakteristik tersendiri, baik dari bentuk tanaman maupun bagian umbinya.

Tanaman ini telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan di Indonesia. Sebelum tren media sosial muncul, kimpul sudah digunakan masyarakat dalam berbagai olahan tradisional. Umbinya dapat dimasak dengan cara direbus, dikukus, dibakar, atau digoreng. Kimpul juga dapat diolah menjadi bahan lain, termasuk tepung dan makanan ringan.

Mengapa Kimpul Bisa Mendadak Populer?

Fenomena kimpul memperlihatkan bahwa sesuatu yang lama dikenal masyarakat dapat terlihat baru ketika ditempatkan dalam konteks yang berbeda. Dalam kasus ini, kimpul tidak diperkenalkan melalui kampanye formal, melainkan melalui video memasak yang menghibur dan mudah dikonsumsi.

Format video pendek juga memberikan keuntungan tersendiri. Proses memasak dapat diringkas menjadi beberapa bagian penting, mulai dari persiapan bahan, pengolahan, hingga makanan selesai dibuat. Penonton kemudian dapat melihat secara langsung bagaimana bahan lokal yang sederhana berubah menjadi hidangan dengan tampilan modern.

Unsur kejutan juga menjadi bagian penting dari daya tariknya. Warganet yang melihat makanan seperti mashed potato, hidangan bergaya Korea, atau olahan lainnya mungkin tidak langsung menyangka bahwa bahan utama yang digunakan adalah kimpul.

Ketika konten tersebut mendapat banyak perhatian, rasa penasaran kemudian berkembang menjadi percakapan. Orang mulai mencari arti kimpul, membandingkannya dengan talas atau kentang, serta membicarakan kemungkinan mengolahnya sendiri.

Dari Bahan Lokal Menjadi Makanan Kekinian

Salah satu hal yang membuat tren kimpul berbeda adalah cara bahan tersebut diposisikan. Kimpul tidak hanya ditampilkan sebagai makanan tradisional, tetapi digunakan untuk membuat berbagai hidangan yang lebih dekat dengan selera visual pengguna media sosial.

Dalam berbagai konten, kimpul digunakan untuk membuat mashed kimpul, kimpuljeon, potato au gratin versi lokal, arancini, seblak, hingga dumpling lasagna. Kreativitas tersebut memperlihatkan bahwa bahan lokal tidak selalu harus diolah menggunakan resep lama agar dapat dinikmati.

Penggunaan kimpul dalam makanan modern juga menciptakan cerita yang menarik. Warganet dapat melihat bagaimana bahan yang selama ini mungkin kurang mendapat perhatian ternyata bisa digunakan untuk berbagai kreasi.

Kreativitas Menjadi Kunci

Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas suatu bahan makanan tidak selalu ditentukan oleh harga, kemasan, atau statusnya sebagai bahan premium. Cara penyampaian dan kreativitas pengolahan juga dapat menentukan apakah sebuah bahan mampu menarik perhatian.

Kimpul menjadi contoh sederhana. Ketika hanya disebut sebagai salah satu jenis umbi, mungkin tidak banyak orang yang merasa penasaran. Namun, ketika ditampilkan sebagai pengganti bahan makanan populer dalam video yang menghibur, perhatian publik berubah.

Hal tersebut menjadi salah satu kekuatan media sosial. Platform digital memungkinkan siapa saja memperkenalkan ide, resep, atau kebiasaan baru kepada audiens yang jauh lebih luas tanpa harus melalui saluran promosi konvensional.

Kimpul dan Cerita tentang Pangan Lokal

Di balik tren viral tersebut terdapat pembahasan yang lebih luas mengenai pangan lokal Indonesia. Negeri ini memiliki banyak jenis umbi dan sumber karbohidrat yang telah lama dikonsumsi masyarakat. Namun, sebagian di antaranya semakin jarang dibicarakan karena pola konsumsi berubah dan pilihan pangan modern semakin beragam.

Kimpul menunjukkan bahwa bahan pangan lokal sebenarnya memiliki peluang untuk kembali diperkenalkan kepada generasi yang lebih muda. Caranya tidak harus selalu melalui kampanye yang formal. Konten kreatif yang relevan dengan kebiasaan pengguna media sosial juga dapat menjadi pintu masuk.

Ketika anak muda melihat kimpul dalam bentuk makanan yang familiar, mereka memiliki alasan untuk mencari tahu lebih jauh. Dari sekadar menonton video, rasa penasaran dapat berkembang menjadi keinginan mencoba, membeli, atau bahkan membuat resep sendiri.

Fenomena tersebut membuat pembicaraan mengenai diversifikasi pangan menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pangan lokal tidak hanya dibahas dalam konteks ketahanan pangan, tetapi juga muncul sebagai bagian dari budaya kuliner dan kreativitas digital.

Potensi sebagai Alternatif Sumber Karbohidrat

Kimpul juga mendapat perhatian karena kandungan pangannya. RRI melaporkan bahwa kimpul mengandung karbohidrat serta serat, vitamin, dan mineral. Karakteristik tersebut membuatnya memiliki potensi sebagai salah satu sumber pangan alternatif.

Pakar gizi Universitas Airlangga Lailatul Muniroh juga menyoroti potensi kimpul sebagai alternatif sumber karbohidrat. Namun, potensi tersebut tidak berarti kimpul secara otomatis dapat menggantikan beras sepenuhnya. Pola konsumsi pangan tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan gizi dan keberagaman makanan.

Karena itu, pembahasan mengenai kimpul lebih tepat dilihat sebagai bagian dari diversifikasi pangan. Masyarakat memiliki kesempatan mengenal sumber karbohidrat lain tanpa harus menganggap satu jenis pangan sebagai pengganti mutlak pangan lainnya.

Pengolahan Kimpul Tidak Boleh Sembarangan

Popularitas kimpul di media sosial juga perlu diikuti pemahaman mengenai cara pengolahannya. Seperti kelompok talas-talasan lainnya, kimpul perlu diproses dengan tepat sebelum dikonsumsi.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah rasa gatal yang dapat muncul apabila pengolahan tidak dilakukan dengan benar. Kandungan kalsium oksalat pada kelompok tanaman ini menjadi salah satu alasan mengapa proses pembersihan dan pemasakan perlu diperhatikan.

Artinya, video memasak di media sosial sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai panduan keamanan pangan tanpa memahami proses pengolahan yang benar. Kreativitas resep tetap perlu disertai kehati-hatian ketika bahan pangan tertentu memiliki karakteristik khusus.

Bagi masyarakat yang ingin mencoba kimpul, memilih bahan yang baik dan memastikan umbi diolah hingga matang merupakan langkah penting. Pengguna juga sebaiknya mengikuti metode pengolahan yang terpercaya, terutama jika belum pernah mengolah kimpul sebelumnya.

Media Sosial Mengubah Cara Pangan Lokal Dikenalkan

Sebelum era media sosial, pengenalan pangan lokal lebih banyak berlangsung melalui keluarga, pasar tradisional, komunitas, atau kebiasaan masyarakat di daerah tertentu. Kini, sebuah bahan pangan dapat dikenal secara nasional setelah muncul dalam satu konten yang mendapatkan perhatian besar.

Fenomena kimpul memperlihatkan perubahan tersebut dengan cukup jelas. Sebuah umbi yang sebelumnya mungkin hanya dikenal oleh masyarakat di wilayah tertentu dapat menjadi bahan percakapan pengguna internet dari berbagai daerah.

Keunggulan media sosial terletak pada kemampuannya menggabungkan informasi dan hiburan. Penonton dapat mengetahui nama bahan, melihat proses pengolahan, sekaligus menikmati gaya penyampaian kreator. Ketiganya membuat pesan mengenai pangan lokal terasa lebih ringan.

Namun, viralitas juga memiliki sifat yang cepat berubah. Perhatian publik terhadap suatu tren dapat meningkat dengan cepat, tetapi juga dapat menurun ketika muncul topik baru. Tantangannya adalah bagaimana perhatian sesaat tersebut dapat berkembang menjadi ketertarikan yang lebih berkelanjutan.

Peluang bagi Pelaku Kuliner dan Pangan Lokal

Fenomena kimpul dapat menjadi inspirasi bagi pelaku kuliner untuk melihat kembali bahan pangan yang selama ini kurang mendapatkan perhatian. Inovasi tidak selalu harus menggunakan bahan baru dari luar negeri. Bahan yang sudah tersedia di Indonesia juga dapat dikembangkan melalui pendekatan yang lebih kreatif.

Jika minat terhadap kimpul bertahan, peluang pengembangan produk dapat terbuka pada berbagai bentuk, mulai dari makanan siap santap hingga produk olahan. Namun, perkembangan tersebut tetap membutuhkan pengelolaan yang baik, termasuk kualitas bahan, keamanan pangan, konsistensi produksi, dan penerimaan konsumen.

Bagi petani dan produsen lokal, meningkatnya perhatian terhadap suatu komoditas juga berpotensi membuka ruang pasar baru. Meski demikian, tren viral tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk meningkatkan produksi karena permintaan masyarakat dapat berubah sewaktu-waktu.

Fenomena Kimpul Lebih dari Sekadar Tren

Kimpul menjadi menarik bukan hanya karena namanya mendadak muncul di berbagai percakapan digital. Fenomena ini memperlihatkan hubungan antara media sosial, kreativitas kuliner, dan upaya mengenalkan kembali pangan lokal.

Satu konten dapat membuat masyarakat yang sebelumnya tidak mengenal kimpul menjadi penasaran. Dari rasa penasaran tersebut muncul pencarian informasi mengenai asal-usul, karakteristik, cara memasak, hingga kandungan pangan. Proses tersebut memperlihatkan bagaimana tren digital dapat menjadi pintu masuk bagi pengetahuan yang lebih luas.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa generasi muda tidak selalu menolak makanan tradisional. Sering kali yang dibutuhkan adalah cara penyampaian yang sesuai dengan kebiasaan mereka. Ketika bahan lokal dikemas dengan visual menarik dan cerita yang ringan, respons masyarakat bisa berubah secara signifikan.

Akankah Kimpul Bertahan Setelah Viral?

Belum dapat dipastikan apakah popularitas kimpul akan bertahan dalam jangka panjang atau hanya menjadi salah satu tren media sosial yang muncul dalam waktu singkat. Perjalanan tren sangat dipengaruhi oleh kreativitas konten, minat publik, ketersediaan bahan, serta kemampuan pelaku kuliner menciptakan variasi baru.

Meski demikian, dampak awalnya sudah terlihat dari meningkatnya rasa ingin tahu masyarakat. Banyak orang yang sebelumnya tidak mengetahui nama kimpul kini setidaknya mengenal bahwa Indonesia memiliki jenis umbi lokal tersebut.

Jika perhatian tersebut dilanjutkan dengan edukasi mengenai pengolahan, diversifikasi pangan, serta inovasi kuliner, fenomena kimpul dapat memberikan manfaat yang lebih panjang daripada sekadar menjadi bahan pembicaraan di media sosial.

Kimpul dan Pelajaran dari Fenomena Viral

Tren kimpul memberikan satu pelajaran penting: sesuatu yang sederhana dapat menjadi menarik ketika disampaikan dengan cara yang tepat. Umbi yang telah lama menjadi bagian dari pangan masyarakat dapat kembali mendapatkan perhatian setelah dipertemukan dengan kreativitas konten digital.

Fenomena tersebut juga mengingatkan bahwa kekayaan pangan Indonesia tidak hanya berada pada komoditas yang sudah populer. Masih banyak bahan lokal yang memiliki cerita, karakteristik, dan peluang untuk dikembangkan.

Pada akhirnya, kimpul viral bukan sekadar cerita tentang makanan yang ramai di TikTok. Fenomena ini menjadi gambaran bagaimana media sosial dapat mempertemukan tradisi dan tren modern. Dari sebuah eksperimen sederhana, masyarakat kembali diajak mengenal pangan lokal yang sempat luput dari perhatian.

Jika tren tersebut mampu mendorong lebih banyak orang untuk mengenal, mengolah, dan menghargai pangan lokal secara tepat, maka viralnya kimpul dapat memberikan nilai yang lebih besar. Bukan hanya sebagai hiburan di layar ponsel, tetapi juga sebagai pengingat bahwa bahan pangan dari lingkungan sendiri masih memiliki ruang untuk berkembang di tengah perubahan selera dan budaya digital.

Sumber