Sejumlah lagu Taylor Swift dihapus dari video yang sebelumnya diunggah oleh akun media sosial Gedung Putih dan tim kampanye Donald Trump. Penghapusan tersebut menjadi perhatian karena lagu-lagu milik penyanyi asal Amerika Serikat itu sebelumnya digunakan sebagai musik latar dalam beberapa konten yang berkaitan dengan Trump.
Menurut laporan Reuters, sejumlah lagu Swift telah digunakan oleh tim Trump dalam beberapa video selama beberapa bulan terakhir. Namun, sejumlah unggahan tersebut kemudian mengalami perubahan setelah lagu-lagu sang penyanyi tidak lagi tersedia pada video terkait. :contentReference[oaicite:1]{index=1}
Lagu Taylor Swift Menghilang dari Video Trump
Penggunaan lagu Taylor Swift oleh tim Trump kembali menjadi sorotan setelah sejumlah video di media sosial tidak lagi menggunakan musik milik penyanyi tersebut. Perubahan itu terjadi setelah beberapa lagu Swift digunakan dalam konten yang diunggah oleh tim kampanye maupun Gedung Putih.
Situasi tersebut menarik perhatian karena hubungan antara Taylor Swift dan Donald Trump selama ini diketahui tidak selalu berjalan baik. Swift pernah menyatakan dukungan kepada Kamala Harris dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2024.
Tim Kampanye Trump Gunakan Lagu Swift
Dalam salah satu video yang diunggah pada pekan sebelumnya, akun TikTok kampanye Trump menggunakan dua lagu Taylor Swift. Penggunaan tersebut disertai keterangan yang mengubah atau memainkan judul serta referensi terhadap sejumlah lagu Swift untuk menyampaikan pesan politik.
Konten tersebut menggunakan judul lagu populer Swift sebagai bagian dari narasi mengenai kebijakan dan isu politik Amerika Serikat. Penggunaan musik populer menjadi salah satu strategi tim komunikasi Trump untuk menarik perhatian pengguna media sosial.
Lagu August Juga Dihapus
Salah satu lagu Taylor Swift yang menjadi sorotan adalah August. Lagu tersebut sebelumnya digunakan dalam video TikTok tim kampanye Trump yang menampilkan Donald dan Melania Trump.
Audio lagu tersebut kemudian tidak lagi tersedia bagi pengguna TikTok di Amerika Serikat. Perubahan itu memunculkan dugaan adanya persoalan terkait hak penggunaan musik dalam video kampanye. :contentReference[oaicite:2]{index=2}
Hubungan Taylor Swift dan Trump
Hubungan Taylor Swift dengan Donald Trump telah menjadi perhatian publik selama beberapa tahun. Swift secara terbuka mendukung Kamala Harris pada pemilu 2024, sementara Trump beberapa kali menyampaikan kritik terhadap sang penyanyi.
Sikap politik Swift membuat penggunaan lagunya dalam konten yang berkaitan dengan Trump menjadi lebih sensitif. Musik yang digunakan sebagai latar dapat memberikan kesan bahwa seorang artis mendukung pesan atau tokoh yang ditampilkan dalam video.
Swift Pernah Kritik Trump
Swift sebelumnya pernah menyampaikan kritik terhadap Trump melalui media sosial. Dalam konteks politik Amerika Serikat, penyanyi tersebut kemudian semakin dikenal sebagai figur publik yang tidak ragu menyampaikan pandangannya mengenai isu politik.
Karena itu, penggunaan lagu Swift oleh pihak Trump kerap mendapatkan perhatian dari penggemar maupun pengguna media sosial, terutama ketika lagu tersebut muncul dalam konten politik.
Bukan Hanya Taylor Swift
Taylor Swift bukan satu-satunya musisi yang musiknya digunakan atau menjadi persoalan dalam konten politik Trump. Sejumlah artis lain juga pernah meminta agar lagu mereka tidak digunakan dalam konteks kampanye maupun komunikasi politik.
Beberapa nama yang disebut dalam laporan terkait antara lain Sabrina Carpenter dan Ariana Grande. Permasalahan tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan musik populer dalam komunikasi politik dapat menimbulkan persoalan tersendiri bagi artis dan pemegang hak.
Video Gedung Putih Juga Pernah Gunakan Lagu Swift
Penggunaan lagu Swift oleh pihak pemerintah Trump bukan kejadian yang baru. Dalam beberapa bulan terakhir, terdapat sejumlah video yang menampilkan musik sang penyanyi sebagai latar.
Pada April 2026, Gedung Putih membagikan video yang menampilkan kru Artemis II bertemu dengan Trump. Video tersebut menggunakan lagu Swift berjudul High Infidelity.
Sebelumnya, pada November 2025, sebuah video TikTok Gedung Putih juga menggunakan lagu The Fate of Ophelia. Video tersebut menampilkan berbagai gambar yang berkaitan dengan Amerika Serikat dan Trump. :contentReference[oaicite:3]{index=3}
Penggunaan Musik dalam Komunikasi Politik
Musik populer sering digunakan dalam kampanye politik karena dapat membuat sebuah konten lebih mudah dikenali dan menarik perhatian. Lagu yang sudah dikenal masyarakat dapat membantu sebuah video mendapatkan respons lebih besar di media sosial.
Namun, penggunaan lagu dalam kampanye politik juga memiliki persoalan tersendiri. Selain persoalan hak cipta, penggunaan karya seorang artis dapat menimbulkan kesan bahwa artis tersebut mendukung kandidat atau pesan politik tertentu.
Persoalan Hak Cipta Menjadi Sorotan
Penghapusan lagu dari video Trump juga kembali mengangkat persoalan mengenai hak penggunaan musik. Platform digital memiliki sistem yang dapat membatasi atau menghapus audio ketika penggunaan suatu karya tidak tersedia untuk wilayah tertentu atau terdapat persoalan lisensi.
Dalam kasus lagu August, pengguna TikTok di Amerika Serikat dilaporkan melihat pemberitahuan bahwa pemilik hak cipta tidak menyediakan audio tersebut di wilayah mereka. :contentReference[oaicite:4]{index=4}
Media Sosial Jadi Arena Politik
Tim komunikasi Trump dikenal aktif menggunakan media sosial sebagai sarana menyampaikan pesan politik. Video pendek dengan musik populer menjadi salah satu bentuk konten yang digunakan untuk mendapatkan perhatian publik.
Strategi tersebut dapat membuat pesan politik menyebar lebih cepat, tetapi juga meningkatkan kemungkinan munculnya kontroversi ketika materi yang digunakan memiliki hubungan dengan pihak yang tidak mendukung pesan tersebut.
Taylor Swift Belum Memberikan Pernyataan
Dalam laporan mengenai penghapusan lagu tersebut, pihak Taylor Swift maupun Gedung Putih belum memberikan komentar resmi. Karena itu, alasan pasti di balik penghapusan setiap lagu belum dapat dipastikan hanya berdasarkan hilangnya audio dari video.
Persoalan tersebut tetap menjadi perhatian karena terjadi setelah sejumlah lagu Swift digunakan dalam konten yang berkaitan dengan Trump dan pemerintahannya.
Penggunaan Lagu Artis dalam Kampanye
Penggunaan musik dalam kampanye politik telah lama menjadi perdebatan. Lagu dapat membantu membangun suasana dan identitas sebuah kampanye, tetapi artis tidak selalu setuju karyanya digunakan untuk tujuan tersebut.
Ketika seorang artis memiliki pandangan politik yang berbeda dengan kandidat atau pemerintahan tertentu, penggunaan lagunya dapat menimbulkan reaksi dari penggemar maupun pihak yang memiliki hak atas karya tersebut.
Kontroversi Berpotensi Berlanjut
Penghapusan lagu Taylor Swift dari sejumlah unggahan Trump menunjukkan bahwa persoalan penggunaan musik dalam komunikasi politik masih menjadi isu yang sensitif. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada keputusan pihak yang mengelola hak musik serta strategi komunikasi tim Trump.
Di sisi lain, kasus ini memperlihatkan semakin kuatnya hubungan antara budaya populer, hak cipta, dan politik di era media sosial. Lagu yang digunakan dalam sebuah video dapat menjadi bagian penting dari pesan yang diterima publik.
Musik dan Politik Semakin Beririsan
Kasus Taylor Swift dan Trump menjadi contoh bagaimana musik populer dapat masuk ke dalam perdebatan politik. Popularitas seorang musisi membuat karya mereka memiliki daya tarik besar bagi konten media sosial, tetapi penggunaan tanpa dukungan atau persetujuan yang jelas dapat menimbulkan kontroversi.
Bagi publik, penghapusan lagu-lagu Swift dari sejumlah unggahan menjadi perkembangan yang menarik untuk diikuti. Bagi industri musik, kasus tersebut kembali menegaskan pentingnya pengelolaan hak cipta dan penggunaan karya secara tepat, khususnya ketika musik ditempatkan dalam konteks politik.



