Lima Tahun Cherrypop: Menanam Peristiwa, Merawat Ingatan Musik

Cherrypop memasuki tahun kelima dengan tema Repelita Musik, membawa kembali perjalanan festival sejak 2022 sekaligus merayakan musik, komunitas, seni, dan perjumpaan.

Suasana dan perjalanan festival Cherrypop dalam perayaan lima tahun musik
Suasana dan perjalanan festival Cherrypop dalam perayaan lima tahun musik

Cherrypop memasuki tahun kelima dengan membawa sebuah gagasan yang lebih besar daripada sekadar perayaan festival musik. Setelah pertama kali hadir pada 2022, Cherrypop menjadikan edisi 2026 sebagai momentum untuk menengok perjalanan, mengingat orang-orang yang pernah hadir, serta membaca kembali berbagai peristiwa yang tumbuh di sekitar panggung. Perayaan kelima itu akan berlangsung pada 22 dan 23 Agustus 2026 di kawasan Candi Prambanan, Yogyakarta, dengan tema Repelita Musik, kependekan dari Rekreasi, Peristiwa, Lima Tahun Musik.

Lima tahun menjadi usia yang cukup untuk melihat sebuah festival bukan hanya dari daftar musisi yang pernah tampil, tetapi juga dari jejak yang ditinggalkannya. Dalam perjalanan Cherrypop, musik bertemu dengan komunitas, seni visual, fesyen, arsip, pertemanan, serta berbagai cerita personal penonton dan pelaku di belakang panggung. Karena itu, tema Repelita Musik menjadi cara untuk merangkum perjalanan tersebut sekaligus membuka ruang bagi lima tahun berikutnya.

Repelita Musik dan Gagasan Lima Tahun

Istilah Repelita mengingatkan pada gagasan pembangunan yang disusun dalam rencana lima tahunan. Cherrypop kemudian mengambil istilah tersebut dan memberikan makna yang berbeda. Jika rencana pembangunan berbicara tentang target, angka, dan arah masa depan, Repelita Musik digunakan untuk membicarakan manusia, perjumpaan, pengalaman, dan berbagai kejadian yang tumbuh selama lima tahun festival.

Gagasan tersebut membuat perayaan ulang tahun kelima Cherrypop tidak ditempatkan semata sebagai pesta. Ada usaha untuk mengingat kembali bagaimana festival ini tumbuh dari satu edisi ke edisi berikutnya. Setiap tahun membawa tema, karakter, dan pengalaman yang berbeda, tetapi semuanya menjadi bagian dari satu perjalanan yang berkesinambungan.

Cherrypop memulai perjalanan dengan Panic Room, kemudian berlanjut melalui Swasembada Musik, Selamet Bermusik, dan Gelanggang Musik. Dari satu edisi ke edisi berikutnya, festival ini terus mencoba membaca hubungan antara musik dan kebudayaan populer, termasuk bagaimana persoalan sosial serta politik dapat hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di dalam pendekatan tersebut, sejarah tidak selalu diperlakukan sebagai sesuatu yang hanya berada di buku. Sejarah juga dapat muncul melalui lagu, poster, kaset, pakaian, obrolan antarpengunjung, maupun pertemuan yang terjadi di sekitar panggung. Musik menjadi pintu masuk untuk membicarakan berbagai hal yang lebih luas.

Lima Tahun Menanam Peristiwa

Ungkapan lima tahun menanam peristiwa menjadi salah satu cara untuk memahami perjalanan Cherrypop. Festival bukan hanya menghasilkan pertunjukan yang selesai ketika lampu panggung dimatikan. Setiap penyelenggaraan dapat meninggalkan pengalaman yang dibawa pulang oleh penonton, musisi, pekerja kreatif, pedagang, fotografer, relawan, maupun komunitas yang terlibat.

Peristiwa semacam itu sering kali tidak tercatat dalam laporan resmi sebuah festival. Ia hadir dalam ingatan orang-orang yang mengalaminya. Ada penonton yang mengingat band yang pertama kali mereka lihat secara langsung. Ada pula yang mengingat pertemuan dengan kawan lama setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Bagi sebagian orang, festival bisa menjadi tempat menemukan musik baru yang kemudian menemani perjalanan hidup mereka.

Karena itu, lima tahun Cherrypop dapat dibaca sebagai kumpulan pengalaman yang saling bertaut. Panggung memang menjadi pusat perhatian, tetapi cerita yang lebih panjang berlangsung di antara penonton, komunitas, musisi, pekerja kreatif, dan berbagai pihak yang membuat festival dapat berlangsung.

Konsep tersebut juga menjelaskan mengapa perayaan kelima tidak hanya menonjolkan nama-nama besar. Cherrypop tetap memberi ruang kepada berbagai generasi dan karakter musik, sehingga panggung menjadi tempat pertemuan antara mereka yang sudah lama berada di skena dan mereka yang sedang mencari jalannya.

Dari Alpha Bravo Menuju Prambanan

Lima tahun setelah gaung pertama terdengar di Alpha Bravo di kawasan Jalan Parangtritis, Bantul, Cherrypop membawa perayaan tahun kelimanya ke kawasan Candi Prambanan. Perpindahan lokasi tersebut memberikan dimensi baru terhadap pengalaman festival.

Prambanan bukan sekadar lokasi dengan ruang yang lebih luas. Kawasan tersebut memiliki lapisan sejarah dan kebudayaan yang kuat. Ketika musik kontemporer ditempatkan di lingkungan yang memiliki warisan sejarah panjang, terjadi pertemuan antara dua jenis pengalaman: kebudayaan yang diwariskan lintas generasi dan kebudayaan populer yang terus berubah.

Dalam konteks Cherrypop, pertemuan itu terasa sesuai dengan gagasan festival yang sejak awal mencoba mempertemukan musik dengan berbagai bentuk ekspresi. Penonton datang untuk mendengarkan musisi, tetapi lingkungan festival juga memungkinkan mereka menemukan karya visual, komunitas, fesyen, aktivitas kreatif, dan berbagai pengalaman lain yang berada di luar panggung utama.

Perpindahan ke Prambanan juga membuat edisi kelima terasa seperti sebuah titik jeda. Setelah empat perjalanan sebelumnya, Cherrypop memiliki kesempatan untuk menoleh ke belakang sebelum kembali bergerak ke depan.

Rekreasi, Peristiwa, dan Musik

Rekreasi sebagai Ruang Berhenti Sejenak

Kata pertama dalam Repelita adalah rekreasi. Gagasan ini menempatkan festival sebagai ruang untuk keluar sejenak dari rutinitas. Musik dapat menjadi alasan seseorang melakukan perjalanan, bertemu teman, berjalan di antara kerumunan, duduk di rumput, atau sekadar menikmati suasana tanpa harus mengejar agenda sehari-hari.

Pengalaman festival tidak selalu harus berlangsung dalam tempo cepat. Ada kalanya seseorang datang untuk satu musisi yang sudah dikenal, tetapi kemudian menemukan penampil lain yang sebelumnya tidak pernah didengarkan. Ada pula yang datang bersama teman dan akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu berbicara daripada berada tepat di depan panggung.

Dalam situasi tersebut, festival menjadi bentuk rekreasi yang tidak hanya bergantung pada pertunjukan. Ruang, perjalanan, makanan, percakapan, dan perjumpaan semuanya menjadi bagian dari pengalaman.

Peristiwa sebagai Titik Temu

Kata kedua adalah peristiwa. Cherrypop memandang festival sebagai titik temu berbagai kelompok. Musisi, komunitas, perupa, sineas, pedagang rilisan, pembuat kaus, penulis, pengarsip, keluarga, dan masyarakat umum dapat berada di satu tempat.

Musik menjadi alasan awal untuk berkumpul, tetapi hubungan yang terbentuk dapat berkembang ke arah lain. Percakapan sederhana dapat melahirkan kolaborasi. Pertemuan di belakang panggung dapat membuka kesempatan baru. Penonton yang awalnya datang sendiri dapat menemukan komunitas yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Karena itulah peristiwa dalam konteks Cherrypop tidak harus berarti sesuatu yang besar. Peristiwa bisa berupa momen sederhana yang baru terasa penting ketika seseorang mengingatnya beberapa tahun kemudian.

Lima Tahun Musik sebagai Ingatan

Bagian terakhir dari Repelita adalah lima tahun musik. Selama lima tahun, musik menjadi medium yang menyatukan berbagai karakter. Ada musisi yang telah lama menjalani perjalanan kreatif, ada kelompok yang sedang tumbuh, dan ada pula penampil yang memiliki ruang berbeda dalam skena musik.

Keragaman tersebut membuat festival tidak harus memiliki satu suara. Cherrypop justru berkembang dengan mempertemukan berbagai genre, generasi, dan pendekatan. Perbedaan itu menjadi bagian dari identitas perayaan.

Musik kemudian berfungsi sebagai arsip yang hidup. Sebuah lagu dapat mengingatkan seseorang pada tempat, orang, atau masa tertentu. Ketika lagu tersebut dimainkan kembali bertahun-tahun kemudian, kenangan lama dapat muncul bersamaan dengan pengalaman baru.

Perjalanan Cherrypop dari Tahun ke Tahun

Setiap edisi Cherrypop memiliki karakter yang menjadi bagian dari perjalanan lima tahunnya. Panic Room menjadi awal perjalanan pada 2022. Tahun berikutnya membawa gagasan Swasembada Musik, kemudian Selamet Bermusik, dan Gelanggang Musik menjadi bagian dari tahapan berikutnya.

Perubahan tema tersebut memperlihatkan bahwa Cherrypop tidak berhenti pada satu formula. Festival terus mencoba menemukan bentuk yang sesuai dengan konteks zamannya. Perubahan tersebut juga membuat setiap edisi memiliki cerita sendiri, sekaligus tetap terhubung dengan perjalanan sebelumnya.

Pada 2023, misalnya, Cherrypop mulai memperluas cakupan pendengar dari sisi usia, genre, dan kemungkinan kolaborasi. Festival juga membangun ruang yang lebih beragam, termasuk panggung dengan karakter musik berbeda dan aktivitas yang memungkinkan publik berinteraksi lebih jauh.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan festival tidak hanya dapat diukur melalui ukuran acara. Pertumbuhan juga terlihat dari semakin beragamnya orang yang terlibat, gagasan yang dibawa, serta bentuk perjumpaan yang terjadi.

Musisi Lintas Generasi dalam Repelita Musik

Perayaan lima tahun Cherrypop menghadirkan puluhan musisi dan kelompok dari berbagai generasi serta latar musik. Pada hari pertama, 22 Agustus 2026, sejumlah nama yang dijadwalkan tampil antara lain FSTVLST, Stars and Rabbit, Majelis Lidah Berduri, NDX AKA, Aftershine, Senyawa, Juicy Luicy, MALIQ & D’Essentials, ALI, Idgitaf, Biru Baru, TheMilo, Murphy Radio, Polka Wars with Alahad, Skandal bersama Fog String Quartet, Dongker, The Panturas, Afterhours, Drizzly, Statelines, Untu, Moctar, Loomers, DARUMA Rollin’, Domikado, In Inertia, Basajan, Teknoshit, Enjoy Drink, dan Pharaoh Southeast Asia.

Hari kedua, 23 Agustus 2026, akan menghadirkan nama-nama seperti Nadin Amizah, Reality Club, Pandai Besi, Goodnight Electric, Elephant Kind, Perunggu, Sal Priadi, The Adams, Sigmun, Swellow, Eleventwelfth, Kelompok Penerbang Roket, Orkes Pensil Alis, Bleeedrz, Jimi Multihazam, Alkateri, Domapine, Syrian, Notyourwife, Lostineden, 510, The Bunbury, Strummer Electro, Scantofia, Olski, Kaneyorimasaru, Passive Income, LAUSBUB, Szetroom, Rokaroke, DabWok, dan Noire.

Daftar tersebut memperlihatkan rentang musik yang luas. Ada nama yang sudah memiliki basis pendengar kuat, ada kelompok yang dikenal di lingkungan skena tertentu, serta penampil yang membawa pendekatan berbeda. Keragaman ini menjadi bagian dari upaya Cherrypop menjaga festival tetap menjadi ruang perjumpaan.

Kehadiran tiga penampil dari Jepang, yaitu LAUSBUB, Kaneyorimasaru, dan DARUMA Rollin’, juga memperluas cakupan perayaan. Mereka membawa warna musik dari luar Indonesia ke dalam konteks festival yang berakar di Yogyakarta.

Kolaborasi Menjadi Bagian Penting

Salah satu ciri yang muncul dalam perjalanan Cherrypop adalah perhatian terhadap kolaborasi. Festival tidak hanya menempatkan musisi secara bergantian di atas panggung, tetapi juga menciptakan kesempatan bagi seniman dengan latar berbeda untuk bertemu.

Pada edisi 2026, salah satu peristiwa yang disiapkan adalah Objek Vital Nasional atau OVN, proyek yang mempertemukan FSTVLST dan Jenny. Pertemuan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang dihadirkan dalam rangkaian perayaan lima tahun.

Hari pertama juga akan menghadirkan Never Mind “The”, yang mempertemukan The Kick, The Jeblogs, dan The Skit. Tiga band dari Kotagede, Klaten, dan Surakarta itu dijadwalkan meleburkan karakter masing-masing dalam sebuah pertunjukan khusus.

Kolaborasi tersebut juga melibatkan Ican Harem atau Future Loundry yang bergerak di wilayah fesyen, subkultur, dan seni pertunjukan. Dengan pendekatan lintas medium, pertunjukan tidak hanya diperlakukan sebagai konser, tetapi juga sebagai pengalaman visual dan performatif.

Visual Repelita Musik

Perayaan lima tahun juga mendapatkan wajah visual melalui karya seniman kontemporer Andry Boy Kurniawan. Bahasa visual yang dibangun melalui figur-figur berkepala bundar, bentuk tubuh yang lentur, warna yang kuat, humor, kegelisahan, dan fantasi menjadi bagian dari identitas visual Repelita Musik.

Pilihan visual tersebut memiliki hubungan dengan karakter Cherrypop yang sering mempertemukan persoalan serius dengan bahasa budaya populer. Gagasan yang mungkin terasa berat dapat didekatkan melalui humor, musik, gambar, pakaian, dan atmosfer festival.

Visual kemudian tidak hanya menjadi dekorasi. Ia ikut membangun cara sebuah festival dikenali. Poster, ilustrasi, panggung, pakaian, dokumentasi, dan berbagai materi kreatif dapat menjadi arsip yang membuat satu edisi berbeda dari edisi lainnya.

Ketika Festival Menjadi Arsip Kehidupan

Salah satu hal paling menarik dari perjalanan Cherrypop adalah munculnya cerita personal yang tidak selalu terlihat dari luar. Festival dapat meninggalkan dampak pada kehidupan orang-orang yang terlibat, baik sebagai musisi, pekerja kreatif, relawan, maupun penonton.

Ada orang yang menyelesaikan penelitian atau tugas akademiknya dengan menjadikan Cherrypop sebagai objek kajian. Ada penonton yang kemudian membentuk band setelah pulang dari festival. Ada musisi yang kembali memainkan instrumen setelah lama berhenti. Ada pula orang yang mendapatkan kesempatan kerja melalui percakapan sederhana yang terjadi di belakang panggung.

Kisah seperti itu menunjukkan bahwa nilai sebuah festival tidak selalu dapat dihitung melalui jumlah penonton atau daftar penampil. Ada dampak yang lebih sulit diukur karena berada dalam perjalanan hidup seseorang.

Festival juga dapat menjadi tempat orang membangun hubungan. Pertemanan dapat dimulai di antara kerumunan. Kolaborasi dapat lahir dari percakapan singkat. Bagi sebagian orang, sebuah acara musik bahkan dapat menjadi bagian dari cerita hubungan personal mereka.

Semua pengalaman tersebut menjadi semacam arsip informal. Tidak semuanya tertulis, tetapi tetap hidup dalam ingatan orang-orang yang mengalaminya.

Lebaran Skena dan Rasa Pulang

Cherrypop kemudian mendapatkan julukan Lebaran Skena dari publik. Istilah tersebut menggambarkan bagaimana festival dapat menjadi momen ketika orang-orang dari berbagai kota kembali berkumpul.

Seperti sebuah hari raya, ada penonton yang datang dengan semangat bertemu kawan lama, mengenakan pakaian yang mereka sukai, bertukar kabar, dan menikmati waktu bersama. Musik menjadi alasan untuk berkumpul, tetapi rasa pulang dan perjumpaan justru menjadi bagian yang sering kali paling dirindukan.

Julukan tersebut juga menunjukkan adanya hubungan emosional antara festival dan komunitasnya. Cherrypop tidak lagi sekadar menjadi sebuah acara yang hadir pada tanggal tertentu. Bagi sebagian pengunjung, ia telah menjadi penanda waktu, tempat bertemu kembali, dan ruang untuk mengingat perjalanan bersama.

Ketika seseorang kembali setelah beberapa tahun, yang mereka temui bukan hanya panggung dan musisi. Mereka juga menemukan perubahan pada diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Teman yang dulu datang sebagai mahasiswa mungkin kini sudah bekerja. Musisi yang dulu tampil di panggung kecil mungkin telah memiliki perjalanan baru. Komunitas yang dulu berjumlah sedikit dapat berkembang menjadi lebih besar.

Musik sebagai Ruang Pertemuan

Perjalanan lima tahun Cherrypop memperlihatkan bahwa festival musik dapat berfungsi sebagai ruang sosial. Orang datang bukan hanya untuk mendengarkan lagu, tetapi juga untuk bertemu manusia lain yang memiliki ketertarikan serupa.

Dalam ruang tersebut, perbedaan usia, latar belakang, dan selera musik dapat bertemu. Seseorang dapat datang karena satu band, tetapi pulang dengan daftar nama musisi baru yang ingin mereka dengarkan. Komunitas yang berbeda dapat saling mengenal karena berada di lokasi yang sama.

Musik memiliki kemampuan untuk menciptakan percakapan tanpa harus selalu dimulai dengan kata-kata. Satu lagu dapat menjadi titik awal pembicaraan. Satu penampilan dapat membuat dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal menemukan kesamaan.

Dalam konteks inilah Cherrypop mencoba mempertahankan gagasan peristiwa. Festival bukan hanya tentang apa yang terjadi di atas panggung, tetapi juga tentang apa yang muncul di antara orang-orang yang hadir.

Menuju Lima Tahun Berikutnya

Perayaan lima tahun bukanlah titik akhir bagi Cherrypop. Justru, Repelita Musik menjadi kesempatan untuk membayangkan perjalanan berikutnya. Setelah melihat apa yang sudah terjadi sejak 2022, festival memiliki kesempatan untuk mengevaluasi hal-hal yang berhasil, memahami kekurangan, serta menentukan arah yang ingin dibangun.

Usia lima tahun memberikan cukup banyak pengalaman untuk dijadikan bekal. Setiap edisi meninggalkan pelajaran tentang musik, penonton, produksi, kolaborasi, komunitas, dan cara sebuah festival berhubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Lima tahun berikutnya tentu akan membawa perubahan. Selera musik dapat bergerak, teknologi akan berkembang, komunitas akan berubah, dan generasi baru akan masuk ke dalam skena. Festival yang ingin bertahan harus mampu membaca perubahan tanpa kehilangan alasan mengapa ia pertama kali dibuat.

Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara identitas dan perkembangan. Cherrypop dapat terus berubah dalam bentuk, tetapi tetap mempertahankan gagasan mengenai pertemuan, musik, dan kebudayaan populer yang menjadi bagian dari perjalanan sebelumnya.

Cherrypop dan Masa Depan Skena Musik

Festival musik memiliki peran penting dalam membangun ekosistem karena menyediakan ruang bagi musisi untuk bertemu pendengar secara langsung. Di era ketika musik semakin mudah diakses melalui platform digital, pengalaman menyaksikan pertunjukan secara langsung tetap memiliki karakter yang berbeda.

Di ruang digital, seseorang dapat mendengarkan lagu kapan saja. Di festival, lagu tersebut bertemu dengan ruang, tubuh, suara penonton, cahaya, perjalanan, dan situasi yang tidak dapat sepenuhnya dipindahkan ke layar. Karena itu, pertunjukan langsung memiliki kemampuan untuk menjadi pengalaman yang lebih personal.

Cherrypop memanfaatkan ruang tersebut untuk mempertemukan berbagai generasi dan karakter musik. Dengan memasukkan musisi yang sudah dikenal sekaligus memberi ruang bagi penampil dengan jalur berbeda, festival dapat menjadi jembatan antara pendengar lama dan pendengar baru.

Pendekatan semacam itu juga penting bagi keberlanjutan skena. Musisi baru membutuhkan panggung untuk bertemu audiens, sementara pendengar membutuhkan kesempatan untuk menemukan suara baru. Festival dapat menjadi salah satu tempat terjadinya proses tersebut.

Perayaan yang Lebih dari Dua Hari

Secara kalender, Cherrypop 2026 berlangsung selama dua hari pada 22 dan 23 Agustus. Namun, makna perayaan lima tahun tidak terbatas pada dua hari tersebut. Dua hari itu merupakan puncak dari perjalanan yang dimulai pada 2022 dan diisi oleh berbagai peristiwa selama lima tahun.

Karena itu, setiap penampilan dalam Repelita Musik membawa lapisan cerita. Ada musisi yang pernah menjadi bagian dari perjalanan sebelumnya, ada yang baru datang, dan ada pula kolaborasi yang sengaja diciptakan untuk perayaan kali ini.

Penonton pun datang dengan cerita masing-masing. Sebagian membawa kenangan dari edisi sebelumnya, sementara sebagian lain mungkin baru pertama kali mengenal Cherrypop. Pertemuan kedua kelompok tersebut membuat festival terus memiliki kemungkinan untuk berkembang.

Orang yang baru datang dapat menjadi bagian dari cerita berikutnya. Mereka mungkin menemukan musisi favorit, bertemu teman baru, bergabung dengan komunitas, atau sekadar membawa pulang pengalaman yang suatu hari akan mereka ceritakan kembali.

Menanam Peristiwa untuk Masa Depan

Lima tahun perjalanan Cherrypop menunjukkan bahwa sebuah festival dapat tumbuh melalui berbagai peristiwa kecil yang terkumpul dari waktu ke waktu. Tidak semua harus menjadi berita besar. Sebagian justru penting karena hanya berarti bagi orang yang mengalaminya.

Itulah makna menanam peristiwa. Setiap pertunjukan, percakapan, kolaborasi, pertemanan, karya, dan pengalaman menjadi semacam benih yang dapat tumbuh dalam bentuk berbeda. Ada yang menjadi kenangan, ada yang menjadi karya, ada yang berubah menjadi pekerjaan, dan ada pula yang membuka hubungan baru.

Repelita Musik kemudian menjadi perayaan atas proses tersebut. Ia tidak hanya melihat ke belakang dengan nostalgia, tetapi juga mencoba mengingat bahwa festival dibangun oleh manusia yang terus bergerak dan berubah.

Ketika Cherrypop tiba di Prambanan pada tahun kelimanya, festival tersebut membawa seluruh perjalanan sebelumnya ke sebuah ruang baru. Musik, seni, komunitas, dan sejarah bertemu dalam satu perayaan yang mencoba melihat masa lalu tanpa berhenti di sana.

Pada akhirnya, lima tahun Cherrypop bukan sekadar hitungan usia. Ia adalah kumpulan peristiwa yang membentuk identitas sebuah festival dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dari Alpha Bravo hingga Prambanan, dari Panic Room hingga Repelita Musik, perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi alasan bagi manusia untuk terus bertemu.

Dan ketika panggung selesai, lampu dipadamkan, serta penonton pulang, perjalanan itu belum benar-benar berakhir. Lagu masih dapat diputar kembali, foto dapat menjadi arsip, pertemanan dapat berlanjut, dan cerita dari dua hari festival dapat dibawa menuju hari-hari berikutnya. Di situlah lima tahun menanam peristiwa menemukan maknanya: Cherrypop tidak hanya merayakan musik yang pernah dimainkan, tetapi juga kehidupan yang tumbuh di antara bunyi-bunyi tersebut.

Sumber