Studio game independen asal Finlandia MiTale tengah mengeksplorasi penggunaan komputasi kuantum dalam pengembangan video game melalui proyek C.L.A.Y. – The Last Redemption. Game role-playing berlatar pascakehancuran peradaban tersebut tidak hanya menjadikan teknologi kuantum sebagai tema cerita, tetapi mencoba memanfaatkannya dalam sistem permainan, dinamika narasi, pembentukan lingkungan, hingga sejumlah efek visual.
Eksperimen MiTale menjadi menarik karena komputasi kuantum selama ini lebih sering dikaitkan dengan penelitian ilmiah, optimasi, keamanan, simulasi, dan sektor keuangan. MiTale justru mencoba membawa pendekatan tersebut ke industri kreatif. Tujuannya bukan sekadar membuat demonstrasi teknologi, melainkan mencari kemungkinan agar komputasi kuantum dapat menjadi salah satu alat baru bagi perancang game dan penulis cerita interaktif.
C.L.A.Y. Menggabungkan Game RPG dan Eksperimen Kuantum
C.L.A.Y. – The Last Redemption merupakan game role-playing berbasis cerita yang mengambil latar beberapa generasi setelah runtuhnya peradaban. Dunia permainan dibangun dalam kondisi ketika masyarakat yang tersisa harus hidup setelah kehancuran besar yang mengubah kehidupan manusia.
Dalam proyek tersebut, MiTale mengeksplorasi simulasi sirkuit kuantum untuk memengaruhi sejumlah elemen permainan. Teknologi itu digunakan dalam sistem naratif dan prosedural, termasuk dinamika cerita, pembentukan lingkungan, serta efek visual tertentu.
Pendekatan ini membuat komputasi kuantum tidak hanya berada di belakang layar sebagai bagian dari eksperimen teknis. Hasil simulasi dapat berhubungan dengan cara dunia permainan terbentuk dan bagaimana cerita berkembang. Dengan konsep tersebut, setiap sesi permainan berpotensi menghadirkan pengalaman yang berbeda berdasarkan interaksi dan keputusan pemain.
Komputasi Kuantum untuk Membentuk Cerita
Salah satu bagian paling menarik dari eksperimen MiTale adalah penerapannya pada interactive storytelling. Dalam game konvensional, pengembang biasanya menentukan berbagai kemungkinan alur menggunakan sistem dan aturan yang dirancang sebelumnya. MiTale mencoba melihat apakah pendekatan berbasis teknologi kuantum dapat membuka cara baru dalam membangun dinamika cerita.
Simulasi sirkuit kuantum dapat digunakan untuk menghasilkan pola yang kemudian memengaruhi perkembangan narasi. Dalam konteks C.L.A.Y., pendekatan tersebut memungkinkan hubungan antara pilihan pemain dan perkembangan dunia permainan menjadi lebih dinamis.
Konsep ini penting karena game berbasis cerita tidak hanya membutuhkan grafis atau mekanisme pertarungan. Pemain juga mengharapkan dunia yang terasa hidup dan responsif terhadap tindakan mereka. Ketika sistem narasi dapat menghasilkan variasi yang lebih luas, pengalaman bermain dapat terasa lebih personal.
Ketidakpastian Menjadi Bagian dari Pengalaman
Salah satu karakteristik komputasi kuantum yang menarik bagi pengembang game adalah cara teknologi tersebut menangani probabilitas dan keadaan kuantum. Dalam eksperimen MiTale, simulasi digunakan untuk mengeksplorasi kemungkinan yang dapat diterjemahkan ke dalam sistem permainan.
Pendekatan ini tidak berarti game berjalan sepenuhnya menggunakan komputer kuantum. Berdasarkan informasi yang tersedia, MiTale saat ini mengeksplorasi simulasi sirkuit kuantum sebagai bagian dari proses pengembangan. Studio tersebut juga memiliki tujuan jangka panjang untuk mengeksplorasi integrasi dengan perangkat keras kuantum nyata ketika teknologi tersebut semakin mudah diakses.
Perbedaan antara simulasi dan perangkat keras kuantum penting untuk dipahami. Komputer kuantum saat ini masih merupakan teknologi yang berkembang dan belum menjadi perangkat komputasi umum seperti CPU atau GPU. Karena itu, eksperimen seperti yang dilakukan MiTale lebih tepat dilihat sebagai penelitian terhadap kemungkinan penggunaan teknologi baru dalam pengembangan game.
Perjalanan MiTale dengan Qiskit Dimulai Sejak 2019
Eksplorasi MiTale terhadap komputasi kuantum bukan proyek yang baru dimulai. Studio tersebut telah mengembangkan riset dan eksperimen terkait teknologi kuantum sejak 2019. Salah satu teknologi yang digunakan adalah Qiskit, perangkat lunak open source dari IBM untuk bekerja dengan komputer kuantum dan sirkuit kuantum.
Pada tahap awal, MiTale bekerja bersama James Wootton yang ketika itu merupakan peneliti kuantum di IBM Research. Kolaborasi tersebut mendorong eksperimen mengenai bagaimana komputasi kuantum dapat digunakan untuk membangun dunia game, karakter, serta sistem permainan.
Eksperimen kemudian berkembang menjadi integrasi teknologi Qiskit dengan mesin pengembangan game. Dalam proses berikutnya, pengembangan C.L.A.Y. beralih dari Unity ke Godot untuk mengeksplorasi lebih jauh berbagai kemungkinan penggunaan teknologi kuantum dan solusi yang sedang berkembang.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan quantum gaming tidak sekadar eksperimen sesaat. MiTale mencoba membangun pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami bagaimana teknologi komputasi baru tersebut dapat diterapkan dalam proses kreatif.
Dari Eksperimen Riset Menuju Pengembangan Komersial
MiTale ingin membawa hasil eksperimen kuantum ke pengembangan game komersial. C.L.A.Y. menjadi salah satu kendaraan utama untuk menguji gagasan tersebut karena struktur permainannya berpusat pada cerita, eksplorasi, pilihan pemain, dan perubahan dunia permainan.
Penelitian mengenai C.L.A.Y. juga telah dibahas dalam kajian akademik tentang hubungan komputasi kuantum dan interactive storytelling. Eksperimen terhadap game tersebut menunjukkan bagaimana simulasi kuantum dapat digunakan untuk memengaruhi perkembangan cerita dan menghasilkan variasi lingkungan secara prosedural.
Dalam pendekatan seperti ini, teknologi tidak harus terlihat secara langsung oleh pemain. C.L.A.Y. tidak dibangun sebagai game yang menampilkan komputer kuantum sebagai bagian dari visual atau tema utamanya. Sebaliknya, teknologi tersebut bekerja sebagai salah satu fondasi sistem di balik pengalaman bermain.
Hal tersebut membuat konsep quantum gaming berbeda dari game edukasi yang secara langsung mengajarkan konsep fisika kuantum. Pada C.L.A.Y., komputasi kuantum lebih banyak diposisikan sebagai alat untuk mengeksplorasi desain permainan dan penceritaan interaktif.
MiTale Tidak Hanya Mengembangkan C.L.A.Y.
Eksperimen MiTale terhadap teknologi kuantum juga melampaui satu game. Studio tersebut pernah terlibat dalam sejumlah proyek yang bertujuan menjadikan konsep kuantum lebih mudah dipahami melalui pengalaman interaktif.
Salah satunya adalah Quantum Playground, sebuah pengalaman interaktif yang membantu memvisualisasikan konsep seperti superposisi, interferensi, dan perubahan keadaan kuantum. Pendekatan tersebut menggunakan prinsip permainan dan interaksi agar konsep yang kompleks dapat dipelajari melalui pengalaman langsung.
MiTale juga mengembangkan QWiz, yang mengambil pendekatan berbeda dengan mengubah persoalan terbuka dalam fisika kuantum menjadi teka-teki berbasis permainan. Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana mekanisme game dapat digunakan bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai cara memperkenalkan persoalan ilmiah kepada masyarakat.
Proyek lainnya adalah Naviqate, sebuah alat yang dirancang untuk mengurangi hambatan bagi pengembang game yang ingin bereksperimen dengan teknologi kuantum. Gagasannya adalah memungkinkan pengembang mencoba fungsi kuantum tanpa harus terlebih dahulu menjadi programmer kuantum secara khusus.
Naviqate Ingin Mendekatkan Quantum Computing dan Game Engine
Penggunaan komputasi kuantum dalam pengembangan game menghadapi tantangan besar karena sebagian besar pengembang terbiasa bekerja dengan teknologi konvensional. Game engine seperti Unity, Unreal Engine, dan Godot memiliki ekosistem yang jauh lebih matang dibandingkan perangkat pengembangan kuantum.
Naviqate dikembangkan dengan gagasan untuk menjembatani kedua dunia tersebut. Alat ini dirancang agar teknologi kuantum dapat dihubungkan dengan lingkungan pengembangan yang sudah dikenal oleh pengembang game, termasuk Unity, Unreal Engine, Godot, serta sistem narasi Ink.
Jika pendekatan tersebut terus berkembang, pengembang game di masa depan berpotensi mencoba teknologi kuantum tanpa harus membangun seluruh sistem dari awal. Ini dapat menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas eksperimen quantum gaming di luar lingkungan riset.
Gamescom 2026 Menjadi Panggung untuk C.L.A.Y.
MiTale akan memperkenalkan C.L.A.Y. – The Last Redemption dalam Gamescom 2026 di Cologne, Jerman. Game tersebut dijadwalkan ditampilkan pada area Indie di Hall 10.2, Stand F052g, pada 26 hingga 30 Agustus 2026.
Keikutsertaan di Gamescom memberikan kesempatan bagi MiTale untuk memperlihatkan langsung bagaimana konsep game yang memanfaatkan teknologi kuantum tersebut dikembangkan. Pameran seperti ini juga dapat menjadi ruang untuk mendapatkan perhatian dari komunitas pengembang, pemain, dan pihak industri yang tertarik pada teknologi game baru.
Bagi MiTale, panggung tersebut bukan hanya tentang memperkenalkan sebuah game. C.L.A.Y. juga menjadi representasi dari perjalanan riset yang telah dilakukan studio sejak 2019 dan upaya untuk mencari bentuk praktis penggunaan komputasi kuantum dalam industri kreatif.
Apakah Quantum Computing Akan Mengubah Industri Game?
Pertanyaan terbesar dari eksperimen MiTale adalah apakah komputasi kuantum benar-benar dapat memberikan manfaat nyata bagi industri game. Saat ini, belum ada alasan untuk menyimpulkan bahwa komputer kuantum akan segera menggantikan teknologi komputasi konvensional dalam pengembangan game.
CPU dan GPU masih menjadi fondasi utama untuk menjalankan game, memproses grafis, fisika, audio, kecerdasan karakter, dan berbagai sistem lainnya. Komputasi kuantum justru lebih masuk akal dipandang sebagai teknologi tambahan yang dapat dieksplorasi untuk jenis persoalan tertentu.
Dalam konteks MiTale, fokusnya adalah menemukan kemungkinan baru dalam desain. Jika simulasi kuantum dapat menghasilkan variasi cerita, hubungan karakter, lingkungan, atau kejadian permainan yang sulit dicapai dengan pendekatan konvensional, teknologi tersebut dapat memiliki nilai bagi pengembang.
Namun, manfaat tersebut masih perlu diuji melalui pengembangan dan pengalaman pemain. Teknologi baru tidak otomatis menghasilkan game yang lebih baik. Kualitas cerita, desain permainan, interaksi, dan kemampuan pengembang untuk membuat teknologi tersebut terasa alami bagi pemain tetap menjadi faktor utama.
Masa Depan Quantum Gaming Masih Terbuka
Eksperimen MiTale menunjukkan bahwa komputasi kuantum mulai dipertimbangkan dari sudut pandang yang lebih luas. Teknologi ini tidak lagi hanya dibahas dalam konteks laboratorium atau industri tertentu, tetapi mulai dieksplorasi untuk bidang kreatif seperti game dan storytelling.
C.L.A.Y. – The Last Redemption menjadi contoh bagaimana sebuah studio independen dapat menggunakan riset teknologi untuk mencari pendekatan baru terhadap desain permainan. Penggunaan simulasi sirkuit kuantum untuk narasi, lingkungan, dan efek visual memperlihatkan bahwa hubungan antara komputasi kuantum dan game masih memiliki ruang eksperimen yang luas.
Perjalanan MiTale juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara pengembang game, peneliti, dan perusahaan teknologi. Kerja sama dengan IBM dan pengalaman menggunakan Qiskit menjadi bagian dari proses yang memungkinkan gagasan tentang quantum gaming berkembang dari eksperimen menjadi proyek yang lebih konkret.
Jika perangkat keras kuantum semakin mudah diakses pada masa mendatang, MiTale ingin mengeksplorasi integrasi langsung dengan komputer kuantum nyata. Tahap tersebut tentu akan menghadirkan tantangan baru, tetapi juga dapat membuka kemungkinan yang saat ini masih sulit diwujudkan.
Pada akhirnya, C.L.A.Y. tidak harus langsung membuktikan bahwa komputasi kuantum adalah masa depan seluruh industri game. Nilai penting proyek ini justru terletak pada keberaniannya menguji pertanyaan yang belum memiliki jawaban pasti: bagaimana teknologi komputasi generasi baru dapat mengubah cara manusia membuat cerita dan merancang pengalaman interaktif.
Dengan tampil di Gamescom 2026, MiTale membawa eksperimen tersebut semakin dekat dengan komunitas game global. Perkembangannya layak diperhatikan karena jika komputasi kuantum suatu hari menjadi lebih mudah digunakan, pengalaman yang dibangun dari proyek seperti C.L.A.Y. dapat menjadi salah satu referensi awal mengenai bagaimana teknologi tersebut diterapkan di luar bidang ilmiah dan masuk ke dunia kreatif.



