Produk UMKM Asal Sumut Perluas Pasar Global Berkat Pemberdayaan BRI

Quinn Kitchen, UMKM kuliner asal Sumatera Utara, berkembang dari usaha rumahan menjadi bisnis yang menembus pasar internasional melalui pendampingan dan pemberdayaan BRI.

Produk UMKM Quinn Kitchen asal Sumatera Utara yang berkembang melalui pemberdayaan BRI
Produk UMKM Quinn Kitchen asal Sumatera Utara yang berkembang melalui pemberdayaan BRI

Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Sumatera Utara terus menunjukkan peluang untuk berkembang hingga pasar internasional. Salah satunya ditunjukkan Quinn Kitchen, bisnis kuliner asal Medan yang tumbuh dari usaha rumahan menjadi UMKM binaan BRI dengan jangkauan pasar yang semakin luas.

Quinn Kitchen didirikan Rudy Yanto pada 2020 di Kota Medan. Usaha tersebut berawal dari kegemarannya membuat sambal menggunakan bahan-bahan khas Sumatera Utara, seperti cabai gunung Berastagi, andaliman, kecombrang, serta hasil laut lokal. Produk yang awalnya dibagikan kepada keluarga dan teman kemudian mendapatkan respons positif hingga berkembang menjadi bisnis dengan sistem pre-order.

Perjalanan Quinn Kitchen menunjukkan bahwa produk pangan lokal memiliki peluang untuk berkembang apabila mendapatkan dukungan yang tepat. Melalui pendampingan BRI, usaha tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat model bisnis, kualitas produk, kemasan, legalitas, pemasaran, dan akses menuju pasar yang lebih luas.

Berawal dari Produk Sambal Rumahan

Ide Quinn Kitchen berangkat dari aktivitas sederhana Rudy Yanto dalam meracik sambal. Bahan-bahan khas Sumatera Utara menjadi bagian penting dari karakter produk yang dikembangkan. Cita rasa tersebut kemudian dikemas agar dapat dipasarkan dengan format yang lebih modern dan praktis.

Respons positif dari orang-orang di sekitar Rudy mendorongnya mengembangkan usaha secara lebih serius. Dari skala rumahan, Quinn Kitchen perlahan membangun identitas sebagai produsen makanan yang berupaya membawa cita rasa Sumatera Utara kepada konsumen yang lebih luas.

Perkembangan tersebut memperlihatkan salah satu kekuatan UMKM Indonesia, yakni kemampuan mengangkat bahan dan kekayaan daerah menjadi produk bernilai ekonomi. Tantangannya kemudian adalah bagaimana produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan pasar yang semakin luas.

Pendampingan BRI Jadi Bagian Penting

Dalam perjalanannya, hubungan Quinn Kitchen dengan BRI berkembang dari hubungan nasabah menjadi kemitraan dalam pengembangan usaha. Rudy diketahui telah menjadi nasabah simpanan BRI sejak 2014 melalui BRI Unit Berastagi.

Untuk mendukung aktivitas bisnis, Quinn Kitchen memanfaatkan sejumlah layanan BRI, termasuk transaksi digital melalui BRImo, QRIS, mesin EDC, serta fasilitas pembiayaan untuk kebutuhan modal kerja dan operasional.

Menurut Rudy, pendampingan menjadi salah satu aspek yang memberikan manfaat dalam perjalanan bisnisnya. Dukungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan layanan perbankan, tetapi juga berbagai program yang membantu pelaku UMKM meningkatkan kemampuan usaha.

Bergabung dengan Rumah BUMN BRI

Perkembangan Quinn Kitchen semakin mendapatkan dorongan ketika bergabung dengan Rumah BUMN BRI Medan. Melalui program pembinaan, pelaku usaha memperoleh pendampingan yang mencakup berbagai aspek penting dalam menjalankan bisnis.

Pendampingan tersebut meliputi penyempurnaan model bisnis, peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran, penguatan identitas merek, hingga peningkatan kapasitas produksi. Pendekatan yang menyentuh berbagai sisi bisnis membuat proses pengembangan Quinn Kitchen tidak hanya berfokus pada peningkatan penjualan.

Rumah BUMN menjadi salah satu ruang bagi UMKM untuk mendapatkan pengetahuan dan pendampingan yang dapat digunakan dalam menghadapi tantangan bisnis. Bagi Quinn Kitchen, proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk meningkatkan skala usaha.

Kapasitas Produksi Meningkat

Setelah mendapatkan pendampingan, Quinn Kitchen mengalami perkembangan dari sisi kapasitas produksi. Usaha yang sebelumnya menghasilkan produk dalam jumlah puluhan botol berkembang hingga mampu memproduksi ribuan botol.

Peningkatan kapasitas tersebut berjalan bersamaan dengan bertambahnya jumlah tenaga kerja yang terlibat. Quinn Kitchen kini memiliki sekitar 20 pekerja, sementara berbagai aspek usaha seperti desain kemasan, kualitas produk, legalitas, dan strategi pemasaran terus diperkuat.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan UMKM tidak hanya dapat dilihat dari jumlah produk yang terjual. Ketika usaha berkembang, kebutuhan terhadap tenaga kerja, manajemen, standar produk, serta sistem operasional juga ikut meningkat.

Ikut Program Pengusaha Muda Brilian

Langkah pengembangan Quinn Kitchen berlanjut ketika usaha tersebut mengikuti program inkubasi Pengusaha Muda Brilian atau PMB yang diselenggarakan BRI pada 2023.

Dalam program tersebut, Quinn Kitchen memperoleh kesempatan mendapatkan pembelajaran dari mentor bisnis nasional. Materi yang diberikan mencakup strategi pengembangan usaha, kepemimpinan, branding, dan inovasi bisnis.

Program inkubasi memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM untuk melihat bisnis dari perspektif yang lebih luas. Penguatan kemampuan manajemen dan strategi pemasaran menjadi penting ketika sebuah usaha mulai menargetkan pasar di luar wilayah asalnya.

Masuk Top 4 UMKM Indonesia

Upaya pengembangan bisnis tersebut kemudian membawa Quinn Kitchen menjadi salah satu UMKM yang mendapatkan pengakuan dalam program Pengusaha Muda Brilian. Quinn Kitchen terpilih sebagai Top 4 UMKM terbaik Indonesia untuk kategori Food & Beverage.

Pencapaian tersebut membuka kesempatan baru bagi Quinn Kitchen untuk memperkenalkan produknya di tingkat internasional. Usaha asal Sumatera Utara tersebut mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam ajang Food & Hotel Asia Food & Beverage 2026 di Singapura.

Keikutsertaan dalam ajang internasional memberikan peluang untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada calon mitra dan pembeli dari berbagai negara. Bagi UMKM, akses semacam ini dapat menjadi pintu masuk untuk membangun jaringan bisnis di luar negeri.

Menarik Calon Pembeli dari Singapura dan Belanda

Peluang pasar internasional mulai terlihat setelah Quinn Kitchen mengikuti ajang di Singapura. Produk tersebut menarik perhatian sejumlah calon pembeli dari luar negeri.

Quinn Kitchen mendapatkan calon buyer dari dua perusahaan asal Singapura dan satu perusahaan dari Belanda. Hubungan dengan calon pembeli tersebut masih berada dalam tahap komunikasi, pengiriman sampel, serta pembahasan lebih lanjut.

Artinya, peluang tersebut belum dapat disebut sebagai kontrak ekspor yang sudah terealisasi. Namun, adanya komunikasi dan proses uji coba produk menjadi perkembangan penting bagi sebuah UMKM yang sebelumnya tumbuh dari skala rumahan.

Membawa Cita Rasa Sumatera Utara ke Dunia

Produk Quinn Kitchen membawa unsur cita rasa Sumatera Utara melalui penggunaan bahan-bahan lokal. Cabai gunung Berastagi, andaliman, kecombrang, dan hasil laut menjadi bagian dari bahan yang digunakan dalam perjalanan pengembangan produknya.

Keunggulan produk berbasis bahan lokal terletak pada karakter yang dapat membedakannya dari produk sejenis. Ketika dikemas dengan standar yang sesuai, kekayaan kuliner daerah dapat memiliki peluang untuk dikenal oleh konsumen di luar Indonesia.

Hal tersebut juga memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkenalkan identitas daerah. Produk makanan tidak hanya memiliki nilai komersial, tetapi juga dapat membawa cerita mengenai bahan, cita rasa, dan budaya daerah asalnya.

Digitalisasi Mendukung Aktivitas Usaha

Dalam menjalankan bisnis, Quinn Kitchen memanfaatkan sejumlah layanan transaksi digital BRI. Penggunaan BRImo, QRIS, dan mesin EDC membantu mendukung kebutuhan transaksi usaha.

Digitalisasi transaksi menjadi semakin relevan bagi UMKM ketika bisnis mulai berkembang dan memiliki pelanggan yang lebih beragam. Sistem pembayaran digital dapat membantu pelaku usaha mengelola transaksi sekaligus memberikan pilihan pembayaran yang lebih luas kepada konsumen.

Namun, digitalisasi hanyalah salah satu bagian dari proses pengembangan bisnis. Produk, kualitas, legalitas, pemasaran, kapasitas produksi, dan kemampuan memenuhi permintaan tetap menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Pemberdayaan Tidak Berhenti pada Pembiayaan

Kisah Quinn Kitchen memperlihatkan bahwa pemberdayaan UMKM dapat mencakup lebih dari sekadar akses pembiayaan. Pelaku usaha juga membutuhkan pengetahuan, pendampingan, jaringan pemasaran, serta kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli.

BRI menyebut ekosistem pemberdayaan yang dibangun mencakup akses pembiayaan, pendampingan usaha, peningkatan kapasitas, promosi, hingga business matching pada ajang internasional.

Pendekatan tersebut dapat membantu UMKM mempersiapkan diri sebelum memasuki pasar yang lebih kompetitif. Dengan fondasi bisnis yang lebih kuat, peluang untuk memenuhi standar calon pembeli dari luar negeri juga dapat meningkat.

Pasar Global Membutuhkan Kesiapan Bisnis

Menembus pasar internasional bukan hanya soal memiliki produk yang menarik. Pelaku usaha juga harus memastikan kualitas, kapasitas produksi, legalitas, kemasan, kontinuitas pasokan, serta kemampuan memenuhi kebutuhan calon pembeli.

Proses yang dijalani Quinn Kitchen menunjukkan bagaimana sejumlah aspek tersebut diperkuat secara bertahap. Peningkatan produksi dari puluhan menjadi ribuan botol berjalan bersama dengan pembenahan kualitas, desain kemasan, legalitas, dan strategi pemasaran.

Kesiapan tersebut menjadi semakin penting ketika produk mulai diperkenalkan kepada calon buyer dari negara lain. Komunikasi bisnis internasional membutuhkan kemampuan untuk memenuhi permintaan dan standar yang disepakati.

Peran Business Matching untuk UMKM

Business matching menjadi salah satu bagian penting dalam membuka akses pasar bagi UMKM. Melalui kegiatan tersebut, pelaku usaha dapat bertemu dengan calon pembeli, distributor, maupun mitra bisnis yang memiliki kebutuhan terhadap produk tertentu.

Bagi UMKM yang sebelumnya hanya menjangkau pasar lokal, kesempatan bertemu calon buyer internasional dapat membuka wawasan baru mengenai standar dan kebutuhan pasar global.

Dalam kasus Quinn Kitchen, proses tersebut menghasilkan komunikasi dengan dua calon pembeli dari Singapura dan satu perusahaan dari Belanda. Tahap berikutnya masih membutuhkan pengiriman sampel dan pembahasan lebih lanjut sebelum peluang bisnis tersebut dapat berkembang menjadi transaksi.

Membuka Peluang Lapangan Kerja

Pertumbuhan UMKM juga dapat memberikan dampak terhadap lingkungan ekonomi di sekitarnya. Ketika kapasitas produksi meningkat, kebutuhan tenaga kerja dapat bertambah dan menciptakan kesempatan kerja baru.

Quinn Kitchen yang kini memiliki sekitar 20 pekerja menjadi salah satu contoh bagaimana pengembangan usaha dapat memberikan dampak di luar pemilik bisnis. Pertumbuhan perusahaan skala kecil dapat menciptakan aktivitas ekonomi bagi tenaga kerja serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam rantai pasok.

Jika akses pasar terus berkembang, peningkatan permintaan juga berpotensi mendorong kebutuhan terhadap bahan baku dan layanan pendukung lainnya. Dengan demikian, pertumbuhan satu UMKM dapat memiliki efek yang lebih luas.

UMKM sebagai Kekuatan Ekonomi Daerah

UMKM memiliki posisi penting dalam perekonomian daerah karena banyak usaha tumbuh dari potensi dan kebutuhan masyarakat setempat. Produk kuliner menjadi salah satu sektor yang memiliki peluang besar untuk mengangkat bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah.

Quinn Kitchen menunjukkan bagaimana kekayaan bahan pangan Sumatera Utara dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki peluang pasar lebih luas. Penguatan merek dan kemasan membantu produk lokal tampil lebih siap ketika berhadapan dengan konsumen dari berbagai wilayah.

Ketika UMKM berhasil naik kelas, manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh pekerja, pemasok, dan komunitas yang berada di sekitar bisnis tersebut.

BRI Dorong UMKM Naik Kelas

Corporate Secretary BRI Dhanny menyampaikan bahwa perjalanan Quinn Kitchen menjadi gambaran mengenai pentingnya ekosistem pemberdayaan untuk membantu UMKM berkembang secara berkelanjutan.

Menurut BRI, pelaku UMKM Indonesia memiliki kualitas yang dapat bersaing di pasar global. Karena itu, dukungan diberikan melalui berbagai tahapan, mulai dari pembiayaan dan pendampingan hingga peningkatan kapasitas serta akses promosi dan business matching.

Tujuan akhirnya bukan hanya meningkatkan skala usaha, tetapi juga membuka kesempatan agar semakin banyak produk Indonesia dapat dikenal di pasar internasional.

Bagian dari Ekosistem Danantara Indonesia

BRI juga menempatkan program pemberdayaan UMKM sebagai bagian dari upaya menciptakan value creation dalam ekosistem Danantara Indonesia. Pemberdayaan dipandang sebagai salah satu cara untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha di berbagai daerah.

Konsep tersebut menekankan pentingnya kesempatan yang lebih luas bagi pelaku usaha, baik yang berada di kota besar maupun daerah. Dengan dukungan yang sesuai, UMKM dapat memiliki kesempatan untuk mengembangkan produk dan memperluas pasar.

Kisah Quinn Kitchen menjadi salah satu contoh bagaimana usaha yang bermula dari skala kecil dapat berkembang melalui kombinasi kerja keras, pembinaan, peningkatan kapasitas, dan akses pasar.

Tantangan Setelah Mendapat Calon Buyer

Ketertarikan dari calon pembeli luar negeri menjadi langkah positif, tetapi perjalanan menuju pasar ekspor masih membutuhkan proses. Quinn Kitchen masih melakukan pengiriman sampel dan komunikasi dengan calon buyer dari Singapura serta Belanda.

Tahap tersebut penting untuk memastikan produk sesuai dengan kebutuhan calon pembeli. Aspek kualitas, harga, kapasitas produksi, pengiriman, legalitas, dan persyaratan pasar menjadi bagian yang perlu diperhatikan sebelum kerja sama komersial dapat terealisasi.

Karena itu, keberhasilan menembus pasar global sebaiknya dilihat sebagai proses bertahap. Penguatan fondasi bisnis tetap menjadi kunci agar UMKM mampu mempertahankan kualitas ketika permintaan meningkat.

Dari Medan Menuju Pasar Dunia

Perjalanan Quinn Kitchen menggambarkan potensi produk daerah untuk berkembang dari pasar lokal menuju panggung internasional. Usaha yang dimulai dari kegemaran membuat sambal kini telah memperoleh kesempatan memperkenalkan produknya di Singapura.

Dukungan ekosistem pemberdayaan membantu usaha tersebut melewati sejumlah tahapan penting, mulai dari pembenahan bisnis hingga peningkatan kapasitas. Pengalaman mengikuti program Pengusaha Muda Brilian juga memperkuat kemampuan bisnis dan membuka akses terhadap jaringan yang lebih luas.

Ketertarikan calon buyer dari Singapura dan Belanda menjadi perkembangan berikutnya yang masih harus melalui proses komunikasi dan uji coba produk.

Potensi Produk Lokal di Pasar Internasional

Kisah Quinn Kitchen memperlihatkan bahwa produk lokal memiliki peluang untuk bersaing apabila dikembangkan dengan pendekatan yang tepat. Cita rasa khas daerah dapat menjadi nilai pembeda ketika dipadukan dengan kualitas produk, kemasan, legalitas, dan strategi pemasaran yang sesuai.

Pasar internasional juga membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas sumber pendapatan. Namun, ekspansi tersebut harus dilakukan dengan kesiapan produksi dan manajemen agar pertumbuhan tidak justru mengganggu kualitas produk.

Pendampingan yang berkelanjutan dapat membantu pelaku usaha menghadapi proses tersebut. Mulai dari pengelolaan bisnis hingga strategi pemasaran, setiap aspek menjadi bagian dari perjalanan UMKM menuju skala yang lebih besar.

Kesimpulan

Quinn Kitchen menjadi salah satu contoh UMKM asal Sumatera Utara yang berkembang melalui pemberdayaan dan pendampingan BRI. Usaha yang didirikan Rudy Yanto di Medan pada 2020 tersebut berawal dari produk sambal rumahan dengan bahan khas Sumatera Utara.

Melalui berbagai program pembinaan, Quinn Kitchen meningkatkan kapasitas produksi dari puluhan menjadi ribuan botol dan kini memiliki sekitar 20 pekerja. Usaha tersebut juga memperkuat kualitas produk, desain kemasan, legalitas, strategi pemasaran, serta model bisnis.

Perjalanan Quinn Kitchen berlanjut melalui program Pengusaha Muda Brilian pada 2023. Dari program tersebut, Quinn Kitchen kemudian terpilih sebagai Top 4 UMKM Indonesia kategori Food & Beverage dan memperoleh kesempatan mengikuti Food & Hotel Asia Food & Beverage 2026 di Singapura.

Kesempatan tersebut membuka akses kepada calon pembeli internasional. Quinn Kitchen kini tengah berkomunikasi dengan dua perusahaan asal Singapura dan satu perusahaan dari Belanda, termasuk melalui proses pengiriman sampel dan uji coba produk. Tahap tersebut masih merupakan proses penjajakan dan belum dapat disebut sebagai transaksi ekspor yang telah terealisasi.

BRI menilai perjalanan tersebut menunjukkan pentingnya ekosistem pemberdayaan yang mencakup pembiayaan, pendampingan, peningkatan kapasitas, promosi, serta business matching. Bagi UMKM Indonesia, dukungan semacam ini dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat usaha sekaligus memperkenalkan produk lokal ke pasar global.

Sumber