Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen membutuhkan lebih dari sekadar dorongan konsumsi atau stimulus jangka pendek. Investasi yang produktif dan penguatan sektor manufaktur menjadi dua unsur penting yang perlu berjalan beriringan agar pertumbuhan ekonomi dapat meningkat sekaligus menciptakan dampak yang lebih luas terhadap dunia usaha dan masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan perhatian ekonom UOB terhadap struktur pertumbuhan Indonesia. Ekonom ASEAN UOB Enrico Tanuwidjaja sebelumnya menempatkan investasi dan manufaktur sebagai bagian penting dari upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional. Dalam perkembangan terbaru, pembahasan mengenai target pertumbuhan yang lebih tinggi kembali menyoroti pentingnya mengarahkan modal ke kegiatan ekonomi yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperluas basis pertumbuhan.
Target 8 persen sendiri bukan sasaran yang ringan. Untuk mencapainya, Indonesia perlu meningkatkan produktivitas dan memastikan investasi yang masuk tidak berhenti pada penambahan modal, tetapi menghasilkan kapasitas produksi baru, memperkuat rantai pasok, meningkatkan nilai tambah, serta membuka kesempatan kerja yang lebih baik.
Investasi Harus Menghasilkan Kapasitas Ekonomi Baru
Investasi menjadi salah satu komponen utama dalam strategi mendorong pertumbuhan. Namun, besarnya nilai investasi saja tidak cukup untuk memastikan ekonomi tumbuh lebih cepat. Kualitas investasi menjadi faktor yang tidak kalah penting karena dampaknya terhadap produktivitas dan kegiatan ekonomi dapat berbeda antara satu sektor dengan sektor lainnya.
Investasi yang diarahkan ke sektor produktif dapat meningkatkan kemampuan ekonomi dalam menghasilkan barang dan jasa. Ketika kapasitas produksi bertambah, kebutuhan terhadap tenaga kerja, bahan baku, logistik, energi, pembiayaan, dan berbagai layanan pendukung juga dapat ikut meningkat. Efek berantai inilah yang membuat investasi produktif memiliki peran lebih besar daripada sekadar mencatat masuknya modal.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi sebelumnya juga menekankan bahwa peningkatan proporsi investasi, khususnya investasi yang berorientasi ekspor dan berkelanjutan, menjadi salah satu kunci untuk mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi. Arah tersebut menunjukkan bahwa Indonesia perlu menarik investasi yang memberikan nilai tambah serta terhubung dengan permintaan pasar global.
Investasi Asing Perlu Terhubung dengan Industri Dalam Negeri
Penanaman modal asing dapat memberikan manfaat lebih besar apabila terhubung dengan ekosistem industri domestik. Kehadiran investor dapat membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk menjadi bagian dari rantai pasok, meningkatkan standar produksi, serta memperoleh akses terhadap teknologi dan pasar yang lebih luas.
Hubungan tersebut penting karena tujuan akhir investasi bukan hanya meningkatkan angka penanaman modal. Investasi perlu menghasilkan aktivitas ekonomi yang bertahan dalam jangka panjang. Semakin banyak kegiatan produksi yang tercipta di dalam negeri, semakin besar pula potensi kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, penciptaan iklim investasi yang menarik tetap harus berjalan bersama dengan penguatan industri domestik. Kepastian regulasi, kemudahan perizinan, kualitas infrastruktur, ketersediaan energi, sumber daya manusia, dan efisiensi logistik menjadi bagian dari ekosistem yang menentukan keputusan investor.
Manufaktur Menjadi Mesin Pertumbuhan yang Penting
Selain investasi, sektor manufaktur memiliki posisi strategis karena kegiatan industri pengolahan dapat menciptakan nilai tambah sekaligus menyerap tenaga kerja. UOB menilai manufaktur, terutama sektor yang memiliki kemampuan menciptakan pekerjaan berkualitas, berperan penting dalam memperkuat daya beli kelas menengah.
Pandangan tersebut berkaitan dengan persoalan sisi permintaan dalam perekonomian. Ketika masyarakat memiliki pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik dan kepastian yang lebih kuat, kemampuan konsumsi dapat meningkat. Permintaan yang lebih sehat kemudian memberikan insentif kepada pelaku usaha untuk mempertahankan atau memperluas produksi.
Dengan demikian, manufaktur tidak hanya berfungsi sebagai sektor produksi. Industri juga dapat menjadi penghubung antara investasi, lapangan kerja, pendapatan rumah tangga, konsumsi, dan pertumbuhan ekonomi. Semakin kuat hubungan tersebut, semakin besar peluang pertumbuhan memiliki basis yang lebih luas.
Lapangan Kerja Berkualitas Menjadi Bagian dari Strategi
Penguatan manufaktur juga berkaitan dengan kualitas pekerjaan. Investasi industri yang membutuhkan keterampilan lebih tinggi berpotensi menciptakan pekerjaan dengan produktivitas dan pendapatan yang lebih baik dibandingkan kegiatan ekonomi dengan nilai tambah rendah.
Dalam pandangan Enrico Tanuwidjaja yang disampaikan dalam pembahasan mengenai kelas menengah, pekerjaan berkualitas menjadi kebutuhan penting. Ia mengaitkannya dengan keterampilan yang dibutuhkan, tingkat gaji yang lebih tinggi, dan kontrak kerja yang lebih panjang. Manufaktur dinilai menjadi salah satu sektor yang dapat menyediakan jenis pekerjaan tersebut ketika investasi asing langsung dan kapasitas industri berkembang.
Artinya, strategi pertumbuhan 8 persen tidak hanya perlu mengejar angka pertumbuhan produk domestik bruto. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas dan kesempatan kerja yang dapat memperkuat daya beli masyarakat.
Hilirisasi Perlu Menghasilkan Nilai Tambah
Salah satu jalur yang dapat mempertemukan investasi dan manufaktur adalah hilirisasi. Pengolahan bahan mentah di dalam negeri memungkinkan sebagian nilai ekonomi dari suatu komoditas tetap berada dalam rantai produksi domestik. Namun, efektivitas hilirisasi bergantung pada seberapa jauh proses pengolahan dapat berkembang menuju produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Hilirisasi karena itu tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas pengolahan dasar. Tantangan berikutnya adalah memperluas rantai industri, meningkatkan kemampuan teknologi, memperkuat sumber daya manusia, dan memastikan produk memiliki pasar yang kompetitif.
Jika proses tersebut berhasil, investasi pada industri pengolahan dapat menciptakan efek yang lebih luas. Bahan baku dapat diserap industri domestik, kebutuhan jasa pendukung meningkat, tenaga kerja memperoleh kesempatan baru, dan produk dapat diarahkan ke pasar ekspor. Pola seperti ini lebih sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pertumbuhan Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Belanja Pemerintah
Data perekonomian Indonesia pada kuartal I 2026 menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 5,61 persen secara tahunan. UOB menilai kinerja tersebut didukung oleh belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga, dan investasi. Namun, ekonom UOB juga mengingatkan bahwa pertumbuhan yang terlalu bergantung pada ekspansi fiskal memiliki keterbatasan dan tidak mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Persoalan keberlanjutan menjadi penting ketika target pertumbuhan dinaikkan secara signifikan. Pemerintah memang dapat memberikan dorongan melalui kebijakan fiskal, tetapi kapasitas fiskal memiliki batas. Karena itu, sektor swasta dan investasi produktif harus semakin mengambil peran dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Dalam konteks tersebut, strategi investasi yang efektif menjadi penting. Modal perlu diarahkan ke sektor yang dapat meningkatkan kapasitas produksi dan produktivitas, bukan sekadar menghasilkan aktivitas ekonomi sementara. Semakin besar kontribusi sektor produktif terhadap pertumbuhan, semakin kecil ketergantungan terhadap stimulus pemerintah sebagai satu-satunya mesin ekonomi.
Reformasi Struktural Tetap Menjadi Syarat
Mengejar pertumbuhan 8 persen juga membutuhkan perubahan struktural. Investasi dapat masuk ketika peluang ekonomi tersedia, tetapi keputusan investor sangat dipengaruhi oleh kepastian mengenai biaya, regulasi, infrastruktur, tenaga kerja, dan prospek pasar.
Karena itu, reformasi struktural tidak dapat dipisahkan dari agenda pertumbuhan. Penyederhanaan proses usaha, kepastian aturan, peningkatan produktivitas tenaga kerja, pendalaman pasar keuangan, serta perbaikan konektivitas industri dapat membantu menurunkan hambatan yang dihadapi pelaku usaha.
Dalam pandangan UOB, pasar finansial yang lebih dalam juga menjadi bagian dari fondasi pertumbuhan. Sistem pembiayaan yang semakin mampu menyediakan modal bagi kegiatan produktif dapat membantu perusahaan memperluas kapasitas tanpa sepenuhnya bergantung pada sumber pembiayaan tertentu.
Manufaktur dan Konsumsi Saling Berkaitan
Penguatan manufaktur memiliki hubungan langsung dengan konsumsi domestik. Industri yang berkembang membutuhkan pekerja, sementara pendapatan pekerja menjadi salah satu sumber permintaan terhadap barang dan jasa. Ketika permintaan meningkat secara sehat, perusahaan memiliki alasan untuk menambah produksi dan investasi.
Siklus tersebut dapat menciptakan efek pengganda bagi perekonomian. Namun, siklus hanya dapat berlangsung apabila pertumbuhan produktivitas dan pendapatan berjalan seimbang. Jika konsumsi meningkat tanpa peningkatan kapasitas produksi, tekanan terhadap harga dan impor dapat muncul. Sebaliknya, jika produksi meningkat tanpa permintaan yang memadai, kapasitas industri berisiko tidak dimanfaatkan secara optimal.
Karena itu, strategi investasi dan manufaktur perlu berjalan bersama dengan pemulihan kepercayaan konsumen. UOB sebelumnya menilai penguatan sisi permintaan menjadi bagian penting untuk memperbaiki kondisi kelas menengah dan menjaga manufaktur tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan.
Indonesia Perlu Menarik Investasi Bernilai Tambah
Persaingan mendapatkan investasi global semakin menuntut negara tujuan menyediakan ekosistem industri yang kompetitif. Investor tidak hanya melihat ukuran pasar, tetapi juga mempertimbangkan kualitas infrastruktur, kepastian kebijakan, tenaga kerja, biaya produksi, akses terhadap energi, serta kedekatan dengan rantai pasok.
Indonesia memiliki pasar domestik besar dan basis sumber daya yang dapat menjadi keunggulan. Tantangannya adalah mengubah keunggulan tersebut menjadi ekosistem produksi yang memiliki daya saing. Investasi yang masuk perlu diarahkan agar menciptakan kapasitas industri, memperkuat pemasok lokal, dan meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri.
Orientasi tersebut juga sejalan dengan gagasan investasi berorientasi ekspor. Ketika industri Indonesia mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus menembus pasar internasional, kontribusinya terhadap pertumbuhan dapat menjadi lebih luas. Ekspor juga dapat memperluas sumber permintaan sehingga perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi konsumsi domestik.
Tantangan Mencapai Pertumbuhan 8 Persen
Target pertumbuhan 8 persen harus dipandang sebagai sasaran yang membutuhkan perubahan kualitas pertumbuhan, bukan sekadar peningkatan angka dalam jangka pendek. Indonesia perlu memastikan investasi menghasilkan produktivitas, manufaktur menciptakan nilai tambah, dan lapangan kerja yang terbentuk mampu memperkuat daya beli.
Di sisi lain, risiko eksternal tetap perlu diperhitungkan. Perubahan kondisi perdagangan global, kebijakan suku bunga negara maju, nilai tukar, harga komoditas, serta ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi arus modal dan prospek ekspor. Karena itu, ketahanan ekonomi domestik menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan.
UOB dalam analisis ekonominya pada 2026 juga menekankan perlunya disiplin fiskal, strategi investasi yang efektif, dan kemitraan yang lebih kuat untuk mempertahankan momentum pertumbuhan. Artinya, percepatan ekonomi tidak dapat hanya mengandalkan satu kebijakan. Pemerintah, investor, industri, lembaga keuangan, dan tenaga kerja perlu memiliki peran yang saling melengkapi.
Investasi dan Manufaktur Harus Berjalan Bersama
Pada akhirnya, investasi dan manufaktur merupakan dua bagian dari strategi yang saling berkaitan. Investasi menyediakan modal untuk memperluas kapasitas produksi, sementara manufaktur menyediakan ruang bagi modal tersebut untuk menghasilkan barang, nilai tambah, ekspor, dan pekerjaan.
Jika investasi hanya bertambah tanpa peningkatan produktivitas, dampaknya terhadap pertumbuhan jangka panjang akan terbatas. Sebaliknya, jika industri ingin berkembang tanpa dukungan investasi yang memadai, kemampuan perusahaan memperluas kapasitas juga akan menghadapi kendala.
Karena itu, resep menuju pertumbuhan 8 persen membutuhkan kualitas investasi yang lebih baik, industri manufaktur yang semakin produktif, serta kebijakan yang menciptakan kepastian bagi dunia usaha. Strategi tersebut juga harus dibarengi penguatan sumber daya manusia agar tenaga kerja Indonesia mampu memenuhi kebutuhan industri yang semakin kompleks.
Target pertumbuhan 8 persen pada akhirnya bukan hanya persoalan mengejar angka PDB. Ukuran keberhasilannya juga dapat dilihat dari seberapa besar investasi menciptakan kapasitas ekonomi baru, seberapa kuat manufaktur memperluas lapangan kerja berkualitas, dan seberapa jauh produktivitas meningkat. Dengan fondasi tersebut, pertumbuhan yang lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk menjadi berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian Indonesia.



