SAF Jadi Ladang Bisnis Baru, Indonesia-Jepang Perkuat Kemitraan

Pengembangan Sustainable Aviation Fuel membuka peluang bisnis baru bagi Indonesia dan Jepang melalui bahan baku lokal, teknologi, investasi, dan rantai pasok energi hijau.

Ilustrasi pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan SAF dalam kerja sama Indonesia dan Jepang
Ilustrasi pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan SAF dalam kerja sama Indonesia dan Jepang

Sustainable Aviation Fuel atau SAF mulai dipandang bukan hanya sebagai solusi untuk mengurangi emisi dari industri penerbangan, tetapi juga sebagai peluang bisnis baru yang dapat mempertemukan kepentingan energi, pertanian, teknologi, investasi, dan industri. Indonesia memiliki peluang untuk mengambil bagian dalam rantai bisnis tersebut melalui pengembangan bahan baku lokal, sementara Jepang dapat berperan melalui teknologi, pengalaman industri, investasi, dan akses ke jaringan bisnis.

Peluang kerja sama Indonesia-Jepang dalam pengembangan SAF telah dibahas dalam berbagai forum. Indonesia Japan Business Network atau IJBNet, misalnya, pernah mempertemukan pemangku kepentingan kedua negara dalam pembahasan pengembangan bahan baku SAF dari kelapa non-standar dan pongamia di Expo 2025 Osaka. Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dapat membuka rantai nilai baru dari komoditas dan sumber daya yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Perkembangan tersebut semakin relevan karena industri penerbangan global membutuhkan alternatif bahan bakar untuk mendukung target pengurangan emisi. Di Indonesia, peluang itu juga mulai mendapat perhatian dari perusahaan energi dan sektor penerbangan. Pada Juli 2026, Pertamina dan Boeing menandatangani nota kesepahaman untuk mengeksplorasi pengembangan ekosistem SAF Indonesia sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi sektor penerbangan.

SAF Bukan Sekadar Urusan Bahan Bakar

Ketika membahas SAF, perhatian sering kali hanya tertuju pada bahan bakar yang digunakan pesawat. Padahal, bisnis SAF mencakup rantai yang jauh lebih panjang. Sebelum menjadi bahan bakar penerbangan, bahan baku harus tersedia, dikumpulkan, dipilah, diproses, diolah menggunakan teknologi tertentu, memenuhi standar, dan akhirnya masuk ke rantai pasok energi penerbangan.

Rantai tersebut menciptakan peluang bagi banyak sektor usaha. Petani dapat berperan sebagai pemasok bahan baku, perusahaan logistik menangani pengumpulan dan pengangkutan, perusahaan teknologi menyediakan sistem pengolahan, sementara lembaga riset dan perguruan tinggi berperan dalam pengembangan metode produksi.

Di sisi lain, produsen energi dan perusahaan penerbangan menjadi bagian penting dalam tahap hilir. Semakin berkembang ekosistem tersebut, semakin banyak jenis usaha yang berpotensi terhubung dengan industri SAF.

Peluang dari Kelapa Non-Standar

Salah satu gagasan yang dikembangkan dalam kerja sama Indonesia-Jepang adalah pemanfaatan kelapa non-standar sebagai bahan baku SAF. Kelapa yang tidak memenuhi kriteria tertentu untuk pasar konsumsi dapat diarahkan ke penggunaan lain apabila memenuhi persyaratan teknis dan keberlanjutan.

Pendekatan tersebut memiliki nilai bisnis karena dapat menciptakan nilai tambah dari bahan yang sebelumnya memiliki nilai ekonomi lebih rendah. Namun, pemanfaatan kelapa untuk SAF tetap membutuhkan sistem pemilahan, pelacakan, pengumpulan, pengolahan, dan pengujian yang memadai.

IJBNet dan mitra Jepang juga telah membahas pentingnya sistem pemilahan dan traceability untuk kelapa non-standar yang digunakan sebagai bahan baku SAF. Sistem tersebut diperlukan agar asal bahan baku dapat ditelusuri dan prosesnya memenuhi ketentuan yang diperlukan.

Pongamia Menambah Pilihan Bahan Baku

Selain kelapa non-standar, pongamia juga menjadi salah satu sumber bahan baku yang dibicarakan dalam pengembangan SAF Indonesia-Jepang. Tanaman tersebut dapat menjadi bagian dari diversifikasi sumber bahan baku energi terbarukan.

Diversifikasi menjadi penting karena industri SAF membutuhkan pasokan bahan baku yang stabil. Ketergantungan pada satu sumber bahan baku dapat menimbulkan risiko ketika produksi, harga, distribusi, atau kondisi lingkungan berubah.

Dengan mengembangkan beberapa pilihan bahan baku, pelaku industri dapat membangun rantai pasok yang lebih fleksibel. Namun, setiap sumber bahan baku tetap harus dinilai berdasarkan aspek teknis, ekonomi, keberlanjutan, ketersediaan lahan, logistik, serta dampaknya terhadap kebutuhan lain.

Indonesia Punya Potensi Bahan Baku yang Besar

Indonesia memiliki basis pertanian dan perkebunan yang luas sehingga peluang pengembangan bahan baku SAF cukup beragam. Selain kelapa dan pongamia, penelitian mengenai SAF di Indonesia juga mengevaluasi potensi residu pertanian sebagai bahan baku.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Biomass and Bioenergy pada 2026 mengevaluasi residu pertanian Indonesia untuk produksi SAF. Studi tersebut mengidentifikasi residu dari komoditas seperti kelapa sawit, padi, dan jagung sebagai bahan yang dapat dipertimbangkan dalam jalur pengolahan termokimia maupun biokimia.

Temuan penelitian tersebut memperlihatkan bahwa peluang SAF tidak hanya berasal dari tanaman yang secara khusus dibudidayakan untuk energi. Limbah dan residu pertanian juga dapat menjadi bagian dari rantai pasok apabila teknologi, biaya logistik, dan sistem pengumpulan dapat dibuat layak.

Tantangan Logistik Tidak Bisa Diabaikan

Besarnya potensi bahan baku tidak otomatis membuat bisnis SAF menjadi mudah. Salah satu tantangan penting adalah logistik. Bahan baku pertanian tersebar di banyak wilayah, sementara fasilitas pengolahan membutuhkan pasokan yang konsisten.

Jarak antara lokasi bahan baku dan fasilitas pengolahan dapat memengaruhi biaya. Karena itu, pengembangan pusat pra-pengolahan di dekat sumber bahan baku menjadi salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan. Sistem seperti ini dapat membantu mengurangi beban pengangkutan bahan mentah dalam jarak yang terlalu jauh.

Bagi dunia usaha, persoalan tersebut sekaligus menjadi peluang. Perusahaan logistik, pengelola gudang, pengembang fasilitas pra-pengolahan, dan penyedia teknologi pengumpulan dapat membangun layanan khusus untuk mendukung ekosistem SAF.

Peran Jepang dalam Pengembangan Ekosistem SAF

Kerja sama dengan Jepang memiliki arti penting karena pengembangan SAF membutuhkan kombinasi antara bahan baku, teknologi, modal, standar, dan kemampuan industri. Jepang memiliki kepentingan besar terhadap dekarbonisasi sektor penerbangan dan pengembangan pasokan SAF.

Japan Airlines dan All Nippon Airways pada Mei 2026 menerbitkan laporan bersama mengenai kondisi SAF di Jepang dan kebutuhan untuk mempercepat pengembangan bahan bakar tersebut. Laporan itu menyebut SAF masih menyumbang bagian yang sangat kecil dari konsumsi bahan bakar penerbangan global sehingga peningkatan produksi dan penurunan biaya menjadi tantangan penting.

Kondisi tersebut membuka ruang bagi kerja sama lintas negara. Indonesia dapat berkontribusi melalui ketersediaan bahan baku dan pengembangan produksi, sementara perusahaan Jepang dapat menjadi mitra dalam teknologi, investasi, pengembangan rantai pasok, serta akses pasar.

Investasi Hijau Bisa Membuka Bisnis Turunan

Pengembangan SAF berpotensi menghasilkan bisnis turunan yang tidak selalu terlihat pada tahap awal. Ketika fasilitas produksi mulai dibangun, kebutuhan terhadap peralatan, jasa konstruksi, sistem pengendalian kualitas, logistik, penyimpanan, dan layanan teknis juga dapat meningkat.

Bisnis berbasis teknologi dan riset juga memiliki ruang untuk berkembang. Pengembangan metode pengolahan bahan baku, peningkatan efisiensi produksi, pengujian kualitas, hingga sistem pelacakan bahan baku membutuhkan kemampuan teknis yang terus dikembangkan.

Bagi perusahaan Indonesia, peluang tersebut dapat menjadi pintu masuk ke industri energi baru. Tidak semua perusahaan harus menjadi produsen SAF. Sebagian dapat mengambil posisi sebagai pemasok bahan baku, penyedia teknologi, penyedia jasa, atau bagian dari rantai distribusi.

Pertamina dan Boeing Mulai Menjajaki Ekosistem SAF

Perkembangan kerja sama Pertamina dan Boeing menunjukkan bahwa pembentukan ekosistem SAF mulai melibatkan pemain besar industri energi dan penerbangan. Dalam nota kesepahaman yang diumumkan Juli 2026, kedua perusahaan mengeksplorasi peluang pengembangan ekosistem SAF Indonesia untuk mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan.

Keterlibatan perusahaan energi dan produsen pesawat memperlihatkan bahwa pengembangan SAF membutuhkan kerja sama lintas sektor. Produsen bahan bakar, maskapai, produsen pesawat, pemerintah, peneliti, penyedia teknologi, dan pelaku usaha bahan baku memiliki kepentingan yang saling berkaitan.

Bagi dunia bisnis, terbentuknya ekosistem tersebut dapat memberikan kepastian arah pasar. Namun, kelayakan komersial tetap menjadi faktor penting karena SAF harus mampu memenuhi persyaratan teknis sekaligus memiliki biaya produksi dan rantai pasok yang dapat diterima industri.

Riset dan Industri Perlu Berjalan Bersamaan

Pengembangan SAF juga membutuhkan hubungan yang kuat antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan perusahaan. Pada Januari 2026, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama NEDO dan Toyota membahas penguatan kolaborasi riset dan industri Indonesia-Jepang, termasuk pengembangan SAF dan biofuel berbasis limbah biomassa.

Kolaborasi tersebut penting karena kebutuhan industri tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan investasi. Teknologi harus diuji, bahan baku harus dipelajari, proses produksi harus dioptimalkan, dan standar kualitas harus dipenuhi.

Ketika riset dan industri berjalan bersama, hasil penelitian memiliki peluang lebih besar untuk dikembangkan menjadi solusi komersial. Sebaliknya, perusahaan juga dapat memberikan persoalan nyata kepada peneliti sehingga riset lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Peluang bagi Pelaku Usaha Daerah

Salah satu dampak yang berpotensi muncul dari industri SAF adalah terbukanya peluang bagi pelaku usaha di daerah. Sumber bahan baku pertanian dan perkebunan tidak seluruhnya berada di kawasan industri utama. Karena itu, pembangunan rantai pasok SAF dapat menciptakan aktivitas ekonomi di wilayah penghasil bahan baku.

Pelaku usaha lokal dapat terlibat dalam pengumpulan, pemilahan, penyimpanan, pengangkutan, dan pengolahan awal. Dengan sistem yang tepat, aktivitas tersebut dapat memberikan nilai tambah sebelum bahan baku masuk ke fasilitas produksi yang lebih besar.

Namun, keterlibatan daerah membutuhkan standar yang jelas. Kualitas bahan baku, sistem pencatatan, keberlanjutan, dan kepastian pembelian menjadi faktor penting agar pelaku usaha memiliki dasar yang cukup untuk melakukan investasi.

Tantangan Utama Menuju Bisnis SAF

Meskipun peluang bisnisnya besar, SAF bukan industri yang dapat berkembang hanya dengan mengandalkan ketersediaan bahan baku. Ada sejumlah tantangan yang harus diselesaikan secara bersamaan.

  • Ketersediaan bahan baku: pasokan harus cukup dan konsisten untuk mendukung produksi.
  • Teknologi: proses pengolahan harus mampu menghasilkan bahan bakar yang memenuhi standar penerbangan.
  • Biaya: produksi dan distribusi perlu dibuat semakin efisien agar dapat diterima pasar.
  • Logistik: pengumpulan bahan baku dari berbagai wilayah membutuhkan sistem yang efektif.
  • Traceability: asal dan perjalanan bahan baku perlu dapat ditelusuri.
  • Standar keberlanjutan: pengembangan SAF harus mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial.
  • Pasar: produsen membutuhkan kepastian permintaan agar investasi dapat dihitung secara rasional.

Indonesia-Jepang Bisa Membangun Rantai Nilai Bersama

Kerja sama Indonesia dan Jepang dalam SAF memiliki potensi lebih luas daripada sekadar hubungan pemasok dan pembeli. Kedua negara dapat membangun rantai nilai bersama yang mencakup penelitian, bahan baku, teknologi, investasi, produksi, hingga penggunaan bahan bakar di sektor penerbangan.

Model kerja sama seperti itu dapat memberikan manfaat bagi kedua pihak. Indonesia memiliki peluang meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal dan mengembangkan industri baru, sedangkan Jepang mendapatkan mitra dalam membangun pasokan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Kerja sama tersebut juga sejalan dengan arah investasi hijau yang semakin mendapat perhatian global. Perusahaan yang mampu membangun solusi rendah emisi dan memiliki rantai pasok yang dapat dilacak akan memiliki posisi yang semakin penting ketika standar lingkungan menjadi bagian dari keputusan bisnis.

SAF Berpotensi Menjadi Industri Strategis Baru

Perkembangan SAF menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya menciptakan tantangan bagi industri lama, tetapi juga membuka ruang bagi bisnis baru. Penerbangan membutuhkan solusi untuk mengurangi emisi, sementara Indonesia memiliki sumber daya dan basis industri yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan tersebut.

Kerja sama Indonesia-Jepang menjadi salah satu contoh bagaimana peluang tersebut dapat dikembangkan melalui kombinasi bahan baku lokal, teknologi, investasi, riset, dan jaringan bisnis. Pengembangan bahan baku dari kelapa non-standar dan pongamia, misalnya, menunjukkan bahwa komoditas yang sebelumnya kurang optimal dimanfaatkan dapat diarahkan menjadi bagian dari industri bernilai tambah.

Ke depan, keberhasilan bisnis SAF akan sangat bergantung pada kemampuan membangun ekosistem secara menyeluruh. Ketersediaan bahan baku harus berjalan bersama teknologi, pembiayaan, standar keberlanjutan, logistik, dan kepastian pasar.

Bagi Indonesia, peluang tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri energi terbarukan sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Sementara bagi dunia usaha, SAF menawarkan ruang untuk masuk ke berbagai mata rantai bisnis, mulai dari pertanian dan logistik hingga teknologi dan energi.

Dengan demikian, SAF tidak lagi hanya dapat dilihat sebagai bahan bakar alternatif bagi pesawat. Jika dikembangkan secara konsisten dan memenuhi standar yang diperlukan, SAF berpotensi menjadi bagian dari industri baru yang mempertemukan kepentingan penerbangan, energi, pertanian, teknologi, dan investasi. Kemitraan Indonesia-Jepang dapat menjadi salah satu fondasi untuk mengubah peluang tersebut menjadi kegiatan bisnis yang memiliki nilai tambah dan berkelanjutan.

Sumber