Lebih dari satu miliar anak di dunia kini menghadapi sedikitnya tiga bahaya iklim yang dapat terjadi secara bersamaan dalam kehidupan mereka. Temuan tersebut berasal dari laporan terbaru UNICEF yang menggambarkan semakin luasnya paparan anak terhadap berbagai ancaman akibat krisis iklim, mulai dari gelombang panas, panas ekstrem, kekeringan, banjir, kebakaran, hingga badai tropis.
Laporan yang dirilis pada 16 Juni 2026 itu menunjukkan bahwa hampir setiap anak di dunia telah menghadapi setidaknya satu bahaya iklim. Sementara itu, lebih dari satu miliar anak menghadapi sedikitnya tiga ancaman sekaligus. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dampak krisis iklim tidak berhenti pada kejadian cuaca ekstrem, tetapi dapat merambat ke kesehatan, pendidikan, infrastruktur, serta layanan dasar yang dibutuhkan anak.
UNICEF menganalisis paparan anak terhadap delapan bahaya iklim, yakni banjir pesisir, kekeringan, panas ekstrem, kebakaran, gelombang panas, banjir sungai, badai pasir dan debu, serta badai tropis. Pemetaan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana anak-anak di berbagai belahan dunia menghadapi ancaman yang berbeda-beda dan, dalam banyak kasus, harus menghadapi beberapa bahaya secara bersamaan.
Hampir setiap anak menghadapi setidaknya satu bahaya iklim
Temuan UNICEF memperlihatkan bahwa paparan terhadap risiko iklim telah menjadi pengalaman yang sangat luas di kalangan anak-anak. Hampir setiap anak di seluruh dunia kini terkena setidaknya satu dari bahaya yang dianalisis dalam laporan tersebut.
Persoalannya menjadi jauh lebih serius ketika beberapa ancaman hadir pada waktu yang sama atau terjadi berulang dalam kehidupan anak. Kekeringan dapat berlangsung ketika suhu meningkat. Panas ekstrem dapat menyertai gelombang panas. Banjir dapat muncul setelah hujan lebat, sementara badai tropis dapat menyebabkan kerusakan terhadap rumah, sekolah, jalan, dan fasilitas umum.
Dalam kondisi seperti itu, anak tidak hanya menghadapi ancaman langsung dari cuaca ekstrem. Mereka juga dapat mengalami gangguan terhadap aktivitas sehari-hari. Sekolah mungkin sulit dijangkau, layanan kesehatan dapat terganggu, sementara keluarga harus menghadapi kerusakan tempat tinggal atau kehilangan sumber penghasilan.
UNICEF mencatat sekitar 123.000 anak mengalami lebih dari enam bahaya dalam hidup mereka. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian anak menghadapi tingkat paparan yang sangat kompleks, terutama mereka yang tinggal di wilayah dengan berbagai ancaman iklim yang saling tumpang tindih.
Delapan bahaya iklim yang dipetakan UNICEF
Dalam analisisnya, UNICEF memasukkan delapan jenis bahaya iklim. Masing-masing memiliki karakteristik berbeda, tetapi seluruhnya dapat memberikan konsekuensi terhadap kehidupan anak.
Banjir pesisir menjadi salah satu ancaman yang berkaitan dengan kondisi wilayah yang berada dekat garis pantai. Banjir sungai dapat terjadi ketika debit air meningkat dan melampaui kapasitas sungai. Kekeringan berkaitan dengan kondisi kurangnya curah hujan atau ketersediaan air dalam periode tertentu, sedangkan panas ekstrem dan gelombang panas berkaitan dengan paparan suhu tinggi.
Kebakaran menjadi ancaman lain yang dapat merusak lingkungan sekaligus menghasilkan asap dan polusi udara. Badai pasir dan debu dapat mengganggu kualitas udara serta aktivitas masyarakat. Sementara itu, badai tropis dapat membawa angin kencang dan hujan deras yang berpotensi menimbulkan banjir serta kerusakan infrastruktur.
Dengan menggunakan delapan kategori tersebut, UNICEF berupaya melihat risiko secara lebih menyeluruh. Pendekatan ini penting karena kehidupan anak tidak berlangsung dalam ruang yang terpisah-pisah. Ketika satu layanan dasar terganggu akibat bencana, gangguan tersebut dapat memengaruhi layanan lain.
Kekeringan menjadi salah satu ancaman utama
Kekeringan merupakan salah satu bahaya dengan jangkauan yang sangat luas. Kondisi kekurangan air dapat memberikan tekanan terhadap kehidupan keluarga dan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya alam.
Bagi anak, dampak kekeringan dapat terasa melalui berbagai jalur. Ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari dapat menjadi persoalan. Ketika sumber air berkurang, keluarga dapat menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Dalam situasi tertentu, anak juga dapat terdampak oleh perubahan kondisi pangan dan penghasilan keluarga.
Kekeringan juga dapat berinteraksi dengan suhu tinggi. Ketika kondisi kering berlangsung bersamaan dengan panas ekstrem dan gelombang panas, tekanan terhadap masyarakat menjadi semakin besar. Ancaman tersebut bukan hanya soal rasa tidak nyaman akibat suhu, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat mempertahankan layanan dan aktivitas sehari-hari.
UNICEF menempatkan kombinasi berbagai bahaya tersebut sebagai salah satu gambaran penting mengenai bagaimana krisis iklim dapat menghasilkan risiko berlapis bagi anak. Sebuah wilayah tidak selalu menghadapi satu bahaya pada satu waktu, sehingga kebijakan perlindungan juga harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya beberapa ancaman secara bersamaan.
Gelombang panas semakin menjadi perhatian
Gelombang panas dan panas ekstrem menjadi bagian penting dalam laporan UNICEF. Paparan suhu tinggi dapat memberikan tekanan terhadap tubuh anak dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Anak-anak memiliki kebutuhan khusus karena mereka masih berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Ketika suhu menjadi sangat tinggi, kegiatan belajar, bermain, perjalanan menuju sekolah, maupun aktivitas luar ruangan dapat terganggu.
Masalah tersebut dapat semakin berat apabila gelombang panas berlangsung bersama kekeringan. Dalam situasi seperti itu, kebutuhan terhadap air meningkat ketika ketersediaannya justru menghadapi tekanan. Kondisi tersebut membuat keluarga dan layanan publik harus memiliki kemampuan beradaptasi yang memadai.
Dalam laporan yang dikutip Betahita, paparan mutlak terhadap gelombang panas yang sering, lebih lama, dan lebih parah paling tinggi terjadi di negara-negara berpenduduk besar yang berada dekat garis khatulistiwa. Negara yang disebut antara lain Republik Demokratik Kongo, Etiopia, Indonesia, Meksiko, dan Nigeria.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa lokasi geografis dan jumlah penduduk dapat menjadi faktor penting dalam menentukan jumlah anak yang terpapar. Negara dengan jumlah penduduk besar dapat memiliki jumlah anak terdampak yang tinggi meskipun karakter ancamannya berbeda-beda antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Banjir dapat mengganggu pendidikan anak
Banjir merupakan salah satu bahaya yang memiliki dampak langsung terhadap infrastruktur. Ketika air merendam suatu wilayah, rumah, jalan, jembatan, sekolah, dan fasilitas umum lainnya dapat mengalami gangguan.
Bagi anak-anak, kerusakan infrastruktur dapat berarti hilangnya akses terhadap pendidikan. Sekolah mungkin tetap berdiri, tetapi jalan menuju sekolah tidak dapat digunakan. Jembatan yang menghubungkan permukiman dengan sekolah juga dapat rusak atau hanyut.
UNICEF menyoroti contoh di Papua Nugini. Anak-anak di wilayah tersebut harus berenang menyeberangi sungai yang dipenuhi buaya untuk pergi ke sekolah setelah jembatan penyeberangan penting hanyut akibat hujan lebat dan tidak diganti. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak krisis iklim terhadap pendidikan dapat muncul melalui rusaknya akses menuju sekolah.
Kerusakan jembatan tersebut juga menimbulkan persoalan keselamatan. Betahita melaporkan adanya insiden anak yang jatuh hingga mengalami sakit dan cedera. Ketiadaan jembatan juga disebut memperbesar kesenjangan pembelajaran, terutama bagi anak perempuan.
Contoh tersebut menggambarkan hubungan antara cuaca ekstrem dan layanan pendidikan. Ketika sebuah infrastruktur dasar tidak tersedia, anak dapat kehilangan kesempatan belajar meskipun sekolah secara fisik mungkin masih ada.
Badai tropis membawa dampak berlapis
Badai tropis menjadi ancaman lain yang dapat memberikan dampak luas. Angin kencang dan hujan deras yang menyertai badai dapat merusak bangunan serta mengganggu jaringan transportasi dan layanan masyarakat.
Anak-anak dapat menjadi kelompok yang sangat terdampak ketika rumah rusak atau keluarga harus berpindah. Perpindahan tempat tinggal juga dapat memutus rutinitas pendidikan dan mengganggu akses terhadap layanan kesehatan maupun perlindungan anak.
Dampak badai juga tidak selalu berakhir ketika cuaca kembali normal. Pemulihan infrastruktur membutuhkan waktu, sementara keluarga yang kehilangan tempat tinggal atau sumber penghasilan membutuhkan dukungan agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi badai perlu mencakup lebih dari sekadar sistem peringatan dini. Sekolah, fasilitas kesehatan, jalan, jembatan, tempat tinggal, serta layanan sosial perlu memiliki kemampuan untuk tetap berfungsi atau segera pulih setelah kejadian ekstrem.
Kebakaran juga mengancam anak
UNICEF mencatat bahwa jumlah anak yang sering terpapar kebakaran menjadi perhatian. Hampir 45 persen paparan kebakaran global berada di 10 negara, termasuk Brasil, Republik Demokratik Kongo, Ghana, dan Indonesia.
Kebakaran dapat menimbulkan berbagai konsekuensi. Kerusakan akibat api dapat menghancurkan rumah dan fasilitas umum, sementara asap kebakaran dapat memperburuk kualitas udara. Bagi anak-anak, lingkungan dengan kualitas udara buruk dapat menjadi persoalan kesehatan sekaligus mengganggu kegiatan sehari-hari.
Indonesia masuk dalam kelompok negara yang disebut dalam analisis tersebut. Posisi itu membuat perhatian terhadap perlindungan anak dari dampak kebakaran menjadi relevan, terutama di wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi.
Respons terhadap kebakaran juga perlu mempertimbangkan kondisi setelah api padam. Anak-anak yang tinggal di wilayah terdampak dapat menghadapi perubahan lingkungan, kerusakan fasilitas, serta gangguan terhadap sekolah dan layanan kesehatan. Pemulihan karena itu perlu mencakup kebutuhan anak, bukan hanya pembangunan kembali infrastruktur fisik.
Sahel menghadapi beberapa ancaman sekaligus
Wilayah Sahel di Afrika menjadi salah satu kawasan yang disebut UNICEF memiliki tingkat paparan tinggi. Lebih dari 4 juta anak di kawasan tersebut menghadapi tiga ancaman berupa gelombang panas, panas ekstrem, serta badai pasir dan debu.
Kombinasi tersebut memperlihatkan karakter risiko iklim yang saling berhubungan. Suhu tinggi dapat berlangsung dalam kondisi lingkungan yang kering, sementara badai pasir dan debu dapat menambah tekanan terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat.
Bagi anak, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kehidupan sehari-hari dan akses terhadap layanan. Ketika beberapa bahaya muncul secara bersamaan, kapasitas keluarga dan pemerintah untuk merespons menjadi semakin penting.
Temuan mengenai Sahel juga menunjukkan mengapa pengukuran satu bahaya saja tidak cukup untuk menggambarkan risiko yang sebenarnya. Anak yang menghadapi tiga ancaman sekaligus berada dalam situasi berbeda dibandingkan anak yang hanya menghadapi satu jenis bahaya.
Asia Selatan juga berada dalam tekanan
UNICEF menemukan bahwa anak-anak di Bangladesh, Myanmar, dan Pakistan lebih banyak terpapar bahaya iklim dibandingkan negara-negara lain di dunia. Wilayah Asia menjadi bagian penting dalam gambaran global mengenai dampak perubahan iklim terhadap anak.
Besarnya paparan di kawasan tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap kapasitas layanan dasar. Ketika banjir, badai, panas, atau bahaya lainnya terjadi, layanan kesehatan dan pendidikan perlu tetap dapat menjangkau anak.
Kondisi setiap negara tentu berbeda. Karena itu, strategi adaptasi perlu mempertimbangkan karakter ancaman di masing-masing wilayah. Data mengenai lokasi anak, jenis bahaya, serta kapasitas layanan dapat membantu menentukan prioritas intervensi.
Indonesia termasuk negara yang perlu mendapat perhatian
Indonesia disebut dalam laporan sebagai salah satu negara dengan jumlah anak yang tinggi dalam beberapa kategori paparan iklim. Selain termasuk dalam kelompok negara dengan paparan gelombang panas yang tinggi secara mutlak, Indonesia juga termasuk dalam 10 negara yang menyumbang hampir 45 persen paparan kebakaran global.
Indonesia memiliki wilayah yang luas dengan karakter geografis berbeda-beda. Karena itu, risiko iklim yang dihadapi anak dapat berbeda antara daerah pesisir, wilayah perkotaan, kawasan pedesaan, dan wilayah yang berdekatan dengan kawasan hutan.
Pendekatan perlindungan anak di Indonesia perlu mempertimbangkan perbedaan tersebut. Wilayah dengan risiko banjir membutuhkan ketahanan infrastruktur dan akses sekolah yang berbeda dengan daerah yang menghadapi kekeringan atau kebakaran.
Data mengenai anak yang terdampak juga penting untuk menentukan prioritas. Pemerintah dapat menggunakan pemetaan risiko untuk melihat wilayah mana yang membutuhkan penguatan fasilitas pendidikan, kesehatan, air, sanitasi, serta sistem perlindungan sosial.
Negara berpendapatan tinggi juga tidak kebal
Krisis iklim tidak hanya menjadi persoalan bagi negara berkembang. Laporan UNICEF menunjukkan bahwa negara berpendapatan tinggi juga menghadapi guncangan iklim yang terjadi secara bersamaan.
Italia menjadi salah satu contoh yang disebut dalam laporan. Lebih dari 6 juta anak di negara tersebut terkena gelombang panas dan kekeringan yang berkepanjangan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tingkat pendapatan sebuah negara tidak secara otomatis menghilangkan risiko iklim. Infrastruktur dan layanan yang lebih kuat memang dapat membantu mengurangi dampak, tetapi anak tetap dapat terpapar bahaya ketika kejadian ekstrem berlangsung.
Perbedaan kapasitas terutama terlihat pada kemampuan untuk melakukan pencegahan, merespons keadaan darurat, dan memulihkan layanan setelah bencana. Karena itu, adaptasi tetap diperlukan di semua tingkat pembangunan.
Krisis iklim dapat memperbesar tekanan terhadap infrastruktur
Kenaikan suhu dan cuaca ekstrem memberikan tekanan lebih besar terhadap infrastruktur. Jalan dan jembatan dapat mengalami kerusakan, sementara fasilitas publik harus menghadapi kondisi lingkungan yang semakin berat.
Bagi anak, infrastruktur bukan sekadar fasilitas fisik. Jalan menentukan apakah mereka dapat pergi ke sekolah. Jembatan menentukan apakah mereka dapat menyeberang dengan aman. Fasilitas kesehatan menentukan apakah mereka dapat memperoleh pertolongan ketika sakit atau mengalami cedera.
Ketika infrastruktur rusak dan tidak segera diperbaiki, dampaknya dapat berlangsung lebih lama daripada kejadian cuaca ekstrem itu sendiri. Contoh Papua Nugini menunjukkan bagaimana satu jembatan yang hilang dapat memengaruhi akses pendidikan anak dalam jangka panjang.
Karena itu, pembangunan infrastruktur yang tahan terhadap risiko iklim menjadi salah satu bagian penting dari perlindungan anak. Investasi tidak hanya diperlukan untuk membangun fasilitas baru, tetapi juga untuk memastikan fasilitas yang sudah ada dapat bertahan dan berfungsi ketika kondisi ekstrem terjadi.
Kesehatan anak ikut terancam
Dampak krisis iklim terhadap anak juga berkaitan erat dengan kesehatan. Panas ekstrem dapat memberikan tekanan terhadap tubuh, sementara banjir dan kekeringan dapat memengaruhi kondisi lingkungan tempat anak tinggal.
Gangguan terhadap air dan sanitasi menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhatikan. Ketika banjir terjadi, sumber air dapat terganggu. Ketika kekeringan berlangsung, ketersediaan air dapat berkurang. Kedua kondisi tersebut dapat menyulitkan keluarga memenuhi kebutuhan dasar.
Polusi udara juga menjadi bagian dari persoalan. Betahita melaporkan bahwa negara-negara dengan jumlah anak yang paling banyak terpapar polusi udara ambien antara lain India, Indonesia, Nigeria, dan Pakistan.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan kesehatan anak dari krisis iklim perlu dilakukan melalui berbagai sektor. Penguatan fasilitas kesehatan saja tidak cukup apabila anak masih menghadapi gangguan air, sanitasi, kualitas udara, atau akses terhadap layanan dasar lainnya.
Pendidikan dapat terganggu dalam banyak cara
Dampak terhadap pendidikan tidak selalu berupa sekolah yang hancur. Anak dapat kehilangan akses belajar karena jalan rusak, jembatan terputus, keluarga berpindah tempat, atau lingkungan menjadi tidak aman.
Cuaca ekstrem juga dapat membuat kegiatan belajar harus dihentikan sementara. Ketika sekolah berada di wilayah yang mengalami banjir atau badai, keselamatan anak menjadi pertimbangan utama. Namun semakin lama kegiatan belajar terganggu, semakin besar pula potensi kesenjangan pembelajaran.
Kasus Papua Nugini yang disoroti UNICEF memperlihatkan bagaimana infrastruktur yang rusak dapat menciptakan hambatan khusus bagi anak perempuan. Situasi seperti itu menunjukkan bahwa dampak iklim dapat memperbesar kesenjangan yang sudah ada di masyarakat.
Karena itu, sekolah yang tahan terhadap risiko iklim perlu dipandang sebagai bagian dari strategi adaptasi. Ketahanan pendidikan tidak hanya berarti bangunan yang kokoh, tetapi juga akses transportasi, fasilitas dasar, serta mekanisme agar pembelajaran dapat terus berlangsung ketika terjadi gangguan.
Risiko tidak dirasakan secara sama oleh semua anak
Besarnya paparan terhadap bahaya iklim tidak otomatis berarti semua anak mengalami dampak yang sama. Kemampuan keluarga dan masyarakat untuk menghadapi bencana menjadi faktor penting.
Anak yang tinggal di lingkungan dengan layanan dasar yang kuat dapat memiliki peluang pemulihan yang berbeda dibandingkan anak yang tinggal di wilayah dengan akses terbatas. Ketika bencana terjadi, keberadaan fasilitas kesehatan, air bersih, sanitasi, sekolah, jalan, serta perlindungan sosial dapat menentukan seberapa cepat kehidupan anak kembali normal.
Karena itu, pendekatan terhadap krisis iklim perlu memperhitungkan kerentanan. Pemerintah tidak cukup hanya mengetahui wilayah yang sering terkena banjir atau panas. Mereka juga perlu mengetahui siapa yang tinggal di wilayah tersebut dan layanan apa yang tersedia untuk membantu mereka.
Dalam konteks anak, pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena anak memiliki ketergantungan yang lebih besar terhadap keluarga dan layanan publik. Mereka tidak selalu memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri ketika menghadapi bencana.
UNICEF mendorong pengurangan emisi dan adaptasi
UNICEF menyerukan kepada pemerintah dan dunia usaha untuk mengurangi emisi sekaligus meningkatkan adaptasi iklim. Dua langkah tersebut perlu berjalan bersama karena pengurangan emisi berkaitan dengan upaya membatasi peningkatan risiko dalam jangka panjang, sedangkan adaptasi diperlukan untuk menghadapi dampak yang sudah terjadi.
Dalam konteks perlindungan anak, adaptasi perlu berfokus pada layanan yang paling sering digunakan dan dibutuhkan anak. Sistem kesehatan dan pendidikan perlu diperkuat, sementara infrastruktur perlu dirancang dengan mempertimbangkan kondisi iklim yang semakin ekstrem.
Pendekatan tersebut juga berarti bahwa kebutuhan anak perlu dimasukkan ke dalam perencanaan pembangunan. Jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, sistem air, dan fasilitas publik lainnya memiliki hubungan langsung dengan kemampuan anak untuk tetap aman dan memperoleh layanan ketika terjadi bencana.
Investasi layanan dasar menjadi bagian penting
UNICEF menilai analisis paparan anak terhadap bahaya iklim dapat membantu pemerintah dan pengambil keputusan membuat rencana yang lebih baik serta melakukan investasi secara lebih efektif dalam layanan yang berketahanan.
Jika suatu wilayah memiliki paparan tinggi terhadap banjir, misalnya, pembangunan sekolah dan fasilitas kesehatan perlu mempertimbangkan risiko tersebut. Jika wilayah menghadapi kekeringan, ketahanan sistem air menjadi perhatian. Jika kebakaran menjadi ancaman utama, perlindungan terhadap anak dan fasilitas publik perlu disiapkan dengan mempertimbangkan risiko kebakaran serta dampak asap.
Dengan pendekatan tersebut, kebijakan iklim tidak berdiri terpisah dari kebijakan pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, dan perlindungan sosial. Seluruh sektor perlu bekerja dengan tujuan yang sama, yaitu memastikan anak tetap memperoleh layanan dasar meskipun menghadapi kondisi iklim yang semakin menantang.
Data penting untuk menentukan prioritas
Salah satu manfaat utama pemetaan seperti yang dilakukan UNICEF adalah kemampuan untuk melihat lokasi dan jenis ancaman secara lebih terperinci. Data dapat membantu menunjukkan wilayah dengan paparan tinggi serta kelompok anak yang menghadapi lebih dari satu bahaya.
Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan prioritas investasi. Pemerintah dapat mengarahkan sumber daya ke wilayah yang memiliki kombinasi paparan tinggi dan kapasitas layanan yang terbatas.
Pendekatan berbasis data juga membantu menghindari kebijakan yang terlalu umum. Tidak semua wilayah membutuhkan jenis intervensi yang sama. Adaptasi yang efektif harus sesuai dengan ancaman yang dihadapi masyarakat setempat.
Bagi anak, ketepatan sasaran menjadi penting karena dampak kehilangan akses pendidikan atau kesehatan dapat berlangsung lama. Semakin cepat layanan dipulihkan setelah bencana, semakin besar peluang anak untuk kembali menjalani kehidupan normal.
Anak-anak perlu menjadi bagian dari pembahasan iklim
Anak-anak bukan hanya kelompok yang terdampak krisis iklim. Mereka juga merupakan generasi yang akan hidup dengan konsekuensi keputusan yang dibuat saat ini.
Karena itu, kebijakan iklim perlu mempertimbangkan kebutuhan anak secara langsung. Pendidikan mengenai perubahan iklim dan kesiapsiagaan bencana dapat membantu anak memahami risiko di lingkungan mereka. Namun tanggung jawab utama untuk mengatasi krisis tetap berada pada pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas.
Pelibatan anak dan kaum muda dapat membantu memastikan kebijakan tidak hanya dibuat berdasarkan angka, tetapi juga memahami pengalaman generasi yang hidup di tengah perubahan kondisi lingkungan.
Partisipasi tersebut perlu dilakukan secara aman dan sesuai dengan usia. Anak perlu diberi ruang untuk menyampaikan pandangan mengenai lingkungan dan masa depan mereka tanpa dibebani tanggung jawab yang seharusnya menjadi kewajiban orang dewasa dan institusi publik.
Krisis iklim juga merupakan persoalan hak anak
Besarnya jumlah anak yang menghadapi beberapa bahaya iklim memperlihatkan bahwa krisis iklim tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan lingkungan. Dampaknya berkaitan langsung dengan hak anak atas kesehatan, pendidikan, perlindungan, dan lingkungan yang aman.
Ketika banjir memutus akses sekolah, ketika kekeringan mengganggu ketersediaan air, atau ketika panas ekstrem meningkatkan tekanan terhadap kesehatan, kehidupan anak ikut berubah. Perubahan tersebut dapat berlangsung bahkan setelah peristiwa ekstrem selesai.
Karena itu, upaya menghadapi krisis iklim perlu ditempatkan dalam kerangka perlindungan anak. Setiap kebijakan adaptasi perlu mempertimbangkan bagaimana dampaknya terhadap anak dan apakah layanan dasar yang mereka butuhkan mampu bertahan ketika terjadi gangguan.
Tantangan ke depan semakin kompleks
Temuan UNICEF menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi anak bukan sekadar bertambahnya jumlah bencana, tetapi meningkatnya kemungkinan anak menghadapi beberapa ancaman secara bersamaan. Risiko yang tumpang tindih membutuhkan perencanaan yang lebih terpadu.
Jika sebuah wilayah menghadapi panas ekstrem, kekeringan, dan kebakaran, misalnya, kebijakan tidak dapat hanya berfokus pada satu bahaya. Perlindungan anak membutuhkan sistem kesehatan, pendidikan, air, dan infrastruktur yang mampu menghadapi beberapa tekanan sekaligus.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting karena sebagian bahaya dapat saling memperkuat. Kondisi kering dapat meningkatkan risiko kebakaran, sementara panas ekstrem dapat memperbesar kebutuhan air. Banjir dapat merusak infrastruktur yang dibutuhkan untuk memulihkan layanan setelah bencana.
Oleh sebab itu, ketahanan iklim perlu dibangun sebagai sistem. Infrastruktur, layanan publik, perlindungan sosial, dan kesiapsiagaan masyarakat harus saling mendukung.
Melindungi anak berarti memperkuat masa depan
Angka lebih dari satu miliar anak yang menghadapi sedikitnya tiga bahaya iklim memberikan gambaran mengenai skala persoalan yang sedang berkembang. Di balik angka tersebut terdapat anak-anak yang hidup di wilayah dengan panas ekstrem, kekeringan, banjir, kebakaran, badai, dan bahaya lainnya.
Temuan tersebut juga memperlihatkan bahwa dampak krisis iklim dapat masuk ke berbagai bagian kehidupan anak. Ketika infrastruktur rusak, akses sekolah terganggu. Ketika layanan kesehatan terdampak, kemampuan menangani masalah kesehatan menjadi lebih terbatas. Ketika air dan sanitasi terganggu, kebutuhan dasar anak ikut terancam.
UNICEF mendorong agar pemerintah dan pengambil keputusan menggunakan data paparan iklim untuk memperkuat layanan yang berketahanan. Pendekatan tersebut dapat membantu memastikan bahwa investasi tidak hanya diarahkan untuk merespons bencana setelah terjadi, tetapi juga membangun sistem yang lebih siap menghadapinya.
Pengurangan emisi tetap menjadi bagian penting dari respons jangka panjang. Namun, dampak yang sudah dirasakan anak-anak membutuhkan tindakan adaptasi sekarang. Sekolah, fasilitas kesehatan, infrastruktur, sistem air, dan layanan perlindungan perlu dipersiapkan agar dapat terus melayani anak ketika kondisi ekstrem terjadi.
Krisis iklim pada akhirnya bukan hanya persoalan mengenai suhu, hujan, badai, atau kebakaran. Ini juga persoalan mengenai apakah seorang anak dapat tetap pergi ke sekolah, mendapatkan layanan kesehatan, memperoleh air bersih, tinggal di tempat yang aman, dan menjalani masa tumbuh kembang tanpa terus-menerus terganggu oleh bencana.
Dengan semakin banyak anak menghadapi beberapa ancaman secara bersamaan, perlindungan generasi muda perlu ditempatkan di pusat kebijakan iklim. Keputusan yang dibuat pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat saat ini akan menentukan seberapa kuat layanan dasar dapat melindungi anak dari risiko yang terus berkembang.
Data UNICEF memberikan peringatan bahwa waktu untuk memperkuat perlindungan tersebut tidak dapat ditunda. Mengurangi emisi dan membangun kemampuan adaptasi perlu berjalan bersamaan. Ketika sistem kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur diperkuat dengan mempertimbangkan kebutuhan anak, respons terhadap krisis iklim tidak hanya menjadi upaya menghadapi bencana, tetapi juga investasi untuk menjaga kehidupan dan masa depan generasi berikutnya.



