Singapura Ternyata Jadi Negara Paling Bising di Dunia, Ini Penyebabnya

Singapura menjadi negara paling tidak tenang dalam Noise-Free Nations Index, dipengaruhi kepadatan penduduk, mobilitas tinggi, kendaraan, transportasi, dan keterbatasan wilayah rural.

Suasana perkotaan Singapura dengan gedung dan jaringan transportasi yang menggambarkan tingginya aktivitas kota
Suasana perkotaan Singapura dengan gedung dan jaringan transportasi yang menggambarkan tingginya aktivitas kota

JAKARTA - Singapura selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata populer di Asia. Negara kota tersebut memiliki sistem transportasi yang terintegrasi, kawasan perkotaan modern, pusat bisnis yang ramai, serta berbagai tempat wisata yang menarik banyak pengunjung.

Namun, karakter tersebut ternyata juga membuat Singapura mendapatkan predikat yang cukup unik. Berdasarkan Noise-Free Nations Index, Singapura menjadi negara dengan tingkat ketenangan paling rendah dalam pemeringkatan tersebut atau dapat disebut sebagai negara paling bising di dunia berdasarkan indikator yang digunakan penelitian.

Studi tersebut dilakukan oleh agen perjalanan Go2Africa untuk melihat negara mana yang menawarkan suasana paling tenang bagi wisatawan. Penilaian tidak semata-mata didasarkan pada pengukuran suara secara langsung, tetapi menggunakan sejumlah indikator yang menggambarkan tingkat kepadatan dan aktivitas manusia di suatu negara. (liputan6.com)

Singapura Mendapat Quiet Score 6,78

Dalam indeks tersebut, Singapura memperoleh Quiet Score sebesar 6,78 dari 100. Angka tersebut menempatkannya di posisi terbawah dalam daftar negara yang dinilai menawarkan suasana tenang bagi wisatawan.

Penilaian tersebut melansir Time Out Singapore dan mempertimbangkan sejumlah faktor yang berkaitan dengan kepadatan, mobilitas, serta ketersediaan ruang yang relatif jauh dari aktivitas manusia.

Dengan demikian, predikat sebagai negara paling bising tidak berarti seluruh wilayah Singapura selalu dipenuhi suara keras. Penilaian tersebut lebih menggambarkan karakter sebuah negara kota yang memiliki aktivitas manusia dan infrastruktur sangat terkonsentrasi.

Tujuh Faktor yang Dinilai

Noise-Free Nations Index menggunakan tujuh faktor untuk menentukan tingkat ketenangan suatu negara. Faktor-faktor tersebut mencakup kepadatan penduduk, jumlah wisatawan, luas wilayah pedesaan, kawasan yang dilindungi, jumlah kendaraan bermotor, keberadaan bandara, serta jaringan kereta api.

Ketujuh indikator tersebut digunakan untuk memperkirakan seberapa besar peluang wisatawan menemukan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk aktivitas modern.

Dalam konteks Singapura, sebagian besar faktor tersebut berkaitan erat dengan karakter negara yang memiliki wilayah relatif kecil tetapi memiliki aktivitas ekonomi, transportasi, dan pariwisata yang tinggi.

Kepadatan Penduduk Jadi Faktor Utama

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah kepadatan penduduk. Singapura memiliki konsentrasi penduduk yang tinggi dalam wilayah yang relatif terbatas.

Kondisi tersebut membuat berbagai aktivitas manusia berada dalam jarak yang berdekatan. Permukiman, pusat bisnis, fasilitas umum, kawasan komersial, pusat wisata, dan jaringan transportasi berkembang dalam ruang yang tidak terlalu luas.

Kepadatan seperti ini memberikan keuntungan dari sisi efisiensi. Warga dan wisatawan dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan relatif mudah. Namun, konsekuensinya adalah aktivitas manusia juga menjadi lebih terkonsentrasi.

Transportasi Membuat Aktivitas Semakin Intens

Transportasi menjadi faktor lain yang ikut diperhitungkan dalam indeks. Singapura memiliki jaringan transportasi umum yang dikenal luas, termasuk MRT dan berbagai layanan transportasi jalan raya.

Mobilitas yang tinggi berarti terdapat aktivitas kendaraan dan penumpang dalam jumlah besar. Stasiun, jalur transportasi, terminal, dan ruas jalan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di negara tersebut.

Dari sudut pandang wisatawan, jaringan transportasi yang padat sebenarnya memberikan keuntungan. Banyak destinasi dapat dijangkau dengan mudah tanpa harus menempuh perjalanan panjang.

Namun, dari perspektif indeks ketenangan, tingginya mobilitas menunjukkan semakin sedikit ruang yang benar-benar terpisah dari aktivitas manusia.

Keberadaan Bandara Ikut Dipertimbangkan

Bandara juga menjadi salah satu indikator dalam penelitian. Singapura memiliki Bandara Changi yang merupakan salah satu pusat penerbangan penting di kawasan Asia.

Aktivitas penerbangan yang tinggi mencerminkan posisi Singapura sebagai pusat perjalanan dan konektivitas internasional. Wisatawan dari berbagai negara datang dan pergi melalui jaringan transportasi udara tersebut.

Bagi perekonomian dan pariwisata, konektivitas tersebut menjadi keunggulan. Namun, dalam penilaian mengenai ketenangan suatu destinasi, tingginya aktivitas penerbangan menjadi salah satu faktor yang membuat skor Singapura lebih rendah.

Wilayah Rural Singapura Relatif Terbatas

Faktor lain yang memengaruhi penilaian adalah luas wilayah rural atau pedesaan. Dalam indeks tersebut, sekitar 30 persen wilayah Singapura disebut masuk dalam kategori rural.

Keterbatasan ruang yang benar-benar memiliki karakter pedesaan membuat wisatawan memiliki lebih sedikit pilihan untuk mencari lingkungan yang jauh dari aktivitas perkotaan.

Singapura memang memiliki sejumlah kawasan hijau dan ruang terbuka, tetapi karakter keseluruhan negara tetap sangat urban. Kondisi tersebut menjadi pembeda utama dibandingkan negara dengan wilayah pedesaan yang jauh lebih luas.

Predikat Paling Bising Bukan Berarti Destinasinya Buruk

Predikat sebagai negara paling bising perlu dipahami dalam konteks penelitian. Istilah tersebut tidak otomatis berarti Singapura memiliki kualitas lingkungan yang buruk atau tidak nyaman untuk dikunjungi.

Sebaliknya, tingginya aktivitas justru merupakan bagian dari karakter Singapura sebagai negara kota modern. Wisatawan yang mencari pusat perbelanjaan, kuliner, hiburan, transportasi publik, dan kawasan bisnis dapat menikmati berbagai fasilitas dalam area yang relatif mudah dijangkau.

Jadi, hasil indeks lebih tepat dibaca sebagai gambaran tentang tingkat ketenangan relatif suatu negara, bukan penilaian mutlak terhadap kualitas destinasi wisata.

Kawasan Kota Tidak Memiliki Tingkat Kebisingan yang Sama

Predikat negara paling bising juga tidak berarti setiap sudut Singapura memiliki tingkat kebisingan yang sama. Suasana lingkungan dapat berubah berdasarkan lokasi, waktu, serta jenis aktivitas yang berlangsung.

Kawasan pusat bisnis, pusat transportasi, dan destinasi wisata populer kemungkinan terasa lebih ramai dibandingkan kawasan hijau atau area yang jauh dari pusat mobilitas.

Perbedaan tersebut penting dipahami wisatawan karena pengalaman berkunjung dapat sangat berbeda tergantung lokasi penginapan dan destinasi yang dipilih.

Kehidupan Perkotaan Membentuk Karakter Singapura

Singapura merupakan contoh negara kota dengan aktivitas ekonomi yang sangat terintegrasi. Pusat bisnis, permukiman, fasilitas pendidikan, pusat perbelanjaan, tempat wisata, serta transportasi berada dalam jaringan yang saling terhubung.

Keadaan tersebut membuat perjalanan menjadi efisien. Wisatawan dapat mengunjungi berbagai tempat tanpa harus melakukan perjalanan antarkota seperti ketika berwisata di negara dengan wilayah yang jauh lebih luas.

Namun, konsentrasi fasilitas tersebut juga membuat intensitas aktivitas manusia menjadi tinggi. Hal inilah yang kemudian tercermin dalam hasil indeks ketenangan.

Maladewa dan Barbados Juga Mendapat Skor Rendah

Singapura bukan satu-satunya negara yang berada di posisi bawah dalam pemeringkatan. Maladewa menempati posisi kedua dari bawah dengan Quiet Score 8,48, sementara Barbados berada di posisi berikutnya dengan skor 10,12.

Qatar berada di posisi keempat dengan skor 15,45, sedangkan Lebanon melengkapi lima besar negara dengan Quiet Score terendah dengan angka 18,13.

Daftar tersebut menunjukkan bahwa tingkat ketenangan tidak selalu berkaitan dengan apakah suatu negara terkenal sebagai destinasi wisata atau bukan. Berbagai faktor geografis dan aktivitas manusia turut memengaruhi hasil akhir.

Bhutan Berada di Posisi Berlawanan

Di sisi lain, Bhutan berada pada posisi yang sangat berbeda. Negara yang berada di kawasan Himalaya tersebut memperoleh Quiet Score 89,44 dan menjadi negara paling tenang dalam Noise-Free Nations Index.

Karakter geografis Bhutan menjadi salah satu faktor yang membedakannya dari Singapura. Hutan, pegunungan, dan lembah memberikan ruang yang lebih luas bagi wisatawan untuk menemukan lingkungan dengan tingkat aktivitas manusia yang lebih rendah.

Perbedaan tersebut menunjukkan bagaimana kondisi geografis suatu negara dapat memengaruhi pengalaman wisatawan ketika mencari suasana tenang.

Negara Afrika Mendominasi Destinasi Tenang

Negara-negara Afrika juga mendominasi daftar destinasi dengan tingkat ketenangan tinggi. Lebih dari separuh negara yang masuk dalam 25 besar berasal dari benua tersebut.

Namibia berada di posisi berikutnya setelah Bhutan, kemudian Botswana, Zambia, dan Gabon. Negara-negara tersebut memiliki wilayah yang luas dan banyak kawasan dengan kepadatan penduduk relatif rendah.

Kondisi geografis tersebut membuat wisatawan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menemukan ruang yang jauh dari pusat aktivitas perkotaan.

Ketenangan Menjadi Pertimbangan Wisatawan

Bagi sebagian wisatawan, suasana tenang merupakan salah satu faktor penting ketika memilih destinasi. Mereka mungkin mencari tempat yang jauh dari kemacetan, keramaian, dan aktivitas perkotaan yang padat.

Sementara itu, wisatawan lain justru mencari destinasi dengan aktivitas tinggi. Pusat kota yang ramai, transportasi yang mudah, kehidupan malam, restoran, dan pusat hiburan dapat menjadi alasan utama seseorang memilih suatu tempat.

Karena itu, hasil indeks ketenangan dapat menjadi salah satu informasi tambahan bagi wisatawan, tetapi bukan satu-satunya dasar untuk menentukan destinasi perjalanan.

Singapura Tetap Menarik bagi Wisatawan

Meskipun mendapatkan skor ketenangan rendah, Singapura tetap memiliki banyak daya tarik wisata. Infrastruktur modern, sistem transportasi yang terintegrasi, pusat kuliner, kawasan belanja, serta berbagai atraksi membuat negara tersebut menjadi salah satu tujuan perjalanan populer di Asia.

Keunggulan tersebut justru berkaitan dengan karakter yang membuat Singapura memperoleh posisi rendah dalam indeks ketenangan.

Wisatawan yang menyukai perjalanan praktis dan kehidupan kota kemungkinan tidak melihat tingginya aktivitas sebagai masalah. Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Ruang Hijau Tetap Menjadi Bagian Singapura

Walaupun memiliki karakter urban yang kuat, Singapura juga mempunyai sejumlah kawasan hijau dan ruang terbuka. Ruang-ruang tersebut memberikan alternatif bagi warga dan wisatawan yang ingin menjauh sejenak dari kawasan dengan aktivitas tinggi.

Namun, keberadaan ruang hijau tersebut tidak mengubah karakter umum Singapura sebagai negara kota yang memiliki kepadatan penduduk dan infrastruktur tinggi.

Wisatawan yang menginginkan suasana lebih tenang dapat mempertimbangkan lokasi dan waktu kunjungan dengan lebih cermat.

Efisiensi dan Keramaian Datang Bersamaan

Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya konsekuensi dari efisiensi perkotaan. Infrastruktur yang terkonsentrasi membuat perjalanan menjadi mudah, tetapi pada saat yang sama meningkatkan intensitas aktivitas dalam ruang yang terbatas.

Singapura menjadi contoh bagaimana kemudahan akses dan kepadatan dapat berjalan bersamaan. Wisatawan dapat berpindah dengan cepat dari satu kawasan ke kawasan lain, tetapi juga berhadapan dengan lingkungan perkotaan yang aktif.

Karakter tersebut tidak selalu negatif. Bagi sebagian orang, justru suasana kota yang dinamis merupakan daya tarik utama ketika mengunjungi Singapura.

Predikat Ini Perlu Dibaca Secara Proporsional

Istilah negara paling bising dapat terdengar negatif apabila dipahami secara harfiah. Padahal, studi yang digunakan dalam laporan tersebut mengukur tingkat ketenangan berdasarkan beberapa indikator, bukan sekadar melakukan pengukuran suara di seluruh wilayah Singapura.

Dengan memahami metodologinya, hasil penelitian dapat dibaca secara lebih proporsional. Singapura mendapatkan skor rendah karena karakter negara yang padat, terkoneksi, dan memiliki aktivitas manusia tinggi.

Hal tersebut berbeda dengan mengatakan bahwa setiap kawasan di Singapura memiliki kondisi bising atau tidak nyaman.

Implikasi bagi Wisatawan

Bagi wisatawan yang mencari ketenangan, hasil indeks dapat menjadi pertimbangan dalam memilih destinasi. Negara dengan wilayah luas, kepadatan rendah, serta banyak kawasan alami kemungkinan menawarkan lebih banyak pilihan untuk mendapatkan suasana sepi.

Sementara bagi wisatawan yang menyukai kota modern, Singapura justru memiliki banyak keunggulan. Jaringan transportasi yang terintegrasi dan konsentrasi fasilitas membuat perjalanan menjadi praktis.

Pada akhirnya, pilihan destinasi bergantung pada pengalaman yang ingin diperoleh masing-masing wisatawan.

Singapura dan Kontras dengan Bhutan

Perbedaan skor antara Singapura dan Bhutan memberikan gambaran menarik mengenai dua karakter destinasi yang berbeda. Singapura merupakan negara kota dengan aktivitas tinggi, sementara Bhutan memiliki bentang alam pegunungan, hutan, dan lembah yang luas.

Singapura menawarkan efisiensi, konektivitas, dan kehidupan perkotaan. Bhutan menawarkan ruang alami dan suasana yang relatif lebih tenang.

Keduanya dapat menjadi destinasi menarik, tetapi untuk alasan yang berbeda. Wisatawan tinggal menentukan jenis pengalaman yang paling sesuai dengan kebutuhan perjalanan mereka.

Kesimpulan

Singapura dinobatkan sebagai negara dengan tingkat ketenangan paling rendah dalam Noise-Free Nations Index, dengan Quiet Score 6,78 dari 100. Penelitian yang dilakukan Go2Africa tersebut mempertimbangkan tujuh faktor, termasuk kepadatan penduduk, jumlah wisatawan, luas wilayah rural, kawasan yang dilindungi, kendaraan bermotor, bandara, dan jaringan kereta api. (liputan6.com)

Kepadatan penduduk dan tingginya aktivitas perkotaan menjadi bagian penting dari karakter Singapura. Negara kota tersebut memiliki ruang yang relatif terbatas, sementara permukiman, pusat bisnis, fasilitas transportasi, kawasan wisata, dan berbagai aktivitas ekonomi berada dalam jarak yang berdekatan.

Predikat tersebut tidak berarti seluruh Singapura selalu bising atau memiliki kualitas destinasi yang buruk. Justru tingginya aktivitas, konektivitas, dan kemudahan transportasi merupakan sejumlah keunggulan yang membuat Singapura tetap menarik bagi wisatawan.

Di sisi lain, Bhutan berada di posisi teratas sebagai negara paling tenang dengan Quiet Score 89,44. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kondisi geografis, kepadatan penduduk, serta intensitas aktivitas manusia dapat menghasilkan karakter pengalaman wisata yang sangat berbeda.

Bagi wisatawan, hasil indeks ini dapat menjadi referensi tambahan ketika menentukan destinasi. Mereka yang mencari suasana tenang dapat mempertimbangkan negara dengan ruang alami lebih luas, sedangkan wisatawan yang menyukai kehidupan kota dapat tetap menikmati Singapura dengan segala aktivitas dan konektivitasnya.

Sumber