Sukun berpotensi memainkan peran yang lebih besar dalam sistem pangan dunia ketika perubahan iklim semakin menekan pertanian di wilayah tropis dan subtropis. Penelitian yang diterbitkan di PLOS Climate menunjukkan bahwa tanaman sukun atau Artocarpus altilis memiliki prospek sebagai salah satu tanaman pangan yang relatif tangguh menghadapi perubahan kondisi iklim. Temuan ini tidak berarti sukun akan menggantikan beras, jagung, atau tanaman pangan utama lainnya, tetapi membuka peluang untuk memperluas pilihan sumber pangan yang dapat digunakan masyarakat di masa depan.
Studi tersebut menempatkan sukun sebagai salah satu spesies yang selama ini kurang dimanfaatkan, tetapi mempunyai karakter yang menarik untuk strategi adaptasi perubahan iklim. Peneliti menganalisis kesesuaian iklim untuk budidaya sukun pada kondisi saat ini dan memproyeksikannya ke periode 2061–2080 menggunakan sejumlah model distribusi spesies serta proyeksi model iklim global.
Hasilnya menunjukkan bahwa luas wilayah tropis dan subtropis yang secara iklim sesuai untuk sukun secara global diproyeksikan hanya mengalami penurunan sekitar 4,4 persen dalam skenario stabilisasi dan sekitar 4,5 persen dalam skenario emisi tinggi. Angka tersebut memberi gambaran bahwa sukun memiliki prospek relatif kuat dalam menghadapi perubahan iklim, meskipun dampaknya tidak sama di setiap kawasan.
Mengapa Sukun Menarik di Tengah Krisis Pangan dan Iklim?
Perubahan iklim memberikan tekanan yang semakin kompleks terhadap sistem pangan. Kenaikan suhu, perubahan pola hujan, kekeringan, banjir, serta perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi produktivitas tanaman. Ketika produksi tanaman pangan utama terganggu secara bersamaan, ketergantungan pada sedikit jenis komoditas dapat menjadi persoalan bagi ketahanan pangan.
Situasi tersebut membuat diversifikasi tanaman menjadi salah satu pendekatan yang penting. Diversifikasi tidak sekadar berarti menanam lebih banyak jenis tanaman, tetapi juga membangun sistem pangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu atau beberapa komoditas. Jika suatu tanaman mengalami penurunan produktivitas akibat kondisi iklim tertentu, tanaman lain yang lebih sesuai dengan kondisi tersebut dapat membantu mempertahankan sebagian pasokan pangan.
Dalam konteks itulah sukun menarik perhatian. Tanaman ini telah lama tumbuh dan dimanfaatkan di berbagai kawasan tropis dan subtropis. Buahnya mengandung karbohidrat dan dapat diolah dengan berbagai cara, sementara pohonnya merupakan tanaman tahunan. Karakter tersebut membuat sukun berbeda dari tanaman pangan semusim yang harus ditanam kembali pada setiap siklus produksi.
Penelitian yang dilakukan Lucy Yang, Nyree Zerega, Anastasia Montgomery, dan Daniel E. Horton dari Northwestern University menggunakan data keberadaan sukun serta sejumlah variabel bioklimatik untuk memetakan wilayah yang sesuai bagi pertumbuhannya. Model tersebut kemudian digunakan untuk melihat bagaimana kesesuaian tersebut dapat berubah di bawah kondisi iklim masa depan.
Pendekatan semacam ini penting karena ketahanan sebuah tanaman terhadap perubahan iklim tidak cukup dinilai hanya berdasarkan pengalaman budidaya saat ini. Wilayah yang cocok pada kondisi sekarang dapat berubah ketika suhu dan pola curah hujan bergeser. Dengan memproyeksikan kondisi masa depan, peneliti dapat melihat kawasan yang kemungkinan tetap sesuai sekaligus kawasan yang berpotensi menghadapi tekanan.
Wilayah Tropis dan Subtropis Menjadi Fokus Utama
Sukun secara alami dan historis banyak dikaitkan dengan kawasan beriklim tropis. Karena itu, penelitian mengenai masa depannya sangat relevan bagi negara-negara yang sistem pangannya berada di wilayah lintang rendah. Banyak kawasan tersebut memiliki suhu relatif hangat sepanjang tahun, tetapi pada saat yang sama berhadapan dengan risiko perubahan pola hujan dan peningkatan tekanan iklim.
Studi tersebut menemukan bahwa secara global, wilayah yang secara iklim sesuai untuk sukun diproyeksikan mengalami perubahan yang relatif kecil dibandingkan skala perubahan yang dapat terjadi pada sejumlah tanaman pangan utama. Dalam skenario stabilisasi, penurunan wilayah yang sesuai diproyeksikan sekitar 4,4 persen. Dalam skenario emisi tinggi, penurunannya sekitar 4,5 persen.
Perbedaan yang kecil antara dua skenario tersebut merupakan salah satu bagian menarik dari penelitian. Namun, angka tersebut tidak boleh ditafsirkan bahwa emisi karbon tidak berpengaruh terhadap sukun. Peneliti tetap menemukan bahwa kondisi emisi tinggi dapat menurunkan konsistensi dan kualitas hasil dibandingkan skenario stabilisasi.
Dengan kata lain, sukun menunjukkan tingkat ketahanan tertentu terhadap perubahan wilayah yang sesuai secara iklim, tetapi bukan berarti tanaman ini kebal terhadap dampak pemanasan global. Perubahan iklim tetap dapat memengaruhi kualitas produksi, konsistensi hasil, dan kondisi budidaya di berbagai wilayah.
Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik Memiliki Prospek Menarik
Salah satu temuan penelitian yang relevan bagi kawasan Asia Tenggara adalah proyeksi mengenai kesesuaian wilayah dan hasil sukun. Dalam skenario emisi tinggi, penelitian menemukan bahwa kualitas serta konsistensi hasil di Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik mengalami penurunan yang minimal. Pada saat yang sama, luas wilayah yang sesuai untuk sukun diproyeksikan meningkat dalam kedua skenario yang dianalisis.
Temuan tersebut memberikan konteks penting bagi negara-negara yang telah memiliki tradisi konsumsi dan budidaya sukun. Tanaman yang sudah dikenal masyarakat mempunyai keunggulan sosial dibandingkan tanaman yang sama sekali baru. Masyarakat tidak perlu memulai dari nol untuk memahami cara mengolah buah, mengembangkan resep, atau memanfaatkan hasil panennya.
Namun, potensi tersebut tetap membutuhkan dukungan penelitian dan pengembangan. Kesesuaian iklim hanyalah salah satu faktor dalam keberhasilan pertanian. Ketersediaan lahan, kualitas tanah, akses terhadap air, pengelolaan kebun, varietas tanaman, hama dan penyakit, teknologi pascapanen, distribusi, serta penerimaan konsumen juga menentukan apakah suatu tanaman benar-benar dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan.
Karena itu, hasil penelitian lebih tepat dipandang sebagai dasar untuk melihat peluang daripada sebagai jaminan keberhasilan budidaya di setiap daerah. Wilayah yang secara model dinilai sesuai tetap memerlukan kajian lapangan sebelum dilakukan pengembangan secara luas.
Ada Peluang Pengembangan di Afrika Sub-Sahara
Penelitian tersebut juga menyoroti peluang pengembangan sukun di Afrika sub-Sahara. Kawasan ini menarik perhatian karena sejumlah wilayahnya menghadapi persoalan ketahanan pangan, sementara penelitian menunjukkan terdapat area yang secara iklim berpotensi sesuai untuk budidaya sukun pada kondisi saat ini maupun masa depan.
Peluang tersebut menjadi penting karena adaptasi sistem pangan tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan tanaman yang sudah ada. Dalam kondisi iklim berubah, beberapa wilayah dapat mencari tanaman alternatif yang mampu tumbuh dalam kondisi lingkungan yang diperkirakan akan semakin umum pada masa mendatang.
Sukun dapat menjadi salah satu kandidat dalam pendekatan tersebut. Pengembangannya berpotensi dilakukan sebagai bagian dari diversifikasi, bukan sebagai pengganti seluruh tanaman pangan yang telah dibudidayakan masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan petani dan sistem pangan memiliki lebih banyak pilihan ketika kondisi produksi komoditas tertentu mengalami tekanan.
Namun, potensi perluasan ke kawasan baru juga harus dilakukan secara hati-hati. Pengembangan tanaman di luar wilayah budidaya tradisional memerlukan pemahaman mengenai kondisi ekologi dan sosial setempat. Tujuannya bukan sekadar memperluas area tanam, tetapi memastikan tanaman dapat memberikan manfaat pangan secara berkelanjutan tanpa menimbulkan persoalan lingkungan atau sosial baru.
Sukun Bukan Sekadar Buah, tetapi Sumber Karbohidrat
Salah satu alasan sukun menarik untuk dibicarakan dalam konteks ketahanan pangan adalah karakter buahnya. Sukun merupakan buah bertepung yang dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat. Dalam berbagai tradisi kuliner, buahnya dapat dimasak dan diolah menjadi makanan dengan tekstur serta penggunaan yang beragam.
Karakter tersebut membuat sukun memiliki posisi yang berbeda dari banyak buah yang lebih sering dipandang sebagai pelengkap makanan. Sukun dapat menjadi bagian dari makanan utama karena kandungan patinya. Pengolahan lebih lanjut juga membuka kemungkinan pemanfaatan dalam bentuk tepung dan produk pangan lainnya.
Dari sudut pandang ketahanan pangan, kemampuan mengolah suatu tanaman menjadi berbagai jenis produk dapat memberikan nilai tambah. Hasil panen tidak harus dikonsumsi dalam satu bentuk. Jika teknologi pengolahan dan penyimpanan tersedia, pemanfaatan dapat diperluas sesuai kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, nilai gizi dan manfaat pangan tidak otomatis menjadikan suatu komoditas sebagai solusi tunggal. Sistem pangan yang sehat tetap membutuhkan keragaman sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan komponen gizi lainnya. Sukun lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu bagian dari portofolio pangan yang lebih beragam.
Keunggulan Tanaman Tahunan dalam Sistem Pangan
Sukun juga menarik karena merupakan pohon tahunan. Berbeda dengan tanaman semusim yang umumnya mengikuti siklus tanam dan panen yang lebih pendek, tanaman tahunan dapat terus tumbuh dan menghasilkan setelah mencapai fase produktif. Karakter tersebut memberikan perspektif berbeda dalam merancang sistem pertanian jangka panjang.
Pohon tahunan dapat menjadi bagian dari lanskap pertanian yang tidak selalu harus dibuka dan ditanam ulang setiap musim. Dalam konteks tertentu, pendekatan semacam ini dapat membantu menciptakan sistem budidaya yang lebih beragam. Namun, manfaat tersebut tetap sangat bergantung pada cara pengelolaan lahan dan kondisi setempat.
Peneliti dalam studi sukun menempatkan tanaman ini sebagai spesies yang kurang dimanfaatkan atau neglected and underutilized species. Kelompok tanaman tersebut sering kali tidak memperoleh perhatian sebesar komoditas pangan utama, meskipun dapat memiliki nilai penting bagi masyarakat dan lingkungan.
Meningkatkan perhatian terhadap tanaman yang kurang dimanfaatkan dapat memperluas pilihan adaptasi pertanian. Ketika perubahan iklim membuat sebagian sistem produksi menjadi semakin rentan, sumber pangan alternatif dapat membantu mengurangi ketergantungan pada komoditas tertentu.
Perubahan Iklim Tetap Menjadi Tantangan
Meski hasil penelitian memberikan prospek positif, sukun tidak boleh dipandang sebagai tanaman yang sepenuhnya kebal terhadap perubahan iklim. Model penelitian menunjukkan bahwa skenario emisi tinggi tetap berkaitan dengan penurunan konsistensi dan kualitas hasil di berbagai kawasan dibandingkan skenario stabilisasi.
Hal ini memperlihatkan perbedaan antara kesesuaian wilayah dan performa produksi. Sebuah wilayah mungkin tetap memiliki kondisi iklim yang memungkinkan sukun tumbuh, tetapi kualitas atau konsistensi hasilnya dapat berubah. Dalam pertanian, perbedaan tersebut sangat penting karena keberhasilan tidak hanya diukur dari apakah tanaman dapat hidup, tetapi juga apakah tanaman mampu menghasilkan pangan dalam jumlah dan kualitas yang dapat diandalkan.
Karena itu, strategi menghadapi perubahan iklim tidak dapat hanya mengandalkan pemilihan tanaman yang lebih tahan. Pengurangan emisi tetap diperlukan untuk membatasi tingkat perubahan iklim, sementara adaptasi diperlukan untuk menghadapi dampak yang sudah terjadi atau tidak dapat dihindari.
Sukun dapat masuk ke sisi adaptasi tersebut. Pengembangan tanaman yang relatif sesuai dengan kondisi iklim masa depan dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan ketahanan sistem pangan. Tetapi langkah tersebut perlu berjalan bersamaan dengan upaya mengurangi risiko iklim yang lebih luas.
Mengapa Diversifikasi Pangan Semakin Penting?
Sistem pangan modern sering bergantung pada sejumlah kecil tanaman utama untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dalam skala besar. Ketergantungan tersebut memiliki keuntungan dari sisi efisiensi produksi dan distribusi, tetapi juga dapat menciptakan kerentanan ketika kondisi lingkungan berubah.
Jika perubahan suhu, curah hujan, kekeringan, atau kejadian ekstrem secara bersamaan memengaruhi tanaman utama di suatu kawasan, dampaknya dapat merembet ke harga, pendapatan petani, pasokan bahan pangan, dan akses konsumen. Diversifikasi dapat menjadi salah satu cara untuk menyebarkan risiko tersebut.
Dalam kerangka itu, sukun tidak perlu diposisikan sebagai pesaing langsung beras atau jagung. Perannya justru dapat berada di antara berbagai sumber pangan yang saling melengkapi. Semakin beragam sumber pangan yang tersedia, semakin banyak pilihan yang dapat digunakan masyarakat dan petani untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.
Diversifikasi juga memiliki dimensi budaya. Tanaman pangan yang sudah dikenal dalam tradisi lokal biasanya lebih mudah diterima dibandingkan komoditas baru. Resep, pengetahuan pengolahan, dan kebiasaan konsumsi dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan kembali tanaman yang sebelumnya kurang mendapatkan perhatian.
Dari Hasil Riset ke Kebijakan Pangan
Temuan mengenai sukun dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan ketahanan pangan, terutama di negara-negara tropis dan subtropis. Namun, hasil penelitian tidak serta-merta menjadi rekomendasi kebijakan tanpa kajian tambahan. Pemerintah, peneliti, petani, pelaku industri pangan, dan masyarakat perlu melihat berbagai aspek sebelum menentukan prioritas pengembangan.
Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah pemetaan wilayah yang memiliki kondisi sesuai untuk sukun. Peta tersebut dapat menjadi dasar untuk penelitian lapangan lebih lanjut, termasuk pengujian varietas, teknik budidaya, kebutuhan air, pengelolaan tanah, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit.
Aspek pascapanen juga tidak kalah penting. Buah segar memiliki karakteristik penyimpanan yang berbeda dengan produk olahan. Jika produksi sukun ingin ditingkatkan untuk mendukung ketahanan pangan, rantai pasok perlu dikembangkan agar hasil panen tidak kehilangan nilai sebelum sampai ke konsumen.
Pengolahan menjadi tepung atau produk pangan lain dapat menjadi salah satu pilihan, tetapi teknologi yang digunakan harus disesuaikan dengan kondisi lokal. Pengembangan industri pengolahan juga perlu memperhatikan akses petani terhadap pasar, biaya produksi, kualitas bahan baku, dan permintaan konsumen.
Potensi Ekonomi bagi Petani
Pengembangan sukun juga dapat memiliki dimensi ekonomi jika permintaannya meningkat. Tanaman yang sebelumnya dianggap sebagai pangan lokal atau kurang dimanfaatkan dapat memperoleh nilai baru ketika dikembangkan menjadi bahan pangan, bahan baku tepung, atau produk olahan.
Namun, peningkatan nilai ekonomi harus dibarengi dengan tata kelola yang baik. Petani perlu memperoleh manfaat yang layak dari rantai nilai, sementara konsumen tetap membutuhkan produk yang aman dan terjangkau. Tanpa pengelolaan yang baik, pengembangan komoditas baru dapat menghasilkan keuntungan yang terkonsentrasi pada sebagian kecil pelaku rantai pasok.
Karena itu, pengembangan sukun sebaiknya dilihat sebagai ekosistem. Kebun, petani, pengumpul, pengolah, distributor, pedagang, pelaku kuliner, peneliti, dan konsumen semuanya memiliki peran. Keberhasilan tidak cukup ditentukan oleh kemampuan pohon menghasilkan buah, tetapi juga oleh kemampuan sistem ekonomi mengubah hasil panen menjadi pangan yang tersedia dan bernilai.
Indonesia dan Peluang Mengembangkan Pangan Lokal
Bagi negara tropis seperti Indonesia, pembahasan mengenai sukun memiliki relevansi tersendiri. Indonesia memiliki keragaman tanaman pangan lokal yang sangat luas, tetapi sebagian di antaranya belum menjadi bagian utama dari sistem pangan modern. Sukun termasuk tanaman yang telah dikenal masyarakat di berbagai daerah dan memiliki sejarah pemanfaatan sebagai pangan.
Perubahan iklim dapat menjadi alasan tambahan untuk kembali melihat tanaman pangan lokal melalui perspektif baru. Tanaman yang sebelumnya hanya dianggap sebagai bagian dari pangan tradisional dapat diteliti dari sisi adaptasi iklim, nilai gizi, produktivitas, pengolahan, dan potensi ekonominya.
Pendekatan tersebut tidak berarti semua tanaman lokal harus dikembangkan secara besar-besaran. Prioritas tetap perlu didasarkan pada bukti ilmiah, kondisi agroekologi, kebutuhan masyarakat, serta peluang ekonomi. Tetapi semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin besar ruang bagi sistem pangan untuk beradaptasi.
Penguatan pangan lokal juga dapat mengurangi ketergantungan pada pola konsumsi yang terlalu sempit. Ketika masyarakat memiliki lebih banyak pilihan sumber karbohidrat dan bahan pangan, perubahan pada satu komoditas tidak selalu harus berdampak langsung pada seluruh pola konsumsi.
Model Iklim Memberikan Gambaran, Bukan Kepastian
Hal lain yang perlu dipahami dari penelitian ini adalah cara membaca hasil model iklim. Proyeksi hingga periode 2061–2080 bukanlah ramalan tunggal mengenai apa yang pasti terjadi. Peneliti menggunakan sejumlah model distribusi spesies dan proyeksi model sirkulasi global untuk memperoleh gambaran tentang kemungkinan perubahan wilayah yang sesuai.
Karena masa depan iklim bergantung pada berbagai faktor, termasuk tingkat emisi, hasil proyeksi sebaiknya digunakan sebagai informasi untuk perencanaan. Model membantu menunjukkan arah dan potensi risiko, tetapi kondisi aktual di lapangan dapat dipengaruhi banyak faktor lain.
Dalam penelitian ini, pendekatan ensemble digunakan untuk menggabungkan hasil dari beberapa model. Cara tersebut membantu memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kemungkinan kondisi masa depan dibandingkan hanya menggunakan satu model.
Bagi pembuat kebijakan, informasi semacam ini berguna untuk menyusun strategi yang fleksibel. Jika suatu tanaman diproyeksikan tetap sesuai di banyak wilayah dalam berbagai skenario, tanaman tersebut dapat dipertimbangkan sebagai salah satu kandidat adaptasi. Tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan data lokal dan evaluasi dari berbagai bidang.
Sukun sebagai Bagian dari Strategi Adaptasi
Jika dilihat secara keseluruhan, nilai utama sukun dalam konteks perubahan iklim bukan hanya pada kemampuannya untuk bertahan, melainkan pada peluangnya untuk memperluas keragaman sistem pangan. Ketika iklim berubah, pertanian membutuhkan lebih banyak pilihan untuk menghadapi ketidakpastian.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sukun memiliki sejumlah karakter yang membuatnya menarik untuk tujuan tersebut. Wilayah tropis dan subtropis secara umum tetap memiliki prospek kesesuaian yang cukup besar, sementara beberapa kawasan bahkan menunjukkan peluang peningkatan area yang sesuai. Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik juga menunjukkan proyeksi yang relatif stabil dalam kualitas dan konsistensi hasil pada skenario yang dikaji.
Di sisi lain, penelitian juga memperlihatkan bahwa kondisi emisi tinggi tetap membawa konsekuensi. Karena itu, mengembangkan sukun tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan untuk mengendalikan perubahan iklim. Adaptasi dan mitigasi bukan dua pilihan yang saling menggantikan, melainkan dua pendekatan yang perlu berjalan bersama.
Bukan Pangan Tunggal untuk Masa Depan
Pembahasan tentang sukun sebagai pangan masa depan perlu ditempatkan secara proporsional. Tidak ada satu tanaman yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan ketahanan pangan global. Sistem pangan dipengaruhi oleh iklim, tanah, air, teknologi, perdagangan, infrastruktur, ekonomi, kebijakan, budaya, dan perilaku konsumen.
Sukun lebih tepat dilihat sebagai salah satu bagian dari jawaban yang lebih besar. Tanaman ini menawarkan peluang diversifikasi, terutama di kawasan yang secara iklim cocok untuk pertumbuhannya. Pengembangan sukun juga dapat memberikan ruang bagi pangan lokal untuk kembali memperoleh perhatian dalam penelitian dan kebijakan.
Dengan semakin meningkatnya tekanan perubahan iklim, pendekatan semacam ini menjadi semakin relevan. Ketahanan pangan tidak hanya berarti menghasilkan lebih banyak makanan, tetapi juga memastikan sumber pangan cukup beragam, sistem produksinya mampu beradaptasi, dan masyarakat memiliki akses terhadap pangan yang bergizi.
Dalam kerangka tersebut, sukun memberikan contoh bagaimana tanaman yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat memiliki nilai strategis ketika dilihat dari perspektif perubahan iklim. Penelitian ilmiah membantu menunjukkan peluang tersebut, sementara tahap berikutnya adalah menerjemahkan pengetahuan menjadi budidaya, pengolahan, distribusi, dan konsumsi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Menunggu Langkah Berikutnya dari Riset dan Praktik Pertanian
Temuan tentang sukun membuka sejumlah pertanyaan lanjutan. Penelitian berikutnya dapat membantu memperjelas varietas mana yang paling sesuai untuk kondisi tertentu, bagaimana produktivitas berubah di bawah tekanan iklim yang berbeda, serta bagaimana teknik budidaya dapat meningkatkan konsistensi hasil.
Penelitian mengenai rantai pasok juga penting. Tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim tetap tidak akan memberikan manfaat besar jika hasil panennya sulit dipasarkan atau diolah. Teknologi penyimpanan, pengolahan, distribusi, dan pemasaran menjadi bagian penting dari upaya menjadikan tanaman alternatif sebagai sumber pangan yang benar-benar dapat diandalkan.
Pada akhirnya, ketahanan pangan masa depan kemungkinan tidak akan ditentukan oleh satu komoditas. Ia akan bergantung pada kemampuan manusia membangun sistem pertanian yang lebih beragam dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Sukun merupakan salah satu contoh tanaman yang menunjukkan bahwa sumber pangan alternatif dapat memiliki tempat penting dalam strategi tersebut.
Penelitian yang diterbitkan PLOS Climate memberikan dasar ilmiah untuk melihat sukun bukan sekadar sebagai buah tropis, tetapi sebagai tanaman yang berpotensi berkontribusi pada sistem pangan yang lebih tahan terhadap perubahan iklim. Prospek tersebut masih membutuhkan penelitian, investasi, kebijakan, dan pengembangan di tingkat lokal. Namun, ketika tekanan terhadap sistem pangan terus meningkat, memperluas pilihan tanaman yang dapat dibudidayakan menjadi langkah yang semakin penting.
Dengan demikian, masa depan sukun bukan terutama tentang menggantikan tanaman pangan utama, melainkan tentang menambah pilihan. Semakin beragam pilihan yang tersedia bagi petani dan konsumen, semakin besar peluang sistem pangan untuk bertahan menghadapi perubahan iklim. Dalam konteks itulah sukun berpotensi menjadi salah satu bagian dari pangan masa depan.



