Bisnis teknologi finansial GoTo melalui GoPay menunjukkan pertumbuhan yang semakin kuat dan kini menjadi salah satu penopang utama kinerja perusahaan. Pada kuartal II 2026, jumlah transaksi GoPay tumbuh 91 persen secara tahunan menjadi 2,4 miliar transaksi. Pertumbuhan tersebut berjalan bersamaan dengan peningkatan pendapatan, aktivitas pengguna, serta profitabilitas segmen fintech.
Perkembangan ini memperlihatkan perubahan penting dalam struktur bisnis GoTo. Jika sebelumnya layanan on-demand seperti transportasi dan pesan-antar menjadi bagian yang sangat dominan dalam ekosistem perusahaan, kini bisnis fintech melalui GoPay mampu memberikan kontribusi profitabilitas yang lebih besar. Perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam perjalanan GoTo menuju bisnis digital yang lebih berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan.
Transaksi GoPay Tumbuh 91 Persen
Data kinerja kuartal II 2026 menunjukkan aktivitas transaksi di segmen fintech GoTo meningkat signifikan. Jumlah transaksi mencapai 2,4 miliar, atau tumbuh 91 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin tingginya aktivitas pengguna dalam memanfaatkan layanan keuangan yang tersedia melalui ekosistem GoPay.
Pertumbuhan jumlah transaksi juga berjalan seiring dengan kenaikan nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV). GTV inti GoPay, yang tidak memasukkan transaksi melalui merchant payment gateway, mencapai Rp157 triliun pada kuartal II 2026. Angka tersebut meningkat 91 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika melihat total GTV segmen fintech, nilainya mencapai sekitar Rp265,4 triliun pada kuartal II 2026. Angka ini tumbuh 81 persen secara tahunan. Perbedaan antara GTV inti dan total GTV tersebut mencerminkan cakupan transaksi yang digunakan dalam pengukuran kinerja segmen teknologi finansial GoTo.
Pengguna GoPay Juga Terus Bertambah
Pertumbuhan transaksi tidak hanya berasal dari peningkatan jumlah aktivitas, tetapi juga didukung oleh bertambahnya pengguna yang bertransaksi. Jumlah monthly transacting users atau pengguna yang bertransaksi bulanan di segmen fintech mencapai 28,8 juta pada kuartal II 2026.
Jumlah tersebut meningkat 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan pengguna dan transaksi secara bersamaan memberikan gambaran bahwa pertumbuhan GoPay tidak hanya bergantung pada perluasan basis pengguna, tetapi juga pada semakin aktifnya pengguna yang sudah berada dalam ekosistem.
Dalam bisnis dompet digital dan layanan keuangan digital, tingkat aktivitas pengguna menjadi salah satu faktor penting. Pengguna yang memanfaatkan layanan untuk lebih banyak kebutuhan dapat menghasilkan frekuensi transaksi yang lebih tinggi sekaligus membuka peluang bagi perusahaan untuk menawarkan layanan keuangan lain dalam ekosistem yang sama.
Pendapatan Fintech Melonjak
Pertumbuhan aktivitas GoPay turut tercermin dalam kinerja keuangannya. Pada kuartal II 2026, pendapatan bersih segmen fintech mencapai lebih dari Rp2 triliun atau meningkat 53 persen secara tahunan.
Yang lebih menonjol adalah peningkatan adjusted EBITDA segmen fintech. GoTo mencatat adjusted EBITDA bisnis fintech sebesar Rp481 miliar pada kuartal II 2026. Nilai tersebut melonjak 447 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa pertumbuhan bisnis fintech tidak hanya terlihat pada sisi volume transaksi. Kemampuan menghasilkan EBITDA yang lebih tinggi menunjukkan adanya perkembangan pada profitabilitas segmen tersebut.
GoTo juga menyebut bisnis fintech untuk pertama kalinya memberikan kontribusi profitabilitas yang melampaui bisnis on-demand services. Pada periode yang sama, adjusted EBITDA bisnis on-demand services tercatat Rp464 miliar. Dengan demikian, capaian Rp481 miliar dari fintech menjadi salah satu penanda perubahan komposisi sumber profitabilitas di dalam Grup GoTo.
Fintech Mulai Menjadi Mesin Profit GoTo
Perubahan tersebut memberikan konteks penting terhadap strategi bisnis GoTo. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan pertumbuhan layanan transportasi dan pesan-antar, tetapi juga membangun sumber pendapatan dari layanan keuangan digital.
GoPay berada di posisi strategis karena dapat terhubung dengan berbagai aktivitas dalam ekosistem digital. Layanan pembayaran menjadi salah satu pintu masuk bagi pengguna untuk menggunakan produk finansial lain. Ketika jumlah pengguna dan transaksi meningkat, perusahaan memiliki basis aktivitas yang lebih besar untuk mengembangkan layanan keuangan secara lebih luas.
Kinerja kuartal II 2026 memperlihatkan bahwa strategi tersebut mulai menghasilkan kontribusi yang semakin nyata. Pertumbuhan transaksi sebesar 91 persen, pertumbuhan pengguna sebesar 29 persen, serta kenaikan pendapatan bersih sebesar 53 persen berlangsung bersamaan dengan lonjakan adjusted EBITDA sebesar 447 persen.
Kombinasi tersebut membuat fintech menjadi bagian yang semakin penting dalam upaya GoTo memperkuat profitabilitas. Pertumbuhan tidak hanya diukur dari banyaknya transaksi, tetapi juga dari kemampuan bisnis menghasilkan keuntungan dengan skala operasi yang semakin besar.
Bisnis Pinjaman Ikut Bertumbuh
Pertumbuhan aktivitas pengguna GoPay juga berkaitan dengan perkembangan layanan pinjaman dalam ekosistem fintech GoTo. Pada kuartal II 2026, nilai buku pinjaman mencapai sekitar Rp11 triliun atau meningkat 58 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Nilai buku pinjaman tersebut mencakup saldo pokok pinjaman yang belum dilunasi, baik yang tercatat maupun yang tidak tercatat dalam neraca, sesuai definisi yang digunakan perusahaan. Portofolio tersebut mencakup pinjaman konsumen serta pinjaman untuk mitra usaha.
GoTo menyatakan kualitas portofolio pinjaman tetap terjaga, dengan tingkat tunggakan dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan tetap stabil. Kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam pertumbuhan bisnis fintech karena peningkatan penyaluran pinjaman perlu berjalan seiring dengan pengelolaan risiko.
Dengan pertumbuhan transaksi, pengguna, serta portofolio pinjaman, GoPay tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana pembayaran dalam ekosistem GoTo. Perannya berkembang menjadi bagian dari bisnis layanan keuangan yang memberikan kontribusi lebih besar terhadap kinerja perusahaan.
GoTo Naikkan Target Bisnis Fintech
Kinerja positif tersebut turut mendorong GoTo menaikkan pedoman kinerja fintech untuk sepanjang 2026. Perusahaan meningkatkan target adjusted EBITDA segmen fintech menjadi sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun dari target sebelumnya Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.
Penyesuaian target tersebut menunjukkan tingkat keyakinan perusahaan terhadap momentum pertumbuhan bisnis fintech. Kinerja pada paruh pertama tahun menjadi dasar penting karena segmen ini telah membukukan adjusted EBITDA Rp845 miliar dalam enam bulan pertama 2026.
Pada periode enam bulan tersebut, pendapatan bersih fintech mencapai sekitar Rp3,98 triliun, meningkat 55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. GTV inti mencapai sekitar Rp288 triliun atau naik 82 persen secara tahunan, sedangkan total GTV mencapai sekitar Rp495,6 triliun atau tumbuh 74 persen.
Jumlah pengguna yang bertransaksi bulanan pada periode enam bulan tersebut mencapai 28,2 juta, meningkat 31 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan fintech GoTo berlangsung pada beberapa indikator sekaligus, mulai dari transaksi dan nilai transaksi hingga jumlah pengguna dan kinerja keuangan.
Profitabilitas Menjadi Fokus Baru
Perubahan posisi fintech di dalam GoTo juga menggambarkan pergeseran fokus perusahaan. Setelah melalui periode ekspansi dan persaingan yang ketat di sektor ekonomi digital, kemampuan menghasilkan profit menjadi semakin penting.
GoTo pada kuartal II 2026 mencatat laba bersih Rp252 miliar. Capaian tersebut melanjutkan laba bersih Rp171 miliar yang dibukukan pada kuartal I 2026. Dengan demikian, perusahaan mencatat laba bersih selama dua kuartal berturut-turut.
Pada saat yang sama, adjusted EBITDA Grup GoTo meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan untuk pertama kalinya melampaui Rp1 triliun. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa perbaikan kinerja tidak hanya terjadi pada satu indikator, tetapi juga mencakup kemampuan perusahaan menghasilkan EBITDA yang lebih besar.
Di dalam struktur tersebut, kontribusi GoPay menjadi semakin penting. Ketika adjusted EBITDA fintech telah melampaui bisnis on-demand services, sumber pertumbuhan profitabilitas GoTo menjadi lebih beragam. Hal ini dapat mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap satu jenis layanan sekaligus memperkuat peran layanan finansial digital dalam ekosistemnya.
Ekosistem Digital Menjadi Kunci
Keunggulan model bisnis fintech dalam ekosistem digital terletak pada kemampuan menghubungkan berbagai kebutuhan pengguna. Transaksi pembayaran dapat menjadi bagian awal dari hubungan pengguna dengan platform, kemudian berkembang menuju layanan finansial lainnya.
Bagi GoTo, pendekatan ekosistem tersebut menjadi relevan karena GoPay berada dalam kelompok usaha yang juga memiliki Gojek. Integrasi layanan memungkinkan aktivitas pengguna dalam ekosistem digital menghasilkan lebih banyak titik interaksi.
Namun, pertumbuhan transaksi tetap perlu diikuti pengelolaan biaya, kualitas layanan, keamanan transaksi, serta risiko keuangan. Pertumbuhan volume yang tinggi akan memberikan manfaat bisnis apabila dapat dikonversi menjadi pendapatan dan profitabilitas secara sehat.
Karena itu, lonjakan transaksi GoPay sebesar 91 persen menjadi penting bukan semata-mata karena besarnya angka pertumbuhan. Angka tersebut menjadi lebih berarti ketika dibaca bersama dengan kenaikan pendapatan, EBITDA, jumlah pengguna, dan pertumbuhan bisnis pinjaman.
Arah GoTo Setelah Fintech Menjadi Penopang Utama
Kinerja kuartal II 2026 memberikan gambaran bahwa GoTo sedang memasuki fase bisnis yang berbeda. Fintech melalui GoPay berkembang dari sekadar bagian pendukung ekosistem menjadi salah satu sumber profitabilitas utama.
Pertumbuhan transaksi 91 persen hingga 2,4 miliar transaksi, jumlah pengguna bulanan 28,8 juta, pendapatan bersih lebih dari Rp2 triliun, serta adjusted EBITDA Rp481 miliar menjadi indikator utama perubahan tersebut.
Di sisi lain, perusahaan tetap mempertahankan bisnis on-demand sebagai bagian penting dari ekosistem. Gojek masih mencatatkan adjusted EBITDA Rp464 miliar pada kuartal II 2026. Artinya, perubahan kontribusi profitabilitas tidak berarti layanan on-demand kehilangan peran, melainkan menunjukkan semakin kuatnya kontribusi bisnis fintech.
Ke depan, kemampuan GoTo mempertahankan pertumbuhan GoPay sekaligus menjaga kualitas portofolio pinjaman akan menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan. Pertumbuhan pengguna dan transaksi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan pendapatan serta efisiensi agar momentum profitabilitas dapat dipertahankan.
Dengan capaian tersebut, GoPay kini menempati posisi yang semakin strategis dalam bisnis GoTo. Pertumbuhan transaksi yang tinggi dan peningkatan profitabilitas menunjukkan bahwa fintech telah berkembang menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama perusahaan, sekaligus memperkuat transformasi GoTo menuju model bisnis digital yang lebih berorientasi pada keuntungan berkelanjutan.



