AI Mendorong Lahirnya Aplikasi Hiburan Serba Bisa

Kecerdasan buatan mendorong platform hiburan memperluas layanan dari satu format menjadi ekosistem yang mencakup video, musik, podcast, gim, hingga fitur interaktif.

Ilustrasi kecerdasan buatan yang menghubungkan berbagai format hiburan digital dalam satu aplikasi
Ilustrasi kecerdasan buatan yang menghubungkan berbagai format hiburan digital dalam satu aplikasi

Kecerdasan buatan mulai mengubah cara platform hiburan digital membangun produknya. Jika sebelumnya layanan hiburan cenderung berfokus pada satu format seperti musik, video, podcast, atau gim, kini batas tersebut semakin kabur. Platform besar justru bergerak menuju model aplikasi serba bisa yang berusaha menjadi tempat utama pengguna ketika ingin mengisi waktu, apa pun bentuk hiburan yang mereka cari.

Perubahan tersebut menjadi salah satu tren yang dibahas TechCrunch dalam laporan mengenai perkembangan universal entertainment app. Menurut laporan tersebut, berbagai aplikasi hiburan besar mulai menawarkan layanan yang semakin mirip satu sama lain. Mereka tidak lagi hanya berlomba menjadi platform terbaik dalam satu format konten, tetapi berusaha menguasai lebih banyak waktu pengguna dengan menggabungkan berbagai jenis hiburan dalam ekosistem yang sama.

Dari aplikasi satu fungsi menuju ekosistem hiburan

Selama bertahun-tahun, industri hiburan digital berkembang melalui layanan yang memiliki identitas sangat spesifik. Platform musik berfokus pada lagu, layanan video menawarkan film dan serial, aplikasi podcast menyediakan konten audio, sementara platform video pendek mengandalkan konsumsi konten dalam durasi singkat.

Model tersebut perlahan berubah ketika pertumbuhan pasar aplikasi hiburan mulai memasuki fase yang lebih matang. Dalam kondisi seperti ini, mendapatkan pengguna baru bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Platform juga perlu membuat pengguna bertahan lebih lama, kembali lebih sering, serta menemukan semakin banyak alasan untuk tetap berada di dalam aplikasi yang sama.

TechCrunch mencatat bahwa persaingan tersebut ikut mendorong perusahaan untuk memperhatikan waktu yang dihabiskan pengguna dan pendapatan yang dapat dihasilkan dari setiap pengguna. Pada saat yang sama, kreator masa kini juga tidak selalu bekerja dalam satu format. Seorang kreator dapat membuat video, podcast, tulisan, konten pendek, atau bentuk hiburan lain secara bersamaan.

Kondisi tersebut membuat platform dengan cakupan lebih luas memiliki peluang untuk menjadi rumah bagi berbagai jenis karya. Alih-alih meminta pengguna berpindah aplikasi setiap kali format konten berubah, perusahaan dapat menawarkan sebanyak mungkin kebutuhan hiburan dari satu tempat.

Netflix, Spotify, YouTube, dan TikTok bergerak ke arah yang sama

Perubahan strategi tersebut terlihat pada sejumlah nama besar di industri hiburan digital. Netflix, misalnya, tidak lagi hanya mengandalkan film dan serial. Platform tersebut telah memperluas layanannya dengan gim, olahraga langsung dan acara lainnya, video pendek, serta podcast.

Perluasan ini memberikan Netflix lebih banyak cara untuk mempertahankan perhatian pengguna ketika mereka sedang tidak ingin menonton film atau serial. Waktu senggang yang sebelumnya mungkin digunakan untuk menggulir media sosial, memainkan gim kasual, atau menonton video pendek kini menjadi bagian dari ruang persaingan yang sama.

Spotify juga bergerak melampaui identitas awalnya sebagai layanan streaming musik. Platform tersebut telah menambahkan podcast, podcast video, fitur sosial seperti tanya jawab dan komentar, cerita, pesan, kelas kebugaran, audiobook, majalah yang dinarasikan, hingga penjualan buku fisik.

Perluasan tersebut menunjukkan bahwa batas antara layanan musik dan layanan hiburan lainnya semakin tidak tegas. Pengguna yang awalnya datang untuk mendengarkan lagu dapat menemukan bentuk konten lain tanpa harus meninggalkan platform.

YouTube mengalami perkembangan serupa. Platform yang sejak awal dikenal dengan konten video dari kreator memperluas cakupannya ke video pendek, podcast, gim, musik, film dan televisi, olahraga, berita, belanja, serta konten siaran langsung. Pengguna juga dapat menonton film dan televisi gratis yang didukung iklan maupun menyewa atau membeli film dan program televisi tertentu untuk disimpan dalam perpustakaan mereka.

Sementara itu, TikTok yang identik dengan video pendek juga telah memperluas fungsi di luar format tersebut. TechCrunch mencatat adanya dukungan terhadap konten berdurasi panjang serta fitur seperti perencanaan perjalanan, belanja, eksplorasi lokal, dan pembelian tiket acara langsung. TikTok juga memiliki aplikasi terpisah yang berkaitan dengan mikrodrama serta acara olahraga.

AI menjadi penghubung berbagai format

Jika semakin banyak platform menawarkan jenis konten yang sama, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana sebuah aplikasi dapat membantu pengguna menemukan sesuatu yang benar-benar mereka inginkan. Di sinilah kecerdasan buatan memainkan peran penting.

Menurut TechCrunch, ketika format tidak lagi menjadi pembeda utama, nilai sebuah aplikasi semakin ditentukan oleh kemampuannya menghubungkan pengguna dengan konten berikutnya yang paling relevan. AI dapat membantu melakukan personalisasi lintas format sehingga rekomendasi tidak harus berhenti pada jenis konten yang pertama kali dicari pengguna.

Dengan pendekatan tersebut, sistem rekomendasi dapat menjadi lebih dari sekadar daftar film, lagu, atau video yang dianggap menarik. Platform dapat menggunakan pemahaman terhadap preferensi pengguna untuk menawarkan pengalaman hiburan yang lebih luas, termasuk kemungkinan berpindah dari satu format ke format lainnya tanpa meninggalkan aplikasi.

Spotify menjadi salah satu contoh yang disebut dalam laporan tersebut. Perusahaan sedang menguji fitur yang memungkinkan pengguna mengubah Taste Profile, yaitu model berbasis AI yang menggambarkan preferensi pengguna. Spotify juga mengembangkan fitur AI yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan AI mengenai apa yang mereka inginkan dan membuat daftar putar berdasarkan preferensi tersebut, termasuk untuk kebutuhan yang tidak terbatas pada musik.

Personalisasi menjadi medan persaingan baru

Dalam model aplikasi hiburan serba bisa, kemampuan memahami pengguna menjadi semakin penting. Ketika satu platform memiliki video, musik, podcast, gim, buku audio, dan bentuk konten lainnya, jumlah pilihan yang tersedia dapat menjadi sangat besar.

Tanpa sistem rekomendasi yang baik, banyaknya pilihan justru dapat membuat pengguna kesulitan menentukan apa yang ingin mereka konsumsi. AI berpotensi membantu menyederhanakan proses tersebut dengan mempelajari pola preferensi dan menyajikan pilihan yang dianggap relevan.

Netflix juga menggunakan AI dalam pengembangan personalisasi. Dalam laporan TechCrunch, CEO bersama Netflix Greg Peters disebut menyampaikan kepada investor bahwa arsitektur model baru membantu meningkatkan personalisasi sekaligus memungkinkan tim melakukan pengembangan dan perubahan dengan lebih cepat.

Artinya, AI tidak hanya digunakan untuk menentukan konten yang ditampilkan kepada pengguna. Teknologi tersebut juga berperan di belakang layar dalam membantu perusahaan membangun dan mengembangkan produk hiburan dengan lebih cepat.

AI juga mempercepat pengembangan produk

Peran AI dalam persaingan aplikasi hiburan tidak berhenti pada rekomendasi. Teknologi tersebut juga dapat membantu perusahaan mempercepat proses pengembangan berbagai fitur dan kategori konten baru.

TechCrunch mencatat bahwa penggunaan AI dalam pengembangan kode dapat membantu perusahaan mempercepat pembangunan dan peluncuran area konten baru. Ketika sebuah perusahaan ingin memperluas layanannya dari satu format ke format lain, kemampuan mengembangkan fitur dengan lebih cepat dapat menjadi faktor penting dalam persaingan.

Generative AI juga membuka kemungkinan baru dalam produksi konten. Namun, area ini masih menjadi persoalan yang kontroversial. Kekhawatiran dari kalangan seniman antara lain berkaitan dengan penggunaan karya untuk melatih sistem AI serta kemungkinan teknologi tersebut memengaruhi pekerjaan manusia di industri kreatif.

Netflix disebut telah mengambil langkah lebih jauh dalam penggunaan AI untuk produksi dengan mengakuisisi perusahaan pembuat film berbasis AI milik Ben Affleck dengan nilai yang dilaporkan TechCrunch sebesar 587 juta dolar AS. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI tidak hanya diposisikan sebagai teknologi pendukung konsumsi konten, tetapi juga mulai masuk ke sisi produksi hiburan.

YouTube memanfaatkan AI untuk kreator dan penonton

YouTube juga mengembangkan berbagai penerapan AI di dalam ekosistemnya. Menurut laporan TechCrunch, perusahaan menggunakan generative AI untuk meluncurkan lebih banyak alat bagi kreator, meningkatkan mesin pencarian, menghadirkan fitur AI percakapan, membantu membuat daftar putar, serta memperluas jangkauan konten melalui auto-dubbing.

Perusahaan juga menyatakan bahwa lebih dari satu juta kanal telah menggunakan alat kreasi berbasis AI miliknya. Selain itu, YouTube menyebut bahwa 20 juta konsumen menggunakan alat penemuan konten berbasis Gemini AI dalam satu bulan pada Desember.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa AI dapat berfungsi di dua sisi sekaligus. Bagi kreator, teknologi dapat menjadi alat untuk membantu proses pembuatan dan distribusi konten. Bagi penonton, AI dapat membantu pencarian, rekomendasi, dan penemuan konten yang lebih sesuai dengan minat mereka.

TikTok membangun ekosistem AI sendiri

TikTok juga tidak tertinggal dalam perlombaan tersebut. Platform ini telah menghadirkan chatbot AI di dalam aplikasi, alat pembuatan video berbasis AI, pencarian dan rekomendasi yang didukung AI, serta fitur aksesibilitas berbasis kecerdasan buatan.

Dengan demikian, AI semakin terintegrasi ke dalam pengalaman pengguna, bukan hanya ditempatkan sebagai fitur tambahan yang berdiri sendiri. Pengguna dapat berinteraksi dengan sistem pencarian, rekomendasi, pembuatan konten, dan sejumlah fungsi lain yang menggunakan teknologi AI dari lingkungan aplikasi yang sama.

Pola tersebut memperkuat kecenderungan menuju aplikasi hiburan yang semakin luas. Ketika sebuah platform mampu menangani lebih banyak kebutuhan pengguna, kesempatan untuk mempertahankan pengguna di dalam ekosistem tersebut juga semakin besar.

Persaingan juga masuk ke bisnis iklan

Konvergensi layanan hiburan tidak hanya berkaitan dengan pengalaman pengguna. Netflix, Spotify, YouTube, dan TikTok juga memanfaatkan AI dalam sistem periklanan mereka.

TechCrunch mencatat bahwa keempat platform tersebut menerapkan AI untuk berbagai kebutuhan dalam ekosistem iklan, termasuk membantu pemasar menulis iklan, menentukan sasaran audiens, menetapkan harga penempatan, dan mengukur hasil kampanye.

Hal ini penting karena semakin banyak aktivitas pengguna berlangsung dalam satu platform, semakin besar pula peluang perusahaan memahami pola konsumsi di dalam ekosistemnya. Data mengenai kebiasaan pengguna kemudian menjadi salah satu aset penting dalam personalisasi maupun monetisasi.

Risiko baru: pengguna semakin sulit meninggalkan platform

Perluasan layanan dan personalisasi berbasis AI juga membawa konsekuensi bagi pengguna. Ketika satu aplikasi menyediakan semakin banyak kebutuhan hiburan, alasan untuk berpindah ke aplikasi lain dapat berkurang.

TechCrunch menggambarkan kondisi tersebut sebagai meningkatnya lock-in. Platform yang berhasil menjadi tempat utama pengguna menghabiskan waktu dapat memperoleh lebih banyak data mengenai kebiasaan mereka. Pada akhirnya, pengguna dapat memiliki semakin sedikit alasan untuk meninggalkan aplikasi tersebut, bahkan ketika harga meningkat atau kualitas layanan mengalami perubahan.

Dari sudut pandang bisnis, kondisi ini tentu menarik karena perusahaan dapat meningkatkan keterikatan pengguna. Namun dari sudut pandang konsumen, perkembangan tersebut juga membuat pilihan platform dan cara data pribadi digunakan menjadi semakin penting.

Batas antara musik, video, podcast, dan gim semakin kabur

Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri hiburan digital sedang bergerak dari persaingan berdasarkan format menuju persaingan berdasarkan ekosistem. Musik tidak lagi harus berada di aplikasi musik saja. Video tidak lagi terbatas pada film dan serial. Podcast dapat hadir bersama video, gim dapat menjadi bagian dari layanan streaming, sementara media sosial dapat berkembang menjadi tempat untuk berbelanja, mencari informasi, merencanakan perjalanan, hingga membeli tiket acara.

AI memperkuat perubahan tersebut karena teknologi dapat membantu platform memahami hubungan antara berbagai bentuk konten. Pengguna yang datang untuk satu kebutuhan dapat diarahkan ke bentuk hiburan lain yang dianggap relevan berdasarkan preferensinya.

Akibatnya, persaingan masa depan tidak lagi semata-mata mengenai platform mana yang memiliki film terbaik, katalog musik terbesar, video paling populer, atau podcast paling menarik. Pertanyaan yang lebih besar adalah platform mana yang mampu menjadi tujuan utama pengguna untuk hampir semua kebutuhan hiburan digital.

Menuju konsep sistem operasi hiburan

Jika tren ini berlanjut, aplikasi hiburan dapat berkembang menyerupai sebuah sistem operasi hiburan. Pengguna tidak perlu memikirkan format konten terlebih dahulu. Mereka cukup menyampaikan apa yang ingin dilakukan atau dirasakan, sementara sistem membantu menentukan bentuk konten yang paling sesuai.

AI menjadi salah satu teknologi yang memungkinkan perubahan tersebut karena kecerdasan buatan dapat berperan sebagai lapisan penghubung antara pengguna dan katalog konten yang sangat besar. Personalisasi, pencarian percakapan, pembuatan daftar putar, rekomendasi, pembuatan konten, hingga fitur iklan dapat dikelola dengan bantuan teknologi yang sama.

Namun, arah tersebut tidak berarti semua aplikasi akan otomatis menjadi sama. Setiap platform masih memiliki kekuatan dan karakteristik masing-masing. Netflix memiliki basis kuat di video dan terus memperluas layanan, Spotify berangkat dari musik dan berkembang ke berbagai bentuk audio serta konten lain, YouTube memiliki ekosistem kreator yang luas, sedangkan TikTok mempertahankan kekuatan pada konsumsi video dan penemuan konten.

Yang berubah adalah batas antara kategori tersebut. Perusahaan-perusahaan besar itu semakin sering memasuki wilayah yang sebelumnya menjadi kekuatan platform lain.

Perubahan terbesar mungkin terjadi pada cara pengguna mencari hiburan

Dalam ekosistem lama, pengguna biasanya menentukan format terlebih dahulu. Mereka membuka aplikasi musik ketika ingin mendengarkan lagu, layanan streaming ketika ingin menonton film, atau platform video pendek ketika ingin menggulir konten singkat.

Model yang didorong AI berpotensi mengubah kebiasaan tersebut. Pengguna cukup menentukan kebutuhan atau minat, sementara platform memilih berbagai bentuk konten yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Perbedaan antara mencari lagu, menonton video, mendengarkan podcast, atau memainkan gim menjadi lebih kecil dari sisi pengalaman pengguna.

Jika konsep ini berkembang semakin jauh, keunggulan platform tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah konten yang tersedia. Kemampuan memahami konteks pengguna dan memberikan rekomendasi yang tepat dapat menjadi pembeda utama.

Inilah alasan AI menjadi sangat penting dalam persaingan aplikasi hiburan. Teknologi tersebut bukan sekadar alat untuk membuat fitur baru, tetapi dapat menjadi fondasi yang menghubungkan berbagai layanan dalam satu pengalaman yang lebih terpadu.

Babak baru persaingan aplikasi hiburan

Perkembangan yang diamati TechCrunch menunjukkan bahwa industri hiburan digital sedang memasuki babak baru. Platform besar semakin memperluas layanan, sementara AI membantu menghubungkan berbagai format konten dan membuat pengalaman pengguna lebih personal.

Netflix, Spotify, YouTube, dan TikTok memberikan gambaran mengenai arah tersebut dengan strategi masing-masing. Mereka datang dari titik awal yang berbeda, tetapi kini semakin sering menawarkan layanan di luar kategori asalnya.

Bagi pengguna, perubahan ini dapat menghadirkan pengalaman yang lebih praktis karena semakin banyak kebutuhan hiburan tersedia dari satu ekosistem. Namun, konsentrasi layanan juga membuat isu personalisasi, penggunaan data, ketergantungan terhadap platform, dan masa depan pekerjaan kreatif menjadi semakin relevan.

Pada akhirnya, persaingan aplikasi hiburan kemungkinan tidak lagi ditentukan hanya oleh format mana yang paling populer. Pertarungan yang lebih besar adalah siapa yang mampu menjadi aplikasi pertama yang dibuka ketika pengguna ingin menonton, mendengarkan, membaca, bermain, mencari sesuatu, atau sekadar mengisi waktu luang. Dengan AI sebagai penghubung utama, batas antara berbagai bentuk hiburan digital kini semakin sulit dipisahkan.

Sumber