Airtel Africa dan Starlink Luncurkan Layanan Mobile Satelit di Kongo

Airtel Africa dan Starlink meluncurkan layanan satelit-ke-ponsel secara komersial di Republik Demokratik Kongo, memperluas konektivitas ke wilayah di luar jangkauan jaringan seluler terestrial.

Ilustrasi layanan konektivitas satelit Starlink dan jaringan Airtel Africa di Republik Demokratik Kongo
Ilustrasi layanan konektivitas satelit Starlink dan jaringan Airtel Africa di Republik Demokratik Kongo

Airtel Africa dan Starlink resmi meluncurkan layanan konektivitas satelit-ke-ponsel secara komersial di Republik Demokratik Kongo atau Democratic Republic of the Congo (DRC). Peluncuran ini menjadi perkembangan penting dalam upaya memperluas akses komunikasi seluler ke wilayah yang selama ini berada di luar jangkauan jaringan seluler terestrial.

Layanan tersebut memungkinkan pelanggan Airtel tetap memperoleh konektivitas melalui satelit Starlink ketika mereka bergerak keluar dari cakupan jaringan darat Airtel. Untuk tahap awal, layanan mendukung kebutuhan komunikasi dan data ringan, termasuk pesan melalui WhatsApp serta SMS. Kehadiran teknologi ini menunjukkan bagaimana jaringan satelit mulai digunakan sebagai pelengkap infrastruktur telekomunikasi konvensional, bukan hanya sebagai alternatif internet di lokasi terpencil.

Peluncuran komersial di DRC juga menjadi tonggak bagi Airtel Africa dan Starlink karena negara tersebut disebut sebagai lokasi penerapan komersial pertama layanan satelit-ke-mobile mereka di Afrika. Sebelumnya, kedua perusahaan telah melakukan pengujian layanan data dan pesan Starlink Mobile di Kenya pada Maret 2026.

Starlink Mobile Hadir untuk Memperluas Jangkauan Airtel

Konsep utama layanan ini adalah menjaga pelanggan tetap terhubung ketika jaringan seluler biasa tidak lagi tersedia. Dalam jaringan telekomunikasi konvensional, sebuah ponsel bergantung pada menara seluler yang berada dalam jangkauan tertentu. Ketika pengguna keluar dari area tersebut, koneksi dapat terputus jika tidak ada menara lain yang dapat melayani perangkat.

Teknologi direct-to-cell atau D2C menawarkan pendekatan berbeda. Satelit digunakan untuk berkomunikasi secara langsung dengan perangkat yang kompatibel, sehingga kebutuhan akan menara seluler di lokasi pengguna dapat dikurangi untuk area tertentu. Dalam implementasi Airtel Africa dan Starlink, pendekatan tersebut diarahkan untuk memperluas konektivitas pelanggan Airtel melewati batas cakupan jaringan terestrial.

Menurut laporan The Kenyan Wall Street, layanan awal ini ditujukan untuk aplikasi yang membutuhkan data relatif ringan. WhatsApp dapat digunakan untuk berkirim pesan, sementara SMS juga didukung. Artinya, layanan tersebut pada tahap awal bukan dimaksudkan sebagai pengganti penuh koneksi seluler berkecepatan tinggi yang tersedia melalui jaringan terestrial.

Smartphone yang Kompatibel Menjadi Syarat

Pelanggan yang ingin menggunakan layanan perlu memiliki smartphone Android LTE yang kompatibel. Selain perangkat yang sesuai, pelanggan juga membutuhkan paket data Airtel DRC yang aktif atau mengaktifkan data roaming.

Persyaratan tersebut menunjukkan bahwa konektivitas satelit tidak serta-merta membuat semua ponsel dapat terhubung langsung ke satelit. Dukungan perangkat dan kesiapan jaringan operator tetap menjadi bagian penting dalam penerapan teknologi direct-to-cell.

Model seperti ini juga memperlihatkan bahwa layanan satelit-ke-ponsel masih berkembang. Kemampuan yang tersedia pada tahap awal dapat diperluas seiring dengan perkembangan teknologi, kompatibilitas perangkat, serta persetujuan regulator di masing-masing negara.

DRC Menjadi Langkah Awal Komersialisasi di Afrika

Republik Demokratik Kongo menjadi lokasi penting bagi ekspansi layanan ini karena peluncuran tersebut disebut sebagai penerapan komersial pertama Airtel Africa dan Starlink untuk layanan satelit-ke-mobile di Afrika. Langkah ini mengikuti proses kerja sama yang telah dibangun kedua perusahaan sebelumnya.

Airtel Africa dan Starlink pertama kali mengumumkan kemitraan strategis pada Desember 2025. Setelah itu, pengujian teknologi dilakukan di Kenya. Hasil pengujian tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju peluncuran layanan secara komersial di DRC.

Perjalanan dari pengujian menuju penerapan komersial memperlihatkan bahwa integrasi satelit dengan jaringan operator seluler membutuhkan proses bertahap. Teknologi harus diuji pada kondisi nyata, perangkat pengguna harus mendukung, dan aspek regulasi perlu diselesaikan sebelum layanan dapat diperluas ke pasar berikutnya.

Chief Executive Officer Airtel Africa, Sunil Taldar, mengatakan pengalaman yang diperoleh dari penerapan di DRC akan membantu pengembangan layanan secara bertahap di pasar Airtel Africa lainnya, dengan tetap bergantung pada persetujuan regulator di setiap negara.

Dua Bentuk Kerja Sama Airtel Africa dan Starlink

Kerja sama Airtel Africa dan Starlink tidak hanya berkaitan dengan koneksi satelit langsung ke ponsel. Kedua perusahaan sebelumnya telah memiliki kesepakatan lain yang menggunakan satelit untuk kebutuhan backhaul.

Kesepakatan backhaul tersebut ditandatangani pada 2024. Dalam model tersebut, lalu lintas dari stasiun pangkalan di wilayah terpencil dapat diteruskan melalui satelit Starlink menuju gateway internasional. Pendekatan ini berbeda dari direct-to-cell karena satelit digunakan untuk membantu menghubungkan infrastruktur jaringan, bukan berkomunikasi secara langsung dengan ponsel pelanggan.

Perbedaan tersebut penting untuk memahami perkembangan kerja sama kedua perusahaan. Backhaul dapat membantu operator memperluas jaringan ke lokasi yang sulit mendapatkan koneksi infrastruktur konvensional. Sementara direct-to-cell membawa fungsi konektivitas lebih dekat langsung ke perangkat pengguna.

Dari Backhaul ke Direct-to-Cell

Dalam model backhaul, operator tetap menggunakan infrastruktur seluler di darat seperti stasiun pangkalan. Satelit membantu menghubungkan lokasi tersebut dengan jaringan yang lebih luas. Dengan begitu, pembangunan jaringan di wilayah terpencil dapat dilakukan tanpa harus selalu mengandalkan sambungan infrastruktur darat yang mahal atau sulit dibangun.

Direct-to-cell memiliki tujuan yang lebih spesifik dari sisi pengguna. Ketika pelanggan berada di luar jangkauan menara Airtel, perangkat yang kompatibel dapat memperoleh layanan tertentu melalui jaringan satelit. Karena itu, kedua teknologi tersebut dapat dilihat sebagai bagian berbeda dari strategi konektivitas berbasis satelit.

Kombinasi keduanya berpotensi memberi operator lebih banyak pilihan untuk menangani tantangan geografis. Wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur darat dapat memperoleh dukungan melalui koneksi satelit, sementara pelanggan yang sudah memiliki perangkat kompatibel dapat memanfaatkan layanan direct-to-cell ketika berada di luar cakupan jaringan terestrial.

Mengapa Konektivitas Satelit Penting untuk Wilayah Terpencil?

Salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan jaringan telekomunikasi adalah kondisi geografis. Menara seluler membutuhkan lokasi, pasokan energi, perangkat jaringan, serta koneksi ke jaringan utama. Pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur tersebut dapat menjadi lebih rumit ketika lokasi yang hendak dilayani berada jauh dari pusat permukiman atau memiliki akses transportasi yang terbatas.

Satelit menawarkan cara berbeda untuk mengatasi sebagian tantangan tersebut. Infrastruktur di ruang angkasa dapat menjangkau area yang luas tanpa harus membangun menara seluler di setiap titik. Namun, penggunaan satelit juga memiliki keterbatasan dan membutuhkan perangkat serta sistem jaringan yang sesuai.

Dalam konteks Airtel Africa, Starlink diposisikan sebagai teknologi tambahan untuk memperluas kemampuan jaringan. Layanan tersebut bukan berarti seluruh kebutuhan telekomunikasi akan berpindah dari jaringan darat ke satelit. Sebaliknya, satelit digunakan untuk mengisi celah konektivitas yang sulit dijangkau oleh infrastruktur terestrial.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan bagi operator yang melayani wilayah geografis luas. Dengan adanya konektivitas satelit, area tanpa cakupan jaringan seluler dapat memiliki opsi komunikasi tambahan tanpa harus menunggu pembangunan infrastruktur terestrial di setiap lokasi.

Kemampuan Layanan Masih Berkembang

Peluncuran di DRC merupakan tahap awal dan bukan akhir dari pengembangan teknologi tersebut. Airtel Africa dan Starlink menyatakan akan terus mengembangkan layanan seiring kemajuan teknologi dan diperolehnya persetujuan regulator yang diperlukan.

Salah satu pengembangan yang disebutkan adalah rencana menghadirkan layanan tersebut pada perangkat Apple. Untuk saat ini, laporan sumber menyebutkan bahwa penggunaan awal membutuhkan smartphone Android LTE yang kompatibel. Dukungan untuk perangkat Apple akan menjadi bagian dari pengembangan berikutnya apabila persyaratan teknis dan regulasi telah terpenuhi.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem direct-to-cell masih berada dalam tahap ekspansi. Kompatibilitas perangkat menjadi salah satu faktor yang menentukan seberapa luas teknologi dapat digunakan oleh masyarakat.

Bukan Pengganti Penuh Jaringan Seluler

Penting untuk membedakan layanan direct-to-cell dari koneksi broadband biasa. Pada tahap yang diberitakan, Starlink Mobile untuk pelanggan Airtel DRC mendukung aplikasi data ringan dan SMS. Kapasitas tersebut membuat layanan lebih tepat dipahami sebagai lapisan konektivitas tambahan.

Ketika pengguna berada di wilayah yang masih memiliki jaringan seluler Airtel, koneksi terestrial tetap menjadi jalur utama. Koneksi satelit menjadi sangat berarti ketika pengguna keluar dari jangkauan tersebut dan berada di area yang dapat dilayani oleh sistem satelit.

Model seperti ini dapat membantu menjaga komunikasi dasar dalam situasi ketika koneksi seluler biasa tidak tersedia. Pesan teks dan layanan data ringan dapat menjadi sarana penting untuk tetap berkomunikasi, terutama bagi pengguna yang berada jauh dari pusat jaringan.

Tantangan Regulasi Tetap Menjadi Faktor Penting

Ekspansi layanan direct-to-cell tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis. Persetujuan regulator di setiap negara juga menjadi bagian penting dari proses pengembangan. Airtel Africa menyatakan bahwa perluasan layanan ke pasar lainnya akan dilakukan secara bertahap dan bergantung pada persetujuan regulasi masing-masing negara.

Setiap negara memiliki aturan berbeda mengenai penggunaan spektrum, layanan telekomunikasi, infrastruktur jaringan, serta pengoperasian layanan berbasis satelit. Karena itu, keberhasilan peluncuran di satu negara tidak otomatis berarti layanan dapat langsung tersedia di negara lain.

Faktor regulasi juga berkaitan dengan hubungan antara operator seluler dan penyedia layanan satelit. Keduanya perlu memastikan bahwa sistem yang digunakan memenuhi ketentuan yang berlaku sekaligus dapat terintegrasi dengan jaringan telekomunikasi nasional.

Dengan DRC sebagai langkah komersial awal di Afrika, Airtel Africa dan Starlink memiliki kesempatan untuk mengumpulkan pengalaman operasional sebelum memperluas layanan. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk menyesuaikan teknologi dan model implementasi dengan kondisi pasar lainnya.

Persaingan dan Arah Baru Industri Telekomunikasi

Kehadiran layanan satelit-ke-ponsel memperlihatkan perubahan dalam cara industri telekomunikasi memandang batas antara jaringan seluler dan jaringan satelit. Selama bertahun-tahun, kedua jenis jaringan tersebut berkembang sebagai sistem yang relatif terpisah. Kini, perusahaan telekomunikasi dan penyedia satelit mulai mencari cara untuk menghubungkannya.

Bagi operator seluler, kolaborasi dengan penyedia satelit dapat menjadi salah satu cara memperluas cakupan tanpa harus membangun infrastruktur darat di seluruh wilayah. Bagi perusahaan satelit, kerja sama dengan operator memberikan akses terhadap basis pelanggan yang sudah menggunakan jaringan seluler dan perangkat yang kompatibel.

Hubungan tersebut menciptakan model bisnis yang berbeda dari layanan internet satelit konvensional. Pengguna tidak harus selalu membawa terminal satelit khusus untuk mendapatkan konektivitas. Dalam konsep direct-to-cell, ponsel yang kompatibel dapat menjadi bagian dari sistem komunikasi dengan satelit.

Perubahan ini berpotensi membuat konektivitas satelit lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan akan bergantung pada cakupan layanan, kompatibilitas perangkat, kemampuan teknis, regulasi, dan pengembangan fitur dari waktu ke waktu.

Dampak bagi Pelanggan Airtel di DRC

Bagi pelanggan Airtel di DRC, peluncuran ini memberikan pilihan konektivitas tambahan ketika mereka berada di luar jangkauan jaringan terestrial. Kebutuhan untuk tetap dapat mengirim pesan atau menggunakan aplikasi data ringan dapat dipenuhi melalui sistem satelit yang tersedia.

Manfaat tersebut terutama berkaitan dengan kontinuitas koneksi. Dalam kondisi jaringan darat tidak tersedia, kemampuan untuk tetap mengirim SMS atau menggunakan layanan pesan dapat menjadi perbedaan penting bagi pengguna yang membutuhkan komunikasi dasar.

Namun, pelanggan tetap harus memenuhi persyaratan layanan. Perangkat Android LTE yang kompatibel serta paket data Airtel DRC aktif atau data roaming menjadi bagian dari kebutuhan awal penggunaan layanan. Dengan demikian, tidak semua perangkat dan kondisi penggunaan otomatis mendapatkan akses.

Model ini juga memberi gambaran bahwa masa depan telekomunikasi tidak harus memilih antara jaringan seluler dan satelit. Keduanya dapat bekerja bersama untuk memberikan konektivitas yang lebih luas sesuai kebutuhan dan kondisi geografis.

Langkah Awal Menuju Ekspansi di Pasar Afrika

Peluncuran Starlink Mobile di DRC menjadi langkah awal yang penting bagi Airtel Africa dalam mengembangkan konektivitas berbasis satelit di pasar Afrika. Perusahaan menyatakan pengalaman yang diperoleh di DRC akan membantu ekspansi progresif ke pasar lainnya, dengan memperhatikan persetujuan regulasi di setiap negara.

Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, layanan seperti ini dapat menjadi bagian dari strategi operator untuk menjangkau pelanggan di wilayah yang sulit memperoleh jaringan terestrial. Namun, ekspansi tidak akan berlangsung secara seragam karena karakteristik geografis, regulasi, jaringan, dan kebutuhan pelanggan berbeda-beda di setiap pasar.

Selain perluasan wilayah, pengembangan kemampuan layanan juga menjadi bagian penting. Airtel Africa dan Starlink menyatakan akan terus mengembangkan layanan seiring teknologi berkembang. Dukungan terhadap lebih banyak perangkat dan peningkatan kemampuan komunikasi dapat menentukan nilai layanan tersebut dalam jangka panjang.

Babak Baru Integrasi Satelit dan Ponsel

Kerja sama Airtel Africa dan Starlink di DRC menunjukkan bahwa konektivitas satelit semakin bergerak menuju penggunaan langsung oleh konsumen. Jika sebelumnya satelit lebih sering dipandang sebagai sarana khusus untuk lokasi terpencil atau infrastruktur backhaul, direct-to-cell membawa fungsi tersebut lebih dekat ke perangkat yang digunakan masyarakat setiap hari.

Peluncuran ini juga menunjukkan bahwa perubahan tersebut dilakukan secara bertahap. Dimulai dari pengujian di Kenya, kemudian dilanjutkan dengan penerapan komersial di DRC, Airtel Africa dan Starlink membangun pengalaman sebelum mempertimbangkan ekspansi ke pasar lainnya.

Untuk tahap awal, kemampuan layanan memang masih berfokus pada komunikasi dan data ringan. Tetapi arah pengembangannya sudah terlihat melalui rencana memperluas dukungan perangkat serta menambah kemampuan layanan seiring perkembangan teknologi dan persetujuan regulator.

Bagi industri telekomunikasi Afrika, langkah tersebut membuka kemungkinan baru dalam memperluas cakupan komunikasi. Bagi pelanggan, teknologi ini menawarkan lapisan konektivitas tambahan yang dapat digunakan ketika jaringan seluler terestrial tidak tersedia.

Dengan peluncuran komersial di Republik Demokratik Kongo, Airtel Africa dan Starlink kini memiliki contoh penerapan nyata layanan direct-to-cell di Afrika. Keberhasilan tahap awal ini akan menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana teknologi tersebut berkembang dan diperluas ke pasar lainnya pada masa mendatang.

Sumber