DR Kongo dan M23 Sepakati Peta Jalan untuk Melanjutkan Perundingan Damai

Pemerintah Republik Demokratik Kongo dan aliansi pemberontak yang dipimpin M23 menyepakati peta jalan untuk perundingan damai, meski pertempuran di wilayah timur negara itu masih berlanjut.

Anggota pasukan Republik Demokratik Kongo berjaga di jalan di Sange, Kivu Selatan
Anggota pasukan Republik Demokratik Kongo berjaga di jalan di Sange, Kivu Selatan

Republik Demokratik Kongo atau DR Kongo dan aliansi pemberontak yang dipimpin kelompok M23 menyepakati peta jalan untuk melanjutkan perundingan damai. Kesepakatan tersebut menjadi perkembangan penting dalam upaya meredakan konflik yang masih berlangsung di wilayah timur negara itu, meski situasi keamanan di lapangan belum menunjukkan tanda-tanda benar-benar stabil.

Peta jalan tersebut disepakati melalui pernyataan bersama setelah kedua pihak melakukan pembicaraan yang membahas tahapan serta jadwal negosiasi. Proses itu ditempatkan dalam kerangka kesepakatan yang sebelumnya ditandatangani di Doha, Qatar, sehingga pembicaraan terbaru menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mencari jalan keluar politik dari konflik berkepanjangan di kawasan timur DR Kongo.

Peta jalan menjadi dasar tahapan perundingan

Dalam pernyataan bersama yang dikutip Al Jazeera, kedua pihak menyatakan telah menyusun peta jalan yang menetapkan langkah-langkah negosiasi secara berurutan beserta batas waktu pelaksanaannya. Kesepakatan ini penting karena proses perdamaian tidak hanya membutuhkan komitmen politik, tetapi juga mekanisme yang dapat mengatur bagaimana kesepakatan tersebut diterapkan di lapangan.

Pembicaraan terbaru berlangsung selama lima hari di Swiss, mulai 17 hingga 21 Agustus. Pertemuan tersebut tidak hanya melibatkan perwakilan pemerintah DR Kongo dan aliansi yang dipimpin M23. Amerika Serikat, Qatar, Togo, Swiss, serta Komisi Uni Afrika juga turut terlibat dalam proses pembicaraan tersebut.

Keterlibatan sejumlah pihak menunjukkan bahwa persoalan keamanan di wilayah timur DR Kongo memiliki dimensi regional dan internasional. Karena itu, upaya menuju penyelesaian konflik tidak hanya bergantung pada hubungan antara pemerintah di Kinshasa dan kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah timur.

Mekanisme pemantauan pelanggaran gencatan senjata

Salah satu hasil pembicaraan adalah kesepakatan mengenai metode standar untuk melaporkan pelanggaran gencatan senjata. Mekanisme tersebut diharapkan dapat memberikan cara yang lebih terstruktur dalam mencatat dan menangani laporan ketika terjadi pelanggaran di lapangan.

Kedua pihak juga menyepakati pembentukan mekanisme untuk menangani persoalan yang muncul dalam penerapan kesepakatan Doha. Keberadaan mekanisme semacam ini menjadi bagian penting dari proses perdamaian karena kesepakatan politik dapat menghadapi berbagai kendala ketika diterapkan di wilayah yang kondisi keamanannya masih rapuh.

Langkah berikutnya juga mencakup kedatangan misi verifikasi gencatan senjata ke Minembwe, salah satu wilayah di Provinsi Kivu Selatan. Misi tersebut dijadwalkan tiba pada Senin untuk membantu proses pemantauan situasi dan verifikasi terhadap kondisi gencatan senjata.

Proses perdamaian berlangsung ketika konflik belum berhenti

Meski terdapat kemajuan dalam meja perundingan, kondisi di lapangan masih jauh dari sepenuhnya tenang. Pertempuran tetap berlangsung di wilayah timur DR Kongo sehingga kesepakatan peta jalan belum dapat dipandang sebagai akhir dari konflik.

Pada Sabtu, juru bicara AFC/M23 Lawrence Kanyuka mengeklaim bahwa pasukan koalisi DR Kongo melakukan serangan udara menggunakan drone kamikaze di kawasan padat penduduk di wilayah Minembwe. Menurut klaim tersebut, serangan menyebabkan korban sipil dan kerusakan pada infrastruktur sipil. Al Jazeera menyatakan tidak dapat segera memverifikasi klaim tersebut.

Kehadiran laporan mengenai serangan ketika proses diplomasi masih berlangsung memperlihatkan tantangan besar yang dihadapi para pihak. Perundingan dapat menghasilkan kesepakatan di tingkat politik, tetapi penerapannya tetap membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan kelompok bersenjata dan memastikan komitmen terhadap penghentian kekerasan di lapangan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya telah memperingatkan bahwa kondisi keamanan di Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan semakin tidak stabil akibat meningkatnya penggunaan drone oleh pihak-pihak yang bertikai. Perkembangan teknologi dalam konflik tersebut menambah kompleksitas persoalan keamanan dan memperbesar risiko bagi masyarakat yang berada di wilayah konflik.

Transfer tahanan menjadi bagian dari proses perdamaian

Upaya membangun kepercayaan juga terlihat dari pertukaran atau pemindahan tahanan yang dilakukan sebelumnya pada bulan Agustus. Pemerintah DR Kongo menyerahkan 15 tahanan kepada Congo River Alliance atau AFC dan M23 melalui proses yang difasilitasi Komite Internasional Palang Merah.

Transfer tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses perdamaian. Langkah semacam ini dapat menjadi salah satu unsur pendukung dalam membangun kepercayaan di antara pihak-pihak yang selama ini berhadapan dalam konflik bersenjata.

Namun, perkembangan tersebut juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Kesepakatan terkait tahanan, mekanisme pelaporan pelanggaran gencatan senjata, serta peta jalan perundingan merupakan bagian-bagian dari proses yang lebih besar dan belum secara otomatis mengakhiri pertempuran.

Konflik timur DR Kongo telah berlangsung lama

Konflik di wilayah timur DR Kongo memiliki sejarah panjang dan melibatkan berbagai kelompok bersenjata serta kepentingan regional. M23 kembali melancarkan ofensif pada 2021 dan sejak itu berhasil menguasai sejumlah wilayah.

Dalam perkembangan konflik tersebut, kelompok itu bersama aliansinya menguasai sejumlah kawasan strategis, termasuk Goma dan Bukavu. Kedua kota yang menjadi ibu kota provinsi tersebut direbut pada awal 2025, memperlihatkan besarnya perubahan situasi keamanan di wilayah timur negara tersebut.

Dampak konflik terhadap masyarakat juga sangat besar. Pertempuran telah menyebabkan ribuan orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi. Al Jazeera mengutip perkiraan bahwa sekitar 5,3 juta orang telah mengungsi di kawasan tersebut akibat konflik.

Besarnya jumlah warga yang terdampak membuat persoalan keamanan tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemanusiaan. Ketika kekerasan terus berlangsung, masyarakat menghadapi risiko kehilangan tempat tinggal, terganggunya aktivitas sehari-hari, serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar.

Akar konflik berkaitan dengan sejarah kawasan Great Lakes

Persoalan di timur DR Kongo juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah kawasan Afrika Tengah. Konflik tersebut memiliki akar yang berkaitan dengan genosida 1994 di Rwanda serta runtuhnya pemerintahan Mobutu Sese Seko di wilayah yang saat itu masih dikenal sebagai Zaire.

Sejarah tersebut kemudian membentuk persoalan keamanan lintas batas yang rumit. Hubungan antara kelompok-kelompok bersenjata, komunitas etnis, pemerintah negara-negara kawasan, serta kepentingan keamanan regional saling berkelindan dalam konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun.

DR Kongo, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan sejumlah pemerintah negara Barat menuduh Rwanda memberikan dukungan kepada M23, termasuk melalui pasukan dan persenjataan. Pemerintah Rwanda membantah tuduhan tersebut.

Di sisi lain, Rwanda menuduh pemerintah DR Kongo mendukung kelompok bersenjata Hutu seperti Democratic Forces for the Liberation of Rwanda atau FDLR. Pemerintah di Kinshasa juga membantah tuduhan tersebut.

Saling tuding tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian konflik tidak hanya berkaitan dengan penghentian pertempuran antara pemerintah DR Kongo dan M23. Persoalan keamanan regional dan hubungan antara DR Kongo dengan negara-negara tetangganya juga menjadi faktor yang memengaruhi stabilitas kawasan.

Kesepakatan DR Kongo dan Rwanda menjadi jalur diplomasi lain

Selain proses yang melibatkan M23, terdapat pula jalur diplomasi antara DR Kongo dan Rwanda. Amerika Serikat sebelumnya menjadi pihak yang menengahi kesepakatan perdamaian terpisah antara kedua negara tersebut pada tahun sebelumnya.

Adanya lebih dari satu jalur diplomasi memperlihatkan bahwa konflik di kawasan tersebut memiliki beberapa lapisan. Perundingan langsung antara pemerintah DR Kongo dan kelompok pemberontak diperlukan untuk membahas persoalan di lapangan, sementara hubungan antara negara-negara yang dituduh memiliki kepentingan atau keterlibatan dalam konflik juga membutuhkan penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Karena itu, peta jalan baru yang disepakati DR Kongo dan M23 menjadi salah satu bagian dari rangkaian proses perdamaian yang lebih panjang. Keberhasilannya akan sangat bergantung pada pelaksanaan tahapan yang telah disepakati dan kemampuan pihak-pihak terkait mempertahankan komitmen ketika terjadi persoalan di lapangan.

Tantangan terbesar berada pada pelaksanaan

Kesepakatan untuk membuat peta jalan memberikan kerangka yang lebih jelas bagi perundingan, tetapi belum berarti bahwa konflik telah berakhir. Kondisi keamanan yang masih rapuh menjadi tantangan utama bagi proses tersebut.

Adanya laporan mengenai pertempuran dan tuduhan serangan ketika perundingan berlangsung menunjukkan bahwa jarak antara kesepakatan diplomatik dan kenyataan di lapangan masih besar. Mekanisme pelaporan pelanggaran gencatan senjata serta misi verifikasi menjadi penting untuk memperkecil jarak tersebut.

Jika mekanisme yang telah disepakati dapat berjalan, para pihak memiliki saluran yang lebih teratur untuk menangani tuduhan pelanggaran dan persoalan penerapan kesepakatan Doha. Sebaliknya, jika kekerasan terus meningkat, proses negosiasi berisiko menghadapi tekanan yang semakin besar.

Perhatian juga akan tertuju pada misi verifikasi gencatan senjata yang dijadwalkan menuju Minembwe. Kehadiran misi tersebut menjadi salah satu langkah konkret setelah pembicaraan di Swiss dan dapat memberikan gambaran mengenai sejauh mana kesepakatan yang dibahas di meja perundingan dapat diterapkan di wilayah konflik.

Harapan baru di tengah krisis yang belum selesai

Kesepakatan antara DR Kongo dan M23 untuk menyusun peta jalan perundingan memberikan harapan baru bagi proses pencarian solusi politik di wilayah timur negara tersebut. Untuk pertama kalinya dalam rangkaian perkembangan terbaru, para pihak memiliki kerangka yang menetapkan tahapan dan jadwal pembicaraan sekaligus mekanisme untuk menangani persoalan penerapan kesepakatan.

Namun, perkembangan tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Pertempuran masih terjadi, kondisi keamanan tetap rapuh, dan masyarakat di kawasan konflik masih menghadapi dampak berkepanjangan dari kekerasan. Karena itu, keberhasilan proses perdamaian tidak hanya akan diukur dari tercapainya kesepakatan di meja perundingan, tetapi juga dari kemampuan para pihak menerjemahkannya menjadi penurunan kekerasan di lapangan.

Dengan sejarah konflik yang panjang dan keterlibatan berbagai kepentingan regional, jalan menuju perdamaian di timur DR Kongo kemungkinan tetap menghadapi banyak hambatan. Peta jalan yang baru disepakati menjadi langkah dalam proses tersebut, sementara pelaksanaan gencatan senjata, mekanisme verifikasi, serta kelanjutan dialog akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah perkembangan berikutnya.

Bagi masyarakat yang telah lama terdampak konflik, perkembangan paling berarti bukan hanya adanya dokumen atau jadwal perundingan, melainkan perubahan nyata dalam kondisi keamanan. Jika proses yang telah disepakati mampu mengurangi kekerasan dan membuka ruang bagi penyelesaian politik, peta jalan tersebut dapat menjadi pijakan penting bagi upaya perdamaian yang lebih berkelanjutan di timur DR Kongo.

Sumber