Atmosfer Pluto mulai menunjukkan tanda-tanda menyusut dan membeku ketika planet katai tersebut terus bergerak menjauh dari Matahari. Pengamatan terbaru menunjukkan tekanan atmosfer Pluto mulai mengalami penurunan, sementara suhu yang sangat rendah membuat gas-gas di atmosfernya berpotensi mengembun dan kembali menjadi embun beku di permukaan.
Temuan tersebut berasal dari penelitian tim yang dipimpin Amanda Sickafoose dari Planetary Science Institute. Para astronom mempelajari atmosfer Pluto melalui sejumlah peristiwa stellar occultation, yakni ketika Pluto melintas di depan bintang yang jauh sehingga perubahan cahaya bintang dapat digunakan untuk mengukur kondisi atmosfernya. :contentReference[oaicite:1]{index=1}
Atmosfer Pluto Mulai Kehilangan Tekanan
Hasil pengamatan menunjukkan atmosfer Pluto relatif stabil sejak 2015 hingga pertengahan 2021. Namun, kondisi tersebut kemudian berubah. Antara pertengahan 2021 dan pengamatan terakhir yang dilakukan tim pada 2023, tekanan atmosfer Pluto tercatat turun sekitar 16 persen.
Penurunan tekanan tersebut menjadi petunjuk bahwa proses pembekuan atmosfer yang sebelumnya diperkirakan mungkin terjadi kini mulai terlihat. Para peneliti menemukan perubahan terutama pada bagian atmosfer yang lebih rendah, sementara struktur atmosfer bagian atas relatif tetap. :contentReference[oaicite:2]{index=2}
Pluto Terus Menjauh dari Matahari
Perubahan atmosfer Pluto berkaitan erat dengan perjalanan planet katai tersebut mengelilingi Matahari. Pluto memiliki orbit yang sangat lonjong dan membutuhkan sekitar 248 tahun untuk menyelesaikan satu putaran.
Pluto mencapai titik terdekatnya dengan Matahari atau perihelion pada 1989. Sejak saat itu, Pluto terus bergerak menjauh dari Matahari dan akan mencapai titik terjauh atau aphelion pada 2114.
Pada saat mencapai aphelion, Pluto diperkirakan berada sekitar 49 satuan astronomi dari Matahari, atau sekitar 7,3 miliar kilometer. Jarak yang semakin jauh membuat Pluto menerima lebih sedikit energi Matahari sehingga suhunya perlahan semakin rendah. :contentReference[oaicite:3]{index=3}
Suhu Pluto Bisa Mencapai Minus 230 Derajat Celsius
Pluto merupakan salah satu dunia paling dingin di tata surya. Suhu permukaannya berada di sekitar minus 230 derajat Celsius, sedangkan atmosfer bagian atasnya sekitar minus 203 derajat Celsius.
Dalam kondisi sedingin itu, material yang berada dalam bentuk gas dapat mengalami perubahan fase. Atmosfer Pluto yang kaya nitrogen diperkirakan dapat mengembun dan membeku di permukaan ketika energi Matahari yang diterima semakin sedikit.
Proses tersebut membuat sebagian material atmosfer berpindah kembali ke permukaan dalam bentuk embun beku. Inilah yang menjadi salah satu mekanisme utama di balik penurunan tekanan atmosfer Pluto. :contentReference[oaicite:4]{index=4}
Atmosfer Pluto Didominasi Nitrogen
Atmosfer Pluto sangat tipis dibandingkan atmosfer Bumi. Ketika wahana NASA New Horizons melintas dekat Pluto pada Juli 2015, tekanan atmosfernya tercatat sekitar 10 mikrobar.
Atmosfer tersebut terutama terdiri atas nitrogen, dengan sejumlah kecil metana dan karbon monoksida. Pluto juga memiliki kabut yang terbentuk dari molekul-molekul organik di atmosfernya.
Tekanan yang sangat rendah membuat atmosfer Pluto jauh lebih rapuh terhadap perubahan suhu. Sedikit perubahan keseimbangan antara material yang menguap dari permukaan dan material yang mengembun kembali dapat memengaruhi tekanan atmosfer secara keseluruhan. :contentReference[oaicite:5]{index=5}
Pengamatan Dilakukan Saat Pluto Menutupi Bintang
Setelah New Horizons meninggalkan Pluto dan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Kuiper Belt, astronom tidak lagi dapat mengandalkan pengukuran langsung dari wahana yang berada dekat planet katai tersebut.
Salah satu metode yang digunakan adalah stellar occultation. Ketika Pluto melintas di depan sebuah bintang, cahaya bintang tidak langsung menghilang karena sebagian cahaya terlebih dahulu melewati atmosfer Pluto.
Gas atmosfer menyebabkan cahaya bintang mengalami pembiasan dan hamburan. Perubahan intensitas cahaya yang direkam dari Bumi kemudian dapat dianalisis untuk mengetahui struktur serta tekanan atmosfer Pluto. :contentReference[oaicite:6]{index=6}
Sepuluh Peristiwa Okultasi Diamati
Tim Sickafoose mempelajari atmosfer Pluto melalui 10 peristiwa okultasi bintang yang diamati antara 2017 dan 2023. Bintang-bintang yang digunakan dalam pengamatan tersebut sangat redup dan berada jauh di bawah batas kemampuan mata manusia untuk melihatnya tanpa alat bantu.
Pengamatan semacam ini juga membutuhkan lokasi yang tepat. Jalur bayangan Pluto ketika terjadi okultasi hanya memiliki lebar beberapa kilometer sehingga observatorium harus berada di sepanjang jalur tersebut untuk memperoleh data.
Empat dari sepuluh peristiwa yang diamati dapat dipantau dari beberapa lokasi observatorium. Data dari berbagai lokasi membantu peneliti membandingkan hasil dan meningkatkan keandalan pengukuran. :contentReference[oaicite:7]{index=7}
Data 2026 Ikut Memperlihatkan Atmosfer Pluto
Salah satu pengamatan yang ditampilkan dalam penelitian berasal dari okultasi pada 1 Juni 2026. Peristiwa tersebut diamati dari Savannah Skies Observatory di Chillagoe, Queensland, Australia.
Kurva cahaya menunjukkan penurunan intensitas cahaya bintang secara bertahap ketika cahaya melewati atmosfer Pluto. Setelah bintang keluar dari balik Pluto, cahayanya kembali secara perlahan.
Pola perubahan cahaya tersebut menjadi bukti penting bahwa atmosfer Pluto dapat dipelajari dari Bumi meskipun planet katai itu berada sangat jauh dari Matahari dan Bumi. :contentReference[oaicite:8]{index=8}
Penurunan Atmosfer Baru Terlihat Setelah 2021
Penelitian sebelumnya sempat memperkirakan atmosfer Pluto mulai membeku sejak 2018. Namun, hasil penelitian terbaru memberikan gambaran yang lebih hati-hati.
Tim Sickafoose menemukan atmosfer Pluto tetap relatif konstan sejak 2015 hingga pertengahan 2021. Penurunan tekanan baru teridentifikasi setelah periode tersebut, dengan penurunan sekitar 16 persen hingga pengamatan 2023.
Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan atmosfer Pluto tidak berlangsung secara tiba-tiba. Prosesnya berkembang secara bertahap dan membutuhkan pengamatan dalam jangka panjang untuk memastikan polanya. :contentReference[oaicite:9]{index=9}
Kabut Atmosfer Ikut Mengalami Perubahan
Selain penurunan tekanan, pengamatan menunjukkan adanya perubahan pada atmosfer bagian bawah Pluto. Para peneliti menafsirkan perubahan tersebut sebagai kemungkinan akibat partikel kabut atmosfer yang mengendap menuju lintang yang lebih rendah.
Pergerakan partikel tersebut sesuai dengan kondisi yang diperkirakan terjadi ketika tekanan atmosfer Pluto mulai turun. Dengan demikian, perubahan kabut memberikan petunjuk tambahan mengenai proses yang sedang berlangsung di atmosfer planet katai tersebut.
Atmosfer Pluto Tidak Diperkirakan Hilang Permanen
Meskipun atmosfer Pluto mulai membeku, para ilmuwan tidak memperkirakan seluruh atmosfer akan menghilang secara permanen. Pluto masih akan terus bergerak dalam orbitnya hingga mencapai titik terjauh dari Matahari pada 2114.
Setelah melewati aphelion, Pluto akan kembali bergerak mendekati Matahari. Ketika menerima lebih banyak energi Matahari, nitrogen beku di permukaan dapat mengalami sublimasi, yaitu berubah langsung dari bentuk padat menjadi gas.
Proses tersebut berpotensi membuat atmosfer Pluto kembali menebal secara perlahan. Dengan kata lain, atmosfer Pluto dapat mengalami siklus antara penebalan dan penipisan mengikuti perjalanan panjangnya mengelilingi Matahari. :contentReference[oaicite:10]{index=10}
New Horizons Tetap Penting bagi Penelitian Pluto
Misi New Horizons NASA memiliki peran penting dalam memahami atmosfer Pluto. Wahana tersebut melakukan penerbangan lintas Pluto pada Juli 2015 dan mengukur kondisi atmosfer serta mengirimkan gambar detail dunia es tersebut.
Pengukuran New Horizons menjadi titik pembanding penting bagi penelitian yang dilakukan dari Bumi. Data tersebut memungkinkan astronom melihat bagaimana kondisi atmosfer Pluto berubah setelah wahana meninggalkan planet katai tersebut.
Kini New Horizons telah melanjutkan perjalanannya menuju wilayah Kuiper Belt, sehingga pengamatan berbasis okultasi bintang menjadi salah satu cara utama untuk terus memantau Pluto. :contentReference[oaicite:11]{index=11}
Pluto Menjadi Laboratorium Alam
Perubahan atmosfer Pluto memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk memahami bagaimana atmosfer dunia es bereaksi terhadap perubahan energi Matahari.
Orbit Pluto yang sangat panjang membuat perubahan musim di planet katai tersebut berlangsung dalam skala waktu yang berbeda dari Bumi. Karena itu, pengamatan selama beberapa tahun menjadi sangat berharga untuk mengetahui pola perubahan atmosfernya.
Penelitian ini juga dapat membantu ilmuwan memahami dunia-dunia lain di kawasan luar tata surya yang memiliki atmosfer tipis dan permukaan es.
Penelitian Masih Akan Dilanjutkan
Para peneliti menilai masih diperlukan lebih banyak data untuk memastikan apakah tren penurunan tekanan atmosfer Pluto akan terus berlangsung. Pengamatan selama beberapa tahun hingga beberapa dekade ke depan akan membantu menguji kesimpulan tersebut.
Pengamatan lanjutan juga penting untuk membedakan perubahan jangka pendek dengan pola musiman yang berkaitan dengan orbit Pluto.
Hasil penelitian terbaru telah dipublikasikan pada 31 Juli 2026 dalam jurnal Planetary Science Journal. :contentReference[oaicite:12]{index=12}
Kesimpulan
Atmosfer Pluto mulai menunjukkan tanda-tanda runtuh dan membeku ketika planet katai tersebut semakin menjauh dari Matahari. Penelitian tim Amanda Sickafoose menunjukkan tekanan atmosfer Pluto turun sekitar 16 persen antara pertengahan 2021 dan pengamatan terakhir pada 2023.
Perubahan tersebut berkaitan dengan suhu Pluto yang sangat rendah dan atmosfernya yang kaya nitrogen. Ketika Pluto menerima semakin sedikit energi Matahari, sebagian nitrogen di atmosfer dapat mengembun dan kembali menjadi embun beku di permukaan.
Meski demikian, atmosfer Pluto diperkirakan tidak akan membeku seluruhnya secara permanen. Setelah mencapai titik terjauh dari Matahari pada 2114, Pluto akan kembali mendekati Matahari sehingga nitrogen beku dapat menyublim dan membuat atmosfernya menebal kembali.
Temuan ini memperlihatkan bahwa atmosfer Pluto merupakan sistem yang dinamis dan terus berubah mengikuti perjalanan panjang planet katai tersebut dalam mengelilingi Matahari. :contentReference[oaicite:13]{index=13}



