BAIC T1 Mau Dirakit Lokal, Harga Bisa Turun di Bawah Rp 350 Juta

BAIC Indonesia menyiapkan perakitan lokal BAIC T1 di Purwakarta pada akhir 2026 atau awal 2027, dengan target harga di bawah Rp350 juta.

BAIC T1 mobil listrik yang akan dirakit secara lokal di Indonesia
BAIC T1 mobil listrik yang akan dirakit secara lokal di Indonesia

Jakarta - BAIC Indonesia menyiapkan langkah baru untuk memperkuat kehadirannya di pasar kendaraan listrik Tanah Air. BAIC T1, crossover listrik yang baru diperkenalkan di Indonesia, direncanakan tidak lagi mengandalkan impor kendaraan secara utuh dari China. Model tersebut akan dirakit secara lokal di Indonesia.

Rencana perakitan lokal BAIC T1 ditargetkan berlangsung pada akhir 2026 atau paling lambat awal 2027. Proses tersebut akan dilakukan melalui fasilitas Handal Indonesia Motor di Purwakarta, Jawa Barat.

Lokalisasi produksi menjadi perhatian karena berpotensi memberikan dampak langsung terhadap harga jual. Saat ini BAIC T1 masih berstatus completely built up atau CBU dan dipasarkan di Indonesia dengan harga sekitar Rp370 jutaan on the road Jakarta. Setelah dirakit lokal, BAIC berharap harga kendaraan tersebut dapat ditekan hingga berada di bawah Rp350 juta.

Target tersebut membuat rencana perakitan lokal T1 menjadi salah satu perkembangan penting bagi BAIC sekaligus pasar mobil listrik Indonesia. Jika terealisasi, T1 akan masuk ke rentang harga yang lebih kompetitif di tengah semakin banyaknya kendaraan listrik yang ditawarkan kepada konsumen Indonesia.

BAIC T1 Akan Dirakit di Purwakarta

BAIC Indonesia memastikan tengah menyiapkan proses lokalisasi BAIC T1. Perakitan kendaraan listrik tersebut akan dilakukan di fasilitas Handal Indonesia Motor yang berada di Purwakarta, Jawa Barat.

Chief Operating Officer BAIC Indonesia Dhany Yahya menyampaikan bahwa proses perakitan lokal ditargetkan dilakukan pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027. Dengan demikian, BAIC T1 yang saat ini masih didatangkan secara utuh dari China nantinya akan memasuki tahap produksi atau perakitan di dalam negeri.

Perubahan status dari CBU menuju perakitan lokal menjadi bagian dari strategi BAIC untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Bagi produsen otomotif, keberadaan fasilitas produksi lokal dapat memberikan sejumlah keuntungan, mulai dari efisiensi logistik hingga peluang meningkatkan kandungan komponen dalam negeri.

Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa BAIC tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar penjualan kendaraan impor. Perusahaan mulai membangun basis produksi yang dapat mendukung pengembangan bisnis dalam jangka panjang.

Harga BAIC T1 Diharapkan Turun

Salah satu alasan utama konsumen menunggu versi lokal BAIC T1 adalah peluang penurunan harga. Saat ini kendaraan tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp370 jutaan on the road Jakarta.

BAIC berharap proses perakitan lokal dapat memberikan efisiensi sehingga harga jual menjadi lebih terjangkau. Manajemen perusahaan memproyeksikan T1 nantinya dapat dipasarkan di bawah Rp350 juta.

Target tersebut cukup signifikan karena akan menempatkan BAIC T1 pada salah satu rentang harga yang paling kompetitif di pasar kendaraan listrik. Penurunan harga dapat memperluas kelompok konsumen yang mampu mempertimbangkan mobil listrik sebagai kendaraan pribadi.

Namun, harga di bawah Rp350 juta masih merupakan target atau harapan perusahaan. Angka tersebut belum dapat dianggap sebagai harga resmi BAIC T1 versi lokal sebelum BAIC mengumumkan harga final setelah produksi dalam negeri berjalan.

Harga akhir nantinya dapat dipengaruhi oleh biaya produksi, tingkat kandungan lokal, kebijakan fiskal, struktur komponen, biaya distribusi, serta strategi pemasaran perusahaan.

Peran TKDN dalam Strategi BAIC

Perakitan lokal BAIC T1 tidak hanya berkaitan dengan lokasi kendaraan dirakit. Tingkat komponen dalam negeri atau TKDN juga menjadi salah satu aspek penting dalam strategi kendaraan listrik di Indonesia.

BAIC berharap lokalisasi T1 dapat membuat kendaraan tersebut memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh manfaat dari kebijakan pemerintah terkait kendaraan bermotor listrik. Salah satu keuntungan yang diharapkan perusahaan berkaitan dengan efisiensi pajak.

Manajemen BAIC menyebut skema TKDN berpotensi membuat kendaraan memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan pembebasan atau efisiensi pajak barang mewah sekitar 15 persen. Efisiensi tersebut diharapkan dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk menurunkan harga kendaraan.

Dengan demikian, penurunan harga BAIC T1 bukan semata-mata karena proses perakitan dilakukan di dalam negeri. Kebijakan fiskal yang berkaitan dengan kendaraan listrik juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi harga akhir.

Dari CBU China Menuju Produksi Lokal

Saat ini BAIC T1 yang dipasarkan di Indonesia masih didatangkan secara utuh dari China. Skema tersebut dikenal sebagai completely built up atau CBU.

Dalam skema CBU, kendaraan telah selesai diproduksi sebelum dikirim ke Indonesia. Setelah sampai di dalam negeri, kendaraan kemudian didistribusikan kepada konsumen melalui jaringan penjualan.

Skema tersebut memungkinkan produsen memperkenalkan model baru dengan lebih cepat. Namun, biaya impor dan berbagai komponen terkait distribusi dapat memengaruhi harga jual kendaraan.

Dengan beralih ke perakitan lokal, BAIC memiliki peluang untuk menciptakan struktur biaya yang lebih efisien. Selain itu, aktivitas produksi di dalam negeri dapat membuka peluang peningkatan keterlibatan pemasok lokal.

Handal Indonesia Motor Jadi Basis Perakitan

BAIC T1 akan dirakit melalui fasilitas Handal Indonesia Motor di Purwakarta. Fasilitas tersebut merupakan salah satu lokasi perakitan kendaraan yang telah digunakan oleh sejumlah merek otomotif di Indonesia.

Pemanfaatan fasilitas lokal memungkinkan BAIC mempercepat proses lokalisasi tanpa harus membangun fasilitas produksi baru dari awal. Bagi perusahaan, strategi tersebut dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dalam memasuki tahap produksi lokal.

Dalam jangka panjang, keberadaan perakitan lokal juga dapat memberikan peluang untuk memperluas aktivitas BAIC di Indonesia. Apabila permintaan terhadap kendaraan listrik meningkat, perusahaan dapat memiliki dasar untuk mempertimbangkan peningkatan kapasitas maupun perluasan model yang dirakit di dalam negeri.

BAIC T1 Mendapat Respons Positif di GIIAS 2026

BAIC T1 pertama kali mendapatkan perhatian besar dari konsumen Indonesia ketika diperkenalkan pada ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2026.

Mobil listrik tersebut berhasil mencatat 139 surat pemesanan kendaraan atau SPK selama pameran. Jumlah itu menjadi bagian dari total 407 SPK yang dikumpulkan BAIC untuk seluruh produk yang ditawarkan selama GIIAS 2026.

Capaian tersebut menjadi sinyal awal bahwa T1 memiliki potensi untuk diterima konsumen Indonesia. Produk tersebut hadir ketika minat masyarakat terhadap kendaraan listrik terus berkembang dan pilihan model semakin banyak.

Selain mendapatkan pemesanan, T1 juga menjadi salah satu kendaraan yang menarik perhatian pengunjung untuk melakukan uji kendara secara langsung.

Ratusan Pengunjung Menjajal BAIC T1

Selama GIIAS 2026, sekitar 200 hingga 300 pengunjung disebut melakukan test drive BAIC T1. Hampir separuh dari pengunjung yang mencoba kendaraan tersebut disebut melanjutkan ke tahap transaksi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap T1 tidak hanya muncul karena desain atau kehadirannya sebagai model baru. Calon konsumen juga tertarik merasakan langsung karakter berkendara kendaraan listrik tersebut.

Test drive menjadi bagian penting dalam penjualan kendaraan listrik karena karakter mobil listrik memiliki perbedaan dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal. Respons akselerasi, torsi instan, tingkat kebisingan, dan sistem pengereman regeneratif menjadi beberapa aspek yang dapat dirasakan langsung ketika kendaraan dikemudikan.

Respons positif selama GIIAS menjadi modal penting bagi BAIC untuk memperluas pasar T1 setelah pameran selesai.

Pengiriman Unit Sudah Mulai Dilakukan

BAIC juga telah mulai mengirimkan T1 kepada konsumen. Pengiriman dilakukan secara bertahap sembari perusahaan menyiapkan proses perakitan lokal.

Data Gaikindo mencatat sebanyak 16 unit BAIC T1 telah didistribusikan melalui wholesales sejak bulan sebelumnya. Distribusi tersebut menunjukkan bahwa T1 sudah mulai masuk ke tahap penggunaan oleh konsumen di Indonesia.

Dengan tetap memasok unit CBU sebelum produksi lokal dimulai, BAIC dapat menjaga ketersediaan kendaraan di pasar. Pada saat yang sama, perusahaan dapat mempersiapkan proses transisi menuju perakitan lokal.

Motor Listrik 70 kW

BAIC T1 merupakan crossover listrik yang mengandalkan motor listrik dengan tenaga 70 kW atau setara sekitar 93,8 HP. Motor tersebut menghasilkan torsi maksimum 176 Nm.

Karakter motor listrik memberikan respons torsi secara cepat. Hal tersebut menjadi salah satu karakteristik kendaraan listrik yang membuat akselerasi terasa berbeda dibandingkan kendaraan dengan mesin konvensional.

Dengan tenaga tersebut, T1 diarahkan untuk memenuhi kebutuhan mobilitas harian. Crossover listrik ini dapat digunakan untuk aktivitas perkotaan maupun perjalanan dengan jarak yang lebih jauh selama tersedia fasilitas pengisian daya yang memadai.

Menggunakan Baterai LFP 42,38 kWh

Untuk menyimpan energi, BAIC T1 menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate atau LFP dengan kapasitas 42,38 kWh.

Baterai LFP menjadi salah satu jenis baterai yang banyak digunakan pada kendaraan listrik. Teknologi ini dikenal sebagai salah satu pilihan untuk kendaraan listrik karena memiliki karakteristik yang mendukung kebutuhan penggunaan sehari-hari.

BAIC mengklaim T1 mampu menempuh jarak hingga 425 kilometer berdasarkan metode pengujian CLTC. Angka tersebut menjadi salah satu daya tarik utama kendaraan karena memberikan gambaran mengenai kemampuan jarak tempuh dalam sekali pengisian.

Meski demikian, jarak tempuh aktual di jalan raya dapat berbeda dengan angka hasil pengujian. Kondisi lalu lintas, kecepatan, temperatur, beban kendaraan, jumlah penumpang, penggunaan pendingin udara, kondisi jalan, serta gaya berkendara dapat memengaruhi konsumsi energi.

DC Fast Charging 30 hingga 80 Persen

BAIC T1 juga dilengkapi dengan teknologi DC Fast Charging. Fitur ini memungkinkan proses pengisian baterai berlangsung lebih cepat dibandingkan pengisian menggunakan sumber listrik AC biasa.

BAIC mengklaim baterai T1 dapat diisi dari kondisi 30 persen hingga 80 persen dalam waktu sekitar 30 menit menggunakan pengisian cepat DC.

Kemampuan tersebut dapat memberikan keuntungan bagi pengguna yang melakukan perjalanan jarak jauh. Pengemudi tidak perlu menghabiskan waktu terlalu lama untuk mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan.

Namun, waktu pengisian aktual tetap dapat dipengaruhi oleh kondisi baterai, temperatur, kemampuan stasiun pengisian, serta faktor teknis lainnya.

Persaingan Mobil Listrik Semakin Ramai

Rencana penurunan harga BAIC T1 hadir ketika persaingan kendaraan listrik di Indonesia semakin ketat. Berbagai produsen telah menghadirkan kendaraan listrik dengan rentang harga, ukuran, teknologi, dan karakter yang berbeda.

Konsumen Indonesia kini memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Mulai dari city car listrik, hatchback, crossover, hingga SUV listrik tersedia dengan berbagai pilihan harga.

Kondisi tersebut membuat produsen harus memiliki strategi yang lebih kuat. Harga kompetitif saja belum cukup karena konsumen juga melihat teknologi, kualitas, desain, fitur keselamatan, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, serta biaya kepemilikan.

BAIC T1 memiliki peluang untuk menarik konsumen jika harga versi lokal benar-benar dapat ditekan di bawah Rp350 juta dan diikuti dukungan layanan yang memadai.

Harga di Bawah Rp350 Juta Bisa Jadi Daya Tarik

Jika target harga di bawah Rp350 juta dapat direalisasikan, BAIC T1 berpotensi memiliki posisi yang lebih kuat di pasar kendaraan listrik.

Penurunan harga dari kisaran Rp370 jutaan ke bawah Rp350 juta akan memberikan perbedaan yang cukup berarti bagi konsumen. Selisih tersebut dapat menjadi faktor pertimbangan bagi pembeli yang memiliki batas anggaran tertentu.

Selain itu, harga yang lebih rendah dapat membuat crossover listrik lebih mudah dijangkau oleh konsumen yang sebelumnya masih menilai mobil listrik sebagai kendaraan dengan harga tinggi.

Namun, calon konsumen tetap perlu menunggu pengumuman resmi BAIC mengenai harga versi lokal. Harga final dapat berbeda dari target yang disampaikan manajemen.

Perakitan Lokal dan Ekosistem Kendaraan Listrik

Lokalisasi BAIC T1 juga memiliki arti lebih luas bagi industri otomotif Indonesia. Semakin banyak kendaraan listrik yang dirakit di dalam negeri, semakin besar peluang berkembangnya rantai pasok lokal.

Rantai pasok kendaraan listrik tidak hanya melibatkan produsen mobil. Industri komponen, logistik, manufaktur, perangkat elektronik, layanan purnajual, hingga infrastruktur pengisian daya juga memiliki peran penting.

Karena itu, perakitan lokal T1 dapat menjadi bagian dari perkembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Dampaknya akan semakin besar apabila tingkat penggunaan komponen lokal terus meningkat.

Bagi BAIC sendiri, produksi lokal dapat menjadi dasar untuk membangun bisnis yang lebih berkelanjutan di Indonesia. Perusahaan dapat lebih dekat dengan pasar dan memiliki peluang untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Tantangan BAIC Setelah Lokalisasi

Meski memiliki peluang besar, rencana perakitan lokal juga menghadirkan sejumlah tantangan. BAIC harus memastikan proses produksi berjalan sesuai standar kualitas dan mampu memenuhi permintaan pasar.

Ketersediaan unit juga menjadi faktor penting. Jika permintaan meningkat setelah harga turun, perusahaan harus memiliki kemampuan produksi yang cukup agar konsumen tidak menghadapi waktu tunggu yang terlalu panjang.

Selain itu, jaringan layanan purnajual harus berkembang seiring pertumbuhan jumlah kendaraan di jalan. Konsumen kendaraan listrik membutuhkan kepastian mengenai perawatan, suku cadang, garansi, serta dukungan teknis.

Kepercayaan konsumen menjadi faktor penting bagi BAIC karena persaingan merek di pasar otomotif Indonesia semakin kuat.

Prospek BAIC T1 di Pasar Indonesia

BAIC T1 memiliki sejumlah modal awal untuk bersaing di pasar mobil listrik Indonesia. Kendaraan ini hadir dengan desain crossover, motor listrik 70 kW, torsi 176 Nm, baterai LFP 42,38 kWh, jarak tempuh hingga 425 kilometer berdasarkan CLTC, serta kemampuan DC Fast Charging.

Respons konsumen selama GIIAS 2026 juga cukup positif dengan 139 SPK. Angka tersebut menunjukkan bahwa T1 berhasil menarik perhatian meskipun baru diperkenalkan ke pasar Indonesia.

Jika proses perakitan lokal berjalan sesuai target, BAIC akan memiliki kesempatan untuk memperkuat posisi T1 melalui kombinasi harga yang lebih kompetitif dan produksi dalam negeri.

Keberhasilan strategi tersebut akan bergantung pada kemampuan BAIC menjaga harga, kualitas kendaraan, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, serta membangun kepercayaan konsumen dalam jangka panjang.

Menunggu Harga Resmi Versi Lokal

Hal yang paling dinantikan dari rencana lokalisasi BAIC T1 adalah harga resmi setelah kendaraan dirakit di Indonesia.

Untuk saat ini, konsumen masih harus mengacu pada harga yang berlaku untuk unit CBU. Sementara itu, target di bawah Rp350 juta merupakan proyeksi yang disampaikan manajemen setelah berbagai efisiensi dan manfaat dari TKDN dapat diterapkan.

Karena proses perakitan baru ditargetkan pada akhir 2026 atau awal 2027, konsumen masih perlu menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum dapat mengetahui harga final T1 versi lokal.

Kesimpulan

BAIC Indonesia akan membawa BAIC T1 menuju tahap perakitan lokal di fasilitas Handal Indonesia Motor, Purwakarta, Jawa Barat. Proses tersebut ditargetkan berlangsung pada akhir 2026 atau paling lambat awal 2027.

Saat ini BAIC T1 masih didatangkan secara utuh dari China dengan harga sekitar Rp370 jutaan on the road Jakarta. Melalui lokalisasi produksi dan pemanfaatan kebijakan terkait TKDN, BAIC berharap harga T1 dapat ditekan hingga berada di bawah Rp350 juta.

Target tersebut belum merupakan harga resmi sehingga konsumen masih harus menunggu pengumuman perusahaan setelah proses produksi lokal berjalan. Namun, apabila target terealisasi, BAIC T1 berpotensi menjadi salah satu crossover listrik dengan harga yang semakin kompetitif di Indonesia.

Dari sisi spesifikasi, BAIC T1 mengandalkan motor listrik 70 kW dengan torsi 176 Nm dan baterai LFP 42,38 kWh. Jarak tempuhnya diklaim mencapai hingga 425 kilometer berdasarkan metode CLTC. Kendaraan ini juga mendukung DC Fast Charging yang diklaim mampu mengisi baterai dari 30 persen hingga 80 persen sekitar 30 menit.

Respons awal terhadap T1 juga cukup positif. Model tersebut mencatat 139 SPK selama GIIAS 2026, sementara pengiriman unit kepada konsumen mulai dilakukan secara bertahap.

Dengan rencana perakitan lokal, target harga di bawah Rp350 juta, dan spesifikasi yang ditawarkan, BAIC T1 memiliki peluang untuk memperluas pasar kendaraan listrik di Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan kualitas produksi, ketersediaan unit, layanan purnajual, suku cadang, serta pengalaman kepemilikan mampu mengikuti pertumbuhan penjualan.

Sumber