Sudah Dipakai Jetour, Kenapa Mobil Listrik BAIC Dinamain T1?

BAIC T1 menjadi mobil listrik pertama BAIC di Indonesia. Nama T1 juga digunakan Jetour, namun BAIC menyebut penamaannya terkait nomenklatur model dan hak merek.

BAIC T1 mobil listrik yang memiliki nama serupa dengan Jetour T1
BAIC T1 mobil listrik yang memiliki nama serupa dengan Jetour T1

Jakarta - BAIC T1 menjadi salah satu pendatang baru di pasar mobil listrik Indonesia. Kendaraan listrik bergaya crossover tersebut menarik perhatian bukan hanya karena menjadi mobil listrik pertama BAIC yang dipasarkan di Tanah Air, tetapi juga karena nama yang digunakannya ternyata sama dengan salah satu model Jetour, yakni T1.

Jetour T1 sendiri sudah lebih dahulu meluncur dan dipasarkan. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan konsumen otomotif mengenai alasan BAIC tetap menggunakan nama T1 untuk produk listriknya.

BAIC Indonesia memberikan penjelasan mengenai persoalan tersebut. Menurut perusahaan, penggunaan kombinasi huruf dan angka sebagai nama model tidak secara otomatis menjadi hak eksklusif sebuah merek. Hak merek dan penamaan model memiliki konteks yang berbeda.

BAIC T1 dan Jetour T1 Sama-Sama Dipasarkan di Indonesia

BAIC T1 diperkenalkan sebagai mobil listrik pertama BAIC di pasar Indonesia. Kendaraan ini meluncur dalam rangkaian Gaikindo Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2026.

Menariknya, pada tahun yang sama konsumen Indonesia juga sudah mengenal Jetour T1. Jetour lebih dahulu menggunakan nama T1 untuk produk SUV mereka, sehingga kemunculan BAIC T1 membuat nama tersebut menjadi perhatian.

Secara waktu, Jetour T1 meluncur lebih awal, yakni pada Oktober 2024. Sementara BAIC T1 menggunakan nama tersebut untuk pasar Indonesia setelah kendaraan diperkenalkan secara global dan kemudian dibawa ke Indonesia.

Meski sama-sama memiliki nomenklatur T1, kedua kendaraan tersebut berasal dari merek yang berbeda dan memiliki karakter produk yang berbeda pula.

BAIC T1 Menggunakan Nama Arcfox T1 di China

Di negara asalnya, kendaraan yang dipasarkan BAIC sebagai T1 tersebut dikenal dengan nama Arcfox T1. Mobil tersebut merupakan produk bergaya crossover yang pertama kali meluncur di China pada September 2025.

Arcfox sendiri merupakan merek kendaraan yang berada dalam kelompok BAIC. Penggunaan nama berbeda di pasar Indonesia menjadi bagian dari strategi penamaan produk ketika kendaraan tersebut dipasarkan di luar negara asalnya.

BAIC kemudian membawa model tersebut ke Indonesia dengan nama BAIC T1. Perubahan identitas tersebut membuat produk lebih mudah dikaitkan secara langsung dengan merek BAIC di pasar lokal.

Kendaraan ini juga mendapatkan penyegaran minor beberapa bulan setelah debutnya di China sebelum kemudian masuk ke pasar Indonesia.

BAIC Sebut Tidak Ada Masalah dengan Nama T1

Chief Operating Officer BAIC Indonesia, Dhany Yahya, menjelaskan bahwa penggunaan nama T1 tidak menjadi persoalan bagi BAIC. Menurutnya, hak yang berkaitan dengan merek berbeda dengan nomenklatur yang digunakan untuk sebuah model kendaraan.

Penjelasan tersebut menjadi dasar mengapa BAIC dapat menggunakan kombinasi huruf dan angka T1 meskipun Jetour juga memiliki kendaraan dengan nama yang sama.

Dalam konteks industri otomotif, kombinasi huruf dan angka memang banyak digunakan oleh berbagai produsen. Nama model sering kali terdiri dari huruf, angka, atau perpaduan keduanya.

Karena itu, menurut BAIC, sebuah kombinasi angka dan huruf tidak serta-merta dapat dianggap sebagai identitas eksklusif satu produsen apabila tidak memiliki perlindungan merek yang relevan.

Penamaan Model Berbeda dengan Hak Merek

Perbedaan antara merek dan model menjadi bagian penting untuk memahami mengapa dua kendaraan dari produsen berbeda dapat memiliki nomenklatur serupa.

Merek berfungsi sebagai identitas perusahaan atau brand yang membedakan produk dari produsen lain. Sementara model merupakan nama atau kode yang digunakan untuk membedakan satu kendaraan dari kendaraan lainnya di dalam portofolio sebuah merek.

Dalam industri otomotif, penggunaan kombinasi huruf dan angka merupakan hal yang umum. Produsen seperti BMW dan Audi, misalnya, juga menggunakan kombinasi angka dan huruf untuk memberikan identitas kepada model mereka.

Dengan demikian, BAIC menilai penggunaan nama T1 tidak otomatis menimbulkan persoalan hanya karena Jetour sudah memiliki model dengan nomenklatur yang sama.

Kenapa Banyak Mobil Menggunakan Huruf dan Angka?

Nomenklatur berbasis huruf dan angka memiliki beberapa keuntungan bagi produsen otomotif. Sistem tersebut dapat membuat penamaan produk lebih ringkas dan memudahkan perusahaan mengembangkan struktur model.

Angka dapat digunakan untuk menunjukkan posisi produk dalam suatu lini, sementara huruf dapat menjadi penanda jenis kendaraan atau keluarga produk. Namun, tidak semua produsen menerapkan aturan yang sama.

Karena tidak ada satu sistem global yang mengatur penggunaan seluruh kombinasi huruf dan angka sebagai nama model, setiap produsen memiliki strategi nomenklatur masing-masing selama tidak bertentangan dengan perlindungan merek yang berlaku.

Hal tersebut membuat kemiripan nama model dapat ditemukan di berbagai pasar otomotif.

BAIC T1 Bukan Jetour T1

Meski sama-sama menyandang nama T1, konsumen perlu memahami bahwa BAIC T1 dan Jetour T1 merupakan dua produk berbeda. Keduanya berasal dari merek yang berbeda dan dikembangkan dengan konsep kendaraan yang berbeda.

BAIC T1 merupakan kendaraan listrik murni. Mobil ini menggunakan motor listrik dan baterai sebagai sumber tenaga utama sehingga tidak memiliki mesin pembakaran internal seperti kendaraan konvensional.

Sementara itu, Jetour memiliki konfigurasi dan strategi produk tersendiri. Kesamaan nomenklatur tidak berarti kedua kendaraan memiliki hubungan produk atau merupakan model yang sama.

Perbedaan tersebut menjadi penting bagi konsumen ketika mencari informasi mengenai harga, spesifikasi, fitur, performa, hingga teknologi yang digunakan.

BAIC T1 Hadir sebagai Mobil Listrik

BAIC T1 menjadi langkah penting bagi BAIC Indonesia untuk memasuki segmen kendaraan listrik. Produk ini membawa format crossover yang ditujukan untuk konsumen yang menginginkan kendaraan kompak dengan sistem penggerak listrik.

Kendaraan tersebut dibanderol sekitar Rp370 jutaan dengan status on the road Jakarta ketika diperkenalkan di Indonesia. Harga tersebut menempatkan BAIC T1 pada segmen mobil listrik yang semakin ramai di pasar domestik.

Persaingan di kelas tersebut cukup ketat karena semakin banyak merek menawarkan kendaraan listrik dengan harga yang mulai mendekati mobil bermesin konvensional.

BAIC harus menghadapi konsumen yang semakin memiliki banyak pilihan. Karena itu, selain nama model, spesifikasi, harga, jaringan layanan, serta strategi produksi lokal menjadi faktor yang dapat menentukan daya saing kendaraan tersebut.

Motor Listrik BAIC T1 Bertenaga 70 kW

BAIC T1 dibekali motor listrik dengan tenaga maksimum 70 kW. Jika dikonversikan, angka tersebut setara dengan sekitar 93,8 daya kuda atau horsepower.

Motor listrik tersebut menghasilkan torsi maksimum 176 Nm. Karakter tenaga dan torsi motor listrik memberikan respons yang berbeda dibandingkan kendaraan dengan mesin pembakaran internal.

Torsi yang tersedia sejak awal menjadi salah satu karakteristik kendaraan listrik. Hal ini memungkinkan mobil memberikan respons akselerasi yang cepat ketika pedal akselerator diinjak.

BAIC T1 dirancang untuk kebutuhan mobilitas harian di perkotaan sekaligus perjalanan dengan jarak yang lebih jauh sesuai kemampuan baterainya.

Menggunakan Baterai LFP

Salah satu komponen terpenting pada BAIC T1 adalah baterainya. Mobil listrik tersebut menggunakan baterai berjenis Lithium Iron Phosphate atau LFP.

Baterai LFP banyak digunakan pada kendaraan listrik karena memiliki karakteristik tertentu yang membuatnya menarik untuk aplikasi otomotif. Teknologi tersebut dikenal memiliki stabilitas termal yang baik serta karakteristik siklus penggunaan yang sesuai untuk kendaraan listrik.

BAIC T1 menggunakan baterai dengan kapasitas sekitar 42,3 kWh. Kapasitas tersebut menjadi salah satu faktor yang menentukan jarak tempuh kendaraan dalam sekali pengisian.

Menurut klaim pabrikan berdasarkan pengujian CLTC, BAIC T1 mampu menempuh jarak hingga sekitar 425 kilometer dalam sekali pengisian daya.

Jarak Tempuh Mencapai 425 Kilometer

Angka jarak tempuh hingga 425 kilometer menjadi salah satu daya tarik BAIC T1. Kemampuan tersebut membuat kendaraan cukup menarik untuk digunakan sebagai mobil harian maupun perjalanan dengan jarak yang lebih panjang.

Namun, konsumen perlu memahami bahwa angka CLTC merupakan hasil pengujian dengan standar tertentu. Jarak tempuh yang diperoleh dalam penggunaan sehari-hari dapat berbeda tergantung kondisi lalu lintas, kecepatan, gaya mengemudi, penggunaan AC, beban kendaraan, kondisi jalan, dan faktor lingkungan.

Karena itu, angka resmi pengujian sebaiknya digunakan sebagai acuan perbandingan, bukan sebagai jaminan bahwa mobil selalu dapat mencapai jarak tersebut dalam semua kondisi.

Sudah Mendukung DC Fast Charging

Selain kapasitas baterai, kemampuan pengisian daya menjadi pertimbangan penting ketika membeli kendaraan listrik. BAIC T1 telah mendukung teknologi DC Fast Charging.

Dengan pengisian cepat menggunakan arus DC, baterai BAIC T1 diklaim dapat diisi dari kondisi 30 persen hingga 80 persen dalam waktu sekitar 30 menit.

Fitur tersebut dapat membantu pengguna yang membutuhkan pengisian daya dalam waktu relatif singkat. Terutama bagi pengguna yang melakukan perjalanan jauh dan perlu mengisi baterai sebelum melanjutkan perjalanan.

Meski demikian, kecepatan pengisian aktual dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kemampuan charger, kondisi baterai, temperatur baterai, serta kapasitas daya yang tersedia pada stasiun pengisian.

GIIAS 2026 Jadi Panggung Perkenalan

BAIC T1 resmi diperkenalkan di Indonesia melalui GIIAS 2026. Ajang tersebut menjadi salah satu pameran otomotif terbesar di Indonesia dan menjadi tempat bagi banyak produsen memperkenalkan produk baru mereka.

Kehadiran BAIC T1 menunjukkan keseriusan BAIC dalam memasuki pasar kendaraan listrik Indonesia. Produk tersebut sekaligus memperluas pilihan konsumen di tengah semakin banyaknya merek China yang menghadirkan mobil listrik di Tanah Air.

Respons konsumen terhadap produk baru menjadi salah satu indikator penting bagi perusahaan. BAIC juga mencatat aktivitas pemesanan di GIIAS 2026 yang menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat posisinya di pasar Indonesia.

Pasar Mobil Listrik Indonesia Semakin Kompetitif

Masuknya BAIC T1 terjadi ketika pasar mobil listrik Indonesia mengalami peningkatan persaingan. Berbagai merek menawarkan produk dengan rentang harga, ukuran, teknologi, dan fitur yang semakin beragam.

Kondisi tersebut memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen. Namun, di sisi lain, produsen harus bekerja lebih keras untuk membangun keunggulan produk.

Harga menjadi faktor penting, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan. Konsumen juga memperhatikan jarak tempuh, kecepatan pengisian baterai, keamanan, fitur, kenyamanan, kualitas layanan, ketersediaan suku cadang, serta nilai jual kembali.

BAIC T1 harus bersaing melalui kombinasi seluruh aspek tersebut untuk menarik konsumen di segmen mobil listrik.

Nama T1 Bukan Satu-Satunya Faktor Persaingan

Perdebatan mengenai nama T1 memang menarik perhatian, tetapi bagi konsumen keputusan membeli mobil pada akhirnya akan lebih banyak dipengaruhi oleh kemampuan kendaraan dan layanan yang ditawarkan.

BAIC memiliki pekerjaan penting untuk membangun pemahaman bahwa T1 merupakan bagian dari lini produk BAIC dan bukan produk Jetour. Edukasi konsumen mengenai perbedaan kedua kendaraan juga dapat membantu menghindari kebingungan di pasar.

Dengan semakin banyaknya produsen yang menggunakan kombinasi huruf dan angka, konsumen memang perlu melihat merek secara keseluruhan, bukan hanya nomenklatur model.

Strategi BAIC di Pasar Indonesia

Peluncuran BAIC T1 juga menjadi bagian dari strategi BAIC untuk memperluas portofolio kendaraan di Indonesia. Sebelumnya, BAIC lebih dikenal melalui produk kendaraan berbahan bakar konvensional.

Masuk ke kendaraan listrik menunjukkan bahwa perusahaan ingin mengikuti perubahan tren industri otomotif global dan kebutuhan pasar domestik.

Jika penerimaan pasar terhadap T1 positif, produk tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi BAIC untuk menghadirkan lebih banyak kendaraan listrik pada masa mendatang.

Apalagi pemerintah Indonesia terus mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Kondisi tersebut menciptakan peluang bagi produsen yang mampu menghadirkan produk kompetitif sekaligus membangun jaringan layanan yang kuat.

Potensi Produksi Lokal

Selain memperkenalkan produk listrik, BAIC juga memiliki rencana memperkuat aktivitas manufaktur di Indonesia. Produksi atau perakitan lokal dapat menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan harga kendaraan di masa mendatang.

Jika tingkat kandungan lokal dan skala produksi meningkat, biaya produksi berpotensi menjadi lebih efisien. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi produsen untuk menawarkan harga yang semakin kompetitif.

Bagi konsumen, produksi lokal juga dapat memberikan manfaat dari sisi ketersediaan kendaraan dan kemungkinan pengembangan jaringan pemasok di dalam negeri.

Langkah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa persaingan kendaraan listrik tidak hanya berkaitan dengan teknologi produk, tetapi juga kemampuan produsen membangun basis industri di negara tempat kendaraan dipasarkan.

Kesimpulan

BAIC T1 memang memiliki nama yang sama dengan Jetour T1, tetapi BAIC Indonesia menyatakan tidak ada persoalan terkait penggunaan nomenklatur tersebut. Menurut penjelasan perusahaan, hak merek dan nama model merupakan dua hal berbeda.

BAIC T1 sendiri dikenal sebagai Arcfox T1 di China dan pertama kali meluncur di negara tersebut pada September 2025. Setelah itu, kendaraan bergaya crossover tersebut dibawa ke Indonesia sebagai BAIC T1 dan menjadi mobil listrik pertama BAIC yang dipasarkan di Tanah Air.

Mobil listrik tersebut menggunakan motor bertenaga 70 kW atau sekitar 93,8 hp dengan torsi 176 Nm. Baterainya menggunakan teknologi LFP berkapasitas sekitar 42,3 kWh dan diklaim mampu menempuh hingga 425 kilometer berdasarkan standar CLTC.

BAIC T1 juga mendukung DC Fast Charging yang memungkinkan pengisian baterai dari 30 persen hingga 80 persen dalam waktu sekitar 30 menit. Ketika diperkenalkan di Indonesia, kendaraan tersebut ditawarkan dengan harga sekitar Rp370 jutaan on the road Jakarta.

Di tengah persaingan mobil listrik yang semakin ketat, keberhasilan BAIC T1 pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh namanya. Harga, spesifikasi, jarak tempuh, teknologi pengisian, layanan purnajual, jaringan dealer, serta strategi produksi lokal akan menjadi faktor penting yang menentukan daya tarik kendaraan tersebut di mata konsumen Indonesia.

Sumber