BRI dan Danantara Perkuat Ekonomi Kerakyatan, Dorong UMKM Naik Kelas hingga Pelosok

BRI dan Danantara memperkuat peran UMKM dalam ekonomi kerakyatan melalui pembiayaan, pendampingan, digitalisasi, dan pengembangan usaha hingga berbagai daerah.

Ilustrasi pemberdayaan UMKM dan layanan BRI untuk mendukung ekonomi kerakyatan
Ilustrasi pemberdayaan UMKM dan layanan BRI untuk mendukung ekonomi kerakyatan

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI bersama Danantara terus menempatkan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai bagian penting dalam penguatan ekonomi kerakyatan. Fokus tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyaluran pembiayaan, tetapi juga mencakup pendampingan, perluasan akses layanan keuangan, pengembangan kapasitas usaha, hingga pemanfaatan teknologi agar pelaku UMKM memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.

Peran tersebut menjadi penting karena UMKM beroperasi langsung di tengah masyarakat dan memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas ekonomi lokal. Ketika akses modal, pasar, pengetahuan usaha, dan layanan keuangan dapat diperluas, pelaku usaha memiliki lebih banyak ruang untuk meningkatkan kapasitas bisnisnya secara bertahap.

BRI dan Danantara Dorong Ekonomi Berbasis Masyarakat

Penguatan ekonomi kerakyatan menjadi salah satu perhatian BRI dalam menjalankan fungsi intermediasi sekaligus pemberdayaan. Di bawah supervisi Danantara, BRI terus mendorong transformasi bisnis dengan tetap mempertahankan perhatian terhadap sektor mikro dan UMKM.

Dalam praktiknya, pendekatan pemberdayaan tidak berhenti pada hubungan antara bank dan debitur. BRI mengembangkan berbagai program yang dirancang untuk membantu pelaku usaha memperoleh pengetahuan, memperkuat kapasitas produksi, memperluas pasar, serta meningkatkan kemampuan mengelola keuangan.

Model tersebut juga terlihat dalam pengembangan Klasterku Hidupku. Program ini mempertemukan kelompok usaha berdasarkan kesamaan sektor produksi, karakteristik wilayah, dan kedekatan sosial sehingga pelaku usaha dapat membangun ekosistem yang lebih kuat. Hingga akhir 2025, BRI mencatat telah membina 42.682 klaster usaha dan menyelenggarakan ribuan kegiatan pemberdayaan yang mencakup pelatihan serta dukungan sarana dan prasarana produksi.

Pendampingan Menjadi Bagian Penting

Penguatan UMKM tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menyediakan pembiayaan. Banyak usaha kecil juga membutuhkan pendampingan untuk mengelola arus kas, meningkatkan produktivitas, memahami kebutuhan pasar, dan menentukan strategi pengembangan usaha.

Karena itu, keberadaan tenaga pemasar mikro atau Mantri BRI menjadi bagian dari pendekatan tersebut. BRI menggambarkan Mantri sebagai tenaga yang tidak hanya menawarkan layanan pembiayaan, tetapi juga hadir untuk mendampingi dan memberikan edukasi kepada pelaku usaha di berbagai wilayah.

Kehadiran petugas di lapangan menjadi relevan bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat perkotaan. Akses geografis yang sulit, keterbatasan infrastruktur, dan kondisi komunikasi di sejumlah daerah dapat menjadi tantangan tersendiri bagi layanan keuangan. Pendekatan langsung memungkinkan kebutuhan masyarakat dipahami lebih dekat sekaligus membantu memperluas inklusi keuangan.

BRI juga menjalankan berbagai program pemberdayaan lain, termasuk Desa BRILiaN, Rumah BUMN, dan LinkUMKM. Program-program tersebut memiliki pendekatan berbeda, tetapi berada dalam tujuan yang sama, yakni memperkuat kapasitas pelaku usaha dan ekosistem ekonomi di tingkat lokal.

Pembiayaan dan Digitalisasi Berjalan Bersamaan

Selain pendampingan konvensional, digitalisasi menjadi bagian yang semakin penting dalam pengembangan UMKM. Teknologi dapat membantu pelaku usaha menerima pembayaran, mencatat transaksi, mengakses layanan perbankan, dan memperluas jangkauan pasar.

BRI mencatat perkembangan ekosistem merchant dan QRIS sebagai salah satu bagian dari transformasi digitalnya. Hingga Triwulan I 2026, jumlah merchant BRI mencapai 323,7 ribu, sedangkan volume transaksi merchant tumbuh 26,5 persen secara tahunan menjadi Rp67,9 triliun. Pada periode yang sama, volume transaksi QRIS mencapai Rp30,5 triliun dengan jumlah transaksi meningkat 86,7 persen secara tahunan.

Bagi UMKM, perkembangan sistem pembayaran digital dapat menjadi salah satu instrumen untuk membuat transaksi lebih praktis sekaligus memperluas pilihan pembayaran bagi pelanggan. Namun, digitalisasi juga perlu berjalan bersama peningkatan literasi agar teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi usaha.

KUR Tetap Menjadi Instrumen Pembiayaan Produktif

Aspek lain dalam penguatan ekonomi kerakyatan adalah akses terhadap pembiayaan. BRI terus menyalurkan Kredit Usaha Rakyat atau KUR untuk mendukung pelaku usaha produktif yang membutuhkan modal kerja maupun investasi.

Hingga April 2026, BRI melaporkan penyaluran KUR sebesar Rp65,95 triliun kepada sekitar 1,3 juta debitur di seluruh Indonesia. Sebagian besar pembiayaan tersebut diarahkan ke sektor produksi seperti pertanian, perikanan, dan industri pengolahan.

Penyaluran pembiayaan produktif memiliki arti penting karena modal dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas usaha, membeli kebutuhan produksi, memperluas kegiatan bisnis, atau menjaga keberlangsungan usaha. Namun, keberhasilan pembiayaan tetap bergantung pada kemampuan usaha dalam mengelola modal dan menghasilkan pendapatan yang sehat.

UMKM Naik Kelas Membutuhkan Ekosistem

Konsep UMKM naik kelas pada akhirnya tidak cukup diukur dari bertambahnya jumlah pembiayaan. Pertumbuhan usaha juga berkaitan dengan kemampuan meningkatkan kualitas produk, memperluas pasar, mengelola keuangan, memanfaatkan teknologi, serta membangun jaringan bisnis.

Karena itu, pengembangan klaster usaha dan berbagai program pemberdayaan menjadi penting. BRI menyebut pendekatan berbasis komunitas dapat menciptakan ruang bagi pelaku usaha untuk saling terhubung dan memperkuat rantai nilai di tingkat lokal.

Contoh lain terlihat pada program pendampingan UMKM yang membantu pelaku usaha memperluas akses pasar. BRI juga melaporkan sejumlah UMKM binaan yang berkembang dari usaha berbasis keluarga atau komunitas hingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Pola tersebut menunjukkan bahwa akses pembiayaan dapat memberikan hasil lebih optimal ketika disertai peningkatan kapasitas dan pendampingan.

Peran Danantara dalam Penguatan Nilai Ekonomi

Keterlibatan Danantara menempatkan agenda pemberdayaan tersebut dalam konteks yang lebih luas. BRI merupakan salah satu perusahaan yang berada dalam ekosistem pengelolaan aset negara melalui Danantara. Dalam konteks tersebut, kinerja perusahaan tidak hanya dilihat dari aspek bisnis, tetapi juga dari kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

BRI sebelumnya menyampaikan bahwa kehadiran Danantara menjadi momentum untuk memperkuat transformasi dan mendukung program strategis nasional. Salah satu area yang tetap ditekankan adalah pemberdayaan UMKM dan penguatan ekonomi kerakyatan.

Pendekatan ini menempatkan sektor usaha rakyat sebagai bagian dari rantai pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar penerima pembiayaan. Ketika UMKM mampu meningkatkan skala usaha, membuka lapangan kerja, dan memperluas pasar, dampaknya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di sekitarnya.

Menjangkau Pelosok Menjadi Tantangan Sekaligus Peluang

Memperluas layanan hingga pelosok Indonesia bukan pekerjaan sederhana. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau membuat akses terhadap layanan keuangan memiliki tantangan tersendiri. Karena itu, kombinasi antara jaringan layanan fisik, tenaga lapangan, dan teknologi digital menjadi penting.

Penguatan jaringan tersebut dapat membantu masyarakat di daerah memperoleh akses yang lebih dekat terhadap layanan perbankan. Pada saat yang sama, digitalisasi memungkinkan transaksi dan layanan tertentu dilakukan tanpa harus selalu datang ke kantor bank.

Bagi UMKM, kombinasi akses tersebut dapat membuka peluang untuk berkembang secara lebih terstruktur. Pembiayaan memberikan modal, pendampingan meningkatkan kemampuan, sedangkan teknologi membantu efisiensi dan perluasan pasar.

Fokus pada Pertumbuhan yang Berkelanjutan

Penguatan ekonomi kerakyatan membutuhkan proses jangka panjang. UMKM tidak selalu dapat berkembang hanya melalui satu program atau satu kali pembiayaan. Dibutuhkan kesinambungan antara akses modal, peningkatan kapasitas, literasi keuangan, pemasaran, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

BRI dan Danantara kini menempatkan agenda tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kontribusi ekonomi perusahaan kepada masyarakat. Bagi pelaku UMKM, tantangan berikutnya adalah memanfaatkan akses yang tersedia untuk membangun usaha yang sehat, produktif, dan mampu bertahan menghadapi perubahan pasar.

Dengan demikian, upaya mendorong UMKM naik kelas bukan sekadar soal memperbesar angka pembiayaan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana akses keuangan dan pemberdayaan dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas usaha serta manfaat ekonomi yang lebih luas. Di titik inilah penguatan ekonomi kerakyatan dapat memiliki dampak nyata, termasuk bagi pelaku usaha yang berada jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi.

Sumber