Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi tuan rumah Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 Tahun 2026 yang salah satu agendanya memberikan ruang bagi peneliti dan praktisi untuk mempresentasikan gagasan melalui Call for Papers. Dari rangkaian seleksi tersebut, sebanyak 77 makalah diterima dan 16 makalah terbaik dinyatakan lolos untuk dipresentasikan dalam konferensi.
KPDI ke-17 menjadi forum yang mempertemukan kalangan akademisi, peneliti, pustakawan, pengelola perpustakaan, praktisi teknologi informasi, mahasiswa, serta pihak lain yang memiliki perhatian terhadap perkembangan perpustakaan digital dan literasi informasi. Penyelenggaraannya juga menjadi relevan karena perubahan teknologi, terutama kecerdasan buatan atau AI, semakin memengaruhi cara masyarakat mencari, mengolah, dan menggunakan informasi.
77 Makalah Masuk, 16 Karya Terbaik Lolos Seleksi
Call for Papers menjadi salah satu bagian penting dalam KPDI ke-17. Dari 77 makalah yang diterima, panitia memilih 16 makalah terbaik untuk dipresentasikan dalam konferensi. Seleksi tersebut menunjukkan bahwa forum KPDI tidak hanya diarahkan sebagai pertemuan atau diskusi, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan akademik dan praktik di bidang perpustakaan digital.
Makalah yang terpilih nantinya direkomendasikan untuk publikasi pada Prosiding KPDI maupun Record and Library Journal yang disebut terindeks Scopus Q4. Karya peserta lainnya juga akan difasilitasi menuju publikasi pada sejumlah jurnal nasional bereputasi. Dengan demikian, Call for Papers memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar menentukan materi presentasi karena karya ilmiah peserta juga mendapat peluang untuk diteruskan ke jalur publikasi.
Perpustakaan Digital di Tengah Perubahan Era AI
KPDI ke-17 mengangkat tema Kesadaran, Perilaku, Interaksi dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan. Tema tersebut menempatkan perubahan teknologi sebagai bagian penting dari pembahasan mengenai masa depan perpustakaan dan ekosistem informasi.
Dalam laman resmi KPDI, Call for Papers diarahkan pada sejumlah isu, antara lain penerapan teknologi informasi berbasis AI di perpustakaan, interaksi manusia dan AI dalam pencarian serta pemanfaatan informasi, dan dampak teknologi informasi terhadap struktur sosial serta pembelajaran masyarakat. Fokus tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan tidak berhenti pada teknologi sebagai perangkat, tetapi juga menyentuh hubungan antara teknologi, manusia, dan perilaku informasi.
Perkembangan AI membuat kemampuan masyarakat dalam memilah informasi menjadi semakin penting. Teknologi dapat membantu proses pencarian dan pengolahan informasi, tetapi pengguna tetap membutuhkan kemampuan untuk memahami konteks, menilai kualitas informasi, dan menggunakan hasil teknologi secara bertanggung jawab. Karena itu, penelitian dan praktik yang membahas perubahan perilaku informasi memiliki ruang penting dalam perkembangan perpustakaan digital.
UMY Menjadi Tuan Rumah KPDI ke-17
UMY dipercaya menjadi tuan rumah KPDI ke-17 Tahun 2026. Penyelenggaraan tersebut merupakan hasil keputusan forum sebelumnya yang menetapkan Yogyakarta sebagai lokasi konferensi. Perpustakaan UMY sebelumnya juga mencatat bahwa proses pemilihan tuan rumah dilakukan melalui pemungutan suara dalam KPDI ke-15.
KPDI ke-17 diselenggarakan pada 4 sampai 6 Agustus 2026 di University Hotel UMY, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan kerja sama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Forum Perpustakaan Digital Indonesia, dan UMY.
Keberadaan UMY sebagai tuan rumah memberikan konteks penting bagi penyelenggaraan Call for Papers karena perguruan tinggi menjadi salah satu ruang utama untuk pengembangan riset, pertukaran pengetahuan, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Melalui konferensi, hasil penelitian dan pengalaman praktis dapat dipertemukan dalam satu forum yang berfokus pada perkembangan perpustakaan digital.
Agenda Ilmiah Tidak Hanya Berhenti pada Presentasi
Selain Call for Papers, KPDI ke-17 memiliki sejumlah agenda akademik dan profesional. Rangkaian kegiatan mencakup seminar nasional dan internasional, workshop, klinik aplikasi perpustakaan, Call for Posters, serta kegiatan lain yang berkaitan dengan pengembangan perpustakaan dan literasi informasi.
Dalam agenda Call for Posters, panitia menerima 29 karya. Dari jumlah tersebut, 10 poster terbaik dipilih untuk dipamerkan selama konferensi, sementara tiga poster terbaik ditetapkan sebagai penerima penghargaan. Sementara itu, Lomba Website Perpustakaan diikuti 33 perpustakaan, dengan tiga karya terbaik memperoleh apresiasi.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa KPDI ke-17 dirancang dengan berbagai bentuk partisipasi. Peneliti dapat membawa hasil kajian melalui makalah, peserta lain dapat menyampaikan gagasan dalam bentuk poster, sedangkan institusi perpustakaan dapat menunjukkan inovasi melalui pengembangan situs web.
Ruang Berbagi bagi Akademisi dan Praktisi
Peserta KPDI ke-17 berasal dari berbagai kelompok yang berkaitan dengan pengembangan informasi dan perpustakaan. Forum ini terbuka bagi pembuat kebijakan, akademisi, peneliti, pustakawan, pengelola perpustakaan, praktisi teknologi informasi, mahasiswa, komunitas, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perpustakaan digital dan literasi informasi.
Keberagaman peserta membuat Call for Papers memiliki posisi penting dalam mempertemukan perspektif yang berbeda. Penelitian akademik dapat menjadi bahan diskusi bagi praktisi, sementara pengalaman pengelola perpustakaan dapat memberikan gambaran mengenai tantangan penerapan teknologi di lapangan.
Pertukaran semacam itu semakin relevan ketika perpustakaan menghadapi perubahan cara masyarakat berinteraksi dengan informasi. Perpustakaan digital tidak hanya berkaitan dengan penyediaan koleksi dalam bentuk elektronik, tetapi juga dengan bagaimana pengguna memperoleh akses, menemukan informasi yang sesuai, memahami sumber, dan menggunakan informasi secara tepat.
Publikasi Ilmiah Menjadi Bagian Strategis
Terpilihnya 16 makalah terbaik juga memperlihatkan pentingnya publikasi ilmiah dalam penyelenggaraan KPDI. Makalah yang lolos seleksi tidak hanya diposisikan sebagai bahan presentasi, tetapi juga direkomendasikan untuk peluang publikasi lebih lanjut.
Bagi peneliti dan akademisi, kesempatan tersebut dapat menjadi bagian dari proses penyebarluasan hasil penelitian. Publikasi memungkinkan gagasan yang dibahas dalam konferensi menjangkau pembaca yang lebih luas dan menjadi bahan rujukan untuk penelitian atau pengembangan berikutnya.
Di sisi lain, adanya seleksi terhadap 77 makalah menunjukkan bahwa forum ilmiah membutuhkan proses kurasi. Pemilihan 16 karya terbaik memberikan ruang bagi karya yang dinilai memenuhi kriteria seleksi untuk memperoleh kesempatan presentasi dalam konferensi.
Makna KPDI bagi Perkembangan Perpustakaan Digital
KPDI ke-17 hadir ketika perkembangan AI mendorong perubahan besar dalam ekosistem informasi. Perpustakaan perlu terus memahami perubahan tersebut agar layanan informasi tetap sesuai dengan kebutuhan pengguna dan perkembangan teknologi.
Melalui Call for Papers, berbagai gagasan mengenai AI, pencarian informasi, interaksi manusia dan teknologi, serta perubahan perilaku masyarakat dapat dibahas dalam lingkungan akademik dan profesional. Kehadiran 16 makalah terbaik menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.
Pada akhirnya, nilai sebuah konferensi tidak hanya ditentukan oleh jumlah peserta atau karya yang masuk, tetapi juga oleh kualitas gagasan yang dapat dipertukarkan dan dikembangkan setelah kegiatan berlangsung. Dalam konteks KPDI ke-17, publikasi makalah, presentasi, poster, workshop, dan berbagai agenda pendukung menjadi sarana untuk memperkuat diskusi mengenai masa depan perpustakaan digital Indonesia di tengah perkembangan kecerdasan buatan.



