Duduk Tegak Ternyata Bisa Membuat Seseorang Lebih Berani Mengambil Risiko

Sejumlah penelitian mengaitkan postur tubuh tegak dengan rasa berkuasa dan toleransi terhadap risiko, meski penelitian lanjutan menunjukkan hasil yang beragam.

Seseorang duduk tegak dengan posisi tubuh terbuka saat melakukan aktivitas di meja
Seseorang duduk tegak dengan posisi tubuh terbuka saat melakukan aktivitas di meja

Selama ini, duduk tegak lebih sering dikaitkan dengan sopan santun, kenyamanan, atau kebiasaan menjaga postur tubuh. Namun, penelitian dalam bidang psikologi pernah menemukan kemungkinan hubungan yang lebih menarik: cara seseorang memosisikan tubuh dapat berkaitan dengan bagaimana ia merasa tentang dirinya sendiri dan bagaimana ia menghadapi situasi yang mengandung risiko.

Gagasan tersebut terutama muncul melalui penelitian mengenai power posing, yaitu posisi tubuh yang terbuka dan terlihat lebih berdaya. Salah satu penelitian awal melaporkan bahwa orang yang berada dalam postur berdaya tinggi menunjukkan peningkatan perasaan berkuasa dan toleransi terhadap risiko. Temuan ini kemudian memicu banyak pembahasan mengenai hubungan antara tubuh, emosi, kepercayaan diri, dan pengambilan keputusan.

Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi. Penelitian lanjutan tidak selalu menghasilkan kesimpulan yang sama. Sejumlah studi gagal mereplikasi sebagian efek yang dilaporkan penelitian awal. Karena itu, duduk tegak tidak bisa dianggap sebagai cara sederhana yang secara otomatis membuat seseorang menjadi lebih berani.

Bagaimana Postur Bisa Berkaitan dengan Perilaku?

Tubuh dan pikiran tidak sepenuhnya terpisah dalam pengalaman manusia. Cara seseorang berdiri, duduk, bergerak, dan menggunakan bahasa tubuh dapat memengaruhi cara orang lain melihatnya. Dalam beberapa penelitian, peneliti juga mencoba mengetahui apakah posisi tubuh dapat memengaruhi pengalaman psikologis orang yang melakukannya.

Postur terbuka dan tegak sering dipersepsikan sebagai tanda kepercayaan diri atau dominasi. Sebaliknya, postur yang lebih tertutup atau membungkuk sering dikaitkan dengan kesan kurang berdaya. Dari sinilah muncul pertanyaan apakah seseorang yang sengaja mengubah posturnya juga dapat mengalami perubahan dalam perasaan dan perilakunya sendiri.

Pertanyaan tersebut kemudian diuji melalui berbagai eksperimen. Para peneliti membandingkan peserta yang diminta mempertahankan posisi tubuh tertentu sebelum menjalankan tugas psikologis atau pengambilan keputusan.

Hasilnya tidak selalu seragam. Ada penelitian yang menemukan pengaruh tertentu, tetapi ada pula penelitian dengan desain berbeda yang tidak menemukan efek serupa. Perbedaan tersebut menjadi alasan mengapa hubungan antara postur dan keberanian perlu dipahami dengan hati-hati.

Penelitian Awal tentang Power Posing

Penelitian yang banyak menjadi rujukan dalam pembahasan ini diterbitkan pada 2010 oleh Dana R. Carney, Amy J. C. Cuddy, dan Andy J. Yap. Studi tersebut menguji apakah posisi tubuh yang terlihat lebih berdaya dapat berkaitan dengan perubahan kondisi psikologis dan fisiologis.

Dalam penelitian itu, peserta ditempatkan dalam kondisi pose berdaya tinggi atau pose berdaya rendah. Hasil yang dilaporkan menunjukkan bahwa pose berdaya tinggi berkaitan dengan peningkatan perasaan berkuasa dan toleransi terhadap risiko. Penelitian tersebut juga melaporkan perubahan pada kadar testosteron dan kortisol.

Temuan tersebut menarik karena memberikan gambaran bahwa sesuatu yang terlihat sederhana, yaitu posisi tubuh, mungkin mempunyai hubungan dengan cara seseorang merasakan dirinya sendiri.

Namun, penelitian tersebut kemudian menjadi titik awal bagi penelitian lanjutan. Ketika ilmuwan lain mencoba menguji kembali efek yang sama, hasilnya tidak selalu berhasil direplikasi secara konsisten.

Ketika Penelitian Lanjutan Memberikan Hasil Berbeda

Replikasi merupakan bagian penting dalam ilmu pengetahuan. Sebuah temuan akan semakin kuat apabila penelitian lain dengan metode yang memadai dapat menemukan hasil yang sejalan.

Dalam kasus power posing, beberapa penelitian lanjutan mempertanyakan seberapa besar pengaruh postur terhadap kondisi psikologis maupun biologis. Salah satu penelitian replikasi yang lebih besar tidak menemukan efek yang sama terhadap hormon dan toleransi risiko seperti yang dilaporkan penelitian awal.

Penelitian yang lebih baru juga terus menguji hubungan tersebut. Studi yang dipublikasikan pada 2024 melibatkan 92 orang dewasa muda dan membandingkan kondisi pose berdaya tinggi dengan pose berdaya rendah.

Penelitian tersebut tidak berhasil mereplikasi temuan awal terkait testosteron maupun perasaan berkuasa. Namun, terdapat sebagian dukungan terhadap hubungan antara perubahan kortisol dan toleransi risiko pada kondisi tertentu.

Hasil semacam ini menunjukkan bahwa hubungan antara postur, kondisi tubuh, dan perilaku kemungkinan lebih kompleks daripada sekadar hubungan langsung antara duduk tegak dan keberanian.

Apakah Duduk Tegak Benar-Benar Membuat Lebih Berani?

Jika pertanyaannya adalah apakah seseorang otomatis menjadi lebih berani mengambil risiko hanya karena duduk tegak, jawabannya tidak sesederhana itu. Bukti ilmiah yang tersedia belum cukup untuk menyatakan bahwa postur tegak secara langsung dan konsisten meningkatkan keberanian mengambil risiko pada semua orang.

Beberapa penelitian memang menemukan hubungan antara postur tertentu dengan toleransi terhadap risiko. Namun, penelitian lain tidak menemukan pengaruh yang sama. Karena itu, postur lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor yang mungkin berhubungan dengan pengalaman psikologis, bukan sebagai tombol yang dapat mengubah perilaku secara instan.

Keputusan untuk mengambil risiko dipengaruhi oleh banyak hal. Pengalaman, informasi yang dimiliki, kondisi emosional, tingkat keyakinan terhadap kemampuan diri, tujuan, serta konsekuensi yang mungkin terjadi dapat memainkan peran.

Artinya, seseorang yang duduk tegak belum tentu mengambil keputusan yang lebih berani. Sebaliknya, seseorang yang duduk santai atau sedikit membungkuk juga tidak otomatis menjadi lebih takut menghadapi risiko.

Perbedaan Antara Berani dan Ceroboh

Pembahasan mengenai keberanian mengambil risiko juga perlu membedakan antara keberanian dan tindakan ceroboh. Mengambil risiko tidak selalu berarti memilih pilihan yang paling berbahaya atau paling tidak pasti.

Dalam banyak situasi, keberanian justru berarti mampu menghadapi ketidakpastian setelah mempertimbangkan informasi yang tersedia. Seseorang dapat mengambil keputusan berani sambil tetap menghitung kemungkinan hasil dan konsekuensinya.

Hal tersebut penting karena rasa percaya diri yang terlalu tinggi juga dapat memengaruhi penilaian seseorang. Jika seseorang merasa sangat yakin terhadap kemampuannya tanpa mempertimbangkan fakta yang ada, keputusan yang diambil belum tentu menjadi lebih baik.

Karena itu, jika postur tubuh membantu seseorang merasa lebih siap atau percaya diri, manfaat tersebut tetap perlu disertai kemampuan berpikir kritis. Postur bukan pengganti informasi dan pertimbangan.

Postur Tegak Tetap Penting untuk Aktivitas Sehari-hari

Terlepas dari perdebatan mengenai keberanian mengambil risiko, menjaga posisi tubuh saat duduk tetap mempunyai alasan praktis. Duduk dengan posisi yang nyaman dan mendukung tubuh dapat membantu seseorang menjalankan pekerjaan atau aktivitas dalam waktu lama dengan lebih baik.

Duduk tegak juga tidak berarti tubuh harus dibuat kaku. Postur yang baik bukan sekadar menarik bahu ke belakang dan menahan tubuh dalam posisi tertentu. Tubuh tetap membutuhkan gerakan dan perubahan posisi agar tidak berada dalam satu posisi terlalu lama.

Bagi orang yang bekerja atau belajar di depan meja, perhatian terhadap lingkungan kerja juga penting. Posisi kursi, meja, layar, dan kebiasaan bergerak dapat menjadi bagian dari pengaturan aktivitas yang lebih nyaman.

Dengan demikian, alasan untuk memperbaiki postur tidak harus dikaitkan dengan klaim psikologis yang belum pasti. Menjaga posisi tubuh yang nyaman dan ergonomis sudah memiliki manfaat praktis dalam mendukung aktivitas sehari-hari.

Postur dan Rasa Percaya Diri

Salah satu alasan topik ini terus menarik perhatian adalah hubungan antara bahasa tubuh dan rasa percaya diri. Banyak orang secara intuitif merasa bahwa berdiri atau duduk dengan tubuh terbuka membuat mereka terlihat dan merasa lebih siap.

Perasaan tersebut mungkin berbeda pada setiap orang. Seseorang bisa merasa lebih nyaman ketika duduk tegak, sementara orang lain mungkin merasa lebih rileks dengan posisi yang berbeda. Faktor situasi dan kebiasaan juga dapat memengaruhi pengalaman seseorang.

Karena itu, tidak perlu memaksakan satu postur sebagai formula universal untuk meningkatkan rasa percaya diri. Yang lebih penting adalah menemukan posisi tubuh yang nyaman, stabil, dan sesuai dengan aktivitas.

Jika seseorang sedang menghadapi presentasi, wawancara, pertemuan, atau percakapan penting, memperbaiki postur mungkin dapat menjadi salah satu cara untuk mengingatkan diri agar lebih siap. Namun, persiapan materi, pemahaman terhadap situasi, dan kemampuan berkomunikasi tetap menjadi faktor utama.

Mengapa Keputusan Berisiko Tidak Bisa Dijelaskan oleh Satu Faktor?

Pengambilan keputusan merupakan proses yang kompleks. Seseorang tidak hanya merespons kondisi tubuh, tetapi juga menggunakan pengalaman, pengetahuan, emosi, dan perkiraan mengenai hasil yang mungkin terjadi.

Dalam keputusan ekonomi misalnya, seseorang dapat mempertimbangkan keuntungan yang mungkin diperoleh dan kerugian yang mungkin dialami. Dalam situasi sosial, keputusan juga dapat dipengaruhi oleh bagaimana seseorang memperkirakan reaksi orang lain.

Karena banyak faktor bekerja secara bersamaan, perubahan kecil pada postur tubuh tidak selalu menghasilkan perubahan besar pada perilaku. Hal tersebut membantu menjelaskan mengapa penelitian tentang power posing menghasilkan temuan yang beragam.

Dengan pendekatan seperti itu, pembaca dapat melihat penelitian mengenai postur secara lebih proporsional. Ada temuan yang menarik, tetapi tidak berarti setiap klaim populer tentang bahasa tubuh telah terbukti secara kuat.

Jangan Menganggap Duduk Tegak sebagai Trik Instan

Di media sosial dan berbagai pembahasan populer, penelitian mengenai bahasa tubuh terkadang disederhanakan menjadi tips singkat. Salah satu bentuknya adalah anggapan bahwa seseorang cukup mengubah postur selama beberapa menit untuk mendapatkan keberanian atau meningkatkan kemampuan mengambil keputusan.

Penyederhanaan seperti itu perlu dihindari. Penelitian ilmiah mengenai postur memiliki konteks, metode, dan keterbatasan tertentu. Hasil sebuah eksperimen tidak otomatis berarti efek yang sama akan terjadi pada setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, jika seseorang ingin merasa lebih percaya diri sebelum menghadapi situasi tertentu, memperbaiki postur boleh saja dilakukan sebagai bagian dari persiapan. Namun, jangan menganggap perubahan tersebut sebagai jaminan bahwa keputusan yang diambil akan lebih berani atau lebih baik.

Yang Lebih Penting dari Sekadar Postur

Keberanian menghadapi risiko lebih masuk akal dibangun melalui persiapan. Sebelum mengambil keputusan, seseorang dapat mencari informasi yang relevan, memahami kemungkinan hasil, memperkirakan konsekuensi, dan menentukan batas risiko yang masih dapat diterima.

Pengalaman juga dapat membantu seseorang memahami bagaimana menghadapi ketidakpastian. Semakin baik seseorang memahami situasi yang dihadapi, semakin besar peluangnya untuk membuat keputusan berdasarkan pertimbangan yang lebih matang.

Rasa percaya diri pun dapat dibangun dari kompetensi. Ketika seseorang menguasai materi atau memiliki pengalaman dalam suatu bidang, keyakinan terhadap kemampuan diri memiliki dasar yang lebih kuat dibandingkan sekadar mengandalkan penampilan atau postur.

Dalam konteks tersebut, duduk tegak dapat dipandang sebagai bagian kecil dari bahasa tubuh dan kesiapan diri. Namun, keberanian mengambil keputusan tetap membutuhkan fondasi yang lebih luas.

Kesimpulan: Duduk Tegak Bukan Jaminan Lebih Berani

Penelitian mengenai hubungan postur tubuh dan keberanian mengambil risiko memberikan gambaran menarik tentang kemungkinan hubungan antara tubuh dan psikologi. Studi awal mengenai power posing melaporkan bahwa postur berdaya tinggi berkaitan dengan perasaan berkuasa dan toleransi terhadap risiko.

Namun, penelitian lanjutan menghasilkan temuan yang tidak selalu sama. Beberapa studi tidak berhasil mereplikasi efek awal secara konsisten, sehingga klaim bahwa duduk tegak secara otomatis membuat seseorang lebih berani mengambil risiko perlu disikapi secara kritis.

Duduk tegak tetap dapat menjadi kebiasaan yang baik jika dilakukan secara nyaman dan sesuai dengan kebutuhan aktivitas. Tetapi ketika menghadapi keputusan penting, jangan mengandalkan postur tubuh sebagai satu-satunya cara untuk meningkatkan keberanian.

Keputusan yang baik tetap membutuhkan informasi, persiapan, pengalaman, kemampuan menilai konsekuensi, dan kepercayaan diri yang memiliki dasar. Jadi, boleh saja duduk tegak untuk merasa lebih siap, tetapi keberanian yang sebenarnya tetap dibangun dari cara seseorang memahami dan menghadapi situasi yang ada di depannya.

Sumber