Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali meluas di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera hingga Jumat, 21 Agustus 2026. Kondisi tersebut mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat penanganan melalui operasi satgas darat dan udara di enam provinsi yang menjadi prioritas.
Di Kalimantan Timur, kebakaran tercatat terjadi di sejumlah wilayah dengan kondisi lahan yang mencakup gambut, semak belukar, hingga kawasan konservasi. Sementara di Pulau Sumatera, BNPB menyiagakan sejumlah armada helikopter untuk mendukung patroli, operasi modifikasi cuaca, serta pemadaman melalui water bombing.
Karhutla Meluas di Sejumlah Wilayah Kalimantan
Salah satu wilayah yang mengalami kebakaran adalah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Kebakaran yang berlangsung sejak Rabu, 19 Agustus 2026, menghanguskan lahan gambut dan semak belukar di kawasan taman konservasi yang tersebar di Kecamatan Tanah Grogot, Batu Sopang, dan Batu Engau.
Luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 25,29 hektare. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Paser kemudian mengerahkan personel darat untuk melakukan pemadaman dan pemantauan lanjutan. Berdasarkan laporan yang menjadi sumber artikel, api di wilayah Paser berhasil dipadamkan sepenuhnya pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Kondisi yang lebih luas dilaporkan terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara pada hari yang sama. Total lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 49,55 hektare, dengan titik kebakaran tersebar di sejumlah desa dan kelurahan.
Enam hingga Tujuh Titik Api Masih Tersisa
Upaya pemadaman di Kutai Kartanegara dilakukan oleh Tim Reaksi Cepat BPBD bersama relawan dan petugas pemadam kebakaran. Sebagian besar titik api dilaporkan berhasil dipadamkan pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Namun, pemantauan menggunakan drone masih menemukan sekitar enam hingga tujuh titik api yang tersisa di Kelurahan Pendingin. Lahan terluas yang terbakar berada di wilayah tersebut dengan luas mencapai 42 hektare.
Keberadaan titik api yang masih tersisa membuat pemantauan lanjutan tetap diperlukan. Kondisi kebakaran di lahan terbuka, semak belukar, dan kawasan yang memiliki vegetasi mudah terbakar dapat membutuhkan penanganan berulang agar api tidak kembali meluas.
BNPB Perkuat Operasi Satgas Darat dan Udara
BNPB menyatakan penanganan karhutla diprioritaskan melalui penguatan satgas darat dan satgas udara di enam provinsi yang dinilai rawan. Strategi tersebut menggabungkan pemadaman langsung di lapangan dengan pemantauan dari udara serta dukungan operasi menggunakan helikopter.
Penguatan dari udara menjadi bagian penting karena titik kebakaran dapat tersebar di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Helikopter dapat digunakan untuk melakukan pemantauan sekaligus mendukung pemadaman pada lokasi yang membutuhkan intervensi dari udara.
Selain pemadaman, pemantauan udara juga membantu petugas mendapatkan gambaran mengenai lokasi titik api dan perkembangan kondisi di lapangan. Data tersebut kemudian dapat menjadi bagian dari koordinasi penanganan antara petugas di tingkat daerah dan pusat.
Penanganan di Wilayah Sumatera
Penguatan satgas udara juga dilakukan di sejumlah wilayah Sumatera. Di Provinsi Riau, BNPB menyiagakan satu unit helikopter patroli, satu unit helikopter untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC, serta lima unit helikopter water bombing.
Di Jambi, dukungan udara yang disiapkan terdiri atas satu unit helikopter patroli, satu unit helikopter OMC, dan dua unit helikopter water bombing. Sementara di Sumatera Selatan, disiagakan satu unit helikopter patroli, satu unit untuk OMC, serta tujuh unit helikopter water bombing.
Penempatan armada tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan pemadaman di permukaan. Patroli udara, operasi modifikasi cuaca, dan water bombing menjadi bagian dari pendekatan yang digunakan untuk menghadapi kebakaran di wilayah prioritas.
Water Bombing untuk Mendukung Pemadaman
Water bombing merupakan metode pemadaman dari udara dengan menjatuhkan air ke area yang terbakar. Penggunaan helikopter untuk metode ini dapat membantu petugas menjangkau lokasi yang sulit ditangani secara langsung dari darat.
Dalam situasi ketika titik api tersebar di area yang luas, dukungan udara dapat membantu mempercepat respons terhadap lokasi kebakaran tertentu. Namun, efektivitas setiap operasi tetap bergantung pada kondisi lapangan, akses menuju lokasi, cuaca, serta koordinasi antara tim udara dan petugas pemadam di darat.
Karena itu, satgas udara tidak berdiri sendiri. Penanganan karhutla tetap membutuhkan dukungan personel darat untuk melakukan pemadaman, memastikan titik api benar-benar terkendali, dan melakukan pemantauan setelah api terlihat padam.
Peran Pemantauan dalam Mengendalikan Titik Api
Pemantauan menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Api yang terlihat padam belum tentu sepenuhnya hilang, terutama ketika kebakaran terjadi pada lahan dengan material yang mudah menyimpan panas.
Laporan mengenai titik api yang masih terdeteksi melalui drone di Kutai Kartanegara menunjukkan pentingnya pemeriksaan setelah proses pemadaman. Teknologi pemantauan dari udara dapat membantu petugas menemukan lokasi yang masih membutuhkan penanganan sebelum api berkembang kembali.
Dengan menggabungkan pemantauan, pemadaman darat, dan dukungan udara, petugas memiliki lebih banyak cara untuk merespons perkembangan kebakaran. Koordinasi yang cepat juga menjadi faktor penting karena kondisi kebakaran dapat berubah mengikuti keadaan lingkungan di sekitar lokasi.
Ancaman Karhutla Membutuhkan Penanganan Terpadu
Meluasnya karhutla di Kalimantan dan Sumatera menunjukkan bahwa penanganan kebakaran tidak cukup dilakukan hanya ketika api sudah membesar. Respons darurat diperlukan untuk mengendalikan kebakaran yang sedang berlangsung, sementara pemantauan lanjutan dibutuhkan untuk memastikan tidak muncul titik api baru atau api kembali menyala.
Di tingkat daerah, BPBD dan petugas pemadam memiliki peran penting dalam melakukan pemadaman langsung. Relawan dan unsur terkait juga dapat mendukung operasi sesuai kebutuhan di lapangan. Pada saat yang sama, BNPB dapat memperkuat penanganan melalui koordinasi dan dukungan operasi udara.
Pendekatan terpadu tersebut menjadi semakin penting ketika kebakaran terjadi di berbagai lokasi pada waktu yang berdekatan. Keterbatasan akses darat di sejumlah kawasan membuat dukungan udara menjadi salah satu komponen yang dapat membantu memperluas jangkauan operasi.
Enam Provinsi Menjadi Prioritas Penanganan
BNPB memfokuskan penguatan satgas darat dan udara pada enam provinsi prioritas yang rawan karhutla. Dalam laporan tersebut, sejumlah armada udara telah disiapkan untuk mendukung operasi di wilayah Sumatera, termasuk Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Pengaturan armada dilakukan berdasarkan kebutuhan operasi masing-masing wilayah. Helikopter patroli digunakan untuk mendukung pemantauan, sementara helikopter water bombing disiapkan untuk membantu pemadaman dari udara. Dukungan OMC juga menjadi bagian dari operasi yang dilakukan di beberapa wilayah.
Rangkaian langkah tersebut memperlihatkan bahwa respons terhadap karhutla membutuhkan pembagian fungsi yang jelas. Pemantauan diperlukan untuk mengetahui perkembangan situasi, sementara pemadaman diarahkan untuk mengendalikan api dan mencegah perluasan kebakaran.
Penanganan Tidak Berhenti Setelah Api Padam
Salah satu tantangan dalam penanganan karhutla adalah memastikan area yang telah dipadamkan benar-benar aman. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah masih terdapat titik panas atau bara yang dapat memicu kebakaran kembali.
Pengalaman penanganan di Paser dan Kutai Kartanegara menunjukkan perbedaan kondisi di lapangan. Di Paser, api dilaporkan telah dipadamkan sepenuhnya setelah penanganan darat dan pemantauan. Sementara di Kutai Kartanegara, drone masih mendeteksi sejumlah titik api setelah sebagian besar kebakaran berhasil dikendalikan.
Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan berdasarkan kondisi masing-masing lokasi. Tidak semua wilayah dapat ditangani dengan metode yang sama, sehingga pemantauan dan evaluasi lapangan tetap menjadi bagian penting dari operasi.
Kolaborasi Menjadi Kunci Pengendalian Karhutla
Karhutla yang terjadi di wilayah luas membutuhkan kerja sama berbagai unsur. Pemerintah daerah melalui BPBD, petugas pemadam, relawan, BNPB, serta unsur pendukung lainnya memiliki fungsi masing-masing dalam penanganan kebakaran.
Koordinasi antara tim darat dan udara menjadi semakin penting ketika titik api berada di area yang luas atau sulit dijangkau. Informasi dari patroli udara dapat membantu menentukan lokasi yang perlu mendapat perhatian, sedangkan tim darat dapat melakukan penanganan langsung dan memastikan kondisi setelah pemadaman.
Dengan operasi yang terkoordinasi, sumber daya yang tersedia dapat diarahkan ke lokasi yang paling membutuhkan. Hal ini menjadi penting ketika beberapa wilayah menghadapi kebakaran secara bersamaan.
Situasi Karhutla Masih Perlu Dipantau
Meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan serta penanganan di sejumlah wilayah Sumatera membuat situasi karhutla masih perlu dipantau secara berkelanjutan. BNPB telah memperkuat operasi satgas udara dan darat di provinsi prioritas, sementara pemerintah daerah terus melakukan pemadaman dan pemantauan di wilayah masing-masing.
Kasus di Paser dan Kutai Kartanegara memperlihatkan bahwa penanganan dapat berkembang dari pemadaman menuju pemantauan untuk memastikan titik api benar-benar terkendali. Dukungan helikopter di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan juga memperlihatkan besarnya kebutuhan terhadap respons udara dalam menghadapi kebakaran di wilayah prioritas.
Ke depan, perkembangan situasi akan sangat bergantung pada kondisi lapangan dan kemampuan tim untuk mengendalikan titik api yang masih tersisa. Pemantauan berkelanjutan menjadi penting agar kebakaran yang sudah ditangani tidak kembali meluas dan titik api baru dapat segera direspons.
Penguatan satgas udara oleh BNPB menjadi salah satu langkah dalam menghadapi kondisi tersebut. Dengan dukungan pemadaman darat, patroli udara, water bombing, operasi modifikasi cuaca, serta koordinasi antarlembaga, penanganan karhutla di wilayah prioritas diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah dan cepat.



