Gunung Lewotobi Laki-Laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, tetap berada pada Level III atau Siaga setelah erupsi berulang tercatat pada Rabu, 15 Juli 2026. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi meminta masyarakat, pengunjung, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.
Berdasarkan laporan MAGMA Indonesia, beberapa erupsi terjadi sejak dini hari hingga menjelang siang. Sebagian letusan dapat diamati melalui kolom abu, sedangkan letusan lainnya hanya terdeteksi melalui rekaman seismograf karena kondisi puncak tertutup kabut.
Erupsi pada pukul 02.24 WITA menghasilkan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat daya dan barat. Letusan tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 22,2 milimeter dan berlangsung selama 344 detik.
Aktivitas berikutnya tercatat pada pukul 08.16 WITA. Kolom abu teramati mencapai sekitar 400 meter di atas puncak atau sekitar 1.984 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal kembali bergerak ke arah barat daya dan barat.
Pada pukul 11.32 WITA, erupsi kembali terekam oleh alat pemantauan. Visual letusan tidak dapat diamati, tetapi seismograf mencatat amplitudo maksimum 14,8 milimeter dengan durasi 177 detik.
Kegempaan Menunjukkan Aktivitas Vulkanik Berlanjut
Laporan pengamatan periode 06.00 hingga 12.00 WITA menunjukkan adanya dua gempa letusan atau erupsi. Kedua gempa tersebut memiliki amplitudo antara 14,8 hingga 22,2 milimeter dan berlangsung selama 177 hingga 179 detik.
Petugas juga mencatat satu gempa hembusan, sepuluh tremor nonharmonik, tiga gempa frekuensi rendah, serta dua gempa vulkanik dalam. Beragam jenis kegempaan tersebut menjadi bagian dari data yang digunakan PVMBG untuk memantau pergerakan fluida, tekanan, dan aktivitas magma di dalam tubuh gunung.
Pada periode pengamatan tersebut, kondisi gunung tertutup kabut sehingga asap kawah tidak dapat diamati. Cuaca di sekitar lokasi dilaporkan cerah hingga hujan dengan angin lemah menuju arah barat dan barat laut.
Kondisi visual yang tertutup kabut tidak berarti aktivitas gunung telah berhenti. Pemantauan tetap dilakukan melalui jaringan seismograf dan instrumen lain yang dapat mendeteksi getaran meskipun puncak tidak terlihat secara langsung.
Zona Bahaya Lima Kilometer Harus Dikosongkan
PVMBG menetapkan rekomendasi agar tidak ada aktivitas masyarakat maupun wisatawan dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Larangan tersebut perlu dipatuhi karena erupsi dapat menghasilkan lontaran material, abu vulkanik, dan bahaya lain yang sulit diperkirakan hanya berdasarkan pengamatan visual.
Masyarakat juga diminta tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah daerah, serta tidak mempercayai informasi yang sumbernya tidak jelas. Perubahan status maupun rekomendasi resmi akan disampaikan melalui PVMBG, MAGMA Indonesia, pemerintah daerah, dan lembaga penanggulangan bencana.
Warga tidak disarankan mendekati kawasan terlarang untuk melihat aktivitas gunung, mengambil gambar, memeriksa lahan, atau melakukan perjalanan wisata. Jarak aman harus dipatuhi meskipun pada suatu waktu puncak terlihat tenang atau tidak mengeluarkan kolom abu.
Arah sebaran abu juga dapat berubah mengikuti kecepatan dan arah angin. Wilayah yang sebelumnya tidak terdampak masih dapat mengalami hujan abu apabila kondisi angin berubah saat erupsi berikutnya berlangsung.
Waspada Abu Vulkanik dan Banjir Lahar
Masyarakat yang terkena hujan abu disarankan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut. Abu vulkanik berukuran halus dapat mengganggu sistem pernapasan serta menimbulkan rasa tidak nyaman pada mata dan kulit.
Warga dapat mengurangi paparan dengan menutup pintu serta jendela, melindungi sumber air, dan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika abu masih turun. Makanan dan minuman juga perlu dijaga agar tidak tercemar material vulkanik.
Abu yang menumpuk pada atap perlu dibersihkan secara hati-hati ketika kondisi dinyatakan aman. Material yang bercampur air dapat menjadi lebih berat dan meningkatkan beban pada bangunan, terutama pada atap yang memiliki struktur ringan.
PVMBG turut mengingatkan potensi banjir lahar hujan pada sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki ketika terjadi hujan berintensitas tinggi. Material vulkanik yang mengendap di lereng dapat terbawa aliran air menuju daerah yang lebih rendah.
Daerah yang diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap lahar meliputi Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote. Warga di sekitar aliran sungai perlu memperhatikan kondisi cuaca serta arahan evakuasi dari pemerintah setempat.
Penerbangan dan Perjalanan Perlu Memantau Informasi Abu
Abu vulkanik dapat memengaruhi penerbangan apabila memasuki jalur yang digunakan pesawat. Keputusan mengenai penundaan, pengalihan, atau pembatalan penerbangan ditentukan berdasarkan kondisi abu, arah angin, laporan penerbangan, serta penilaian otoritas terkait.
Penumpang yang memiliki jadwal perjalanan menuju atau dari wilayah Nusa Tenggara Timur disarankan memeriksa informasi langsung dari maskapai dan pengelola bandara. Status operasional dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas gunung.
Masyarakat juga perlu membedakan status gunung api dengan kondisi seluruh wilayah NTT. Penetapan Level III berlaku terhadap aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki dan rekomendasi zona bahayanya, sedangkan keadaan di daerah lain bergantung pada posisi, sebaran abu, dan informasi pemerintah setempat.
Pemantauan Dilakukan Secara Berkelanjutan
Gunung Lewotobi Laki-Laki memiliki ketinggian sekitar 1.584 meter di atas permukaan laut dan berada di Flores Timur. Aktivitasnya dipantau melalui Pos Pengamatan Gunung Api Lewotobi Laki-Laki di Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang.
PVMBG terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur serta pemerintah daerah untuk menyampaikan perkembangan aktivitas dan langkah mitigasi yang diperlukan.
Status Level III atau Siaga menunjukkan bahwa masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan serta menjalankan rekomendasi resmi. Status tersebut tidak dapat ditafsirkan hanya dari terlihat atau tidaknya kolom abu karena penilaian juga menggunakan kegempaan dan data pemantauan lainnya.
Warga di sekitar gunung perlu menyiapkan dokumen penting, obat-obatan, masker, kebutuhan dasar, dan jalur evakuasi apabila pemerintah daerah mengeluarkan instruksi lanjutan. Informasi terkini sebaiknya diperoleh melalui MAGMA Indonesia, PVMBG, BPBD, dan pemerintah daerah.
Erupsi berulang pada 15 Juli 2026 menegaskan bahwa aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki masih berlangsung. Kepatuhan terhadap radius lima kilometer, kewaspadaan terhadap hujan abu dan banjir lahar, serta penggunaan informasi resmi menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko bagi masyarakat sekitar.



