JAKARTA - Mazda meningkatkan kemampuan teknologi pada SUV listrik CX-6e. Model yang juga dikenal sebagai Mazda EZ-60 di China tersebut kini mendapat sensor LiDAR yang dipasang di bagian atap dan mendukung sistem bantuan mengemudi Level 2.
Pembaruan ini membuat CX-6e tidak hanya mengandalkan kamera, radar, dan sensor ultrasonik. Dengan tambahan LiDAR, sistem bantuan pengemudi Mazda diklaim mampu menangani lebih dari 200 skenario berkendara, termasuk sejumlah kondisi di jalan tol dan jalan perkotaan.
LiDAR Jadi Teknologi Baru CX-6e
Perubahan paling mencolok pada CX-6e versi terbaru adalah kehadiran sensor LiDAR yang ditempatkan di bagian atas kendaraan. Sensor tersebut menjadi salah satu komponen penting dalam sistem persepsi kendaraan terhadap lingkungan sekitar.
LiDAR atau Light Detection and Ranging bekerja dengan memanfaatkan pulsa cahaya untuk membantu memetakan objek dan lingkungan di sekitar kendaraan. Dalam sistem bantuan pengemudian modern, data LiDAR dapat dikombinasikan dengan informasi dari kamera dan radar untuk membangun pemahaman yang lebih lengkap mengenai kondisi jalan.
Pada CX-6e terbaru, teknologi tersebut tidak berdiri sendiri. Mazda menggabungkannya dengan tiga radar gelombang milimeter, 12 sensor ultrasonik, dan 11 kamera untuk mendukung sistem bantuan berkendara.
Bisa Menangani Lebih dari 200 Skenario Berkendara
Mazda mengklaim sistem bantuan mengemudi pada CX-6e terbaru mampu menangani lebih dari 200 skenario berkendara. Kemampuan tersebut mencakup berbagai situasi yang dapat ditemukan ketika mobil melaju di jalan tol maupun jalan perkotaan.
Artinya, sistem tidak hanya ditujukan untuk menjaga kendaraan tetap berada di jalurnya. Teknologi yang digunakan juga dirancang untuk membantu pengemudi dalam sejumlah manuver yang lebih kompleks.
Meski memiliki kemampuan otomatisasi yang semakin tinggi, sistem tersebut tetap berada dalam kategori bantuan mengemudi. Pengemudi masih harus memperhatikan kondisi jalan dan bertanggung jawab terhadap kendaraan.
Masuk Kategori Level 2
Teknologi baru pada CX-6e masuk dalam kategori Level 2 untuk sistem bantuan mengemudi. Pada level ini, kendaraan dapat membantu mengendalikan sejumlah fungsi berkendara secara bersamaan, tetapi pengemudi tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab.
Karena itu, istilah semi-otonom perlu dipahami dengan tepat. CX-6e bukan mobil yang dapat sepenuhnya ditinggalkan tanpa pengawasan manusia. Sistemnya berfungsi membantu pengemudi dalam kondisi tertentu.
Peningkatan teknologi tersebut menunjukkan arah perkembangan kendaraan modern yang semakin mengandalkan sensor dan perangkat lunak untuk membantu pengemudi menghadapi situasi lalu lintas yang kompleks.
Navigation-on-Autopilot untuk Jalan Tol
Salah satu kemampuan baru CX-6e adalah fungsi Navigation-on-Autopilot atau NOA. Sistem ini dirancang untuk membantu kendaraan mengikuti rute yang ditentukan pada kondisi jalan tertentu.
Di jalan tol, sistem dapat membantu kendaraan menangani sejumlah manuver, termasuk mendekati jalur masuk dan keluar, berpindah jalur, serta melanjutkan perjalanan sesuai rute yang telah ditentukan.
Mazda juga menyebut sistem tersebut mampu melakukan perpindahan jalur secara otomatis ketika kendaraan perlu menyalip mobil yang berjalan lebih lambat.
Bisa Membantu di Jalan Perkotaan
Teknologi bantuan mengemudi CX-6e terbaru tidak hanya ditujukan untuk jalan tol. Mazda juga memperluas kemampuannya untuk menghadapi situasi di kawasan perkotaan.
Sistem tersebut diklaim dapat membantu kendaraan menghadapi persimpangan dan bundaran. Kendaraan juga dapat melakukan putar balik secara otomatis dalam skenario yang didukung oleh sistem.
Selain itu, sistem dapat membantu kendaraan berpindah antara jalur utama dan jalur akses samping. Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa Mazda mencoba memperluas penggunaan bantuan mengemudi dari jalan bebas hambatan menuju situasi lalu lintas perkotaan yang lebih kompleks.
Rentang Kecepatan Bantuan Mengemudi
Mazda menyatakan sistem bantuan mengemudi berbasis LiDAR pada CX-6e dapat bekerja pada rentang kecepatan tertentu. Untuk skenario jalan tol, sistem diklaim dapat digunakan dari kondisi berhenti hingga sekitar 130 km per jam.
Sementara untuk skenario perkotaan, sistem tersebut disebut dapat bekerja dari 0 hingga sekitar 80 km per jam.
Rentang kecepatan tersebut menunjukkan bahwa sistem dirancang untuk menghadapi kondisi lalu lintas yang beragam, mulai dari kendaraan berhenti hingga perjalanan dengan kecepatan relatif tinggi.
Sensor LiDAR Bekerja Bersama Kamera dan Radar
Kehadiran LiDAR tidak berarti kamera dan radar ditinggalkan. CX-6e justru menggunakan berbagai jenis sensor secara bersamaan.
Selain LiDAR, kendaraan dilengkapi tiga radar gelombang milimeter, 12 sensor ultrasonik, dan 11 kamera. Kombinasi tersebut memungkinkan sistem memperoleh data dari beberapa sumber sebelum perangkat lunak memproses informasi mengenai lingkungan kendaraan.
Pendekatan multi-sensor menjadi salah satu strategi yang banyak digunakan dalam pengembangan sistem bantuan mengemudi modern. Setiap sensor memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda sehingga data dari berbagai perangkat dapat saling melengkapi.
Emergency Lane Change
Dalam kondisi tertentu, sistem CX-6e juga dapat melakukan perubahan jalur darurat untuk membantu menghindari rintangan. Fitur ini dirancang sebagai bagian dari kemampuan bantuan pengemudi ketika kendaraan menghadapi objek atau kondisi yang membutuhkan respons.
Namun, kemampuan tersebut tetap bergantung pada kondisi lingkungan, kemampuan sensor membaca objek, dan batasan sistem yang telah ditentukan oleh produsen.
Karena itu, fitur keselamatan aktif sebaiknya dipandang sebagai lapisan bantuan tambahan dan bukan pengganti perhatian pengemudi.
Bisa Parkir Secara Otomatis
Selain membantu saat kendaraan melaju, sistem baru CX-6e juga mendukung sejumlah fungsi parkir otomatis. Kendaraan dapat melakukan manuver parkir secara otomatis dalam kondisi yang didukung sistem.
Fitur tersebut mencakup kemampuan parkir otomatis dan mengikuti jalur yang telah ditentukan. Teknologi seperti ini dapat membantu pengemudi ketika menghadapi area parkir yang sempit atau membutuhkan manuver berulang.
Dengan demikian, teknologi bantuan mengemudi pada CX-6e tidak hanya difokuskan pada perjalanan, tetapi juga pada fase ketika kendaraan harus berhenti dan diparkir.
Masih Bukan Mobil Otonom Penuh
Meskipun kemampuan CX-6e semakin canggih, teknologi tersebut tidak menjadikan kendaraan sebagai mobil otonom penuh. Status Level 2 berarti pengemudi tetap harus memantau situasi dan siap mengambil alih kendali.
Istilah semi-otonom sering digunakan untuk menggambarkan kendaraan yang mampu menjalankan beberapa fungsi secara otomatis. Namun, kemampuan tersebut berbeda dengan kendaraan Level 4 atau Level 5 yang memiliki tingkat otomatisasi jauh lebih tinggi.
Oleh sebab itu, pengguna tetap perlu memahami batasan sistem sebelum mengandalkan fitur bantuan mengemudi dalam perjalanan sehari-hari.
Basis CX-6e di China Bernama EZ-60
Mazda CX-6e memiliki nama berbeda di pasar China, yakni EZ-60. Model tersebut dikembangkan melalui kerja sama Mazda dan Changan Mazda.
CX-6e menggunakan platform EPA1 yang juga berhubungan dengan model Deepal S07. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi Mazda dalam mengembangkan kendaraan energi baru untuk pasar China dan kemudian memperluasnya ke pasar lain.
Model CX-6e sendiri merupakan SUV listrik yang diposisikan sebagai bagian dari ekspansi Mazda di segmen kendaraan energi baru.
Menawarkan Pilihan EV dan EREV di China
Di China, EZ-60 tersedia dalam pilihan kendaraan listrik murni atau electric vehicle dan varian extended-range electric vehicle atau EREV.
Varian listrik murni menggunakan baterai LFP berkapasitas sekitar 77,94 kWh dan motor listrik belakang dengan tenaga 190 kW. Berdasarkan data yang dilaporkan, versi tersebut memiliki jarak tempuh CLTC sekitar 585 hingga 600 kilometer tergantung varian.
Sementara versi EREV menggunakan mesin bensin 1,5 liter sebagai range extender. Mesin tersebut berfungsi menghasilkan energi untuk mendukung sistem penggerak listrik, sedangkan roda tetap digerakkan oleh motor listrik.
Motor Listrik 190 kW
Untuk varian listrik, CX-6e menggunakan motor listrik yang ditempatkan di bagian belakang. Tenaga maksimum yang dilaporkan mencapai 190 kW atau sekitar 255 hp.
Konfigurasi tersebut membuat CX-6e menggunakan penggerak roda belakang. Kecepatan maksimum yang dilaporkan untuk model tersebut mencapai 185 km per jam.
Spesifikasi dapat berbeda berdasarkan pasar dan varian, sehingga angka dari model China tidak otomatis menjadi spesifikasi final untuk seluruh negara.
Pengisian Cepat
Versi listrik CX-6e juga mendukung teknologi pengisian cepat. Data yang tersedia untuk varian China menyebut penggunaan sistem pengisian 3C yang memungkinkan pengisian baterai dari 30 persen hingga 80 persen dalam waktu sekitar 15 menit.
Kemampuan pengisian cepat menjadi salah satu faktor penting pada kendaraan listrik karena dapat mengurangi waktu yang diperlukan ketika pengguna melakukan perjalanan jauh.
Namun, kecepatan pengisian aktual dapat dipengaruhi oleh temperatur baterai, kondisi pengisi daya, tingkat daya awal, serta kondisi sistem kelistrikan kendaraan.
Layar Kabin Berukuran Besar
Teknologi CX-6e bukan hanya berada di balik sistem bantuan mengemudi. Kabinnya juga mengusung pendekatan digital dengan layar berukuran sangat besar.
Di bagian dashboard terdapat layar 26,45 inci beresolusi 5K yang membentang dari area tengah menuju sisi penumpang. Desain tersebut membuat kabin CX-6e terlihat berbeda dari sejumlah model Mazda konvensional yang lebih banyak menggunakan tombol fisik.
Selain layar utama, kendaraan juga menawarkan sistem head-up display untuk membantu pengemudi memperoleh informasi tanpa harus terus melihat layar tengah.
Desain Aerodinamis
Mazda juga melakukan sejumlah pengembangan pada aspek aerodinamika CX-6e. Kendaraan memiliki sejumlah saluran udara pada kap mesin, bumper, dan area samping untuk membantu mengelola aliran udara.
Data yang tersedia menyebut koefisien hambatan udara CX-6e berada di sekitar 0,258 Cd. Nilai tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya meningkatkan efisiensi kendaraan listrik.
Pada mobil listrik, efisiensi aerodinamika memiliki peran penting karena hambatan udara dapat memengaruhi konsumsi energi, terutama ketika kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi.
Dimensi SUV Listrik Mazda
CX-6e memiliki panjang sekitar 4.850 milimeter, lebar 1.935 milimeter, tinggi 1.620 milimeter, dan jarak sumbu roda sekitar 2.902 milimeter berdasarkan data varian yang dipasarkan di China.
Dimensi tersebut menempatkan CX-6e di kelas SUV berukuran menengah. Kabin yang relatif besar juga memungkinkan Mazda memberikan ruang yang cukup untuk penumpang dan kebutuhan keluarga.
Bobot kendaraan berbeda berdasarkan jenis sistem penggerak dan varian. Versi dengan baterai dan sistem EREV memiliki karakter bobot yang berbeda dibandingkan varian listrik murni.
Berpotensi Masuk Indonesia
Nama Mazda CX-6e juga semakin menarik perhatian pasar Indonesia. Sejumlah laporan otomotif menyebut model ini memiliki peluang untuk dibawa ke Indonesia, meskipun keputusan dan spesifikasi untuk pasar lokal tetap bergantung pada Mazda.
Jika benar dipasarkan di Indonesia, teknologi LiDAR dan sistem bantuan mengemudi Level 2 dapat menjadi salah satu daya tarik utama. Namun, calon konsumen perlu menunggu informasi resmi mengenai waktu peluncuran, varian, spesifikasi, dan harga untuk pasar Indonesia.
Karena konfigurasi kendaraan dapat berbeda antarnegara, spesifikasi yang tersedia di China maupun pasar lainnya tidak dapat langsung dianggap sebagai spesifikasi Indonesia.
Teknologi ADAS Semakin Berkembang
Langkah Mazda menambahkan LiDAR pada CX-6e memperlihatkan semakin seriusnya perkembangan teknologi Advanced Driver Assistance Systems atau ADAS di industri otomotif.
ADAS dirancang untuk membantu pengemudi dalam berbagai situasi, mulai dari pengereman darurat, menjaga jalur, menjaga jarak, hingga membantu perpindahan jalur dan parkir.
Perkembangan sensor dan perangkat lunak membuat fungsi tersebut semakin luas. Namun, semakin banyak fungsi otomatis juga membuat pemahaman pengguna terhadap batas kemampuan sistem menjadi semakin penting.
LiDAR Bukan Pengganti Pengemudi
Meski LiDAR mampu membantu kendaraan mengenali lingkungan dengan lebih detail, keberadaannya tidak berarti pengemudi dapat sepenuhnya menyerahkan kendali kepada mobil.
Sistem Level 2 tetap mengharuskan pengemudi memantau jalan dan memperhatikan kondisi sekitar. Sensor dapat memiliki keterbatasan dalam kondisi tertentu, sementara sistem bantuan mengemudi juga bekerja berdasarkan parameter yang telah ditentukan.
Karena itu, teknologi tersebut paling tepat dipahami sebagai alat bantu yang membuat perjalanan lebih nyaman dan aman ketika digunakan sesuai petunjuk.
Persaingan SUV Listrik Semakin Ketat
Kehadiran CX-6e dengan teknologi LiDAR juga memperlihatkan semakin ketatnya persaingan di segmen SUV listrik. Produsen otomotif tidak hanya bersaing dalam kapasitas baterai dan jarak tempuh, tetapi juga dalam teknologi bantuan pengemudi dan pengalaman digital di dalam kabin.
Dengan sensor yang lebih banyak dan sistem bantuan yang mampu menangani lebih banyak skenario, Mazda berupaya memberikan nilai tambah pada CX-6e di tengah perkembangan kendaraan listrik global.
Persaingan tersebut kemungkinan akan semakin meningkat seiring konsumen mulai mempertimbangkan teknologi keselamatan dan kenyamanan sebagai bagian penting dalam memilih mobil listrik.
Kesimpulan
Mazda memperbarui CX-6e dengan teknologi yang lebih canggih melalui pemasangan sensor LiDAR di bagian atap. Sensor tersebut bekerja bersama radar, kamera, dan sensor ultrasonik untuk mendukung sistem bantuan mengemudi Level 2.
Sistem baru tersebut diklaim mampu menangani lebih dari 200 skenario berkendara. Di jalan tol, CX-6e dapat membantu sejumlah manuver seperti mengikuti rute, mendekati jalur masuk dan keluar, serta melakukan perpindahan jalur untuk menyalip. Di kawasan perkotaan, sistem juga dirancang untuk menangani persimpangan, bundaran, putar balik, dan sejumlah kondisi lainnya.
Teknologi tersebut juga mendukung fungsi parkir otomatis dan perubahan jalur darurat dalam kondisi tertentu. Namun, CX-6e tetap merupakan kendaraan dengan sistem bantuan mengemudi Level 2, sehingga pengemudi harus tetap memegang kendali dan memperhatikan kondisi jalan.
Selain teknologi ADAS, CX-6e menawarkan sistem penggerak listrik, layar kabin berukuran besar, serta sejumlah fitur modern. Di China, model yang sama dikenal sebagai EZ-60 dan tersedia dalam pilihan EV maupun EREV. Sementara untuk pasar Indonesia, informasi mengenai kehadiran dan spesifikasi resminya masih perlu menunggu pengumuman dari Mazda.



