Puskesmas di Banyumas Diperkuat, dari Air Bersih hingga Energi Surya

Sejumlah puskesmas di Banyumas memperbaiki layanan air, sanitasi, kebersihan, pengelolaan limbah, dan ketahanan energi untuk menciptakan fasilitas kesehatan yang lebih aman bagi anak.

Petugas kesehatan di Puskesmas Banyumas sebagai bagian dari peningkatan layanan fasilitas kesehatan
Petugas kesehatan di Puskesmas Banyumas sebagai bagian dari peningkatan layanan fasilitas kesehatan

Peningkatan kualitas fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam memastikan anak mendapatkan layanan yang aman dan layak. Di Banyumas, Jawa Tengah, sejumlah Puskesmas mendapat perbaikan pada layanan air, sanitasi, kebersihan, pengelolaan limbah, hingga ketahanan energi melalui pendekatan yang didukung UNICEF dan pemerintah.

Perbaikan tersebut dilakukan setelah fasilitas kesehatan dinilai menggunakan Kesling Plus, yang diperkenalkan UNICEF sebagai instrumen untuk membantu Puskesmas mengidentifikasi risiko dan menyusun langkah perbaikan. Secara keseluruhan, 40 Puskesmas di Banyumas disebut telah menerima manfaat dari peningkatan layanan WASH secara komprehensif.

Masalah Air Bersih di Puskesmas Sokaraja II

Puskesmas Sokaraja II menjadi salah satu fasilitas yang menghadapi persoalan kualitas air. Menurut UNICEF, meski tersedia air mengalir, hasil pengujian laboratorium menunjukkan pasokan tersebut tercemar bakteri E. coli dan memiliki kadar besi yang tinggi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Puskesmas Sokaraja II melayani berbagai kebutuhan medis, termasuk persalinan, imunisasi rutin, dan pemeriksaan gigi. Pada 2024, lebih dari 8.000 anak tercatat datang ke fasilitas tersebut untuk berbagai kebutuhan medis.

Setelah penilaian dilakukan, solusi yang diterapkan mencakup pemasangan sistem filtrasi air dan penambahan tangki air. UNICEF menyebut hasil pemeriksaan laboratorium terbaru menunjukkan tidak ditemukan bakteri E. coli dalam pasokan air setelah intervensi tersebut.

Perbaikan Tidak Berhenti pada Air

Perbaikan di Puskesmas Sokaraja II juga mencakup penyediaan mesin cuci industri untuk membantu memastikan seprai dan linen yang digunakan bagi ibu hamil serta anak-anak yang sakit dapat dicuci dan disterilkan secara efektif.

Penilaian melalui Kesling Plus tidak hanya melihat ketersediaan air, tetapi juga sanitasi, kebersihan, pembersihan lingkungan, dan pengelolaan limbah. Pendekatan ini membantu fasilitas kesehatan menentukan masalah yang perlu ditangani berdasarkan risiko yang ditemukan.

Menurut UNICEF, skor penilaian Puskesmas Sokaraja II menggunakan perangkat Kesling Plus meningkat dari 88 persen menjadi 95 persen setelah berbagai perbaikan dilakukan.

Puskesmas Banyumas Atasi Kelangkaan Air

Tantangan berbeda ditemukan di Puskesmas Banyumas. Fasilitas yang berada di bangunan bersejarah tersebut sebelumnya menghadapi gangguan pasokan air dari perusahaan penyedia air setempat. Kondisi itu dapat menghambat operasional ketika pasokan air terhenti.

Hasil analisis Kesling Plus kemudian mendorong penggunaan sumur bor baru untuk menambah cadangan air. UNICEF menyebut langkah tersebut melipatgandakan cadangan air Puskesmas.

Perbaikan di Puskesmas Banyumas juga mencakup toilet yang lebih bersih, aman, ramah disabilitas, dan terpisah berdasarkan gender. Fasilitas tersebut dilengkapi cermin serta paket kesehatan menstruasi. Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL baru juga dibangun sebagai bagian dari peningkatan fasilitas.

Ketahanan Energi di Puskesmas Baturraden II

Persoalan lain dihadapi Puskesmas Baturraden II yang berada di kaki Gunung Slamet. Hujan deras dan sambaran petir dapat menyebabkan pemadaman listrik. Gangguan tersebut menjadi persoalan penting karena fasilitas kesehatan membutuhkan listrik untuk menjalankan berbagai layanan, termasuk menjaga lemari pendingin vaksin dan obat-obatan yang sensitif terhadap suhu.

Setelah penilaian risiko dilakukan, Puskesmas Baturraden II menggunakan sistem panel surya hibrida off-grid berkapasitas 8,5 kWh. Menurut UNICEF, sistem tersebut dapat memasok listrik untuk klinik hingga 36 jam tanpa sinar matahari.

Penggunaan energi surya juga dilaporkan membantu mengurangi tagihan listrik hingga 30 persen. Namun, manfaat utama yang ditekankan adalah menjaga fasilitas tetap beroperasi ketika jaringan listrik PLN mengalami gangguan.

Kesling Plus dan Ketahanan Fasilitas Kesehatan

Kesling Plus membantu Puskesmas mengidentifikasi risiko yang berkaitan dengan air, sanitasi, kebersihan, lingkungan, dan limbah. UNICEF juga mengembangkan pendekatan tersebut melalui pendampingan kepada fasilitas kesehatan berdasarkan hasil penilaian dan rencana aksi yang disusun.

Untuk menghadapi risiko yang berkaitan dengan perubahan iklim, Kesling Plus dapat dipadukan dengan PERIKSA, perangkat penilaian risiko iklim sanitasi dan air minum yang dikembangkan UNICEF bersama Bappenas. Pendekatan tersebut membantu fasilitas kesehatan melihat kebutuhan ketahanan sistem air dan sanitasi terhadap kondisi lingkungan yang berubah.

Fasilitas yang Lebih Aman untuk Anak

Pengalaman tiga Puskesmas di Banyumas menunjukkan bahwa kebutuhan setiap fasilitas kesehatan dapat berbeda. Sokaraja II menghadapi persoalan kualitas air, Puskesmas Banyumas berupaya mengatasi keterbatasan pasokan air, sedangkan Baturraden II membutuhkan solusi untuk menjaga ketersediaan listrik.

Meski berbeda, ketiganya menunjukkan pentingnya penilaian risiko sebelum menentukan intervensi. Perbaikan fasilitas bukan hanya menyangkut bangunan, tetapi juga memastikan air, sanitasi, kebersihan, pengelolaan limbah, dan energi dapat mendukung pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.

Bagi anak-anak dan keluarga yang datang untuk memperoleh layanan kesehatan, fasilitas yang aman dan layak menjadi bagian dari mutu pelayanan itu sendiri. Perbaikan di Puskesmas Banyumas menunjukkan bagaimana solusi yang disesuaikan dengan kondisi lokal dapat membantu fasilitas kesehatan menjadi lebih tangguh sekaligus mendukung lingkungan pelayanan yang lebih aman bagi pasien.

Sumber