Seorang pengusaha dan pengembang asal Mesir yang mengalami kebutaan mengembangkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu orang dengan gangguan penglihatan memahami dunia di sekitar mereka. Aplikasi bernama ScribeMe tersebut menggunakan kemampuan AI untuk menganalisis gambar dari kamera dan memberikan informasi dalam bentuk yang dapat dipahami pengguna, termasuk melalui integrasi dengan kacamata pintar Meta.
Pengembangan ScribeMe berawal dari pengalaman pribadi Mark Morad, seorang mahasiswa dan pengusaha Mesir berusia 20 tahun yang mengalami kehilangan penglihatan. Bersama pengalaman adiknya, Karen Morad, yang juga kehilangan penglihatan, kondisi tersebut mendorong keluarga mereka mencari cara baru agar teknologi dapat membantu aktivitas sehari-hari, pendidikan, dan mobilitas.
Reuters melaporkan bahwa ScribeMe kini digunakan oleh ribuan pengguna di 140 negara. Aplikasi tersebut dapat dipasang pada perangkat iPhone dan Android serta diintegrasikan dengan kacamata pintar Meta. Dukungan tersebut membuat teknologi tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk membaca dokumen, tetapi juga sebagai pendamping yang dapat menjawab pertanyaan mengenai lingkungan secara real time.
Pengalaman Pribadi Menjadi Awal Pengembangan ScribeMe
Perjalanan Mark menuju pengembangan teknologi asistif tidak dimulai dari perusahaan teknologi besar atau laboratorium penelitian dengan sumber daya yang luas. Ia justru berangkat dari persoalan yang dihadapinya sendiri ketika penglihatannya mulai menurun.
Mark mulai mengalami masalah penglihatan pada 2018. Pemeriksaan yang dilakukan di Mesir maupun di luar negeri tidak menemukan penjelasan definitif pada awalnya, tetapi ia mendapat peringatan bahwa penglihatannya pada akhirnya akan hilang akibat kondisi langka dan tidak dapat disembuhkan pada saraf optik. Tidak ada kepastian mengenai kapan kehilangan penglihatan tersebut akan terjadi.
Pada akhirnya, Mark dan Karen sama-sama menjadi tunanetra total. Dalam laporan Reuters, penurunan penglihatan Karen berlangsung sekitar enam bulan, sementara proses yang dialami Mark berlangsung hampir tiga tahun. Perubahan tersebut membawa dampak besar terhadap kehidupan keluarga, termasuk dalam pendidikan dan aktivitas sehari-hari.
Bagi keluarga Morad, tantangan tersebut bukan hanya persoalan bagaimana menjalani kehidupan tanpa penglihatan. Mereka juga harus mencari cara agar Mark dan Karen tetap dapat belajar, bepergian, mengenali lingkungan, serta menjalankan berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan dengan mengandalkan penglihatan.
Tantangan Pendidikan Membuka Masalah Teknologi
Salah satu persoalan terbesar yang dihadapi Mark muncul ketika ia belajar di sekolah. Aplikasi pembaca layar yang digunakannya dapat membantu membaca teks, tetapi tidak selalu mampu menjelaskan elemen visual yang penting dalam mata pelajaran tertentu.
Fisika dan kimia menjadi contoh yang jelas. Diagram, grafik, persamaan, dan bentuk visual lainnya dapat menjadi bagian penting dari sebuah materi pelajaran, sementara aplikasi pembaca layar yang digunakan Mark tidak memberikan penjelasan ketika berhadapan dengan elemen-elemen tersebut.
Keterbatasan itu menunjukkan bahwa aksesibilitas digital tidak cukup hanya dengan membuat teks dapat dibacakan. Bagi pengguna tunanetra, informasi visual juga perlu diterjemahkan menjadi penjelasan yang dapat dipahami melalui suara atau bentuk komunikasi lainnya.
Mark kemudian mencoba menghubungi pengembang aplikasi di luar negeri yang mengerjakan persoalan serupa. Namun, menurut laporan Reuters, tidak ada pengembang yang merespons permintaannya. Kondisi tersebut akhirnya mendorong Mark mengambil pendekatan berbeda: mempelajari sendiri cara membuat aplikasi.
Ia belajar pemrograman melalui tutorial di YouTube. Proses belajar tersebut kemudian menghasilkan versi awal aplikasi yang sudah dapat digunakan pada 2023. Dari titik itu, ScribeMe berkembang secara bertahap dari alat untuk membaca dokumen menjadi sistem yang lebih luas untuk membantu pengguna memahami lingkungan.
Dari Pembaca Dokumen Menjadi Asisten Berbasis AI
Perkembangan ScribeMe menunjukkan perubahan penting dalam fungsi aplikasi tersebut. Pada tahap awal, kebutuhan utamanya berkaitan dengan informasi visual dalam dokumen. Namun, teknologi AI kemudian memungkinkan aplikasi memberikan respons terhadap pertanyaan mengenai dunia nyata melalui kamera perangkat.
Dengan menggunakan kamera ponsel, pengguna dapat meminta informasi mengenai sesuatu yang berada di depan mereka. Sistem kemudian memproses gambar dan memberikan jawaban berdasarkan apa yang dapat dikenali. Bagi pengguna tunanetra, kemampuan tersebut dapat mengubah kamera dari sekadar perangkat untuk mengambil foto menjadi alat untuk memperoleh informasi tentang lingkungan.
Reuters melaporkan bahwa ScribeMe dapat menjawab pertanyaan secara real time melalui kamera ponsel. Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari konsep aplikasi karena kebutuhan pengguna tunanetra tidak hanya muncul ketika mereka membaca dokumen atau berada di depan komputer.
Lingkungan di luar rumah juga penuh dengan informasi visual yang perlu dipahami. Sebuah toko, ruang kelas, pakaian, objek di sekitar, atau situasi tertentu dapat memberikan tantangan jika informasi visualnya tidak dapat diakses secara langsung. AI kemudian digunakan untuk membantu mengubah informasi tersebut menjadi deskripsi yang dapat diterima pengguna.
Integrasi dengan Kacamata Pintar Membebaskan Tangan Pengguna
Salah satu perkembangan penting ScribeMe adalah integrasinya dengan kacamata pintar Meta. Integrasi tersebut membuat pengguna tidak harus selalu memegang ponsel ketika membutuhkan informasi mengenai lingkungan.
Bagi orang yang menggunakan tongkat untuk membantu mobilitas, kemampuan menggunakan kamera yang terpasang pada kacamata memiliki arti praktis. Kedua tangan dapat tetap digunakan untuk aktivitas lain, sementara kamera pada perangkat yang dikenakan membantu mengumpulkan informasi visual untuk diproses oleh AI.
Konsep ini memperlihatkan bagaimana teknologi wearable dapat menjadi bagian dari sistem aksesibilitas. Kacamata pintar bukan lagi hanya perangkat elektronik yang dikenakan untuk fungsi hiburan atau komunikasi, tetapi dapat menjadi antarmuka antara pengguna dan sistem AI.
Dalam konteks ScribeMe, kombinasi tersebut menciptakan alur yang relatif sederhana. Kamera menangkap lingkungan, AI menganalisis informasi, lalu hasilnya disampaikan kepada pengguna melalui sistem komunikasi perangkat. Bagi seseorang yang tidak dapat melihat objek secara langsung, proses tersebut dapat memberikan konteks tambahan tentang apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
Pengalaman di Kenya Menunjukkan Potensi Teknologi
Manfaat ScribeMe terlihat dalam pengalaman Karen ketika melakukan perjalanan ke Kenya pada Juni. Dalam perjalanan tersebut, aplikasi memberikan deskripsi audiovisual mengenai lingkungan safari yang ia kunjungi.
Karen dapat memperoleh informasi mengenai hewan yang berada di sekitarnya, termasuk jarak dan aktivitas hewan tersebut. Deskripsi semacam itu memberikan gambaran yang sebelumnya hanya dapat diperoleh melalui penglihatan atau bantuan orang lain yang menjelaskan situasi di sekitar.
Pengalaman tersebut menjadi contoh bagaimana AI dapat digunakan bukan sekadar untuk menyelesaikan pekerjaan digital, tetapi juga untuk memperluas pengalaman seseorang terhadap lingkungan fisik. Informasi yang ditangkap kamera dapat diterjemahkan menjadi konteks yang membantu pengguna membangun gambaran mental mengenai sebuah tempat atau peristiwa.
Teknologi tersebut tentu tidak menggantikan penglihatan. AI tetap bekerja berdasarkan informasi yang ditangkap perangkat dan kemampuan sistem dalam menafsirkan informasi tersebut. Namun, bagi pengguna tunanetra, tambahan informasi yang diberikan dapat menjadi alat bantu yang berguna dalam memahami lingkungan.
ScribeMe Mendukung 20 Bahasa
Menurut laporan Reuters, ScribeMe kini mendukung 20 bahasa, termasuk bahasa Arab. Dukungan multibahasa menjadi salah satu bagian penting dari pengembangan aplikasi karena teknologi aksesibilitas akan lebih berguna jika dapat digunakan oleh masyarakat dengan latar bahasa yang beragam.
Mark mengatakan kepada Reuters bahwa dukungan bahasa Arab menjadi salah satu kesenjangan yang ia temukan pada perangkat atau layanan pesaing. Pengembangan fitur tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan aksesibilitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis AI dalam mengenali objek, tetapi juga dengan cara informasi tersebut disampaikan kepada pengguna.
Bahasa merupakan bagian penting dari pengalaman menggunakan teknologi asistif. Sistem yang mampu mengenali sebuah objek tetapi tidak dapat menjelaskan hasilnya dalam bahasa yang dipahami pengguna tetap memiliki keterbatasan. Karena itu, dukungan bahasa menjadi bagian dari upaya memperluas akses teknologi.
Dukungan 20 bahasa juga mencerminkan ambisi ScribeMe untuk digunakan di luar Mesir. Reuters menyebutkan aplikasi tersebut telah digunakan oleh ribuan pengguna di 140 negara. Perluasan geografis tersebut memperlihatkan bahwa persoalan akses terhadap informasi visual bukan masalah yang hanya dihadapi oleh satu negara.
Teknologi untuk Aktivitas Sehari-hari
Bagi Karen, penggunaan ScribeMe tidak terbatas pada pengalaman perjalanan. Aplikasi tersebut juga membantu sejumlah aktivitas sehari-hari, termasuk menemukan ruang kelas, mengenali toko, memilih pakaian, dan belajar.
Contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa teknologi asistif dapat memberikan manfaat pada berbagai tingkat aktivitas. Menemukan ruang kelas merupakan persoalan orientasi dan mobilitas, mengenali toko berkaitan dengan pemahaman lingkungan, memilih pakaian membutuhkan informasi visual, sedangkan belajar membutuhkan akses terhadap materi dan objek yang mungkin memiliki komponen visual.
Dalam kehidupan sehari-hari, tantangan kecil dapat muncul berulang kali. Seseorang mungkin perlu mengetahui apakah sebuah objek berada di depannya, mengenali tanda tertentu, memahami tampilan sebuah ruangan, atau mendapatkan gambaran mengenai benda yang sedang dipegang. Jika setiap kebutuhan tersebut harus dijelaskan oleh orang lain, pengguna akan memiliki ketergantungan yang lebih besar pada bantuan eksternal.
Teknologi seperti ScribeMe mencoba mengurangi sebagian hambatan tersebut dengan memberikan akses langsung terhadap informasi. Tujuannya bukan menggantikan bantuan manusia sepenuhnya, melainkan menyediakan pilihan tambahan ketika pengguna membutuhkan informasi dengan cepat.
Dari Kompetisi Teknologi ke Pengembangan yang Lebih Luas
Perjalanan ScribeMe kemudian mendapat dorongan setelah Mark memperoleh pengakuan dalam sejumlah kompetisi teknologi. Salah satunya adalah Vodafone AI Assistive Tools Hackathon pada 2024, sebuah inisiatif Vodafone Egypt yang berfokus pada pengembangan alat untuk penyandang disabilitas.
Pengakuan tersebut turut membantu perkembangan proyek dan menghadirkan seorang co-founder. Dari sana, ScribeMe dapat berkembang melampaui fungsi awalnya sebagai alat pemindai dokumen.
Perjalanan ini menggambarkan bagaimana kompetisi teknologi dapat menjadi pintu masuk bagi pengembang dengan ide yang lahir dari pengalaman pribadi. Masalah yang awalnya dihadapi satu keluarga kemudian dapat diterjemahkan menjadi produk yang berpotensi digunakan oleh masyarakat yang lebih luas.
Pengembangan teknologi asistif juga memiliki karakter berbeda dibandingkan aplikasi yang hanya mengejar kenyamanan. Bagi pengguna penyandang disabilitas, keberhasilan sebuah fitur dapat berkaitan langsung dengan kemampuan mereka mengakses pendidikan, bergerak secara mandiri, berkomunikasi, atau memahami lingkungan.
AI dan Masa Depan Teknologi Aksesibilitas
Kisah ScribeMe memperlihatkan salah satu arah penggunaan AI yang memiliki dampak langsung terhadap aksesibilitas. Kemajuan kecerdasan buatan dalam memahami gambar, bahasa, dan konteks memungkinkan perangkat digital melakukan lebih banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan interpretasi manusia.
Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada bagaimana teknologi dirancang. AI yang dibuat untuk kebutuhan umum belum tentu secara otomatis memenuhi kebutuhan pengguna dengan gangguan penglihatan. Pengalaman Mark menunjukkan bahwa masalah spesifik di lapangan dapat menjadi sumber penting untuk menemukan fungsi yang belum tersedia pada produk yang sudah ada.
Pendekatan yang lahir dari pengalaman pengguna juga dapat membantu pengembang memahami persoalan yang sulit terlihat dari luar. Misalnya, pembaca layar mungkin sudah sangat membantu untuk teks, tetapi pengguna tetap menghadapi hambatan ketika informasi utama berada dalam diagram atau gambar. Dari perspektif pengguna tunanetra, perbedaan antara teks dan informasi visual merupakan persoalan mendasar.
AI memiliki peluang untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan menganalisis informasi visual kemudian mengubahnya menjadi penjelasan. Kemampuan itu dapat berkembang seiring meningkatnya kemampuan model AI dalam mengenali objek, membaca konteks, memahami hubungan antarobjek, serta memberikan respons berbasis bahasa.
Kecepatan Respons Menjadi Faktor Penting
Untuk aplikasi aksesibilitas yang digunakan di lingkungan nyata, kecepatan respons menjadi bagian penting dari pengalaman. Informasi mengenai sesuatu yang terjadi di sekitar pengguna akan lebih berguna jika dapat diberikan ketika informasi tersebut masih relevan.
ScribeMe dikembangkan untuk menjawab pertanyaan melalui kamera secara real time. Konsep tersebut berbeda dari aplikasi yang hanya memproses dokumen secara pasif. Pengguna dapat berinteraksi dengan sistem berdasarkan kebutuhan yang muncul pada saat tertentu.
Dalam perjalanan atau aktivitas di luar rumah, kebutuhan informasi dapat berubah dalam hitungan detik. Pengguna mungkin berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menemukan objek baru, atau membutuhkan penjelasan tambahan. Karena itu, kemampuan AI untuk menerima pertanyaan lanjutan dan memproses konteks menjadi bagian penting dari potensi teknologi semacam ini.
Model Bisnis ScribeMe
Reuters melaporkan bahwa ScribeMe dapat diunduh secara gratis, sementara fitur tambahan tersedia melalui skema berlangganan dengan biaya tetap sebesar 20 dolar AS per bulan atau 200 dolar AS per tahun.
Model tersebut menunjukkan pendekatan freemium, yaitu memberikan akses dasar tanpa biaya dan menawarkan fitur tambahan melalui pembayaran. Bagi aplikasi aksesibilitas, model semacam ini memiliki tantangan tersendiri karena pengembang perlu menyeimbangkan kebutuhan keberlanjutan bisnis dengan akses pengguna terhadap teknologi yang dapat membantu kehidupan sehari-hari.
Pendapatan dari langganan dapat digunakan untuk mendukung pengembangan produk, pemeliharaan sistem, peningkatan kemampuan AI, serta perluasan dukungan bahasa dan perangkat. Pada saat yang sama, ketersediaan versi gratis dapat membantu lebih banyak pengguna mencoba teknologi sebelum memutuskan apakah fitur tambahan diperlukan.
Keberadaan pengguna di banyak negara juga membuat persoalan harga dan akses menjadi lebih kompleks. Daya beli dan kebutuhan pengguna tidak selalu sama di setiap wilayah. Karena itu, perkembangan ScribeMe di masa mendatang akan menarik untuk diamati bukan hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari sisi bagaimana layanan tersebut mempertahankan aksesibilitas secara luas.
Teknologi Asistif Tidak Hanya Soal AI
Meski AI menjadi inti ScribeMe, pengalaman pengguna menunjukkan bahwa teknologi asistif membutuhkan kombinasi berbagai komponen. Kamera, perangkat seluler, kacamata pintar, sistem audio, perangkat lunak, dan model AI harus bekerja bersama agar informasi dapat diterima dengan baik.
Integrasi dengan Meta smart glasses merupakan contoh bagaimana perangkat keras dapat memperluas fungsi perangkat lunak. Tanpa kamera yang mudah digunakan, AI tidak memiliki informasi visual yang cukup untuk dianalisis. Sebaliknya, perangkat keras yang memiliki kamera tetapi tidak memiliki sistem AI yang mampu memahami lingkungan juga tidak memberikan manfaat yang sama.
Karena itu, masa depan teknologi aksesibilitas kemungkinan akan semakin ditentukan oleh ekosistem perangkat yang saling terhubung. Ponsel dapat menjadi pusat pemrosesan atau komunikasi, kamera dapat mengumpulkan informasi, perangkat wearable dapat memberikan akses hands-free, sementara AI menjadi lapisan yang menerjemahkan informasi menjadi sesuatu yang dapat dipahami pengguna.
Pengalaman Keluarga Menjadi Bagian Penting dari Inovasi
Di balik pengembangan ScribeMe terdapat pengalaman keluarga yang sangat personal. Ketika Mark dan Karen kehilangan penglihatan, keluarga mereka menghadapi ketidakpastian mengenai bagaimana kehidupan keduanya akan berlangsung. Sang ibu, Marian Maurice, bahkan mengalami tekanan emosional ketika harus menghadapi perubahan besar tersebut.
Menurut cerita yang disampaikan keluarga kepada Reuters, proses tersebut penuh tantangan. Namun, perkembangan ScribeMe kemudian mengubah cara keluarga melihat kemungkinan masa depan. Ayah mereka, Morad Sedky, mengatakan bahwa keluarga akhirnya berhenti menganggap sesuatu sebagai hal yang mustahil.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa inovasi teknologi sering kali tidak hanya muncul dari keinginan menciptakan produk baru. Dalam banyak kasus, inovasi berawal dari kebutuhan yang sangat konkret. Ketika solusi yang tersedia belum mampu menyelesaikan persoalan, pengguna dapat terdorong untuk menciptakan solusi sendiri.
Pengalaman Mark juga menunjukkan pentingnya perspektif pengguna dalam desain teknologi. Sebagai orang yang mengalami kebutaan, ia memahami langsung hambatan yang ingin dipecahkan. Pengetahuan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam fungsi aplikasi yang berfokus pada kebutuhan nyata pengguna tunanetra.
ScribeMe Menunjukkan Potensi AI yang Lebih Inklusif
Perkembangan ScribeMe memperlihatkan bahwa kecerdasan buatan dapat digunakan untuk tujuan yang lebih luas daripada produktivitas, pencarian informasi, atau otomatisasi pekerjaan. AI juga dapat berperan sebagai lapisan akses yang membantu seseorang berinteraksi dengan lingkungan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Bagi pengguna tunanetra, kemampuan mendapatkan deskripsi mengenai dunia di sekitar dapat memberikan tambahan informasi yang berharga. Perjalanan Karen di Kenya menjadi salah satu contoh bagaimana deskripsi audiovisual dapat membantu seseorang membangun gambaran tentang pengalaman yang berlangsung di sekelilingnya.
Penggunaan untuk menemukan ruang kelas, mengenali toko, memilih pakaian, dan belajar menunjukkan bahwa teknologi tersebut dapat diterapkan pada kebutuhan yang sangat beragam. Setiap fungsi mungkin terlihat sederhana jika berdiri sendiri, tetapi gabungan berbagai fungsi dapat memberikan perubahan berarti dalam aktivitas sehari-hari.
Keberhasilan teknologi semacam ini pada akhirnya akan ditentukan oleh seberapa baik AI memahami kebutuhan pengguna, seberapa akurat informasi yang diberikan, seberapa cepat respons diterima, serta seberapa mudah sistem digunakan dalam kondisi nyata. Faktor-faktor tersebut sama pentingnya dengan kemampuan AI itu sendiri.
Tantangan yang Tetap Perlu Diperhatikan
Teknologi AI yang menjelaskan lingkungan juga perlu digunakan dengan pemahaman bahwa hasil sistem merupakan interpretasi mesin. Informasi yang diberikan AI tidak dapat diasumsikan selalu sempurna. Dalam situasi tertentu, pengguna mungkin tetap membutuhkan verifikasi manusia atau metode lain untuk memastikan informasi penting.
Pertimbangan tersebut terutama relevan untuk aktivitas yang berkaitan dengan keselamatan. Teknologi yang membantu pengguna memahami lingkungan dapat memberikan dukungan, tetapi tidak berarti seluruh risiko navigasi atau pengambilan keputusan dapat diserahkan kepada sistem AI.
Karena itu, pengembangan aplikasi aksesibilitas perlu mempertimbangkan bukan hanya kemampuan sistem mengenali gambar, tetapi juga cara menyampaikan keterbatasan dan tingkat keyakinan informasi. Transparansi mengenai apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan AI menjadi bagian penting dari pengalaman pengguna.
Di sisi lain, perkembangan perangkat wearable dan AI memberikan peluang untuk meningkatkan kualitas teknologi tersebut. Semakin baik kamera, pemrosesan, konektivitas, dan kemampuan model AI, semakin luas pula kemungkinan fungsi yang dapat diberikan kepada pengguna dengan gangguan penglihatan.
Dari Mesir ke Pengguna di Berbagai Negara
ScribeMe lahir dari pengalaman dua saudara tunanetra di Kairo, tetapi perkembangannya telah membawa aplikasi tersebut ke pasar yang jauh lebih luas. Reuters menyebutkan bahwa aplikasi itu kini digunakan oleh ribuan pengguna di 140 negara dan mendukung 20 bahasa.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah persoalan lokal dapat menghasilkan solusi dengan relevansi global. Kebutuhan untuk memahami informasi visual tidak terbatas pada satu wilayah atau satu bahasa. Di berbagai negara, orang dengan gangguan penglihatan menghadapi tantangan yang berbeda-beda, tetapi memiliki kebutuhan dasar yang sama untuk memperoleh akses terhadap informasi.
Pengembangan teknologi dari perspektif pengguna juga dapat membantu memastikan bahwa inovasi tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis, tetapi pada hasil yang dirasakan manusia. Dalam kasus ScribeMe, pertanyaan utamanya bukan sekadar apakah AI dapat mengenali objek, melainkan apakah kemampuan tersebut benar-benar membantu seseorang menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah.
AI sebagai Jembatan Akses terhadap Informasi Visual
Kisah Mark dan Karen Morad memperlihatkan salah satu kemungkinan penting dari perkembangan AI: menjadikan informasi visual lebih mudah diakses oleh orang yang tidak dapat melihatnya secara langsung. ScribeMe mencoba melakukan hal tersebut melalui kombinasi kamera, kecerdasan buatan, perangkat seluler, dan kacamata pintar.
Perjalanan aplikasi dari proyek yang dikembangkan Mark secara mandiri hingga digunakan oleh ribuan orang menunjukkan bagaimana kebutuhan pribadi dapat berkembang menjadi inovasi yang memiliki manfaat lebih luas. Pengalaman menghadapi keterbatasan pembaca layar dalam menjelaskan diagram dan persamaan menjadi titik awal, kemudian berkembang menjadi sistem yang mampu menjawab pertanyaan mengenai lingkungan secara real time.
Teknologi ini tidak mengubah fakta bahwa pengguna ScribeMe tetap hidup dengan kondisi penglihatan yang berbeda. Namun, dengan memberikan akses tambahan terhadap informasi, AI dapat membantu mengurangi sebagian hambatan yang muncul dalam pendidikan, mobilitas, dan aktivitas sehari-hari.
Perkembangan ScribeMe juga menjadi contoh bahwa masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh model yang semakin besar atau kemampuan komputasi yang semakin tinggi. Nilai sebuah teknologi juga ditentukan oleh masalah manusia yang berhasil dibantu. Ketika kecerdasan buatan dipadukan dengan pengalaman pengguna dan desain yang inklusif, teknologi tersebut dapat menjadi alat yang membantu lebih banyak orang berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka.
Bagi Mark Morad, perjalanan itu bermula dari kebutuhan yang sangat pribadi. Namun, perkembangan ScribeMe menunjukkan bahwa solusi yang lahir dari pengalaman tersebut dapat menjangkau jauh lebih banyak orang. Dengan dukungan 20 bahasa, integrasi dengan perangkat seperti Meta smart glasses, serta penggunaan di 140 negara, aplikasi ini menjadi salah satu contoh bagaimana AI dapat diarahkan untuk memperluas akses terhadap informasi visual bagi komunitas tunanetra.



