Musim A/W 2026 menghadirkan arah baru dalam cara fashion memaknai pakaian, bukan sekadar sebagai kebutuhan untuk dikenakan, tetapi juga sebagai sarana membentuk karakter dan menampilkan persona. Wallpaper* merangkum sepuluh tampilan, aksesori, dan kecenderungan desain yang dianggap menonjol pada musim gugur-dingin 2026. Pilihannya memperlihatkan pertemuan antara referensi masa lalu, kemewahan, kenyamanan, serta eksplorasi siluet yang lebih berani.
Dalam rangkuman tersebut, sejumlah rumah mode menghadirkan kembali elemen klasik dengan pendekatan baru. Cufflink kembali mendapat perhatian di Prada, tuxedo menjadi salah satu bentuk baru dari power dressing di Saint Laurent, sementara opera gloves memperoleh momentum baru sebagai aksesori yang membawa kesan historis dan elegan. Di sisi lain, kerah berukuran besar, pakaian transparan berlapis, material kulit yang dibuat lebih ringan, serta siluet yang lebih ramping menunjukkan bagaimana pakaian klasik dapat diterjemahkan ulang untuk kebutuhan estetika masa kini.
Fashion sebagai cara membentuk persona
Wallpaper* menempatkan gagasan tentang transformasi sebagai salah satu benang merah A/W 2026. Dalam pengantar edisi gaya September 2026, pakaian dipandang memiliki kemampuan untuk membantu seseorang menciptakan persona, baik untuk tujuan praktis maupun sebagai bentuk kesenangan dan ekspresi diri. Perspektif tersebut membuat tren musim ini tidak hanya berbicara tentang satu warna atau satu jenis pakaian, tetapi mengenai cara berbagai elemen busana digunakan untuk mengubah kesan keseluruhan.
Sepuluh tren yang dipilih juga memperlihatkan kecenderungan untuk mengambil kembali elemen yang sudah dikenal. Namun, elemen tersebut tidak sekadar dihadirkan sebagai nostalgia. Cufflink, tuxedo, opera gloves, dan dropped waist, misalnya, memperoleh konteks baru melalui proporsi, material, atau cara pemakaiannya. Pendekatan tersebut membuat fashion A/W 2026 terasa seperti dialog antara sejarah busana dan interpretasi kontemporer.
1. Cufflink kembali menjadi detail penting
Salah satu detail yang mencuri perhatian adalah cufflink atau kancing manset. Prada menghadirkannya pada koleksi menswear A/W 2026 dengan manset kemeja berukuran besar. Beberapa tampilan bahkan memberikan kesan seperti telah mengalami pemakaian, sementara cufflink hadir dalam bentuk enamel berwarna.
Kembalinya cufflink menarik karena aksesori kecil ini membawa asosiasi kuat dengan gaya berpakaian yang rapi dan penuh perhatian terhadap detail. Dalam konteks yang ditampilkan Prada, elemen tersebut tidak ditempatkan sebagai aksesori formal yang kaku. Penggunaan bentuk dan warna memberikan ruang untuk pendekatan yang lebih ekspresif.
Wallpaper* mencatat bahwa koleksi tersebut juga mempertemukan pengetahuan dari masa lalu dengan keinginan untuk terus berinovasi. Dengan demikian, cufflink menjadi contoh bagaimana sebuah detail klasik dapat memperoleh kehidupan baru ketika ditempatkan dalam konteks desain yang lebih kontemporer.
2. Siluet body-conscious kembali mendapat tempat
Tren berikutnya adalah siluet yang mengikuti bentuk tubuh. Pada koleksi Alaïa, Pieter Mulier menghadirkan gaun dengan konstruksi jersey yang membentuk tubuh. Siluet body-contouring tersebut berhubungan dengan kode desain yang telah lama melekat pada rumah mode tersebut.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa permainan siluet tidak selalu harus dilakukan melalui volume yang besar. Pakaian dapat menciptakan dampak visual justru dengan mengikuti garis tubuh secara lebih dekat. Pada A/W 2026, bentuk yang terstruktur tersebut hadir sebagai bagian dari gagasan mengenai keindahan modern yang tetap berakar pada identitas rumah mode.
Alaïa menempatkan potongan yang presisi sebagai bagian penting dari gagasan kemewahan. Karena itu, tren body-conscious dalam konteks ini tidak semata-mata berarti pakaian ketat, melainkan perhatian terhadap konstruksi dan bagaimana sebuah busana membentuk tubuh pemakainya.
3. Oversized collars menghadirkan efek dramatis
Kerah berukuran besar menjadi salah satu elemen paling teatrikal dalam rangkuman A/W 2026. Bottega Veneta menggunakan exaggerated collar sebagai elemen pembingkai wajah sekaligus sumber drama dalam penampilan.
Kerah yang diperbesar memiliki kemampuan untuk mengubah proporsi sebuah pakaian secara instan. Ketika ditempatkan di sekitar wajah, bagian tersebut dapat membuat keseluruhan tampilan terasa lebih kuat dan ekspresif. Wallpaper* mengaitkan karakter kerah ini dengan sejarah penggunaan busana sebagai simbol kekuasaan, sekaligus dengan kesan glamor dan perlindungan.
Dalam pendekatan Bottega Veneta, kerah besar juga berkaitan dengan gagasan mengenai benturan antara brutalitas dan sensualitas. Hasilnya adalah detail yang tidak sekadar dekoratif, tetapi memiliki fungsi visual yang sangat kuat dalam membentuk karakter busana.
4. Flat footwear menunjukkan sisi praktis
Jika beberapa tren A/W 2026 tampil dramatis, alas kaki justru bergerak ke arah yang lebih datar. Wallpaper* mencatat bahwa footwear pria pada musim ini tetap kuat dengan bentuk flat. Jil Sander, melalui Simone Bellotti, menawarkan interpretasi terhadap ballet shoe menggunakan kulit lembut dan sol karet yang dibentuk secara futuristis.
Perubahan ini memperlihatkan bagaimana kenyamanan dan bentuk estetis dapat berjalan bersamaan. Sepatu tidak harus memiliki sol tinggi untuk menjadi elemen penting dalam keseluruhan penampilan. Bentuk yang sederhana justru dapat memberikan kesan modern ketika dipadukan dengan pakaian berpotongan presisi.
Referensi terhadap ballet shoe juga memperlihatkan bahwa inspirasi fashion dapat berpindah dari satu kategori ke kategori lainnya. Bentuk yang selama ini identik dengan alas kaki balet diterjemahkan menjadi bagian dari bahasa desain kontemporer untuk busana sehari-hari.
5. Tuxedo menjadi bentuk baru power dressing
Tuxedo kembali menjadi pusat perhatian melalui Saint Laurent. Kreatif direktor Anthony Vaccarello mengangkat kembali semangat Le Smoking, pakaian perempuan yang diperkenalkan Yves Saint Laurent pada 1960-an sebagai interpretasi terhadap tuxedo pria.
Untuk A/W 2026, versi Vaccarello hadir dengan bahu yang menurun dan bagian pinggang yang lebih ramping tanpa terasa membatasi. Styling yang menyertainya juga memperkuat kesan tajam, dengan rambut disisir ke belakang dan riasan mata yang lebih intens.
Menariknya, pendekatan terhadap power suit tidak diarahkan menjadi simbol kekuasaan yang berlebihan. Sebaliknya, desain tersebut digambarkan memiliki sikap yang lebih santai dan tidak terlalu demonstratif. Dengan cara itu, tuxedo tetap mempertahankan karakter formalnya sekaligus mendapatkan energi yang lebih rileks.
6. Sheer layers mempertemukan ketangguhan dan kelembutan
Transparansi menjadi bagian lain dari bahasa visual A/W 2026. Miu Miu menghadirkan koleksi dengan tema Mindful Intimacy yang mempertemukan dua karakter berbeda: ketangguhan dan kelembutan.
Elemen yang lebih keras terlihat melalui sepatu dengan sol karet tebal, topi trapper, serta jaket kulit bertekstur. Di sisi lain, camisole dan gaun transparan yang dihiasi kristal memberikan kualitas yang lebih halus. Kontras tersebut membuat layering menjadi salah satu cara untuk menciptakan kedalaman dalam sebuah tampilan.
Sheer layers juga menunjukkan bahwa pakaian transparan tidak harus berdiri sendiri sebagai pernyataan utama. Ketika digunakan sebagai bagian dari beberapa lapisan, material transparan dapat menciptakan permainan antara apa yang terlihat dan apa yang tertutup. Hasilnya adalah tampilan yang lebih kompleks tanpa harus bergantung pada satu elemen tunggal.
7. Lightweight leather mengubah persepsi terhadap material kulit
Kulit biasanya identik dengan material yang tebal, berat, dan memiliki struktur kuat. Namun, A/W 2026 memperlihatkan pendekatan yang lebih ringan terhadap material tersebut. Wallpaper* mencatat penggunaan leather yang dibuat lebih lentur dan mudah bergerak pada sejumlah koleksi.
Di Tod's, kulit diterapkan pada gaun dengan karakter yang menyerupai kelembutan dan jatuhnya kain katun. Bottega Veneta menggunakannya untuk tunik yang lebih longgar dan mantel hujan berpotongan lapang. Sementara itu, Hermès menghadirkan tampilan kulit dari kepala hingga kaki dengan material calfskin yang sangat lembut dan dihiasi bordir.
Perubahan karakter ini memperluas kemungkinan penggunaan kulit. Material yang selama ini sering dikaitkan dengan tampilan tegas dapat tampil lebih cair, santai, dan ringan. Dengan demikian, lightweight leather menjadi contoh bagaimana sebuah bahan klasik dapat diberi karakter baru melalui konstruksi dan pengolahan bentuk.
8. Siluet ramping menonjol pada menswear
Selain volume oversized dan detail dramatis, A/W 2026 juga menunjukkan kecenderungan terhadap garis pakaian yang lebih ramping. Siluet panjang dan lean terlihat pada sejumlah koleksi menswear, termasuk Prada, Dior, dan Celine.
Di Celine, Michael Rider menampilkan jaket malam double-breasted dengan panjang yang diperpanjang dan bentuk yang tetap ramping. Pendekatan tersebut menempatkan potongan sebagai pusat perhatian, dengan garis vertikal yang membantu membentuk kesan tubuh yang lebih panjang.
Tren ini menunjukkan bahwa oversized bukan satu-satunya cara untuk menghasilkan tampilan kontemporer. Pakaian dengan ukuran lebih dekat ke tubuh juga dapat terasa modern ketika proporsinya dibuat tepat. Pada akhirnya, perbedaan antara tampilan klasik dan kontemporer dapat ditentukan oleh detail potongan, panjang, serta hubungan antarbagian busana.
9. Opera gloves kembali sebagai simbol kemewahan
Opera gloves atau sarung tangan panjang menjadi salah satu aksesori yang mengalami kebangkitan dalam fashion A/W 2026. Aksesori tersebut memiliki sejarah panjang sebagai simbol kehalusan dan kemewahan, dan kini kembali muncul dalam berbagai interpretasi di runway.
Wallpaper* menyebut kemunculannya di sejumlah rumah mode, termasuk Mugler dan Michael Kors. Max Mara menghadirkan versi berbahan suede yang dikenakan dengan efek berkerut hingga mendekati pergelangan tangan. Inspirasi yang disebutkan berkaitan dengan Matilde di Canossa, tokoh militer abad ke-11.
Kehadiran opera gloves memperlihatkan bagaimana aksesori dapat mengubah karakter sebuah busana tanpa perlu mengubah pakaian utamanya. Sarung tangan panjang dapat memberikan kesan formal, dramatis, dan historis sekaligus. Karena itu, aksesori ini menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai bagaimana elemen masa lalu dapat digunakan untuk menciptakan tampilan yang terasa baru.
10. Dropped waist memberi kebebasan pada proporsi
Tren terakhir dalam rangkuman Wallpaper* adalah dropped waist atau garis pinggang yang diturunkan. Siluet ini memiliki hubungan erat dengan sejarah desain Chanel dan kembali digunakan Matthieu Blazy dalam koleksi A/W 2026.
Pada beberapa tampilan, garis pinggang dibuat sangat rendah hingga berada di bawah pinggul. Perubahan posisi tersebut secara langsung mengubah proporsi tubuh yang terlihat melalui pakaian. Efeknya adalah siluet yang lebih panjang pada bagian atas sekaligus memberikan ruang gerak berbeda dibandingkan desain dengan garis pinggang konvensional.
Dalam pendekatan Chanel, dropped waist juga dikaitkan dengan gagasan kebebasan bergerak dan ruang bagi perempuan untuk mengekspresikan dirinya. Karena itu, tren ini tidak hanya menarik dari sisi visual, tetapi juga memperlihatkan bagaimana perubahan kecil pada konstruksi pakaian dapat memengaruhi cara tubuh dipersepsikan.
A/W 2026 mempertemukan klasik dan eksperimen
Jika sepuluh tren tersebut dilihat secara keseluruhan, A/W 2026 tidak menunjukkan satu arah tunggal. Justru, musim ini memperlihatkan pertemuan berbagai pendekatan yang berbeda. Ada keinginan untuk kembali pada detail klasik seperti cufflink, tuxedo, dan opera gloves, tetapi ada pula eksplorasi melalui kerah berukuran besar, pakaian transparan, material kulit yang lebih ringan, dan perubahan ekstrem pada garis pinggang.
Perbedaan tersebut menjadi bagian penting dari karakter musim ini. Fashion tidak harus memilih antara masa lalu dan masa depan. Elemen historis dapat dipertahankan sambil diubah proporsinya, materialnya, atau cara memakainya. Pada saat yang sama, desain yang terlihat sangat kontemporer tetap dapat mengambil inspirasi dari bentuk yang sudah dikenal.
Pendekatan tersebut juga terlihat dari keseimbangan antara busana yang membentuk tubuh dan pakaian dengan volume lebih besar. Siluet body-conscious dari Alaïa berdampingan dengan oversized collars Bottega Veneta, sementara flat footwear menawarkan pendekatan yang lebih praktis di tengah berbagai tampilan yang sangat formal.
Detail menjadi penentu karakter tampilan
Salah satu pelajaran dari tren A/W 2026 adalah pentingnya detail dalam membentuk keseluruhan penampilan. Cufflink mungkin berukuran kecil, tetapi mampu mengubah karakter kemeja. Kerah yang diperbesar dapat menjadikan mantel sebagai pusat perhatian. Opera gloves dapat memberi nuansa historis pada tampilan modern, sedangkan perubahan posisi garis pinggang mampu mengubah proporsi sebuah gaun secara menyeluruh.
Hal tersebut membuat aksesori dan konstruksi pakaian sama pentingnya dengan bentuk utama busana. Tren musim ini tidak selalu mengharuskan seseorang mengenakan pakaian yang sepenuhnya baru. Dalam konteks styling, perubahan pada detail tertentu juga dapat menghasilkan karakter yang berbeda.
Dari runway ke gaya personal
Meski rangkuman A/W 2026 berasal dari koleksi rumah mode besar, tren tersebut pada dasarnya dapat dibaca sebagai kumpulan ide visual. Tidak semua elemen harus diterapkan sekaligus. Cufflink dapat menjadi aksen pada kemeja, siluet ramping dapat diterjemahkan melalui tailoring, sementara opera gloves atau kerah oversized dapat digunakan ketika ingin menciptakan tampilan yang lebih teatrikal.
Begitu pula dengan material kulit. Gagasan lightweight leather menunjukkan bahwa material yang biasanya terasa berat dapat diterapkan dengan karakter yang lebih ringan. Prinsip semacam ini dapat menjadi inspirasi dalam melihat kembali pakaian yang sudah ada, terutama ketika fokus diarahkan pada tekstur, proporsi, dan cara sebuah item dipadukan.
Pada akhirnya, sepuluh tren tersebut kembali pada gagasan utama yang diangkat Wallpaper*: pakaian memiliki kemampuan untuk membantu seseorang membentuk persona. Fashion A/W 2026 memperlihatkan bahwa ekspresi tersebut dapat muncul melalui detail kecil maupun perubahan siluet yang sangat mencolok.
Kesimpulan
Tren fashion A/W 2026 bergerak di antara nostalgia dan pembaruan. Cufflink, tuxedo, opera gloves, dan dropped waist membawa kembali elemen yang memiliki sejarah panjang, sementara oversized collars, sheer layers, lightweight leather, flat footwear, dan slim lines memberikan interpretasi yang lebih kontemporer.
Sepuluh tren yang dirangkum Wallpaper* menunjukkan bahwa kekuatan fashion musim ini bukan terletak pada satu formula yang harus diikuti semua orang. Sebaliknya, keberagaman siluet, material, aksesori, dan referensi sejarah memberikan ruang lebih luas untuk membangun gaya personal. Dari detail manset hingga garis pinggang yang diturunkan, setiap elemen dapat menjadi alat untuk menentukan bagaimana sebuah pakaian dilihat dan bagaimana pemakainya ingin tampil.



