Musim A/W 2026 menghadirkan cara baru dalam melihat pakaian, bukan sekadar sebagai kebutuhan sehari-hari, tetapi sebagai medium untuk membentuk persona dan mengekspresikan karakter. Dalam edisi September 2026, Wallpaper* merangkum sejumlah tampilan, aksesori, dan kecenderungan gaya yang dianggap paling menentukan arah fashion musim gugur dan dingin tahun ini.
Dari runway berbagai rumah mode, terlihat kecenderungan menarik untuk kembali mengambil elemen klasik lalu memberinya konteks baru. Cufflinks hadir dengan sentuhan vintage, siluet tubuh tampil lebih tegas, kerah dibuat semakin besar, sementara sepatu datar menawarkan pendekatan yang lebih fungsional. Di sisi lain, tuxedo, bahan transparan, kulit ringan, sarung tangan opera, dan dropped waist memperlihatkan bagaimana warisan mode dapat diterjemahkan kembali untuk kebutuhan gaya kontemporer.
Fashion sebagai Cara Membentuk Persona
Salah satu gagasan yang menjadi benang merah tren A/W 2026 adalah hubungan antara pakaian dan identitas. Fashion tidak hanya berbicara mengenai apa yang sedang populer, tetapi juga mengenai bagaimana seseorang memilih untuk tampil dan karakter seperti apa yang ingin dibangun melalui busana.
Pendekatan tersebut terlihat dari keberagaman arah yang muncul dalam koleksi musim ini. Ada desainer yang memilih siluet ramping dan terstruktur, sementara yang lain memperbesar proporsi tertentu atau memainkan transparansi, tekstur, serta aksesori. Hasilnya adalah musim yang tidak bergantung pada satu estetika tunggal.
Alih-alih menghadirkan tren yang harus diikuti secara seragam, A/W 2026 menawarkan berbagai perangkat styling yang dapat digunakan untuk membentuk persona. Elemen klasik dapat dibuat lebih modern, sementara detail yang sebelumnya dianggap formal dapat dipindahkan ke konteks yang lebih santai.
1. Cufflinks Kembali Menjadi Sorotan
Salah satu detail yang kembali mendapat perhatian adalah cufflinks. Aksesori yang selama ini identik dengan pakaian formal tersebut muncul dalam interpretasi baru pada koleksi A/W 2026, termasuk di Prada yang mengolahnya dengan nuansa vintage.
Kembalinya cufflinks menunjukkan bagaimana detail kecil dapat memiliki pengaruh besar terhadap keseluruhan tampilan. Alih-alih menjadi pelengkap yang tersembunyi, aksesori ini dapat berfungsi sebagai titik perhatian yang memberikan karakter pada kemeja dan tailoring.
Kecenderungan tersebut juga memperlihatkan minat fashion terhadap tradisi. Elemen yang memiliki sejarah panjang tidak harus ditinggalkan ketika gaya berubah. Sebaliknya, detail klasik dapat dihidupkan kembali melalui proporsi, material, atau cara pemakaiannya.
Dalam konteks A/W 2026, cufflinks menjadi contoh bagaimana aksesori lama dapat memperoleh relevansi baru. Sentuhan vintage yang dibawa Prada menunjukkan bahwa modernitas tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi juga dapat berarti melihat kembali elemen lama dengan perspektif berbeda.
2. Siluet Body-Conscious Semakin Tegas
Tren berikutnya adalah siluet body-conscious, terutama terlihat pada koleksi Alaïa di bawah arahan Pieter Mulier. Pendekatan ini menempatkan bentuk tubuh sebagai bagian penting dari konstruksi pakaian, dengan jersey yang direkayasa untuk mengikuti sekaligus menonjolkan garis tubuh.
Siluet body-conscious menawarkan kontras terhadap tren oversized yang beberapa musim terakhir sangat dominan. Alih-alih menyembunyikan bentuk tubuh di balik volume besar, pakaian dirancang untuk menciptakan hubungan langsung antara material dan tubuh pemakainya.
Pada A/W 2026, pendekatan tersebut tidak sekadar menjadi pernyataan sensual. Ada perhatian terhadap konstruksi dan kualitas bentuk sehingga pakaian tetap terlihat terkontrol. Alaïa memperlihatkan bagaimana siluet yang mengikuti tubuh dapat menjadi bagian dari bahasa kemewahan yang bersifat lebih abadi.
Kecenderungan ini juga menegaskan bahwa pakaian yang mengikuti bentuk tubuh tidak harus kehilangan sisi elegan. Dengan pemilihan material dan konstruksi yang tepat, garis tubuh dapat menjadi dasar bagi tampilan yang sophisticated dan memiliki karakter kuat.
3. Oversized Collars Memberikan Efek Dramatis
Kerah berukuran besar menjadi salah satu detail yang paling mudah dikenali dalam tren A/W 2026. Bottega Veneta mengeksplorasi oversized collars untuk menghadirkan efek teatrikal pada busana, sekaligus memberikan kesan glamor dan protektif.
Kerah biasanya merupakan bagian kecil dari keseluruhan pakaian, tetapi ketika volumenya diperbesar, fungsi visualnya berubah. Kerah dapat membingkai wajah, mengubah proporsi tubuh bagian atas, dan memberikan karakter kuat bahkan ketika bagian pakaian lainnya dibuat relatif sederhana.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perubahan kecil pada proporsi dapat menghasilkan efek besar. Oversized collar tidak selalu harus diterjemahkan secara ekstrem dalam pemakaian sehari-hari. Prinsipnya dapat diterapkan melalui kerah yang sedikit lebih lebar atau memiliki struktur lebih tegas.
Dalam konteks runway, ukuran yang dramatis membantu menciptakan siluet yang mudah dikenali. Di luar runway, elemen tersebut dapat menjadi cara untuk memberikan aksen pada mantel, jaket, atau kemeja tanpa harus menambahkan banyak aksesori lain.
4. Flat Footwear Menawarkan Pendekatan Fungsional
Tren berikutnya bergerak ke arah yang lebih praktis. Flat footwear, termasuk sepatu bergaya ballet, menjadi salah satu elemen yang menonjol dalam A/W 2026. Jil Sander menjadi salah satu rumah mode yang memperlihatkan bagaimana alas kaki datar dapat menjadi bagian dari bahasa fashion yang refined.
Kehadiran sepatu datar memperlihatkan bahwa estetika tidak harus bergantung pada tinggi hak. Sepatu dapat tetap terlihat elegan melalui bentuk, material, dan proporsi meskipun menawarkan konstruksi yang lebih praktis.
Untuk gaya sehari-hari, kecenderungan ini juga mudah diterapkan. Flat shoes dapat dipadukan dengan tailoring, rok, celana panjang, maupun pakaian berlapis. Dengan demikian, alas kaki tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap visual, tetapi juga mendukung kebutuhan mobilitas pemakainya.
Tren tersebut memperkuat kecenderungan A/W 2026 yang menggabungkan fashion dan fungsi. Kemewahan tidak selalu diwujudkan melalui sesuatu yang berlebihan; kenyamanan dan kemudahan penggunaan juga dapat menjadi bagian dari estetika yang modern.
5. Tuxedo Mendapat Interpretasi Baru
Tuxedo kembali menjadi salah satu simbol penting musim A/W 2026. Saint Laurent di bawah Anthony Vaccarello mengolah kembali pakaian formal tersebut dengan pendekatan yang lebih modern dan rileks, menjadikan power suit terasa lebih fleksibel.
Tuxedo memiliki sejarah panjang sebagai simbol formalitas. Namun, interpretasi terbaru menunjukkan bahwa pakaian tersebut tidak harus selalu digunakan dalam konteks acara yang sangat resmi. Potongan tailoring dapat dipakai untuk membangun tampilan yang lebih personal dan tidak terlalu kaku.
Dalam perkembangan fashion kontemporer, batas antara pakaian formal dan pakaian sehari-hari semakin cair. Tuxedo menjadi salah satu contoh paling jelas. Struktur bahu, lapel, kemeja, dan celana tailoring tetap mempertahankan karakter formal, tetapi styling dapat membuat keseluruhan tampilan terasa lebih santai.
Kecenderungan ini juga memperlihatkan bagaimana power dressing terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya kekuatan visual banyak bergantung pada struktur yang sangat tegas, A/W 2026 menunjukkan bahwa tailoring dapat tetap kuat sekaligus memiliki sisi lebih rileks.
6. Sheer Layers Menggabungkan Kekuatan dan Kelembutan
Material transparan kembali menjadi bagian penting dari bahasa fashion A/W 2026. Miu Miu menggunakan sheer layers untuk menciptakan perpaduan antara ketangguhan dan kelembutan. Camisole berhias kristal menjadi salah satu contoh bagaimana transparansi dapat dipadukan dengan detail dekoratif.
Sheer clothing memiliki kemampuan untuk menciptakan lapisan visual. Ketika digunakan sebagai bagian dari layering, material transparan dapat memperlihatkan pakaian di bawahnya tanpa sepenuhnya mengungkapkan bentuk keseluruhan. Hal ini membuat styling menjadi lebih kompleks.
Dalam koleksi Miu Miu, pendekatan tersebut ditempatkan dalam gagasan yang berkaitan dengan intimacy. Transparansi tidak hanya digunakan untuk menghasilkan efek sensual, tetapi juga untuk menciptakan hubungan antara pakaian, tubuh, dan lapisan yang dikenakan.
Bagi pemakai sehari-hari, prinsip sheer layering dapat diterapkan dengan cara yang lebih sederhana. Material transparan dapat ditempatkan di atas atau di bawah pakaian lain sehingga menghasilkan kedalaman visual tanpa membuat keseluruhan tampilan terasa berlebihan.
7. Lightweight Leather Membuat Material Klasik Terasa Lebih Ringan
Kulit merupakan salah satu material yang memiliki hubungan kuat dengan fashion musim gugur dan dingin. Namun, A/W 2026 memperlihatkan pendekatan yang lebih ringan terhadap material tersebut. Rumah mode seperti Tod's dan Hermès menghadirkan lightweight leather sebagai alternatif yang terasa lebih ringan dan modern.
Penggunaan kulit ringan memperluas kemungkinan styling. Material yang secara tradisional sering dikaitkan dengan jaket berat atau pakaian luar dapat diterjemahkan menjadi busana yang lebih fleksibel dan mudah bergerak.
Kecenderungan tersebut juga memperlihatkan perhatian terhadap evolusi material. Tradisi tidak harus dipertahankan dalam bentuk yang sama. Dengan mengubah bobot dan konstruksi, kulit dapat mengambil fungsi baru tanpa kehilangan identitasnya sebagai material premium.
Pendekatan ini cocok dengan arah A/W 2026 secara keseluruhan yang banyak mempertemukan elemen tradisional dan kebutuhan modern. Kulit tetap membawa asosiasi terhadap craftsmanship dan kemewahan, tetapi tampil dengan karakter yang lebih ringan dan adaptif.
8. Siluet Slim Kembali Menguat dalam Menswear
Di ranah menswear, siluet slim menjadi salah satu kecenderungan yang menonjol. Koleksi dari Prada hingga Celine menunjukkan kembalinya garis yang lebih ramping dan tailoring yang lebih refined.
Perubahan ini menarik karena terjadi setelah periode panjang ketika volume besar dan siluet oversized menjadi salah satu pendekatan dominan dalam pakaian pria. A/W 2026 menunjukkan bahwa perhatian kembali diarahkan pada garis tubuh, proporsi, dan panjang pakaian.
Siluet slim tidak selalu berarti pakaian yang ketat. Yang lebih penting adalah bagaimana pakaian membentuk garis vertikal dan menghasilkan tampilan yang lebih panjang serta terstruktur. Dengan pendekatan tersebut, pakaian pria dapat terlihat rapi tanpa harus kembali pada formalitas tradisional.
Prada dan Celine menunjukkan bagaimana tailoring ramping dapat dikombinasikan dengan elemen lain sehingga tidak terasa konservatif. Hasilnya adalah bahasa menswear yang lebih bersih, modern, dan terkontrol.
9. Opera Gloves Membawa Kembali Nuansa Historis
Opera gloves menjadi salah satu aksesori yang kembali memperoleh tempat dalam fashion A/W 2026. Sarung tangan panjang yang memiliki hubungan erat dengan busana formal dan kemewahan historis tersebut terlihat dalam koleksi seperti Max Mara dan Mugler.
Aksesori ini memiliki kekuatan visual yang cukup besar karena langsung mengubah proporsi lengan dan memberikan kesan dramatis. Opera gloves dapat membuat gaun atau tailoring terlihat lebih formal, tetapi juga dapat digunakan sebagai elemen kontras ketika dipadukan dengan busana yang lebih sederhana.
Kembalinya aksesori tersebut memperlihatkan minat terhadap bahasa fashion masa lalu. Namun, penggunaan opera gloves pada A/W 2026 tidak harus dipahami sebagai upaya menghidupkan kembali gaya lama secara utuh. Elemen historis justru digunakan sebagai bahan untuk menciptakan tampilan yang lebih kontemporer.
Max Mara menjadi salah satu contoh menarik. Dalam koleksinya, opera gloves hadir bersama interpretasi yang mengambil inspirasi dari estetika abad pertengahan. Mugler, di sisi lain, menunjukkan bagaimana aksesori tersebut dapat menjadi bagian dari bahasa mode yang lebih dramatis.
10. Dropped Waist Kembali Diperhatikan
Tren terakhir dalam rangkuman Wallpaper* adalah dropped waist. Chanel termasuk rumah mode yang kembali mengeksplorasi posisi pinggang yang lebih rendah sebagai cara untuk menciptakan kebebasan dan fluiditas pada siluet perempuan.
Penempatan garis pinggang memiliki pengaruh besar terhadap proporsi sebuah pakaian. Ketika garis tersebut diturunkan, tubuh memperoleh bentuk visual yang berbeda dibandingkan siluet dengan pinggang tinggi atau posisi natural.
Dropped waist dapat menghasilkan kesan yang lebih panjang pada bagian atas tubuh sekaligus memberikan ruang gerak pada bagian bawah. Karena itu, pendekatan ini dapat menghasilkan siluet yang terasa lebih rileks tanpa kehilangan struktur.
Pada A/W 2026, elemen tersebut kembali digunakan sebagai bagian dari eksplorasi terhadap kebebasan berpakaian. Chanel menunjukkan bagaimana sebuah konstruksi historis dapat diterjemahkan menjadi sesuatu yang terasa relevan dengan gaya kontemporer.
Benang Merah Tren A/W 2026
Jika sepuluh tren tersebut dilihat secara keseluruhan, terlihat bahwa A/W 2026 tidak bergerak menuju satu bentuk estetika yang seragam. Justru sebaliknya, musim ini mempertemukan berbagai kutub: formal dan santai, klasik dan eksperimental, ramping dan dramatis, praktis dan teatrikal.
Cufflinks dan opera gloves membawa kembali aksesori yang memiliki akar historis. Tuxedo dan tailoring menghadirkan kembali bahasa formal. Pada saat yang sama, sheer layers, body-conscious silhouettes, dan dropped waist memberikan ruang bagi eksplorasi tubuh dan gerak.
Di sisi lain, oversized collars dan material seperti lightweight leather menunjukkan bahwa perubahan proporsi dan material dapat mengubah cara sebuah pakaian dibaca. Flat footwear memperlihatkan sisi fungsional, sedangkan slim silhouettes membawa kembali perhatian pada garis dan ketepatan konstruksi.
Dengan demikian, tren A/W 2026 lebih tepat dipahami sebagai kumpulan perangkat styling daripada aturan berpakaian yang harus diikuti secara mutlak. Setiap elemen dapat digunakan secara terpisah atau dikombinasikan untuk menciptakan identitas yang berbeda.
Dari Runway ke Gaya Sehari-hari
Salah satu tantangan ketika melihat tren runway adalah menerjemahkan bahasa visual yang sangat kuat ke dalam kebutuhan sehari-hari. Tidak semua elemen harus digunakan dalam bentuk ekstrem seperti yang terlihat di panggung peragaan. Yang dapat diambil adalah prinsip di baliknya.
Cufflinks, misalnya, dapat menjadi aksen sederhana pada kemeja. Oversized collar dapat diterapkan melalui mantel atau jaket dengan kerah yang sedikit lebih besar. Flat footwear dapat menggantikan sepatu berhak tanpa menghilangkan kesan polished, sementara tuxedo dapat diterjemahkan menjadi blazer tailoring yang lebih santai.
Sheer layers juga dapat digunakan melalui layering yang lebih terkendali, sedangkan lightweight leather dapat menjadi pilihan untuk outerwear atau aksesori. Opera gloves mungkin lebih bersifat statement, tetapi prinsip penggunaan satu aksesori dramatis dapat diterapkan pada tampilan malam.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa tren tidak harus membuat seseorang kehilangan identitas personal. Justru, tren dapat menjadi bahan untuk mengembangkan gaya sendiri. A/W 2026 memberi banyak pilihan bagi mereka yang ingin bereksperimen tanpa harus mengikuti seluruh kecenderungan sekaligus.
Fashion yang Kembali pada Identitas
Kesepuluh tren tersebut pada akhirnya menunjukkan satu arah besar: fashion A/W 2026 semakin menekankan identitas. Pakaian digunakan untuk membentuk persona, bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa seseorang mengikuti musim terbaru.
Hal ini menjelaskan mengapa elemen klasik dapat kembali muncul bersamaan dengan material dan siluet yang lebih eksperimental. Ketika fashion berfungsi sebagai alat ekspresi, tidak ada alasan untuk memilih antara masa lalu dan masa kini. Keduanya dapat berjalan berdampingan dan menghasilkan bahasa baru.
A/W 2026 juga memperlihatkan bahwa kemewahan dapat muncul melalui berbagai bentuk. Ia dapat hadir dalam ketepatan tailoring, konstruksi yang mengikuti tubuh, kualitas material, detail aksesori, maupun keberanian memainkan proporsi.
Dari cufflinks hingga dropped waist, tren musim ini memperlihatkan bahwa perubahan kecil dapat mengubah keseluruhan karakter pakaian. Kerah yang diperbesar, garis pinggang yang diturunkan, sepatu yang dibuat datar, atau sarung tangan panjang dapat menjadi elemen yang menentukan persona sebuah tampilan.
Pada akhirnya, kekuatan fashion A/W 2026 terletak pada kebebasan untuk memilih. Tidak ada satu siluet atau aksesori yang harus mendominasi seluruh gaya. Yang muncul justru sebuah lanskap mode yang memungkinkan berbagai karakter hidup berdampingan, dari minimal dan fungsional hingga romantis, sensual, formal, dan teatrikal.
Sepuluh tren yang dirangkum Wallpaper* memberikan gambaran mengenai bagaimana rumah-rumah mode membaca kebutuhan dan selera baru. Tradisi tetap memiliki tempat, tetapi selalu melalui reinterpretasi. Fungsionalitas hadir tanpa harus mengorbankan estetika, sementara kemewahan dapat tampil melalui detail yang lebih halus.
Dengan pendekatan tersebut, A/W 2026 menjadi musim yang tidak sekadar menawarkan daftar pakaian baru, tetapi juga memperlihatkan cara berbeda dalam menggunakan fashion sebagai bahasa personal. Dari aksesori kecil hingga perubahan besar pada siluet, setiap pilihan membuka kemungkinan baru untuk menentukan bagaimana seseorang ingin terlihat dan, pada akhirnya, bagaimana ia ingin dikenali.



