Trump Kembali Klaim Selat Hormuz, Ketegangan AS-Iran Memanas

Donald Trump kembali menegaskan klaim atas Selat Hormuz di tengah kebuntuan dengan Iran dan ancaman sanksi baru Amerika Serikat.

Donald Trump dan ketegangan Amerika Serikat-Iran terkait Selat Hormuz
Donald Trump dan ketegangan Amerika Serikat-Iran terkait Selat Hormuz

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mempertahankan tekanan terhadap Teheran dan kembali menegaskan klaimnya terkait Selat Hormuz. Pernyataan tersebut muncul ketika jalur pelayaran strategis itu masih menghadapi gangguan serius dan Washington bersiap mengumumkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa konflik AS-Iran belum menemukan jalan keluar diplomatik yang jelas. Reuters melaporkan pada Sabtu, 22 Agustus 2026, bahwa kedua negara masih saling melontarkan pernyataan keras menjelang pengumuman sanksi baru Amerika Serikat pada Senin. Pada saat yang sama, kedua pihak tidak sedang terlibat baku tembak, tetapi juga belum kembali menjalankan pembicaraan damai secara langsung.

Trump Kembali Soroti Selat Hormuz

Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama dalam perselisihan Washington dan Teheran. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu memiliki arti penting bagi perdagangan energi dunia karena menjadi jalur bagi pengiriman minyak dan gas dalam jumlah besar.

Associated Press melaporkan bahwa Trump bahkan mengunggah peta di media sosial yang menggambarkan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Sehari sebelumnya, Trump juga mengatakan dirinya menyukai gagasan untuk menjadikan selat tersebut sebagai wilayah AS, meski tidak memberikan rincian mengenai bagaimana gagasan itu akan diterapkan.

Klaim tersebut mendapat respons keras dari Iran. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menanggapi pernyataan Trump dengan menyebut gagasan tersebut sebagai sebuah delusi. Iran juga kembali menegaskan bahwa pembukaan penuh Selat Hormuz berkaitan dengan pemenuhan tuntutan Tehran terhadap Washington.

Iran Pertahankan Kendali atas Lalu Lintas Kapal

Iran menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka sepenuhnya sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan yang berkaitan dengan kesepakatan sebelumnya. Tuntutan tersebut antara lain mencakup penghapusan blokade terhadap pelabuhan Iran, pelepasan aset Iran yang dibekukan, pencabutan sanksi minyak, serta penghentian ancaman dan operasi militer.

Posisi tersebut membuat upaya untuk memulihkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz menjadi semakin rumit. Reuters melaporkan bahwa pengiriman minyak melalui selat itu hampir terhenti. Ribuan pelaut juga dilaporkan masih tertahan bersama ratusan kapal.

Data pelacakan kapal yang dikutip Reuters menunjukkan hanya sedikit kapal komoditas yang melintas pada salah satu hari terakhir yang dilaporkan. Tidak ada kapal pengangkut minyak mentah berukuran besar maupun kapal pengangkut gas alam cair yang tercatat melintas dalam data tersebut.

Arus Minyak Global Ikut Terganggu

Gangguan di Selat Hormuz tidak hanya menjadi persoalan antara Washington dan Teheran. Jalur tersebut memiliki pengaruh langsung terhadap perdagangan energi internasional. Menurut Reuters, rata-rata tujuh hari pengiriman minyak melalui selat berada di sekitar 8 juta barel per hari, turun dari lebih dari 20 juta barel per hari sebelum perang.

Penurunan arus tersebut membuat Selat Hormuz kembali menjadi perhatian utama pasar energi. Setiap gangguan berkepanjangan di kawasan itu berpotensi meningkatkan tekanan terhadap pasokan minyak dan gas serta menambah ketidakpastian bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Situasi juga memperlihatkan bagaimana konflik regional dapat berkembang menjadi persoalan ekonomi global. Ketika kapal tanker menghadapi risiko untuk melintasi jalur strategis, perusahaan pelayaran, pembeli energi, dan negara pengimpor harus mempertimbangkan risiko tambahan dalam rantai pasokan.

Washington Siapkan Sanksi Baru

Selain tekanan terkait Selat Hormuz, Amerika Serikat bersiap meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin untuk mengumumkan langkah sanksi baru yang disebut Washington sebagai salah satu paket tekanan terberat terhadap Iran.

Sasaran kebijakan tersebut tidak hanya Iran. Amerika Serikat juga mendorong negara-negara yang masih melakukan perdagangan dengan Teheran untuk mengikuti kebijakan Washington. China menjadi salah satu negara yang mendapat perhatian karena menurut data 2025 yang dikutip Reuters, China membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang dikirim melalui jalur laut.

Iran menolak pendekatan tersebut dan menilai rencana sanksi baru Amerika Serikat sebagai upaya memperluas kewenangan Washington terhadap negara lain. Pemerintah Iran juga mempertanyakan dasar hukum penerapan sanksi sekunder terhadap negara-negara yang melakukan hubungan ekonomi dengan Teheran.

China Berada di Posisi Penting

Keterlibatan China menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan konflik ini. Beijing merupakan pembeli utama minyak Iran sehingga kebijakan Amerika Serikat terhadap negara-negara yang tetap berdagang dengan Iran berpotensi menciptakan persoalan baru dalam hubungan Washington dan Beijing.

China sendiri mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi. Posisi tersebut menunjukkan bahwa kebuntuan di Selat Hormuz tidak hanya menyangkut dua negara yang berkonflik, tetapi juga melibatkan kepentingan ekonomi negara besar lain yang bergantung pada stabilitas jalur perdagangan energi.

Iran Menghadapi Tekanan Ekonomi

Tekanan militer dan ekonomi Amerika Serikat telah memberikan dampak besar terhadap kondisi Iran. Reuters melaporkan bahwa ekonomi Iran mengalami kerusakan serius, sementara kemampuan angkatan laut dan udara negara tersebut juga terdampak oleh serangan Amerika Serikat.

Meski demikian, Iran masih memiliki kemampuan rudal dan drone yang dinilai cukup untuk mengancam lalu lintas kapal tanker serta kepentingan negara-negara di kawasan. Kondisi ini membuat risiko keamanan di sekitar Selat Hormuz tetap tinggi.

Di dalam Iran sendiri terdapat perbedaan penekanan mengenai langkah berikutnya. Sejumlah pejabat militer menyerukan respons keras terhadap ancaman dari luar negeri, sementara Presiden Masoud Pezeshkian mendorong penyelesaian melalui diplomasi.

Jalan Diplomasi Masih Terbuka

Di tengah meningkatnya tekanan, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Pezeshkian menyatakan bahwa perang sebaiknya diakhiri melalui penyelesaian yang menjaga posisi dan martabat Iran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf juga mengakui bahwa tekanan ekonomi menjadi persoalan serius bagi negaranya.

Qalibaf menekankan bahwa kekuatan militer saja tidak cukup untuk menjaga keberlangsungan negara apabila masyarakat menghadapi tekanan ekonomi dan produksi nasional terganggu. Pernyataan tersebut memperlihatkan adanya pertimbangan ekonomi yang semakin kuat dalam perdebatan mengenai strategi Iran menghadapi Amerika Serikat.

Namun, hingga 22 Agustus, belum terlihat tanda bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan baru. Trump masih menekan Iran agar menerima kesepakatan yang menurutnya tepat, sementara Tehran mempertahankan tuntutan terkait blokade, sanksi, aset yang dibekukan, dan operasi militer.

Selat Hormuz Jadi Titik Penentu

Perselisihan mengenai Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling menentukan dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran. Bagi Washington, pembukaan kembali jalur pelayaran menjadi bagian penting dari tekanan terhadap Teheran. Bagi Iran, kendali atas lalu lintas selat menjadi salah satu alat tawar dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Ketegangan tersebut membuat perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan sangat penting. Pengumuman sanksi baru Amerika Serikat, respons Iran, serta kondisi lalu lintas kapal di Selat Hormuz akan menjadi indikator apakah kedua negara bergerak menuju eskalasi lebih jauh atau kembali mencari ruang untuk diplomasi.

Bagi dunia internasional, persoalan ini memiliki konsekuensi yang jauh lebih luas daripada hubungan bilateral AS-Iran. Selama arus energi melalui salah satu jalur perdagangan paling strategis dunia belum kembali normal, risiko terhadap pasokan energi, perdagangan global, dan stabilitas ekonomi tetap menjadi perhatian.

Sumber