BRI terus mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia agar tidak hanya berkembang di pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang untuk masuk ke pasar internasional. Salah satu contoh yang tengah mendapat dukungan tersebut adalah NOMNOM, UMKM yang mengembangkan camilan berbahan pangan lokal dan kini bersiap memperluas pasar ke Singapura.
Langkah NOMNOM menuju pasar luar negeri menjadi gambaran bahwa pengembangan UMKM tidak berhenti pada peningkatan produksi. Kualitas produk, kemampuan membangun merek, pengelolaan bisnis, jaringan usaha, serta akses terhadap calon pembeli internasional menjadi bagian penting agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Dari Pangan Lokal Menjadi Produk Bernilai Tambah
NOMNOM dirintis oleh Erwin Jogisaputra pada 2016 dengan visi menghadirkan camilan sehat berbahan baku lokal yang dapat diterima pasar global. Usaha tersebut pada awalnya mengembangkan rengginang panggang sebagai alternatif camilan dengan pendekatan yang berbeda dari produk sejenis.
Seiring perkembangan usaha, NOMNOM terus melakukan inovasi dengan memanfaatkan bahan pangan yang dekat dengan masyarakat Indonesia. Rengginang, jamur, dan tempe kemudian dikembangkan menjadi produk camilan dengan konsep yang lebih modern. Pendekatan tersebut membuat bahan pangan lokal tidak hanya diposisikan sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari produk dengan nilai tambah.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa inovasi dapat menjadi salah satu cara bagi UMKM untuk memperluas segmen konsumen. Bagi produk makanan, kemampuan mengolah bahan lokal menjadi produk yang praktis dan memiliki identitas merek menjadi penting ketika pelaku usaha ingin menjangkau konsumen di luar negeri.
Inovasi NOMNOM Berlanjut dari Rengginang hingga Tempe
Salah satu perkembangan penting dalam perjalanan NOMNOM terjadi ketika pandemi Covid-19. Pada periode tersebut, usaha ini berupaya membantu petani jamur lokal dalam memasarkan hasil panen dengan menghadirkan Super Shrooms, camilan jamur panggang yang dikembangkan dengan karakteristik bebas gluten dan tanpa lemak trans.
Produk tersebut menjadi bagian dari upaya NOMNOM memperluas pilihan camilan berbasis bahan lokal. Perusahaan kemudian kembali mengembangkan portofolio produknya melalui Tempe Bites. Produk berbahan dasar tempe tersebut diarahkan sebagai pilihan camilan praktis dengan kandungan protein bagi konsumen yang memiliki aktivitas tinggi.
Rangkaian inovasi tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan produk menjadi salah satu fondasi bagi UMKM yang ingin bertumbuh. Produk lokal perlu terus disesuaikan dengan kebutuhan konsumen tanpa kehilangan identitas bahan bakunya.
Tantangan UMKM Tidak Hanya soal Produk
Di balik perkembangan NOMNOM, terdapat tantangan yang juga umum dihadapi pelaku UMKM ketika usaha mulai berkembang. Erwin mengungkapkan bahwa keterbatasan distribusi, perluasan pasar, pembangunan tim, serta pengembangan organisasi menjadi sejumlah tantangan dalam perjalanan bisnis.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kualitas produk saja belum cukup untuk membawa UMKM naik kelas. Ketika skala bisnis meningkat, pelaku usaha juga perlu memperkuat kemampuan mengelola organisasi, menyusun strategi pemasaran, memperluas jaringan, dan membaca kebutuhan pasar.
Dalam konteks ekspansi internasional, tantangan tersebut menjadi semakin penting. Pelaku UMKM perlu memahami bahwa memasuki pasar baru membutuhkan kesiapan bisnis yang lebih menyeluruh. Produk yang memiliki potensi harus didukung dengan strategi yang memungkinkan usaha memenuhi kebutuhan calon mitra dan konsumen.
Peran Program Pengusaha Muda BRILian
BRI menjadi salah satu pihak yang mendukung perjalanan NOMNOM melalui berbagai program pemberdayaan UMKM. Erwin menyebut dirinya telah menjadi nasabah BRI sejak 2018 dan kemudian memperoleh kesempatan mengikuti program pemberdayaan yang disediakan bank tersebut.
Salah satu program yang diikuti NOMNOM adalah Pengusaha Muda BRILian. Dalam program tersebut, pelaku usaha mendapatkan proses seleksi, pembekalan, serta pengembangan bisnis yang diarahkan untuk memperkuat kapasitas usaha.
Bagi NOMNOM, pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan penjualan produk. Program tersebut juga membantu pelaku usaha melihat bisnis dari sudut pandang yang lebih luas, termasuk pentingnya membangun merek, memahami kebutuhan pasar, dan mempersiapkan usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
Partisipasi dalam program tersebut juga membawa NOMNOM meraih posisi Top 3 Pengusaha Muda BRILian. Pencapaian itu menjadi salah satu momentum dalam perjalanan bisnis NOMNOM untuk memperluas jaringan dan meningkatkan kesiapan memasuki pasar yang lebih luas.
Respons Positif dari Pasar Singapura
Peluang ekspansi internasional NOMNOM semakin terbuka setelah usaha tersebut memperoleh kesempatan mengikuti pameran internasional di Singapura yang difasilitasi BRI. Pameran tersebut menjadi ruang bagi NOMNOM untuk memperkenalkan produk sekaligus melihat secara langsung respons calon pembeli di pasar luar negeri.
Respons yang diterima disebut positif. Produk NOMNOM berhasil menarik perhatian calon buyer di Singapura dan prosesnya telah memasuki tahap negosiasi akhir. Dengan demikian, rencana masuk ke pasar Singapura tidak sekadar berupa target jangka panjang, tetapi sudah berada pada tahap penjajakan bisnis yang lebih konkret.
Meski demikian, proses negosiasi tersebut tetap perlu dilihat sebagai bagian dari tahapan menuju realisasi ekspansi. Hasil akhir kerja sama belum dapat dipastikan sampai seluruh proses bisnis antara pihak terkait selesai. Bagi NOMNOM, respons positif dari calon buyer menjadi sinyal penting mengenai peluang produk pangan lokal Indonesia di pasar internasional.
BRI Bangun Ekosistem Pemberdayaan UMKM
Corporate Secretary BRI Dhanny menilai perjalanan NOMNOM menunjukkan pentingnya ekosistem yang mampu menghubungkan inovasi UMKM dengan akses pasar yang lebih luas. Menurut BRI, daya saing UMKM tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga kemampuan pelaku usaha beradaptasi, berinovasi, serta memperoleh akses ke pasar.
Karena itu, pendekatan pemberdayaan yang dikembangkan BRI mencakup beberapa aspek, mulai dari pembiayaan, pendampingan, digitalisasi hingga business matching. Dukungan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku UMKM memperkuat fondasi bisnis sekaligus membuka peluang bertemu dengan pasar dan mitra baru.
Bagi UMKM seperti NOMNOM, business matching memiliki peran penting karena mempertemukan produk dengan calon pembeli atau mitra yang sesuai. Kesempatan tersebut dapat membantu pelaku usaha mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan pasar sekaligus membangun hubungan bisnis yang sebelumnya sulit dijangkau dari pasar domestik.
Bagian dari Ekosistem Danantara
Penguatan UMKM tersebut juga ditempatkan BRI dalam konteks perannya sebagai bagian dari ekosistem Danantara Indonesia. Melalui pendekatan tersebut, pemberdayaan UMKM diarahkan untuk menciptakan nilai tambah dengan memperluas akses pelaku usaha terhadap pembiayaan, pendampingan, teknologi, dan pasar internasional.
Perjalanan NOMNOM memperlihatkan bagaimana proses naik kelas dapat berlangsung secara bertahap. Usaha yang berawal dari pengembangan camilan berbahan pangan lokal kemudian memperluas portofolio produk, memperkuat kapasitas bisnis, mengikuti program pengembangan pengusaha, hingga memperoleh kesempatan memperkenalkan produk kepada calon buyer di luar negeri.
Jika proses negosiasi di Singapura dapat berlanjut menjadi kerja sama, langkah tersebut akan menjadi perkembangan penting bagi NOMNOM sekaligus menunjukkan peluang produk pangan lokal Indonesia untuk memasuki pasar internasional. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana kesiapan bisnis terus dipertahankan setelah pasar baru berhasil dijangkau.
Peluang UMKM Lokal Menembus Pasar Global
Kisah NOMNOM menegaskan bahwa perjalanan UMKM menuju pasar global membutuhkan lebih dari sekadar produk yang menarik. Inovasi, konsistensi kualitas, penguatan merek, pengelolaan bisnis, jaringan, serta akses terhadap calon mitra menjadi bagian yang saling berkaitan.
Pengalaman mendapatkan pendampingan dan akses pasar juga menunjukkan bahwa ekosistem menjadi faktor penting dalam pertumbuhan UMKM. Ketika pelaku usaha memiliki akses yang lebih luas terhadap pembiayaan, pengembangan kapasitas, teknologi, dan jaringan bisnis, peluang untuk memperluas pasar dapat semakin terbuka.
NOMNOM kini berada pada tahap penting dalam perjalanan tersebut. Dari mengembangkan pangan lokal menjadi camilan bernilai tambah, usaha ini telah mendapatkan respons positif dalam pameran di Singapura dan memasuki tahap negosiasi dengan calon buyer. Perkembangan berikutnya akan menentukan sejauh mana produk lokal tersebut dapat benar-benar hadir di pasar internasional.
Langkah ini sekaligus menjadi gambaran bahwa potensi UMKM Indonesia tidak hanya berada pada jumlah pelaku usaha yang besar, tetapi juga pada kemampuan menciptakan produk yang memiliki karakter lokal dan dapat dikembangkan untuk kebutuhan pasar global. Dengan dukungan ekosistem yang tepat, perjalanan dari pasar lokal menuju pasar internasional dapat menjadi lebih terarah dan berkelanjutan.



