Trump Tertekan di Tengah Perang Iran, Dukungan Publik AS Merosot

Dukungan publik terhadap Donald Trump turun ke 33 persen, level terendah selama kepresidenannya, ketika perang Iran memicu kekhawatiran soal ekonomi dan harga energi.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam perkembangan kebijakan luar negeri
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam perkembangan kebijakan luar negeri

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan politik yang semakin besar ketika perang dengan Iran belum menunjukkan tanda penyelesaian permanen. Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump turun menjadi 33 persen, level terendah selama masa kepresidenannya. Pada saat yang sama, mayoritas warga Amerika memperkirakan konflik tersebut masih akan berlangsung lama.

Perkembangan ini membuat perang Iran tidak lagi hanya menjadi persoalan kebijakan luar negeri Washington. Konflik tersebut mulai berkaitan erat dengan persoalan yang langsung dirasakan masyarakat Amerika, terutama harga energi, biaya hidup, serta kekhawatiran mengenai dampak ekonomi apabila ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut.

Dukungan terhadap Trump Merosot

Dalam survei Reuters/Ipsos yang berakhir pada 17 Agustus 2026, hanya 33 persen warga Amerika yang menyatakan menyetujui kinerja Trump sebagai presiden. Sebaliknya, 64 persen menyatakan tidak menyetujui kinerjanya.

Angka tersebut menjadi perhatian karena merupakan tingkat persetujuan terendah Trump selama masa kepresidenannya. Pada survei sebelumnya, tingkat persetujuannya masih berada di atas angka tersebut.

Penurunan dukungan berlangsung ketika pemerintahan Trump harus menghadapi konsekuensi politik dari konflik Iran. Perang yang berkepanjangan membuat sebagian masyarakat mempertanyakan tujuan keterlibatan militer Amerika Serikat sekaligus dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Mayoritas Warga AS Memperkirakan Perang Berlangsung Lama

Salah satu temuan penting dalam survei tersebut adalah sekitar 80 persen warga Amerika memperkirakan perang Iran akan berlangsung lama. Hanya sekitar 20 persen yang menilai konflik tersebut kemungkinan berakhir dalam waktu relatif singkat.

Persepsi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintahan Trump karena semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula perhatian masyarakat terhadap biaya ekonomi dan manusia yang ditimbulkan.

Hasil survei juga menunjukkan dukungan terhadap perang masih relatif rendah. Hanya sekitar satu dari lima warga Amerika yang menilai perang tersebut layak dilakukan. Bahkan di kalangan pemilih Partai Republik, dukungan terhadap langkah tersebut tidak mencapai mayoritas penuh.

Harga Minyak Kembali Naik

Tekanan politik terhadap Trump berlangsung bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran pasar energi. Pada 18 Agustus, harga minyak naik untuk sesi ketiga berturut-turut dan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga pekan.

Harga minyak Brent bergerak di sekitar 91 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI berada di sekitar 85 dolar AS per barel. Kenaikan tersebut dipicu memudarnya harapan terhadap kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran mengenai gangguan pasokan.

Perkembangan harga minyak menjadi penting bagi masyarakat Amerika karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya transportasi dan berbagai kebutuhan lain. Dampaknya juga dapat menjalar ke dunia usaha melalui meningkatnya biaya distribusi dan produksi.

Selat Hormuz Menjadi Titik Rawan

Salah satu sumber kekhawatiran terbesar berada di sekitar Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut merupakan bagian penting dari perdagangan energi dunia. Ketegangan militer dan lambatnya lalu lintas kapal membuat pasar semakin sensitif terhadap perkembangan keamanan di kawasan tersebut.

Iran sebelumnya mengancam mengambil posisi militer yang lebih ofensif apabila upaya diplomasi dengan Amerika Serikat gagal. Sementara itu, pemerintahan Trump menolak memperpanjang kesepakatan gencatan senjata sementara dan tetap menekan Teheran untuk memenuhi tuntutan Washington.

Ketidakpastian tersebut membuat pasar minyak kesulitan memperkirakan kapan lalu lintas energi melalui kawasan tersebut dapat kembali normal. Bagi negara-negara konsumen energi, situasi ini berpotensi mempertahankan tekanan terhadap harga minyak untuk waktu yang lebih panjang.

Perang Iran Mulai Menjadi Persoalan Politik Domestik

Perang luar negeri biasanya tidak selalu menjadi faktor utama dalam politik domestik Amerika. Namun, situasi dapat berubah ketika konflik memberikan dampak langsung terhadap harga dan kondisi ekonomi rumah tangga.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga energi menjadi bagian penting dari perdebatan politik AS. Kenaikan harga bahan bakar dapat memengaruhi persepsi masyarakat mengenai kemampuan pemerintah menjaga biaya hidup tetap terkendali.

Hal tersebut menjadi tantangan bagi Trump karena ekonomi merupakan salah satu isu yang sangat diperhatikan pemilih. Ketika biaya energi meningkat akibat konflik, pemerintah harus menghadapi pertanyaan mengenai bagaimana menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menjalankan kebijakan keamanan nasional.

Partai Republik Menghadapi Tantangan Menjelang Midterm

Penurunan popularitas Trump juga memiliki dimensi politik yang lebih luas. Amerika Serikat akan menghadapi pemilihan sela atau midterm elections pada November 2026, ketika seluruh perhatian politik akan tertuju pada perebutan kendali Kongres.

Survei Reuters/Ipsos sebelumnya menunjukkan Partai Demokrat mulai mendapatkan keunggulan dalam persepsi pemilih mengenai pengelolaan ekonomi. Pada awal Agustus, 37 persen responden menilai Demokrat lebih mampu menangani ekonomi, dibandingkan 36 persen yang memilih Partai Republik.

Perubahan tersebut menjadi perhatian bagi Partai Republik karena kondisi ekonomi dan biaya hidup dapat menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan pemilih. Jika konflik Iran terus mendorong harga energi, isu tersebut berpotensi semakin dominan dalam kampanye menuju pemilihan sela.

Diplomasi AS-Iran Masih Menghadapi Jalan Terjal

Di sisi diplomatik, upaya untuk mengakhiri konflik belum menghasilkan kesepakatan permanen. Amerika Serikat dan Iran masih memiliki perbedaan besar mengenai sejumlah tuntutan utama, sementara situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz terus menjadi sumber ketegangan.

Washington juga menghadapi pilihan sulit. Pemerintahan Trump harus menentukan seberapa jauh tekanan militer dan ekonomi dapat digunakan untuk memaksa Iran menerima kesepakatan, tanpa menciptakan konsekuensi yang justru memperbesar beban bagi Amerika Serikat dan ekonomi global.

Iran, di sisi lain, menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar akibat perang, kerusakan infrastruktur, sanksi, dan gangguan perdagangan. Kondisi tersebut membuat negosiasi menjadi semakin kompleks karena kedua pihak sama-sama menghadapi tekanan untuk mempertahankan posisi masing-masing.

Pasar Global Ikut Menunggu Perkembangan

Ketidakpastian konflik juga tercermin di pasar keuangan global. Investor harus memperhitungkan kemungkinan harga energi tetap tinggi serta dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan bank sentral.

Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan baru terhadap inflasi apabila berlangsung dalam waktu lama. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi keputusan investasi, pasar obligasi, nilai tukar, serta ekspektasi terhadap kebijakan moneter.

Karena itu, perkembangan diplomasi Washington dan Teheran tidak hanya dipantau oleh pemerintah kedua negara. Pasar global juga menunggu tanda-tanda apakah konflik akan memasuki fase deeskalasi atau justru berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas.

Trump Menghadapi Ujian Politik Besar

Penurunan tingkat persetujuan ke 33 persen menunjukkan bahwa Trump menghadapi salah satu tantangan politik terberat selama masa kepresidenannya. Konflik Iran menjadi persoalan yang semakin sulit dipisahkan dari isu ekonomi dan kehidupan sehari-hari warga Amerika.

Jika perang dapat segera diarahkan menuju kesepakatan yang stabil, tekanan terhadap pemerintah berpotensi berkurang. Sebaliknya, konflik yang semakin panjang dan harga energi yang terus tinggi dapat memperbesar ketidakpuasan masyarakat.

Bagi Trump, beberapa pekan ke depan akan menjadi periode penting. Pemerintah harus menghadapi tekanan militer dan diplomatik di Timur Tengah sekaligus menjelaskan kepada masyarakat Amerika mengenai tujuan keterlibatan AS dan konsekuensi kebijakan tersebut.

Arah Konflik Akan Menentukan Politik Amerika

Untuk saat ini, masa depan konflik AS-Iran masih sulit dipastikan. Upaya diplomasi menghadapi hambatan, sementara ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus memengaruhi pasar energi.

Yang jelas, perang tersebut telah berkembang menjadi persoalan multidimensi bagi pemerintahan Trump. Kebijakan luar negeri, keamanan nasional, harga minyak, biaya hidup, dan persaingan politik menjelang midterm kini saling berkaitan.

Dengan dukungan publik yang berada di titik terendah dan mayoritas warga memperkirakan perang berlangsung lama, Trump menghadapi pekerjaan besar untuk mempertahankan dukungan masyarakat. Kemampuan pemerintah mengendalikan dampak ekonomi sekaligus menemukan jalan diplomatik akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah politik Amerika Serikat pada bulan-bulan mendatang.

Sumber