Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan dampak besar terhadap keberlangsungan pendidikan di sejumlah wilayah. Di tengah kondisi bangunan sekolah yang terdampak dan ancaman gempa susulan, sebanyak 923 satuan pendidikan masih menerapkan pembelajaran dari rumah. Pemerintah menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi di lapangan agar keselamatan murid, guru, dan tenaga kependidikan tetap menjadi prioritas.
Data tersebut disampaikan dalam perkembangan penanganan sektor pendidikan setelah gempa yang berdampak pada tujuh kabupaten di Pulau Flores. Selain pembelajaran dari rumah, sebagian satuan pendidikan menjalankan pembelajaran daring, menggunakan kelas darurat, atau masih melaksanakan kegiatan tatap muka sesuai kondisi keamanan masing-masing sekolah.
Ribuan Satuan Pendidikan Terdampak Gempa
Dampak gempa terhadap sektor pendidikan NTT tidak hanya terlihat dari perubahan metode belajar. Pendataan sementara menunjukkan sebanyak 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak. Wilayah tersebut mencakup Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.
Dari jumlah tersebut, kerusakan fasilitas pendidikan menjadi salah satu persoalan utama. Sebanyak 502 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan berat. Data yang disampaikan pemerintah juga mencatat 8.664 ruang kelas telah terdata, dengan 5.521 ruang mengalami kerusakan. Sebanyak 2.229 ruang di antaranya dilaporkan rusak berat atau total.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada ruang kelas. Sejumlah fasilitas pendukung pendidikan seperti laboratorium, perpustakaan, sanitasi, dan rumah dinas guru juga terdampak. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran tidak dapat langsung dikembalikan seperti sebelum bencana.
Lebih dari 177 Ribu Murid Ikut Terdampak
Skala dampak terhadap dunia pendidikan juga terlihat dari jumlah warga sekolah yang terdampak. Pemerintah mencatat 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan berada dalam wilayah yang terdampak gempa.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana pada sektor pendidikan membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar memperbaiki bangunan sekolah. Pemerintah perlu memastikan murid tetap memperoleh layanan pembelajaran, sementara guru dan tenaga kependidikan juga membutuhkan dukungan agar dapat menjalankan tugas dalam situasi darurat.
Ketika fasilitas sekolah belum aman digunakan, pemindahan kegiatan belajar menjadi pilihan untuk mengurangi risiko. Kebijakan tersebut penting terutama ketika kondisi gempa susulan masih menjadi pertimbangan keselamatan warga sekolah.
923 Satuan Pendidikan Belajar dari Rumah
Dari satuan pendidikan yang telah melaporkan kondisi pembelajaran, sebanyak 923 menerapkan pembelajaran dari rumah. Kebijakan tersebut dilakukan agar murid tidak harus kembali ke bangunan sekolah yang belum dipastikan aman.
Selain belajar dari rumah, terdapat 171 satuan pendidikan yang menjalankan pembelajaran secara daring atau pola pembelajaran jarak jauh. Sebanyak 35 sekolah menggunakan kelas darurat, sedangkan 30 sekolah masih dapat menjalankan pembelajaran tatap muka.
Perbedaan metode tersebut memperlihatkan bahwa kondisi setiap sekolah tidak sama. Satuan pendidikan yang berada di wilayah dengan tingkat kerusakan berbeda tentu membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Karena itu, keputusan mengenai metode pembelajaran disesuaikan dengan kondisi keamanan dan kemampuan masing-masing wilayah.
Pemerintah Siapkan Kelas Darurat
Untuk membantu sekolah kembali menyediakan ruang belajar, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan 100 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas darurat. Tenda tersebut didistribusikan ke wilayah terdampak dan ditargetkan dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran mulai pekan berikutnya.
Kelas darurat menjadi salah satu solusi sementara ketika ruang kelas permanen belum dapat digunakan. Kehadiran ruang belajar tersebut diharapkan membantu murid dan guru kembali menjalankan kegiatan pembelajaran dalam lingkungan yang lebih terorganisasi, tanpa harus menunggu seluruh bangunan sekolah selesai diperbaiki.
Namun, penggunaan kelas darurat tetap harus mempertimbangkan kondisi keamanan lokasi. Ruang belajar sementara bukan sekadar tempat memindahkan murid dari satu lokasi ke lokasi lain, melainkan bagian dari strategi agar kegiatan pendidikan dapat berlangsung sambil proses pemulihan berjalan.
Pembelajaran Darurat Tetap Perlu Menjaga Mutu
Perubahan tempat dan metode belajar tidak berarti tujuan pendidikan harus dihentikan. Kemendikdasmen telah menyiapkan panduan pembelajaran pada masa darurat yang memberikan fleksibilitas dalam pelaksanaan pembelajaran serta menekankan materi esensial.
Dalam kondisi bencana, pembelajaran dapat disesuaikan dengan situasi murid. Materi yang diberikan perlu mempertimbangkan kemampuan peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar dari rumah, tempat pengungsian, kelas darurat, maupun melalui sistem daring.
Penguatan literasi dan numerasi dasar juga menjadi bagian dari perhatian dalam pembelajaran masa darurat. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan pendidikan tetap diarahkan pada kemampuan utama yang perlu dikuasai murid meskipun kondisi sekolah belum kembali normal.
Dukungan Psikososial Menjadi Bagian Penting
Bencana tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik. Murid dan guru yang mengalami atau menyaksikan bencana juga dapat menghadapi tekanan psikologis. Karena itu, pemulihan pendidikan perlu memperhatikan kondisi emosional warga sekolah.
Kemendikdasmen menyebut dukungan psikososial sebagai salah satu bagian dalam penanganan pendidikan di wilayah terdampak. Pendekatan tersebut penting agar sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membantu anak kembali mendapatkan rasa aman dan rutinitas.
Dalam situasi darurat, guru memiliki peran penting dalam menjaga komunikasi dengan murid. Kegiatan belajar yang teratur dan sesuai kondisi dapat membantu anak mempertahankan rutinitas sekaligus mengurangi dampak hilangnya aktivitas sekolah secara mendadak.
Bantuan Pendidikan Tidak Hanya Berupa Tenda
Pemerintah juga menyiapkan berbagai perlengkapan untuk mendukung kegiatan belajar di wilayah terdampak. Bantuan yang disiapkan mencakup school kit, family kit, papan tulis, serta buku.
Ketersediaan perlengkapan tersebut penting karena perpindahan kegiatan belajar ke lokasi sementara dapat membuat sekolah membutuhkan peralatan baru. Buku dan alat tulis membantu murid tetap memiliki sarana untuk mengikuti pelajaran, sedangkan papan tulis mendukung kegiatan pembelajaran di kelas darurat.
Dukungan tersebut juga menunjukkan bahwa pemulihan pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar menyediakan bangunan. Peralatan belajar, kondisi guru, kebutuhan murid, serta dukungan psikososial perlu ditangani secara bersamaan.
Tantangan Pembelajaran dari Rumah
Pembelajaran dari rumah menjadi solusi ketika sekolah belum aman digunakan, tetapi penerapannya memiliki tantangan tersendiri. Tidak semua keluarga memiliki kondisi rumah yang sama untuk mendukung kegiatan belajar. Akses terhadap perangkat dan jaringan komunikasi juga dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Karena itu, pembelajaran darurat tidak dapat sepenuhnya bergantung pada teknologi. Sistem belajar perlu menyesuaikan kondisi daerah dan menyediakan alternatif bagi murid yang tidak dapat mengikuti pembelajaran daring secara optimal.
Guru juga perlu memiliki ruang untuk menyesuaikan materi dan tugas. Dalam kondisi pascabencana, kemampuan murid untuk mengikuti pembelajaran dapat berbeda dibandingkan situasi normal. Fleksibilitas menjadi penting agar proses pendidikan tetap berjalan tanpa menambah beban yang tidak diperlukan bagi keluarga terdampak.
Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas
Keputusan untuk mengalihkan pembelajaran dari sekolah ke rumah atau tempat pengungsian dilakukan terutama karena faktor keselamatan. Bangunan yang mengalami kerusakan dapat menjadi risiko bagi murid dan guru, terutama jika gempa susulan masih terjadi.
Karena itu, sekolah tidak seharusnya dipaksakan kembali beroperasi sebelum kondisi bangunan dan lingkungan dinyatakan aman. Pemulihan pendidikan harus berjalan beriringan dengan proses pemeriksaan dan perbaikan sarana.
Pendekatan tersebut juga membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, serta pihak yang terlibat dalam penanganan bencana. Setiap keputusan mengenai pembelajaran perlu mempertimbangkan informasi terbaru mengenai kondisi wilayah.
Pemulihan Sekolah Membutuhkan Waktu
Penggunaan kelas darurat merupakan langkah sementara. Dalam jangka lebih panjang, sekolah yang mengalami kerusakan membutuhkan pemulihan fasilitas agar kegiatan pendidikan dapat kembali berlangsung secara normal.
Sebelum gempa terjadi, NTT memang telah menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam program revitalisasi satuan pendidikan. Pada 2025, Kemendikdasmen mencatat revitalisasi 383 satuan pendidikan di NTT. Program tersebut berlanjut pada 2026 dengan sasaran 175 satuan pendidikan.
Kerusakan akibat gempa menambah tantangan pemulihan sarana pendidikan di wilayah tersebut. Karena itu, pendataan tingkat kerusakan menjadi penting untuk menentukan sekolah mana yang membutuhkan perbaikan, penggunaan ruang sementara, atau bentuk penanganan lainnya.
Hak Belajar Anak Harus Tetap Terjaga
Kondisi darurat tidak menghapus hak anak untuk memperoleh pendidikan. Justru dalam situasi seperti ini, keberlangsungan pembelajaran menjadi bagian penting dari proses pemulihan masyarakat.
Sekolah bukan hanya tempat untuk mendapatkan pelajaran. Bagi anak, sekolah juga merupakan ruang untuk bertemu teman, berinteraksi dengan guru, membangun rutinitas, dan mengembangkan kemampuan sosial. Ketika bencana memaksa kegiatan sekolah berhenti, dampaknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari anak.
Karena itu, upaya mengembalikan kegiatan belajar perlu dilakukan secara bertahap dan realistis. Tidak semua sekolah harus langsung kembali menggunakan bangunan permanen. Pembelajaran dari rumah, kelas darurat, dan sistem daring dapat menjadi bagian dari tahapan pemulihan selama tetap memperhatikan kebutuhan murid.
NTT Menjadi Pengingat Pentingnya Pendidikan Tanggap Bencana
Gempa NTT menunjukkan bahwa sistem pendidikan membutuhkan kesiapan menghadapi situasi darurat. Indonesia memiliki banyak wilayah dengan risiko bencana alam sehingga sekolah perlu memiliki rencana keberlanjutan pembelajaran ketika fasilitas utama tidak dapat digunakan.
Kesiapsiagaan tersebut mencakup prosedur keselamatan, komunikasi antara sekolah dan orang tua, pemetaan lokasi alternatif, kesiapan pembelajaran darurat, serta dukungan terhadap guru dan murid. Dengan perencanaan yang baik, gangguan pendidikan akibat bencana dapat ditekan.
Pengalaman di NTT juga memperlihatkan bahwa pemulihan pendidikan tidak hanya berhubungan dengan bangunan. Aspek pembelajaran, perlengkapan sekolah, kondisi guru, kebutuhan murid, dan dukungan psikososial harus ditangani secara bersamaan.
Menjaga Pendidikan Tetap Berjalan
Sebanyak 923 satuan pendidikan yang masih menerapkan pembelajaran dari rumah menggambarkan besarnya tantangan pendidikan di NTT setelah gempa. Pada saat yang sama, adanya sekolah yang sudah menggunakan kelas darurat dan sebagian lainnya tetap menjalankan pembelajaran tatap muka menunjukkan bahwa proses pendidikan terus diupayakan sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Pemerintah kini menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan masa darurat tidak berkembang menjadi gangguan pendidikan yang berkepanjangan. Penyediaan ruang belajar sementara, bantuan perlengkapan, dukungan psikososial, dan pemulihan fasilitas sekolah menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Bagi murid dan guru di wilayah terdampak, keberlangsungan pembelajaran menjadi simbol bahwa aktivitas pendidikan tidak berhenti meskipun bencana mengubah kehidupan sehari-hari. Selama keselamatan tetap menjadi prioritas dan dukungan diberikan sesuai kebutuhan, kegiatan belajar dapat terus berjalan sambil sekolah-sekolah NTT memasuki tahap pemulihan.



